
"Pak! Penyergapan kali ini berhasil, kami telah mengamankan ketua dari mafia itu. Namun para anak buahnya berhasil melarikan diri," ucap seorang pria dengan tegas melapor pada atasannya.
"Sangat bagus, kali ini kau benar-benar membuat ku bangga. Sudah bertahun-tahun aku menunggu kabar ini, akhirnya bedebah itu berhasil dilumpuhkan," ucap seorang pria paruh baya yang baru saja berdiri dari duduknya.
"Police Commissioner Adjutant, pangkatmu kini adalah Police Grand Commissioner Adjutant. Selamat atas keberhasilanmu," ucap seseorang lagi tiba-tiba masuk kedalam ruangan.
"Siap! Terimakasih Komandan," senang pria itu sembari tersenyum dan sedikit terharu.
"Alka Drake, dia adalah mafia yang tidak mungkin ditangani dan sekarang kata itu berubah, karenamu Alex. Aku sangat bangga padamu," ucap Komandan itu memeluk Alex yang juga bangga pada dirinya.
Flashback
Sejumlah pria berseragam bersembunyi menyaksikan beberapa manusia yang sedang berpesta.
Melakukan kegiatan haram dan menentang hukum adalah hal biasa, mereka adalah buronan nomor satu kepolisian karena begitu kuat. Tak ada celah untuk membuat mereka tertangkap.
Sudah banyak mayat bertaburan karena berani melawan para bedebah itu, hampir tak ada yang selamat. Mereka bagai iblis yang tak memiliki hati, setiap kali memikirkan itu membuat para polisi di hina karena tak bisa melawan mereka, dan sekarang kepolisian akan melakukan pembalasan dendam karena rasa benci dalam diri pahlawan itu meronta-ronta ingin memusnahkan semua iblis itu dari muka bumi.
Alex adalah salah satunya, ia ingin membunuh orang itu dengan tangannya sendiri karena telah merenggut seseorang yang paling penting dalam hidupnya. Wanita yang akan dinikahinya dalam beberapa hari lagi, kini telah berhadapan dengan yang kuasa.
"Apapun akan kulakukan, untuk membuat kau berlutut di hadapanku dan membuatmu merasakan sakit yang kualami," ucapnya memukul pria itu dengan tangannya yang gemetar.
Pria itu sedang mabuk dan bodohnya, para anak buahnya kabur. Beberapa diantaranya berhasil kami lumpuhkan dan tertembak hingga tak bernyawa.
Kami kepolisian menaruh dendam paling terdalam pada mafia itu, selama ini kami hanya bisa menaklukkan mafia di bawahnya.
Tak disangka kini orang yang dijuluki King akan merasakan akibat dari segala perbuatannya.
Flashback off.
"Amankan dia di penjara eksekusi bawah tanah. Kita akan menghubungi General Luke," ucap komandan tersebut.
"General Luke Bryan?" tanya Alex tak percaya akan bertemu dengan orang itu.
"Ya, apa kau senang?"
"Siap Komandan!" Ucap nya memberikan hormat.
.........
Luke Bryan, polisi genius yang baru berumur 28 tahun sudah menjadi seorang general dan memimpin pasukan pusat.
Dia dijuluki sebagai Lord yang paling hebat dalam kepolisian, ia juga sedang mencari orang yang disebut dengan King Itu.
Kabarnya, General Luke dulu pernah bertemu dengan Alka, dan hampir menangkapnya pada saat sedang puncak keberadaannya yang ditakuti polisi.
Namun sayangnya, ia terkecoh hingga membiarkan Alka melakukan hal licik, melempar pasir pada mata General Luke.
Alex bersemangat, kebahagiaan berlipat ganda akibat kedatangan General Luke. Dan mungkin saja dia akan diberi penghargaan langsung dari General.
.........
Gadis itu baru saja mendelik, perlahan membuka kedua matanya hazel nya yang indah, sedikit merenggangkan kedua tangan, ia pun bangkit dari tempat tidur nya.
Listya tampak lesu, bibir nya di tekuk sempurna, perasaan nya sama sekali tak tenang. Ia sendiri bingung apa yang membuat nya sedih kali ini.
ia turun dari kasur yang berukuran king size itu, melangkah kan kaki nya perlahan menuju pintu kamar mandi, berniat membasuh wajah nya.
Ia melihat cermin, yang memantulkan dirinya sendiri. Rambutnya kusut, wajah yang cantik, bulu mata yang lentik, hidungnya yang mancung dan kedua matanya yang indah itu membuat nya sempurna.
Tuhan memang memberkati nya dengan kecantikan yang unik, ia sendiri memujinya tapi apakah karena wajah nya ini mungkin saja, yang menjadi penyebab utama ia terjebak di sini sekarang.
"Nyonya, mari sarapan." Panggil seorang maid mengetuk pintu.
" Ya baiklah." Jawab nya singkat melanjutkan ritual membersihkan wajah nya.
Ia sendiri di biarkan tanpa penjagaan yang ketat, bahkan ia bisa keluar masuk vila yang terbuka itu.
Sempat untuk berfikir untuk kabur karena tak ada yang perduli terhadap dirinya, setelah selesai sarapan ia berjalan-jalan sebentar menghirup udara segar, meski sangat senang bila bisa kabur, tetapi ia juga pasti akan merindukan tempat ini nantinya.
Jika mungkin, suatu saat bila ia memiliki kehidupan, dan memiliki keluarga sendiri. Ia ingin menceritakan semua tentang kejadian yang ia alami pada anak-anak nya kelak.
Sedikit nya ia tersenyum memikirkan hal manis itu, dan mulai berjalan menuju danau yang tak jauh dari Vila.
Matanya di manjakan dengan pemandangan yang sangat indah, ia duduk di sana menyaksikan keindahan alam.
Sungguh menyenangkan, sangat nyaman dan tenang.
"Huh~" menarik nafas dalam-dalam tersenyum.
" Kau senang di tempat ini?" Suara bariton yang cukup familiar.
" Kenapa kau kemari?" Tanya Listya memutar matanya jengah.
" Aku hanya ingin mengatakan berita pada mu, itu saja." Ujar pria itu dari belakang.
" Aku tak tertarik," Listya mencoba tak menghiraukan ucapan pria itu.
" Baiklah kalau begitu, lagi pula aku tidak di bayar untuk pekerjaan ini. Untuk apa, aku repot-repot memberi tahu pada mu." Ucap Aident melangkah pergi.
Listya sama sekali tak mendelik dari tempat nya, melirik pria menjengkelkan itu yang sudah pergi.
Ia tersenyum, lalu bangkit melancarkan rencananya, dengan cepat berlari kecil menuju hutan.
Cukup lama ia berjalan namun tak menemukan jalan , kenapa malah seperti ini ia tersesat tak tahu arah. Bahkan untuk kembali pun ia terlihat bingung, apa yang harus ia lakukan sekarang?
Ia kembali berjalan, meski tersesat ia tak mau menyerah begitu saja. ia tak mau tidur di tempat seperti ini, karena ini sudah sore ia masih belum bisa keluar ataupun kembali.
" Butuh bantuan?" Lagi-lagi suara itu.
" Kau!"
" Seperti nya kau tampak kebingungan, kau tersesat?"
" Tidak! aku hanya sedang berjalan-jalan saja." Elak Listya.
"Benarkah, lalu mengapa kau tak kembali untuk makan siang?"
" Aku belum lapar."
krukk krukk...
" Seperti nya perut mu tak setuju."
" Ya kenapa?" Tanya Listya tak bisa mengelak lagi.
Aident melangkah mendekati wanita itu, mengikis jarak. Listya mundur kala saat pria itu mendekati dirinya.
"Kau tahu, percuma saja. Kau tidak bisa lari, disini adalah rumah kami. Kau cukup beruntung di biarkan tinggal di sini semaumu, ini adalah kerajaan kami.
"Apa maksudmu."
"Jika kau tidak bisa pergi dari Mansion milik kakak, begitu pun juga di sini. Tempat ini bahkan lebih buruk dari Mansion itu sendiri.
" Vila ini sangat luas, tak akan ada seorang manusia pun yang bisa masuk dan keluar sesuka hati,"
" Tempat ini di desain khusus, seperti hutan, tapi tak berujung. Seperti labirin, jika kau lengah kau akan tersesat. Bahkan jika bisa keluar, masih ada dinding listrik menunggu mu." Sambungnya tersenyum.