
"Kau sudah gila?" Pekiknya saat pria itu menyeretnya menaiki sebuah Speedboat di sebuah pelabuhan.
"Hampir." Ujar pria itu masih dengan senyuman manis milik nya.
" Lepas....!!!"
"Kau ini sangat energik ya." Pria itu tampak kesulitan saat Listya berjongkok.
" Ayo!"
"Akhhh.... Lepaskan aku!!!" Teriak wanita itu, saat dirinya sudah berada di pundak sang pria seperti sekarung beras.
"Diam, diam atau aku jatuhkan ke laut."
"..." Terdiam.
Listya tampak kaku melihat air laut yang tak terlihat dasarnya. Tubuhnya melemas, ketika seseorang menusuk suntikan bius di leher putih miliknya.
"Siapa yang memberi perintah?"
"Maaf pak.."
" Kau merusak suasana hati ku saja." Ujarnya dengan wajah menyeramkan.
"Saya pikir dia terlalu berisik..." Belum sempat bawahan itu berucap, Luke tak menunjukkan tatapan mematikan sehingga membuat bawahan nya terdiam takut.
...
"Apa yang terjadi!!!" Lart dan James baru saja datang menghampiri ke empat wanita yang sedang panik sembari mundar mandir, di menggigit jari mereka sendiri.
"Kami bertemu seorang wanita tua, dia meminta tolong kepada kami untuk membantu suaminya."
" Tunggu, seperti nya aku tahu siapa." Ujar Lart memijit pelipisnya.
"Ada apa?"
Semuanya tampak penasaran dengan apa yang di katakan Lart, terutama Jessica yang meraih lengan pria itu yang hendak pergi.
" Bisa kau jelaskan pada ku?"
" Aku akan jelaskan, tapi sekarang harus mencari Listya dulu." Ucapnya.
Jessica tak memungkinkan untuk tetap menahan suaminya itu, dan melepaskan pegangan tangan nya.
...
Trinkkk...trinkk...
Suara alarm darurat, semua polisi berlari masuk kedalam ruangan yang sudah berhiasan warna merah.
Bank..bank...
Tembakan demi tembakan terus terdengar seperti sebuah alunan musik baginya. Ia terus tertawa terbahak-bahak saat satu persatu budak pemerintah itu mati akibat perbuatannya.
" Membosankan." Ujarnya lagi melangkah keluar dari sana.
"MENYERAH SEKARANG! KAMI TELAH MENGEPUNG TEMPAT INI!!" Terdengar suara yang begitu bising, dengan beberapa lampu menargetkan dirinya.
Alka merasa terganggu dengan adanya cahaya menyentuh wajah nya, namun ia cukup tertarik saat seluruh kepolisian mengepung dirinya dengan berbagai macam senjata.
Atensinya berada pada sebuah helikopter yang berada di atasnya, ia menatap pria yang berteriak disana dengan ancaman nya.
"TIARAP!" Titahnya.
Alka berjalan kembali mendekati polisi yang sudah terbaring tak bernyawa akibat ulahnya, ia merogoh pakaian pria berseragam itu, mengambil satu jenis pistol.
""TIARAP!!" Ucapan yang kedua kalinya.
Ia tak perduli membuka satu persatu komponen pistol itu dan merakit ulang dengan pistol miliknya.
"Aha! " Ia tersenyum menatap pria di atas.
Bank..
Dua tembakan saling bertukar arah, Alka menatap anak peluru yang menyentuh tanah tepat di hadapan nya. Namun sedetik kemudian...
Plak...
Seseorang mendarat di tempat yang sama dengan peluru itu, dan dapat di ketahui jika itu adalah pria yang ada di atas helikopter dan masih berada diatasnya.
" Tembak!" Seru yang lain serentak.
Boom...boom..
Basoka yang baru saja di tembakan mendarat tepat pada pria yang bernama Alka itu, semuanya berantakan dengan asap yang tak kunjung menghilangkan akibat ledakan.
"Temukan mayatnya!!" Ujar Komandan itu geram.
"Maaf tapi sayang sekali mayat nya tidak bisa di temukan." Bisik seseorang di telinga nya.
"Kau!" Komandan langsung mengeluarkan senjata menodong pria itu.
"Santai, aku hanya memberi tahu saja." Ucapnya mengangkat kedua tangannya sembari tersenyum.
" Menyerah kau...khokk..khokk." Alka menyerang pria itu berutal.
"Kau begitu lemah, bagaimana jadi seorang komandan?" Alka menatapnya datar.
" Aku akan membunuhmu.Sialan!!" Teriak pria itu bangkit.
Bank..Bank...
Sekian banyaknya peluru yang ditembakkan, tak satupun mengenai manusia itu. Ia Malahayati setiap gerakan menghindarnya.
Saat peluru terakhir pun tak mengenai sasaran ia mulai panik mencari pistol lain di sekitarnya.
"Hei pak tua, aku tak punya waktu untukmu. Sudah saatnya kau menyusul para budak pemerintah lainnya benar?" Dehan berjalan dengan santai menuju pria paruh baya itu.
"Kau pikir aku akan kalah dari mu? Bedebah! Cih.." Pria itu cukup tenang menanggapi perkataan sang komandan.
"Apa lagi yang ingin kau pertahankan? Anak buah mu? Mereka akan segera menyusul mu nanti."...
Bank...
Dehan menembak satu peluru tepat di bagian kiri pria itu, ia tersenyum saat komandan melotot melihat dirinya.
Bank..Bank..
"Aihs.. tatapan mata yang indah." Ujarnya pergi.
...
" Mmm~" Listya membuka matanya perlahan mencoba melihat, penglihatan nya buram. Sesekali ia mengucek matanya dengan kedua tangan nya.
Baru lah mata itu bisa menangkap gambaran ruangan kecil dan sempit, perlahan-lahan lengannya mulai terasa perih akibat ikatan yang begitu kuat.
"Dimana aku." Tanyanya sendiri.
"Tangki minyak laut Utara." Terdengar suara khas yang cukup ia kenali.
Benar saja pria itu kini bersandar di ambang pintu, sembari tersenyum melipat kedua lengan di dadanya.
"Apa kau tak waras?"
"Kau tak percaya?"
"Kalau begitu lihat saja sendiri." Luke mendekati wanita itu membuka ikatan dengan santainya, berbeda dengan wanita dihadapannya nya yang terkejut.
"Ayo, aku mengizinkan mu pergi sekarang, aku hitung sampai 50 jika kau masih di sini kau tak akan pernah bisa lari lagi."
"Kau.."
"1,2,3,4..." Listya panik mendorong tubuh pria itu.
Dan... Hampir saja ia terjatuh jika saja tak ada pagar kecil itu ia akan benar-benar jatuh. Hal yang lebih mengejutkan lagi adalah ini benar-benar di lautan.
Hari yang tak terang lagi, membuat semuanya tampak lebih susah di cermati, ia masih mendengar suara pria itu berhitung. Dan ia mulai tersadar, sekarang ia harus mencari sebuah perahu.
Ia melangkah dengan cepat mencari keberadaan perahu itu, namun nihil meski sudah berkeliling di sana tetap tak menemukan apapun.
" Kau masih disini, waktunya sudah habis, sayang sekali." Ucapnya menunjukkan raut sedih sesaat karena dia langsung tersenyum kembali.
...
"Jejak nya menghilang." Ucap Fatia melihat iPad nya.
"Kau bercanda?"
"Apa maksudmu?" Ucapnya gugup.
"Sialan!" Aident memukul setirnya kesal.
"Kita harus kembali mencari jaringannya." Usul wanita di samping nya.
"Berikan pada ku, kau benar-benar tidak berguna." Aident mengambil paksa iPad wanita itu tampa merasa bersalah.
"Maafkan aku." Ucap wanita itu murung.
...
Seorang pria berjalan dengan linglung di sebuah atap bangunan yang telah hancur seperti tersapu angin ribut dan juga petir.
Ia menghirup udara segar khas kesukaan yaitu bau anyir darah tercium nikmat, membuat nya tenang dan tentram.
Tapi ia merasa jika pergelangan tangannya sedikit peri, namun hanya sesaat. Perih itu tak terlalu terasa lagi.
Saat sedang asik dengan kegiatannya menghirup aroma kesukaan nya, terdengar suara seorang dari saku salah satu mayat disana.
Ia mengambil sebuah wolki tolki.
" Apa kau mendengar ku sobat?"
"Seseorang yang mungkin kau kenal saat ini sedang bersama ku." Sambungnya.
Alka hanya tersenyum....