
Pukul 06.00 pagi.
Listya membuka matanya perlahan, merasakan deru nafas pria yang sedang tertidur pulas di samping nya, ia menyingkirkan tangan kekar nya yang selalu melingkar di perut datar nya pelan.
Bangkit, sebisa mungkin tak menimbulkan suara yang dapat mengusik pria iblis itu.
Mengendap-endap seperti seorang pencuri, keluar dari kamar yang gelap itu.
Sesekali melirik pria yang masih terlelap, menarik kenop pintu hingga tak melihat sosok iblis itu, berjalan dengan santai menuruni anak tangga, ia juga melihat pelayan yang sedang membersihkan mansion.
"Nyonya, mau kemana?" Tanyanya.
"Aku hanya ingin keluar sebentar."
"Tapi nyonya, jika tuan tahu, bisa jadi masalah besar." Ucapnya khawatir.
"Ya tentu, jika dia tahu. Maka dari itu jangan beri tahu dia."
Listya langsung berlari meninggalkan pelayan itu, rasanya lega karena ia berhasil keluar tanpa di cekal oleh siapapun. Tadi ia sempat melihat para bodyguard yang berjaga di depan pintu utama, namun entah mengapa mereka tak menyadari kehadirannya.
Apa mungkin masih pagi, jadi mereka masih mengantuk, jika benar, bukan kah itu akan menjadi masalah besar bila si iblis tahu anak buahnya bermalas-malasan.
Tanpa alas kaki gadis itu berjalan menyusuri rerumputan yang luas, ia terus berjalan tak sadar jika sudah cukup jauh dari mansion, bahkan ia tak bisa melihat bodyguard itu.
"Huhh, aku haus."
Ia kemudian kembali berjalan, hingga atensinya dimanjakan oleh pemandangan sebuah kolam yang cukup besar, ditambah ayunan dan pohon apel yang membuat nya semakin indah.
Listya seakan tak percaya, jika ada tempat yang berbeda dibandingkan semua tempat di mansion ini,
"Sepertinya bersih." Ucapnya menundukkan wajahnya memandangi air jernih kolam.
Kemudian, ia mengambil sedikit air menggunakan kedua tangan nya, mencium aroma segar dari air dan meminumnya.
"Seperti nya, kau menyukai nya?"
Suara berat khas, terdengar di telinga gadis itu, membuat nya berbalik menatap sosok pria yang ia yakini bahwa tadi pria itu masih terlelap.
Pria itu tak menunjukkan ekspresi apapun, ia juga tak terlihat marah namun tetap saja Listya tampak kalang kabut.
"Mmm, ada apa? Kau tak mau bermain lagi?"
"..." Tak ada jawaban, gadis itu bungkam.
"Jika sudah selesai, ayo kembali. Disini dingin piyama mu tipis dan mengapa kau tak memakai alas kaki?"
"Karena aku ingin."
Jawaban gadis itu membuat nya terkekeh, bukan kah ia harus memberikan alasan yang masuk akal, tapi jawaban nya malah seperti egois.
" Baiklah." Pria itu mengangguk tak mau melanjutkan.
"Kenapa kau tahu aku disini?" Tiba-tiba saja pertanyaan yang sedari tadi yang ada di benak nya ia lontarkan tanpa rasa takut.
"Hmm? Ahaaaha kau sama sekali tidak berubah Dear." Dehan tertawa memperlihatkan sisi lain dari diri nya.
" Kau tertawa." Rasanya ingin sekali Listya memotong mulutnya yang asal bicara.
" Apa tertawa itu larangan?"
Tak ada perintah, tak ada tatapan tajam dan datar dan ia juga merasakan sikap suami nya itu melembut, atau lebih tepatnya lebih terbuka.
"Ayo, naik."
Dehan menundukkan tubuhnya, mengisyaratkan agar gadis itu naik di punggung nya.
"Aku bisa berjalan."
Dehan tersenyum kembali menyuruh istrinya naik lewat tatapan mata, oke tak masalah Listya setuju dan naik di punggung pria itu.
" Kenapa kau tahu aku disini."
Listya kembali bertanya, sepanjang perjalanan menuju Mansion.
"Aku mengikuti mu."
"Tapi tadi kau tidur."
"Aku tak tidur, hanya menutup mata."
Seperti nya mood iblis ini sedang baik, ia menjawab semua pertanyaan Sang istri, dengan tutur kata yang paling lembut.
"Dehan,"
" Hmm?"
"Apa aku boleh menyukai Aident."
"Kau menyukai nya?"
"Tidak, aku hanya bertanya. Aku ingin membuat mu kembali seperti semula."
"Seperti semula?"
"Pemarah, suka memerintah, wajah yang tidak pernah tersenyum, dan satu lagi kau suka membunuh orang."
"Hahaha, apakah aku seperti itu? Ya benar, aku suka membunuh. Sikap ku sekarang, hanya ingin kau bermanja-manja dengan ku."
"Agar kau nyaman, dan tak pergi dari ku nanti nya." Kini raut wajah nya berubah datar.
Begitu pun Listya, wajah nya murung, dan sekarang ia tampak bingung dengan pilihannya.
Ia menyadari bahwa pria iblis ini benar-benar membutuhkan kan nya, meskipun cara nya salah namun niatnya tidak lah salah.
Cinta, selalu ada dalam diri manusia, sama halnya pria iblis jahat ini, saat memikirkan hal ini membuat nya kembali penasaran dan kembali bertanya.
"Dehan,"
"Hmm?"
"Kenapa kau selalu memanggil ku dengan sebutan Risyta?"
Dehan tersenyum pertanyaan itu mengingatkan ia kembali pada umur 6 tahun.
hai lovely selamat membaca 🥰