
POV Listya.
Aku terus mengelilingi kandang harimau itu, dapat kulihat jika sang harimau tampak tenang tak menunjukkan perlawanan.
Namun seketika mataku menatap mata iris emas kemerahan itu, beberapa detik. Ku lihat jika hewan buas itu seperti memanggilku mendekat.
Tak tahu harus apa, kaki ku seakan bergerak sendiri dengan tangan yang terangkat satu dan terus mendekat jeruji itu.
Aku menutup mata, entah apa yang aku lakukan. Apa aku sedang mengantar maut ku sendiri? Oh ayolah....aku tidak siap untuk mati, banyak cita-cita yang harus ku gapai, aku masih harus hidup bahagia bersama kakak ku.
1 2 3... Hitungan itu terhenti saat sesuatu mengendus-endus telapak tangan ku, hingga aku tak tahan untuk membuka mata.
Hewan itu diaaaaa....aaaaaaa
Aku terdiam sejenak, hangat dan dingin sekaligus menerpa kulit ku sehingga teriakan membuat aku tersadar.
"Nyonya!!!"
Listya POV end
...
Rasanya jantung nya akan lepas saat ini juga, melihat sang peliharaan dan pujaan hati nya berinteraksi.
Namun ia salah mengira jika sang istri akan terluka, seharusnya ia waspada terhadap wanita itu. Tapi ia harus bersyukur karena sang istri masih utuh tak tergores sedikit pun.
Alka langsung mengetahui bahwa kucing besar nya, menerima Listya. Aneh namun tidak buruk, baguslah hewan itu tahu jika melukai wanitanya pasti dirinya juga tidak selamat.
Listya menarik lengan nya, kedua tangannya menutup mulutnya sendiri, di balik itu senyum menghiasi wajahnya karena takjub dengan apa yang ia lakukan.
Wow... Batinnya tak percaya____ ia melihat telapak tangan yang baru saja melakukan keajaiban, ia masih tak percaya saat kucing putih besar itu tak menyerang nya.
Alka terpaksa menghampiri Listya yang masih mematung di sana, wanita itu terkejut saat tangan yang besar mengalungi perutnya yang datar.
"Apa yang kau lakukan hmm?" Ujarannya memeluk dari belakang sembari meletakkan dagunya di pundak Listya.
"Kau lihat, tadi..tadii..." Listya membalikkan tubuhnya seakan menunjukkan sesuatu yang hebat pada pria iblis itu.
"Hnn." Alka terseyum mengangguk.
"Tapi tak biasanya dia bersikap begitu ramah pada orang baru." Sambungan melepaskan pelukan dan berjalan menuju kandang.
Dengan pelan menyentuh puncak kepala hewan itu, dan betapa terkejutnya Listya saat kucing putih itu menjilati telapak tangan sang iblis.
Seperti sudah terbiasa, sebenarnya bisa saja Alka mengeluarkan peliharaan nya itu. Namun akan sangat berbahaya jika ia melukai wanitanya, meski sudah saling menyentuh dan menunjukkan sinyal pertemanan, bisa saja hewan ini melakukan di luar kendali nanti nya.
Alka memasang wajah datar khas nya membawa Listya pergi dari sana, tepat nya pergi ke ruang makan, saat ini perut istri manisnya pasti sudah lapar.
Dan benar saja, tak beberapa lama suara perut Listya terdengar di Indra pendengarannya, beberapa pelayan sudah menunggu kedua sejoli itu. Mereka sigap melayani tuan dan nyonya dengan begitu telaten, acara makan berjalan dengan lancar dan tenang karena Listya masih terdiam memikirkan hal yang baru saja ia alami.
Setelah selesai makan, ia langsung berlari lagi ke ruang utama, guna memastikan jika kucing putih besar itu masih ada, atau dia hanya bermimpi?
Ahh__ tidak itu bukanlah mimpi, buktinya kandang besi itu masih ada di sana lengkap bersama kucing besar itu.
Alka melihat gemas sang istri yang baru saja meninggalkan dirinya di meja makan, ia menyusul wanita itu.
"Namanya Richard." Ucap nya mendekat.
"Hnn."
Listya langsung mengangguk, mengikuti langkah pria iblis itu. Dimana ia di suguhi oleh pemandangan yang cukup menarik, bagaimana tidak, hewan yang bernama Richard itu menggaruk-garuk besi seakan minta di lepas apa lagi dengan tatapan nya yang cukup menggemaskan.
Alka memasang wajah datar, tidak mungkin mengeluarkan hewan kesayangannya ini sekarang, meski tidak menyerang tanpa di suruh tetap saja ia khawatir, dan berbalik menatap seorang wanita di belakang nya.
Namun Richard kembali merengek dengan suara khas harimau pada umumnya, ia meminta tuan agar segera melepaskan diri nya, seperti menangis.
Listya yang melihat itu pun tergerak hatinya, namun ia tak mengerti apa yang ia katakan. Langsung melihat Alka, namun sepertinya pria itu tak menunjukkan ekspresi apapun.
"Aku tidak bisa, kau mungkin akan melukai dia nantinya." Ujarannya.
Namun ucapan itu langsung dibalas oleh si kucing putih besar, ia terus-menerus mengucapkan kalimat yang mana mungkin manusia mengerti.
"Baiklah, mari kita coba sekali lagi." Ujar berbalik mengambil lengan Listya mendekat pada kandang.
"Apa??"
"Coba lakukan sekali lagi ." Ucap Alka.
"Apa?"
"Sentuh Richard."
"Untuk apa?"
"Hanya memastikan."
"Aku takut."
"Yasudah, tidak ap..." Belum selesai mengucapkan kalimat nya yang mulai melepaskan genggamannya, Listya langsung mendekat meletakkan tangannya nya kepala sang kucing.
Listya kembali menutup mata entah apa yang membuat nya kembali berani menyentuh hewan buas itu. Apa mungkin karena tidak mau di remehkan oleh pria itu nantinya, namun tetap saja ini bukanlah hal yang harus di banggakan.
Mengingat bahwa kucing besar ini adalah hewan yang begitu kejam dan buas di habitat nya, namun apa yang terjadi? Ternyata sama, hewan karnivora itu tidak melakukan apapun saat ia menyentuh bulu-bulu halus itu.
Listya jadi kegirangan menggeser tempat sentuhan nya, kepada rahang yang keras namun masih tertutup bulu, dan mulai menyentuh bagian lainnya dari tubuh si kucing.
Dapat di lihat Alka terdiam sejenak, lalu kini ia tersenyum melirik anak buah dan salah satu bodyguard memberikan sebuah kunci padanya. Alka mengambil alih kunci itu dan menghampiri Listya yang masih asik menyentuh pipi putih besar itu.
Listya membulatkan matanya tak percaya melihat seorang pria baru saja membuka gembok kandang besi itu, ia memundurkan tubuhnya saat kucing yang baru saja ia sentuh keluar begitu saja.
"Apa yang kau lakukan, kenapa di lepas?" Panik Listya semakin mundur.
Alka terkekeh lalu membawa Richard mendekat padanya, Listya lagi-lagi di buat kaku, tubuhnya terasa berat. Ada apa ini seketika ia terduduk dengan wajah masih waspada.
Alka sedikit terkejut, menatap wanita itu namun kesekian kalinya ia di buat lega saat hewan peliharaan nya itu mala menghimpit tubuh Listya sesekali menjilati wajah nya.
Listya tak tahu harus bagaimana lagi, jantung mungkin Sudah berhenti berdetak namun menit berikutnya kembali tak percaya saat tubuhnya tak kuasa menahan tubuh kucing putih besar itu.
Hingga keduanya terbaring di atas lantai yang dingin, Alka terkekeh dan mencoba membuat Richard bangun, dan membantu Listya.
Wajah wanita itu terlihat lucu, dengan beberapa keringat yang membasahi pelipis nya dan mata yang tertutup rapat, hingga Listya bersembunyi di balik Alka guna menghindari si putih besar itu.