
Jam 08.00 malam.
Dehan baru saja sampai ke mansion miliknya, semua pelayan berbaris rapi menyambut kedatangannya di pintu. Ia langsung melontarkan pertanyaan pada seorang pelayan.
"Dimana dia? " Ucapnya datar.
"Ahh Nyonya ada dikamar, Tuan." Ucap Pelayan itu.
Tanpa pikir panjang Dehan bergegas menuju kamarnya.
Cklek..
Senyum terukir di wajah tampannya kala melihat sosok sedang tertidur dengan lelapnya. Wajahnya bagai dewi yunani begitu mempesona.
Dehan menatap nya sebentar lalu melangkah kan kakinya menuju kamar mandi.
Setelah membersihkan dirinya, ia berjalan menuju sang istri yang masih terlelap.
Setengah tubuh Listya ditutupi oleh selimut berwarna hitam, Dehan tersenyum tipis mengelus pipi mungil itu lembut.
Tok.. Tok..
"Masuk! " Ucap Dehan mendengar suara ketukan.
Seorang pria menundukkan kepalanya hormat sembari tersenyum ramah.
"Apa saja yang dilakukannya hari ini?"
"Seperti yang tuan perintahkan, nyonya memakan salad nya, berjalan-jalan di taman, bermain di kolam renang, dan membaca buku di perpustakaan. " Ucap pelayan itu.
Dehan mengangguk kecil.
"Pergilah."
Pria itu pergi meninggalkan kedua suami istri itu. Dehan menatap Listya lagi mengecup kening pipi dan bibirnya, ia memeluknya erat seperti tak ingin kehilangan.
Listya terusik dari tidurnya akibat pergerakan Dehan.
"Shuttt,,, tidurlah. " Setelah mendengar suara itu Listya kembali tertidur, ia juga tak ingin bangun dari tidurnya ia sudah hafal betul jika itu bukan orang lain.
.........
Paginya.
Listya merasakan deru nafas menerpa wajahnya, ia mengerjabkan mata beberapa kali melihat sosok tampan suaminya.
Tanpa ia sadari tangannya mengelus rahang pria itu, kadang berfikir kenapa pria ini bisa baik dan kejam pada saat bersamaan. Listya menggigit bibir bawahnya, ketika melihat bibir segar pria itu yang selalu mencium dirinya.
"Kali ini aja. " Ucap nya dalam hati.
Sebenarnya Listya benar-benar mengagumi wajah Dehan, apa lagi ini kesempatan yang bagus karena Dehan sedang tertidur.
Ia mendekatkan wajah nya....
Cup..
Satu kecupan berhasil mendarat di bibir pria itu, Dehan tersenyum tanpa membuka matanya, ini pertama kali Listya mengecup nya.
Saat membuka mata, dapat ia lihat gadis itu tengah panik.Tanpa menunggu lama Dehan melahap bibir Listya dengan mel*mat dan sedikit mengul*mnya.
"Fmmfftt. " Listya terkejut dengan pergerakan tiba-tiba Dehan.
Dehan lepaskan ciumannya, agar dapat melihat raut wajah gadis itu ralat wanita itu.
Listya menutup wajahnya malu, kenapa malah terpergok.
Dehan terkekeh melihat tingkah istrinya, memeluknya erat-erat sehingga membuat Listya mendongak melihat wajah Dehan.
"Apa aku boleh keluar? " Tanyanya hati-hati dan kembali menenggelamkan wajah nya di dada bidang Dehan.
Dehan tak menjawab pertanyaan itu, Tatapan yang senantiasa datar itu kini berubah, Listya menelan pelan saliva nya.
Apa dia salah bicara?.
"Kemana? " akhirnya Dehan mengeluarkan suaranya.
"A-aku.."
Listya berfikir keras apa yang akan katakan.
"aku mau belanja, iya belanja hehehe."
Ia gugup dan sedikit cemas. Sementara Dehan tersenyum smirk, entah apa yang ada dipikirkan nya.
"Apa yang akan Risyta berikan padaku jika aku mengizinkannya? " Tanyanya tentu dengan senyum iblis.
Listya berfikir sebentar.
"Terserah, aku mau keluar." Ucapnya tak mau berfikir lagi.
"Baiklah." Dehan mengangguk dan terkekeh.
Ternyata istrinya ini lugu sekali ya.
"Bersiaplah." Ucap Dehan bangkit.
Listya tersenyum dan langsung berlari menuju kamar mandi.
.........
Setelah memakai dress nya dibantu pelayan berdandan. Sebenarnya Listya sama sekali tak mengerti dalam hal berdandan, karena sehari-hari tak memakai riasan.
Wajah nya begitu natural, lebih mirip anak sekolahan. Pelayan tau itu,dan Listya hanya diberi lipstik. Karena wajahnya sudah sangat mirip seperti di make up.
Bulu mata yang lentik, alisnya yang terukir sempurna, bibir merah merona secara alami, padahal sama sekali tak terkena bahan kimia itu
.........
Entah mengapa Dehan selalu menyukai Listya memakai pita, dan memerintah kan pelayan agar Listya selalu memakai pita. Listya tak keberatan, karena dia memang cantik saat memakai pita.
Dehan menunggu Listya untuk sarapan di meja makan, ia melihat ponsel nya sembari menunggu. Terdengar Langkah kaki menuruni tangga, dapat ia lihat Listya tersenyum riang.
Dehan pun ikut tersenyum, ternyata istrinya itu memang sangat cantik memakai pita ya meskipun tidak memakai nya Listya tetap cantik bagi Dehan. Listya duduk dan memulai acara sarapannya dengan tenang. Setelah selesai sarapan Dehan memanggil beberapa bodyguardnya.
"Jika terjadi sesuatu kalian tahukan apa akibatnya? " Ucap Dehan rada mengancam.
"Ya- ya tuan." Ucap bodyguard itu gugup.
Listya sedang berada dipangkuan Dehan, dengan tangan Dehan senantiasa mengelus Surai hitamnya.
"Risyta, aku tak bisa menemanimu, hari ini aku ada urusan." Ucapnya sambil mengecup pipi Listya.
Listya mengangguk, ia senang ternyata Dehan tak ikut dan ini mungkin kesempatan bagus.
"Dan satu lagi Risyta, jangan coba-coba kabur." Dehan menatap dua orang dengan senjata ditangan mereka. Satu wanita dan yang satu pria ya benar
"mereka adalah penembak jitu." Ucap Dehan tersenyum.
Penembak jitu?
What____s.
"Maksudnya kalo kabur bakalan ditembak? " batin Listya gusar.
Padahal tadi ia sedang memikirkan cara kabur.
"Kau mengerti?" Tanya Dehan dengan lembut.
Listya mencoba tersenyum mengangguk dengan keringat dingin yang sudah bercucuran menatap ngeri kepada dua orang itu.
"Baiklah." Dehan berdiri tentu Listya juga ikut berdiri.
.........
Dehan memasuki kantor dengan wajah datar nya. Saat masuk kedalaman ruangannya dapat ia lihat seorang pria dan wanita sedang duduk di sofa yang sudah ada disana.
"Dehan." Ucap pria itu.
Dehan tak menjawab hanya mengangguk.
"Maaf Dehan." Ucap wanita yang satu nya lesu dengan rasa penyesalan.
"Bukan salah mu, Jefford berengsek itu yang bersalah." Ucap Roan menggebu.
"Aku tak tau, jika dia akan sangat berbahaya untuk kalian."
"Dia sudah tiada, tak usah dipikirkan." kali ini Dehan yang berbicara.
Dulu mereka tak menghentikan pernikahan Ririn dan Jefford.Karna mereka tak tega pada ririn, Roan sampai memohon pada Dehan untuk tak membunuh Jefford hanya untuk membuat Ririn kakaknya bahagia.
Tapi sekarang Roan malah menyesal tak menghentikan pernikahan itu. Mereka pikir Jefford benar-benar tulus tapi salah, ia hanya memanfaatkan Ririn agar bisa menjatuhkan Dehan. Ririn tak menyadari itu, tapi apa boleh buat cinta memang buta.
.........
Listya sekarang berada di dalam mobil, dengan dua mobil lainnya mengikuti dari belakang.
Seperti Dehan,banyak bodyguard mengikutinya kemanapun.
Tentu sekarang Listya berstatus istri king mafia otomatis dia adalah queen, Ia merasa risih bagaimana tak risih, ia jadi pusat perhatian dari setiap orang.
"Stop! Kalian berdiri disitu." Ucap Listya menahan bodyguard dan dua pelayan wanitanya yang dari tadi mengikuti.
Saat ini mereka sedang berada di cafe,
ia duduk sekitar dua meter dari pelayan dan bodyguardnya.
"Nona ingin pesan apa." Ucap seorang pelayan wanita di cafe itu sedikit takut melihat bodyguard yang menatap nya tajam.
"Hmm, apa ada cake? "
"Ada nona."
"Baiklah rasa strawbery dan Ice cream coklat vanila." Ucap Listya dengan tersenyum ramah.
"Baik."
Listya menatap setiap sudut cafe itu, dengan gaya estetika nya yang unik, tak tunggu lama pesanan nya datang.
Mata nya berbinar melihat itu, tanpa melunturkan senyumnya ia memakannya cake itu lahap, ia suka semua cake, apa lagi rasanya strawbery, tenang yang ia rasakan tapi itu tak berlangsung lama, saat seorang yang ia kenal duduk di hadapan nya.
"Sedang apa kau disini? "
"Ck, aku juga tak mau jika tak disuruh."
Listya menatap Aident jengkel.
"Pergi sana, aku tak menyukai mu." Listya kembali memakan Cake nya.
"Kau pikir aku suka disini? " Eh...
Alasan Aident berada disana hanya satu, Ia disuruh Dehan menjaga gadis itu dari bahaya Aident adalah orang kepercayaan Dehan.
Hah apa bodyguard sebanyak itu tak cukup.
Ya tak cukup, karena musuh Dehan bukanlah orang-orang biasa. Banyak yang mengincar Listya karena mereka tahu jika ia adalah wanita kesayangan Dehan.
Itu sebabnya Dehan tak pernah mengizinkan Listya pergi dari rumahnya selama ini. Tapi itu bukanlah satu-satunya alasan Dehan mengurung Listya.
Ingat Dehan itu posesif.
"Pergi lah." Ucap Listya menatap Aident yang berjalan disampingnya.
"Berhenti mengoceh, dan jalan saja."
Ia merasa tak diinginkan disini, itu membuat nya memanas, ditambah Listya yang mengusirnya, benar-benar menguji iman. Mereka berjalan melihat-lihat banyak baju lucu. Benar Listya sekarang sedang memasuki pusat perbelanjaan.
Kapan lagi ye kan, ngabisin duit suami walaupun harta Dehan tak akan pernah habis.
Listya hanya memilih baju-baju yang imut dan langsung di ambil oleh kedua pelayan wanitanya. Sementara Aident hanya melihat tak minat.
"Ck, cepat lah."
"Siapa suruh ikut-ikut."
Listya tersenyum jail menarik tangan Aident menuju ruang ganti. Aident menepis tangan Listya yang menariknya.
"Hiks... Kau jahat." Ucap Listya memulai aksinya.
Semua orang menatap mereka, Aident seperti orang jahat di tatapan mereka.
"Ck berhenti lah berpura-pura" decakan Aident membuat ia semakin menjadi pusat perhatian.
"Huaaaa hiks.. " Listya menaikan volumenya.
Sekarang Aident benar-benar seperti orang yang jahat karena menolak permintaan Listya.
Karena tak tahan mendengar bisikan orang-orang Aident terpaksa.
"Apa yang kau inginkan? " Tanya dengan wajah kesal.
Benar-benar menjengkelkan.
"Aku cuma ingin kau memakai ini." ucap Listya menunjukan baju kodok imut.
"Itu baju wanita." Aident terkejut.
"Tidak ini bisa dipakai wanita dan pria kok." Ucap Listya meyakinkan.
"Tidak." Tolaknya mentah-mentah.
"Hiks.. kau tak mau hiks.." Listya memulainya lagi.
"Ahh baik-baiklah." Aident menarik kasar baju itu dari Listya dan pergi keruang ganti.
Listya terkekeh puas atas Aident keluar dan lihatlah dia begitu berbeda.
"Ada yang kurang." Listya mencari sesuatu dari rak aksesoris.
"Ahh ini." Ucapnya memakaikan kaca mata pada Aident.
Sementara Aident hanya diam.
"Ahh pas" Lisya membuat pola 👌 di jarinya.
"Apa yang.. " Belum sempat Aident membuka kaca mata itu Listya menariknya keluar dari sana.
Tentu semua yang dipakai dan dipilih gadis itu sudah dibayar oleh pelayan, Aident mengomeli Listya sepanjang jalan.
Tapi hanya dianggap angin lalu olehnya, gadis itu terkekeh melihat penampilan Aident.
"Ayo, aku mau pulang."
"Ck cepat lah, supaya aku bisa pergi."
Mereka pun pulang ke rumah, Karena sudah cukup lama mereka berjalan-jalan sehingga baru sadar sudah sore.
Listya masuk dengan riangnya, sementara Aident dengan wajah kesal nya.
"Apa terlalu banyak? " Tanya Listya melihat belanjaannya yang ternyata tak sedikit.
...
Dehan pulang lebih awal karena pekerjaan nya sudah selesai. Setelah sampai ia melihat Aident aneh.Listya melihat Dehan pun langsung tersenyum kikkuk.
"Hehehe." ucapnya cengengesan.
Tapi Dehan tak mau ambil pusing, ia langsung menuju Listya mengecup kening nya.
"Dehan! " Teriak seorang pria masuk.
Jeans, Roan dan James masuk ke dalam rumah Dehan dengan senyuman.
"Apa yang kalian lakukan? " Tanya Jeans.
"Bhaaaa... Hahahahha." gelak mereka melihat penampilan Aident.
"Apa yang terjadi pada mu? " Tanya James menyeka air mata karena terlalu terbahak.
Aident semakin kesal, Sementara Listya pelaku utama, tersenyum menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Dehan.
"Ck dia yang memaksa ku." Tunjuk Aident menatap Tajam Listya.
"Astaga sakit- perutku sakit, perut ku.." Jeans.
"Rasakan." Ucap Listya dalam hati masih memiliki dendam kusumat pada Aident.
Ok lovely...
Komen terus biar author cepat uppnya....
See youu...