
"Listya.... Apa kau tahu?" Geby melipat lengan tepat di depan dadanya.
"Ya?" Listya tersenyum bingung menatap wanita itu mulai berjalan kembali menuju dirinya.
"Alka menyukai Ruby?" Ujarnya tersenyum.
"Alka?" Listya semakin bingung dengan ucapan wanita itu sekarang.
"Kau tak tahu? Bukankah kalian sudah lama bersama." Ujarnya lagi.
"Maksudmu aku bersama siapa? Alka?" Listya membenarkan pertanyaan itu kembali.
"Ya, Alka menyukai Ruby. Warna Ruby menyerupai darah benar bukan?" Ujarnya lagi.
Listya mulai tak mengerti apa yang di maksud oleh Geby, yang terus mengucapkan nama 'Alka' jujur ia tak pernah mendengar nama itu.
"Maaf siapa itu Alka?" Listya malah kembali bertanya.
Amarah yang di pendam Geby seakan akan meledak saat ini juga, wajah polos itu sungguh memuakan. Dengan segala kesabaran yang ia tanamkan di hati, kini tak bisa di bendung lagi.
"Apa kau bodoh, 'Alka' Suami mu!" Ujar Gaby dengan sedikit meninggikan satu oktaf suaranya.
"Aku.."
" Alka Drake! Kau bahkan tidak tahu nama asli suami mu sendiri, apa kau pantas di panggil istri?" Ucap Gaby dengan penuh penekanan.
"Aku hanya tahu Dehan. Dia tidak pernah..." Belum selesai mengucapkan kalimat nya Geby terlebih dahulu memotong ucapan itu.
"Apa kau benar istri nya? Bahkan aku ragu kau mengetahui kesukaan Alka." Geby tersenyum kecut menatap remeh wajah Listya.
"Ahhh maksudmu kalung Ruby? Dehan memberikan nya beberapa bulan lalu." Listya mengeluarkan sebuah liontin kecil yang tertutup oleh piyamanya.
Geby membulat kan matanya melihat Liontin kecil itu, seakan kenangan lama kembali berjalan di otak nya. Itu adalah Liontin yang selalu dibawa Alka kemanapun, ia juga mengetahui jika itu adalah alasan Alka tersenyum sendiri.
Saat ingatan itu terputar, ia mencoba menarik liontin itu dari leher jenjang Listya. Namun lengan nya langsung di cekal oleh seorang pelayan.
"Maaf nona, apa yang sedang anda lakukan?" Ujar pelayan itu.
"Berani sekali kau menyentuhku, Kau pelayan!!!" Geby langsung menghentak lengan nya membuat pelayan itu tersungkur ke atas lantai yang kasar.
"Kau tak punya hak, kau tahu kau sangat membuat ku jijik." Geby menendang pelayan itu berkali-kali.
Listya yang melihat itu, terkejut. Dan hendak ingin menghentikan perbuatan Geby yang menurut nya sudah keterlaluan. Ada apa dengan wanita ini sekarang tidak seperti sebelumnya, yang selalu terlihat ramah.
Listya memegang pergelangan tangan Geby, hingga wanita itu berhenti dan menatap garang dirinya, namun sedetik kemudian tertawa terbahak-bahak.
Listya kebingungan dengan wanita itu yang kini terbahak menatap nya, ini di luar nalar nya ini sangat tidak baik untuk otaknya mencerna.
"Kau, apa kau sangat cantik jal*ng?" Geby menaikan dagu Listya, dan dapat Listya rasakan saat kuku-kuku panjang Geby sedikit menyakiti kulitnya.
"Aku lebih cantik dari mu." Ujarnya maju selangkah membuat Listya mundur perlahan.
"Apa yang dia sukai dari jal*ng seperti mu?" Semakin maju.
"Apakah kau lebih baik dari ku?" Lagi dan lagi hingga sebuah tangan besar memegangi kedua lengan nya.
"Apa yang..." Berapa terkejut nya Geby saat melihat sosok pria yang datang tengah menatapnya nyalang.
"Gabriella Margareth, apa aku pernah mengizinkan mu masuk ke dalam rumah ku?" Ujar pria itu.
"Tidak, Alka aku...hanya...." Seakan bungkam lidah nya kaku tak mampu berbicara.
"Kau kesini dan membuat keributan, apa ganjaran yang pantas untuk perbuatan mu ini?" Alka menatap wajah wanita yang sedang kebingungan dengan pertanyaan yang sudah memenuhi kepalanya.
Ia berjalan perlahan mendekati sang istri, mengecup pucuk kepalanya lama lalu melirik Geby.
"Apa yang kau lakukan sayang? Jika kau ingin membuat ku cemburu, baik kau berhasil. Jangan sentuh Jal*ng itu!" Ujar Geby
"Sejak kapan kau berani memanggil ku dengan sebutan itu? Seperti nya setelah pindah ke negara lain. Kau semakin gila." Alka tertawa renyah.
Listya masih bingung, dengan segala ucapan kedua manusia aneh di depan nya ini, kepalanya mulai berdenyut perih dan seketika kakinya tak bisa menopang berat tubuh nya.
Beruntung Alka menahan tubuhnya dan langsung menggendongnya ala bridal style, menuju kasur yang berukuran king size itu.
"Bawa dia!" Titah Alka di angguki oleh semua bodyguard.
"Alka!! Tunggu jangan seperti ini, ku mohon berhenti mempermainkan aku." Geby mencoba tersenyum pada Alka, namun tetap saja... Ia di bawa pergi.
"Lepas!!!" Teriak nya.
.........
"Hngg.." Sang istri hanya melenguh.
"Pelayan!"
"Ya tuan?"
"Apa kalian meninggalkan ia sendiri di sini?"
"Maaf tuan, nyonya menyuruh kami..."
"Apa kau ingin mati?"
"Ampun tuan .."
"Bersihkan semuanya, jangan membuat kamar ini kotor dengan sentuhan siapapun!" Sarkas nya membuat pelayan itu ketar-ketir ketakutan.
"Hngg.." Listya mendelik saat merasakan seseorang yang sedang memeluknya erat, tangan besar yang setia mengalung di pinggang nya, beserta aroma maskulin dari tubuh itu membuat Listya yakin jika pria itu ada Dehan.
"Dear?" Suara basah yang khas diiringi kelembutan itu membuat Listya membuka matanya perlahan.
" Apa aku pingsan?" Tanya serak.
" Entahlah." Alka mengedikan bahunya.
" Dehan." Panggil Listya lembut.
" Hmm."
"Tidak.. tidak papa."
"Ada apa sayang?"
" Apa kau kenal dengan Alka Drake?"
" Hmm, ya kenal." Alka mengangguk kan kepalanya.
" Siapa itu?"
"Entahlah, aku tidak tahu." Alka tersenyum mengecup setiap inci permukaan wajah Listya, ia mendudukkan tubuhnya.
Berjalan menuju bathroom guna ingin membersikan tubuhnya yang lengket. Namun saat ia melangkah, sebuah suara memanggil namanya.
"Alka, apa kau akan mandi?" Ucapan itu membuatnya berbalik menatap asal suara itu.
.........
"Fatia!"
"Ya?"
"Apa yang kau lakukan di sini, Geby sekarang sedang di kediaman Dehan, ahhhh maksudku Alka." Ujar Roan dengan nafas memburu.
Fatia bangkit, tak percaya apa yang baru saja di sampaikan oleh pria murah senyum itu. Dari tadi dirinya sibuk memerhatikan sang pujaan hati berlatih Billiard.
"Hay Aident ada kabar bagus, Geby membuat keributan di mansion Dehan!" Ujar Roan tersenyum.
Kedua manusia itu bergegas meninggalkan Roan disana, pria itu akhirnya ikut pergi mengikuti mereka yang tengah berlari.
"Lelah juga, tapi tak apa. Hoyyy tunggu aku!!" Teriak nya.
.........
"Apa yang kau lakukan?" Lard menatap sang empu dengan penuh selidik.
"Aku pikir dia sudah berubah." Ujar Jeans tidak mau di salahkan.
Ya tentu, salahkan Geby yang berakting dengan sangat baik. Membuat ia goyah dan percaya pada wanita itu.
" Kau ini." Lucy menjambak rambut suaminya itu gemas.
"Apa yang kau lakukan, aku menyisir nya selama berjam-jam!" Jeans kembali membenarkan rambut ala opa opa koreanya.
"Ya,,,, apa salahku. Rambutmu meminta untuk di Jambak, aku hanya membantu saja."
"Sudahlah, ayo kita pergi. Aku takut Dehan tidak akan memberi ampun pada Geby." Suara bumil itu membuat ke lima orang disana terdiam.
" Kau benar Bunny." Ujar James mengecup kening Rose.