
Kedua gadis itu menyusuri setiap tempat yang ada di rumah sakit, Mereka memerhatikan setiap ruangan orang yang di rawat di sana.
"Aku benci bau obat-obatan." Ucap Lucy jijik.
"Kenapa?" tanya Listya terheran.
"Entahlah, itu sangat menjijikkan ." Ucapnya tersenyum tersenyum geli.
"Obat ya... " Listya tampak berfikir.
"Ada apa? "
"Tidak apa-apa, hehe. " Listya menggeleng kan kepalanya sembari cengengesan.
"Hey lihat itu." Seru Lucy.
"Apa? " Listya mengikuti arah pandang gadis itu.
"Itu Jesica dan Rose." Girangnya.
"Hai! " Teriak Rose, melambaikan tangannya dari kejauhan.
"Kalian kemari? " Lucy.
"Ya, aku dan Jesica akan melakukan pemeriksaan. " Ucap Rose malu- malu.
"Kalian sakit? " Tanya Listya polos.
"Bukan, bukan itu! kami eeehh, mau cek kehamilan ." Ucap Rose, mukanya sangat mirip kepiting rebus.
"Kalian hamil! " Latah Lucy menutup mulutnya.
"Dia yang hamil, bukan aku." Ujar Jesica yang akhirnya membuka mulutnya.
"Kalian mau ikut?" Tanya Rose.
Mata kedua gadis itu berbinar, mengangguk mengiyakan ajakan Rose .
.........
Dua orang pria memasuki sebuah gudang besar, atau lebih tepatnya Basecamp, banyak penjaga berada di sana, dengan semua keamanan yang ketat. Aident dengan santai duduk manis di sofa yang tersedia, Sementara Jack tersenyum ramah melihat seorang pria tua yang juga tengah duduk di sofa dengan tongkat ditangannya.
"Aku mengundang king, tapi sepertinya dia sedang tidak bisa datang." Ucap pria tua itu tersenyum sedih.
"Ahh, ya ia sekarang sedang banyak urusan penting. " Ucapnya menunjukan lesung pipi nya yang dalam.
"Katakan saja jangan berbelit." Sarkas Aident yang menunggu mengambil segelas wine di atas meja.
"Mari kita bicarakan, kenapa anak ku bisa sampai berurusan dengan King?" Sekarang pria tua itu menunjukkan raut wajah yang berbeda dari sebelumnya.
"Bukankah, seharusnya kau bertanya pada putra mu itu. " Ucap Aident dingin.
"Oh iya aku lupa, dia sedang kritis bukan." Aident terkekeh.
Matanya menajam menatap pria tua itu, dengan ekspresi yang sulit di tebak.
"Ya kau benar, aku sama sekali tak ingin berurusan dengan king, tapi jika sudah seperti ini mau bagaimana lagi." Ucapnya tersenyum aneh.
"Hmm, kau benar sekali. Kami juga sedang bosan." Ucap Jack antusias.
"Baiklah kalau begitu, aku sangat menghargai keinginan kalian untuk bermain, jika kalian sangat menginginkan nya." Pria tu tua tersenyum mengetuk tongkat kayu nya .
"Tentu, kami akan ikut serta dalam permainan ini." Ucap Aident berdiri menjatuhkan wine yang dari tadi hanya ia pegang namun tak ia minum.
.........
"1 bulan 2 minggu! " Serentak.
Gadis berambut pirang itu merabah perutnya yang masih datar.
"Apa James sudah tau? " Tanya Jesica.
"Mungkin sudahhh..?" Ucap Rose mengingat apa ia sudah memberi tahu si mochi itu.
"Jangan bilang, kau tak memberi tahu nya." Ucap Jesica mulai curiga.
"hehehe." Gadis itu malah terkekeh menanggapi perkataan Jesica.
Sementara kedua gadis lainnya, hanya menyimak apa yang terjadi.
"Hey teman-teman aku ingin sesuatu. " Rose tersenyum dengan wajah memelas nya.
"Apa? " Tanya mereka serentak.
.........
"Ayo lah, biarkan kami keluar sebentar, aku berjanji akan menjaga nya, aku bersumpah. " Bujuk Lucy menunjukkan dua jari pada Jeans.
Jeans menatap Listya yang sedang diam dengan tatapan kebingungan juga tersenyum kikkuk.
"Baiklah, tapi ini tak mudah. Ikuti arahan ku jika ingin selamat." Ucap Jeans akhirnya luluh.
"Dan kembali sebelum Dehan menyadari nya." Titah Nya.
Dua orang dokter wanita lengkap dengan maskernya, keluar dari rumah sakit itu. Mereka sedikit tergesa memerhatikan ke sekitar dan langsung masuk ke dalam sebuah mobil merah yang terparkir rapi di depan gedung itu.
"Ayo kita pergi."
"ayo!"
"Kau ini." Ucap Lucy tersenyum menggeleng kan kepalanya.
.........
Aident berjalan santai keluar dari gudang yang dindingnya dihiasi oleh kawat tajam
Begitu pula dengan Jack tersenyum menyapa setiap penjaga yang ada di sana.
Brak bruk...
Barang-barang berjatuhan, ia memegang tongkat nya penuh amarah,
"Sialan kalian, baiklah jika kalian ingin bermain."
Flashback on
"Tak bisa kah, kita lupakan saja masalah sepele ini?" Tawar nya.
"Dan menikmati racun mu? "
"Tentu, mari kita coba." Ucap Aident santai.
Flashback off
"Kalian akan menyesali ini. " Tawa jahat nan berat memenuhi ruangan itu.
.........
Dehan menyusun setiap file yang telah ia selesaikan, ia melihat sebuah gambar yang terletak pada meja nya, tersenyum mengelus gambar itu, namun senyum nya berubah saat merasakan panas pada tenggorokan nya.
Ia mencoba tenang namun itu malah membuat nya semakin hilang kendali dan melempari beberapa barang yang ada di dekatnya, ia berdiri bersiap untuk menjemput sang istri.
Listya dan ketiga wanita itu sedang berbicara sambil menunggu pesanan mereka datang.
"Teman-teman aku ingin ke toilet sebentar." Ucapnya nya.
"akan aku temani." Lucy hendak berdiri namun..
"tidak, toilet nya tak jauh. " Ia tersenyum langsung melesat.
Setelah selesai membersihkan tangan nya ia kembali menuju ketiga wanita itu, sesampainya nya ia di sana pesanan mereka sudah tersaji di atas meja.
"Ayo sini." Ucap Rose kegirangan menarik lengan Listya.
Saat hendak meminum jus strawberry lengan nya di cekal oleh Jesica
"kenapa? " Ucap Listya bingung menatap wanita itu.
"Coba lah, aku tak pernah melihat mu minum sebelum nya." Ucapnya memberikan segelas wine.
" Ini? "
"Ini wine, tenang saja itu tak mengandung banyak alkohol. " Jesica tersenyum mengambil jus yang ada ditangannya.
"Baiklah, aku coba sedikit ." Listya tersenyum tak mau menolak.
Ia agak ragu namu tetap meminum wine itu, tak banyak hanya sedikit, lalu tak berapa lama ia memegang tenggorokan. Sakit, panas dan sesak itu lah yang ia rasakan, gelas wine yang ia pegang itu terjatuh dari tangga nya, membuat semuanya terkejut.
"Listya!" Teriak ke tiganya panik.
.........
"Apa kalian sedang mempermainkan ku?"
"Kalian benar-benar ingin mati ternyata." Seringai Dehan dengan tatapan yang sama sekali tidak bersahabat.
"Aku minta maaf. "Jeans mencoba membuat pria itu tenang.
"Aku yang salah." Jesica dengan takut- takut maju menghadap nya
" Ahaa, Kau." Tatapan Dehan terkunci padanya.
Lart menghalangi nya menuju sang istri, ia juga melontarkan tatapan mata yang sama pada Dehan. Semua orang sudah berkumpul disana, James, Roan, Lart dan Jeans.
"Ada apa ini ?" Tanya Jack tiba-tiba datang dengan Aident disampingnya.
Dehan sedang tak mood, dirinya ingin membunuh seseorang sekarang.
"Akhhh." Terdengar suara teriakan dari dalam sana, yang membuat Dehan langsung menuju gadis itu.
"Sakit eee hiks... hiks." Rengek nya, melihat itu membuat amarah nya semakin menjadi jadi, Dengan cepat ia membawa sang istri kepelukannya.
Listya merasakan panas di tenggorokan nya, dan itu sangat menyakitkan. Rasanya ia tak bisa bernafas dan sangat susah untuk mengeluarkan suaranya.
Dehan menutup mata nya, mencoba menenangkan gadis itu, sembari mengelus rambut hitam nan lembut itu , Sungguh orang yang melakukan ini akan menyesali perbuatannya, berani sekali mengusik dirinya.
Dan ia juga, masih belum memaafkan ke empat orang yang sudah membuat istri cantik seperti ini, mungkin ini karena ia terlalu memberikan kebebasan pada mereka sehingga melupakan seorang King.
.........
Lovely maaf lama up
See youu...
Jangan lupa komen, like and share ya 🥰