
"Apa yang kau lakukan."
" Siapa yang membiarkan mu masuk, seenaknya!" Suara Aident sedikit naik dengan tatapan mata yang tajam.
Dengan susah paya Listya menelan saliva, ketakutan menatap pria itu, bahkan ia tak bisa mengucapkan sepatah kata pun, seolah mulutnya mati rasa.
"A.."
"Katakan!"
"Kenapa kau marah!!!" Listya tak tahan lagi dengan semua tekanan, langsung membentak pria itu.
Aident terkejut mendengar suara teriakan wanita itu, apa yang terjadi sebenarnya?
"Lepaskan aku!" Listya menepis tangan pria itu yang masih memegang lengan nya dengan kasar.
"Aku pulang saja, eeee..." Ia keluar dari kamar itu sembari merengek.
Semua pelayan kebingungan, menyaksikan apa yang terjadi di balik pintu, sementara Aident terdiam tak bergeming dari tempatnya.
"Pinjam ponsel mu, ponselku ketinggalan."
Aident kembali terkejut saat Listya kembali, memandangi nya dengan wajah sedih, ia mengerjap kan matanya beberapa kali melirik ponsel yang ada di atas nakas.
Begitu pula dengan wanita itu yang mengikuti arah tatapannya, dengan santai mengambil ponsel yang terletak di atas nakas. Menekan beberapa tombol, dan mulai meletakan nya di samping telinga.
"Halo, halo..."
Mata Listya membulatkan sempurna saat Aident mengambil ponsel dari tangan nya.
"Apa yang kau lakukan bodoh, apa kau ingin aku dapat masalah!" Aident memutuskan saluran telfon itu.
"Biar saja, aku tak perduli!" Sinis Listya.
"Baik-baiklah, apa yang kau inginkan tuan putri?" Aident mencoba bersabar menghadapi wanita merepotkan satu ini.
"Apa, apa yang aku inginkan? Aku tidak tahu, kenapa kau bertanya pada ku!"
Seakan tak percaya, Aident memijit pelipisnya mencoba tenang, astaga dia bisa gila jika seperti ini.
"Baiklah, ini masih pagi...."
" Sudah siang." Ucapannya di potong oleh Listya.
" Siang, iya baiklah. Lalu?"
"Aku lapar."
" Kenapa kau tidak minta pada pelayan? Astaga!"
" Dan aku mau kamar mu."
"Ya,, ya,, baiklah.... Tunggu, apa? Kamarku?"
"Apa kau buta, mana bisa aku tidur dikamar yang sangat terang. Kamar mu bagus, jadi aku mau kamar mu."
"Apa kau sudah gila, pulang saja kerumah mu. Pelayan antar dia pulang!"
"Baiklah, aku pulang." Listya hendak melangkah pergi.
Seketika itu pula Aident mengacak Surai hitamnya kasar, membuat rambutnya berantakan, dan mengejar wanita itu.
"Apa yang kau lakukan!" Listya terbelalak melihat Aident tiba-tiba muncul menyeret nya kembali ke kamar.
"Tidur, tidur saja di kamar ku! Terserah kau akkkhhh!" Aident pergi meninggalkan wanita itu sendiri.
Listya tersenyum kemenangan, merebahkan tubuhnya mungil nya di atas kasur yang empuk itu, sambil berguling-guling seperti anak kecil.
.........
"Tuan, anda..." Seorang pelayan ingin bertanya pada Aident yang sedang duduk di sofa.
Namun pria itu menatap nya tajam, sehingga membuat pelayan itu takut dan tak berani melanjutkan ucapannya.
"Oh Astaga!!!" Aident kembali mengacak Surai nya frustasi.
Namun tak beberapa lama muncul ide di benak nya, untuk membalas perbuatan wanita sialan itu. " Tunggu saja!" Sembari menunjukkan senyum iblis nya.
Listya yang tengah memandangi langit-langit kamar, teralihkan dengan aroma dari kasur yang ia tiduri, aroma tubuh pria itu. Tentu saja, bukankah ini adalah kamarnya, pastinya aroma tubuhnya yang ada di sini.
Entah mengapa sekarang ia merindukan ranjang nya, ya ranjang aroma pria iblis itu, namun seketika itu Listya menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Kenapa aku malah rindu padanya." Ucapnya cemberut.
Tentu saja, Dehan lah yang mengirim dirinya ke rumah manusia menjengkelkan ini, bukan kah itu merusak mood nya. Padahal ia ingin sekali bertemu dengan Jeans dan Lucy, tapi malah di kirim tempat ini.
Apa boleh buat, ia juga tak bisa membantahnya, dan hal harus ia lakukan sekarang adalah duduk tenang dan tidak membuat keributan, sejujurnya ia sangat takut dengan apa yang di katakan pria iblis itu.
Mengingat nya saja, sudah membuat Listya bergidik ngeri, apa lagi jika itu benar-benar terjadi, Tidak! Itu tidak boleh terjadi, apa jadi nya jika kaki cantik milik nya harus buntung. Itu adalah mimpi buruk selama hidupnya, tuhan jauhkan lah dirinya dari hal buruk.
"Nona, makan siang sudah siap, tuan meminta anda segera turun."
Listya dibuat terkejut saat seorang pelayan tiba-tiba muncul dan hampir saja ia berteriak, ia sangat sensitif terhadap hal yang mengejutkan jika sedang melamun.
Ya itu hal sering terjadi pada nya, banyak teman-temannya yang memperolok nya dengan itu, semasa sekolah menengah atas.
" Ya , baiklah." Ucapnya turun dari kasur, mengikuti pelayan tersebut.
Terlihat dari sana seorang pria tengah duduk di meja makan, tersenyum pada nya.
"Silahkan duduk, putri!" Ucapnya tersenyum manis.
" Terima kasih, kelinci." Ucapannya berhasil membuat Aident berhenti tersenyum.
"Kenapa panggilan ku, kelinci?"
" Karena kau mirip, cookie."
"Cookie?"
"Itu kelinci ku yang sudah tiada, dia mati karena aku memeluk nya terlalu erat." Ucap Listya santai.
" Ha?"
"Ya, karena terlalu sayang dia malah mati."
"Haaa haha hahaha..." Gelak nya pecah, membuat Listya menatap nya.
"Apa yang lucu?" Ucapnya kesal.
" Kau memeluk nya, sampai mati hahaha Astaga, yang benar saja hahahaha." Aident tak berhenti terbahak mendengar cerita konyol itu.
"Itu tidak lucu sama sekali, aku bahkan tidak sempat berkunjung ke makam cookie, karena Dehan tak mengizinkan ku pergi keluar."
" Berkunjung ke makam nya, hahahaha dimana makam nya, apa kita perlu kesana menabur bunga mawar? Hahahaha astaga hahaha.."
" Kau keterlaluan, jangan tertawa!"
" Ha ha ha iya baik putri mahkota Hahahah.."
" Berhenti!"
Aident kembali diam saat Listya membentak nya, namun tetap saja ia tak tahan dengan sekuat tenaga menutup mulutnya agar tak terbahak.
.........
"Sebentar lagi, 1 2 3...."
Brak...
Bank...
Bank...
"Wah ada tamu ternyata, hey bisakah kau datang dengan tenang, kau selalu membunuh bawahan ku." Ucap seseorang tiba-tiba muncul.
Dehan tersenyum smirk, menatap pria tua itu. Ia berdiri di atas tubuh mayat yang baru saja ia bunuh.
"Karena jika tidak membuat keributan kau tak akan muncul dengan mudah."
"Hahaha, kau ini sama sekali tidak berubah, Jeremi mendidik mu menjadi orang yang sangat hebat,.."
" Bukan karena pria itu, aku memang sudah hebat bahkan tanpa didikannya." Ucap Dehan percaya diri.
" Ya kau benar, bahkan Jeremi tidak sehebat dirimu, aku ingin menawarkan apa kau mau kerja sama dengan ku? Bagaimana menurut mu."
Dehan tampak berfikir sejenak lalu tersenyum, "Tidak, tidak mungkin, dan tidak akan pernah."
" Hahaha ya ya ya, jika kau di pihak ku, lalu siapa yang akan menjadi musuhku, pasti hidup ku membosankan,"
"Kecuali kau menghianatiku." Tatapannya yang bersahabat kini berubah tajam.
"Aku tidak punya banyak waktu, jadi langsung ke inti nya saja."
"Ya tentu katakan."
" Kembalikan Richard!"
"Hanya itu?"
" Jangan memancing ku untuk menghabisi seluruh orang mu Charizard."
hai lovely, komen terus biar author semangat ❣️❣️