
"Alka, aku ingin buah strawberry lagi." Ucapan itu kembali lolos dari bibir hati sang istri.
"Hmm, apakah kau sedang menggodaku?" Ujar Alka, dari tadi istrinya tak berhenti memanggil nama aslinya.
"Apa itu benar nama mu?" Tanya Listya, akhirnya pertanyaan itu berhasil ia sampaikan.
"Ya."
"Apa kau naga?" Tanyanya lagi.
"???" Alka berhasil di buat kebingungan dengan ucapan pujaan hatinya itu.
"Nama mu seperti nama naga ku pikir." Dengan begitu polosnya, Listya menunjukkan wajah berfikir membuat Alka tak bisa menahan senyuman, sungguh gemas istri kecilnya ini.
"Bawakan strawberry, dan isi kulkas dengan beberapa buah lainnya...,"
"Cherry juga." Bisik Listya saat suami nya menelfon.
"Dan buah Cherry." Ucap Alka mematikan saluran telfon tersebut.
"Baik, ayo turun kebawah." Ujar Alka tersenyum mengangkat tubuh Listya ala koala, di susul oleh para pelayan yang setia menunggu dari pintu.
" Aku ingin turun, aku bisa jalan sendiri." Ucap Listya.
"Kau tidak bisa." Jawab Alka.
"Aku.." keinginan untuk berjalan sendiri harus ia urungkan karena melihat Alka sedang menatapnya tajam.
Bukan apa-apa, sebenarnya Alka agak khawatir karena sudah hampir satu Minggu, ia sama sekali tak bisa merasakan sakit yang di rasakan oleh istri manisnya ini. Tidak biasanya ia seperti ini, biasanya setiap wanita itu sakit kepala atau hendak pingsan, ia akan langsung mengetahui nya, tapi kini berbeda.
Maka dari itu, sekarang ia sangat menjaga malaikat nya dengan seksama, karena dia tak tahu lagi apa saja yang di alami wanita ini nantinya, Setiap kali bersama ia akan bertanya apa dia baik-baik saja, atau apa ada yang sakit.
.........
Alka terseyum saat semua orang sudah berkumpul di ruang utama, setiap gerakan nya tak luput dari pandangan manusia-manusia itu sekarang.
"Hey, ada tamu ternyata." Ujar sembari membawa Listya di gendongan nya.
Listya yang penasaran membalikkan kepalanya guna mencoba melihat, namun ia hanya melihat tubuh Roan dan James, karena akses penglihatan sangat minim.
Alka menurunkan Listya pada sofa singel milik nya, tak lupa dengan beberapa kecupan di wajah sang istri.
Saat ini, ia dapat melihat siapa saja yang ada di sini, Lucy dan Rose tersenyum menatap nya, begitulah dengan Roan yang melambai-lambai padanya.
Namun tidak dengan James, Jessica, Lard, Aident dan Jeans. Mereka tampak serius di tambah lagi dengan seorang wanita dengan rambut pendek ala tomboinya.
Ya, Fatia menatap Alka tajam namun saat di teliti lagi, raut wajah itu sebenarnya sedang khawatir.
"Dimana dia?" Ujar Fatia menarik nafas dalam-dalam.
"Hey, sabar-sabar. Kita baru sampai bagaimana jika kita duduk terlebih dahulu." Roan mencoba mencairkan suasana di bantu oleh James.
"Iya benar sekali, mari kita bicara secara kekeluargaan." Ujarnya menuntun Rose segera duduk, dapat ia lihat istri nya itu sudah kelelahan.
"Iya ayo kita bicara dengan tenang." Ujar Jeans juga mencoba tersenyum. Ia tahu saat ini juga sedang berada dalam masalah.
Alka melirik para bodyguard dalam beberapa saat kemudian, Geby di bawa paksa dengan sesekali berteriak.
"Lepaskan aku, kau berengsek!!!" Pekik nya namun ia terdiam saat melihat semua orang yang menatapnya.
"Kak," ia menunjukkan raut wajah sedih tak mau menatap sang kakak.
Alka berjalan menuju dapur, mengambil sebotol soda kaleng dan yogurt membawanya kembali ke ruang utama.
Sembari meminum sodanya, ia juga memberikan yogurt itu pada Listya, tentu langsung disambut dengan baik oleh Listya. Ia langsung menyantap yogurt rasa strawberry itu dengan lahap.
" Kira-kira apa yang harus aku lakukan pada gadis ini, yang mencoba mengusikku?" Alka memasang wajah datar khas miliknya.
"Aku meminta maaf, ini tidak akan terjadi lagi." Ujar Fatia membungkuk pada Alka.
"Semudah itu?" Tanya Alka tersenyum.
" Aku yang salah, kita anggap ini kecelakaan." Akhirnya Jeans angkat bicara.
" Kau tahu, aku tidak senang." Ujar Alka menatap tajam semua orang, auranya semakin mencekam membuat semua orang sesak.
Jika saja Geby tidak mengusik Listya ini tidak akan mengundang amarah Alka, seharusnya mereka lebih waspada, pada wanita itu.
"Aku harap kau tidak lupa jika Geby adalah teman kecil kita. " Bujuk Jeans, dia lah yang salah disini, ia sangat merasa bersalah apa lagi saat raut wajah Geby yang dari kecil sudah bersama mereka. Meski tak terlalu dekat dengan Alka namu dengan nya, sangat dekat, ia tak tega.
"Aku beri keringanan, hilangkan dia dari kehidupan ku. Jangan sampai aku melihat wajahnya itu, jika tidak aku tidak jamin ia akan selamat." Alka kembali meneguk soda nya hingga kandas.
Semua orang menghela nafas, bersyukur. Selama ini belum ada yang selamat karena menggangu Listya atau sampai menyentuh nya. Tapi Geby sangat beruntung, begitu pun Fatia yang langsung mengambil alih tubuh Geby pergi dari sana.
"Kakak, aku tidak mau pindah lagi." Ujarnya memberontak.
Tetapi Fatia tak mengindahkan ucapan adiknya bahkan ia menyeret tubuh wanita itu paksa, jika di bandingkan dengan kekuatan Fatia tentu Geby kalah.
Lihatlah jika tubuh Geby memang tidak sekuat Fatia yang tomboinya sudah mendarah daging.
.........
"Tuan, ini buah..." Pelayan itu langsung terdiam saat suasana yang mungkin membahayakan keselamatan nya sendiri melihat seluruh iblis sedang mengadakan pertemuan di tambah tidak ada satupun yang tersenyum.
Listya bangkit dengan tertatih tanpa Alka sadari jika sang istri sudah menghampiri pelayan, sembari meminta beberapa cup strawberry berukuran sedang.
Alka langsung menyusul Listya, kembali menggendongnya ala koala. Listya tak perduli saat Alka sudah menggendongnya ia membuka cup yang berisi strawberry itu memasukan nya ke dalam mulut kecilnya.
"Kalian bisa pergi." Ucap Alka dingin membawa Listya naik kembali ke kamar.
"Dahhh." Listya membalas lambaian tangan Rose, Lucy dan Roan sembari mengunyah Strawberry yang asam manis.
.........
"Kak!"
"Diam Geby." Bentak Fatia.
"Aku ingin disini, aku tidak mau pindah, Alka membutuhkan ku di sini." Ujarannya menangis .
"Membutuhkan? Apa kau bercanda. Jika saat ini kau mati di tangan pria itu, aku juga akan ikut mati,"
" Dengar Adikku sayang, selama ini dia bahkan tak pernah menanyakan dirimu, tidak pernah melihat mu. Kau yang membutuhkan pria itu!" Fatia terpaksa mengucapkan kata-kata kasar untuk adik kecilnya itu. Ia tak tega namun ini demi kebaikan nya, ia juga sesak saat Geby menderita seperti ini dan mengharapkan pria bernama Alka itu.
"Jadi sayangi dirimu, jika kau menyayangiku sebagai kakak kandung mu. Ikuti perintah ku!" Tegasnya.
"Kak.." Lirih Geby mendengar ucapan sang kakak.