Don'T Touch Mine Or Die!!!

Don'T Touch Mine Or Die!!!
chapter: back to hospital



"Apa ini?" Fatia panik saat sudah mendekati tangki minyak yang ada di tengah laut itu.


Kondisi yang kacau-balau, hampir setiap sudut tempat itu lebur dan tak berbentuk lagi. Tak ada yang bisa di lihat akibat asap yang begitu besar, namun tetap saja Aident mendekati tempat mengerikan itu.


Tanpa mengurangi kecepatan, terbersit dalam benak pikiran Fatia. Apakah Aident mencoba menerobos tempat itu? Oh yang benar saja.


Fatia dengan cepat mendorong Aident yang tengah mengemudi, sehingga membuat pria itu mengeluarkan kata-kata mutiara.


"SH***, apa yang kau lakukan!" Bentak nya.


"Apa kau mau mati? Tempat itu sudah hancur, jika kita semakin mendekat mungkin saja akan ada ledakkan." Jelas Fatia panjang lebar memutar kemudi.


"Kau bisa pergi jika kau mau, antar aku mendekat ke sana." Ujar Aident.


"Apa kau hilang akal, kau hanya menghantarkan nyawamu ke sana." Fatia kehabisan akal mendengar perkataan tak masuk akal pria itu.


"Aku.." Belum sempat Aident menjawab Fatia, iPad milik Fatia menimbulkan bunyi sehingga membuat keduanya terdiam.


Menekan sebuah tombol di benda itu, "Listya sudah di temukan, kalian bisa kembali." Ujar seseorang di sebrang sana.


"Baik" Jawab Fatia.


Ia menatap pria di sampingnya itu sekarang seakan mengatakan "Lihat"


.........


"Uhh~" Listya membuka matanya perlahan sesekali ia meringis karena tubuhnya yang sedikit kesakitan.


"Kau sudah bangun?" Suara itu sedikit familiar di telinga nya, benar saja seorang pria tersenyum pada nya.


"Apa kau masih merasakan sakit?" Tanya pria itu.


"Iya,..akh." Listya mencoba bangkit namun tubuhnya sangat lemah.


"Suamimu yang paling baik itu tak membiarkan aku menyentuh mu, dan malah membiarkan dirimu tetap sakit seperti ini. Dasar iblis." Gumam pria itu kesal.


Pasalnya semenjak datang ke rumah sakit ini, Alka sama sekali tak membiarkan Jeans menyentuh sang istri. Bahkan saat Listya sudah sangat kesakitan, pria itu tetap kekeuh agar Jeans tak menyentuh nya.


Al-hasil hanya perawat wanita saja yang bisa merawat Listya, dan itu tidak terlalu efektif dalam penyembuhan cepat.


Listya harus benar-benar bersabar dengan keadaan tubuhnya yang sangat lemah, Jeans hanya bisa memantau saja perkembangan wanita itu.


Kelemahan Jeans saat merawat seseorang ia harus direct contact, agar tubuhnya merespon apa yang terjadi pada tubuh pasien yang ia tanganin, oleh sebab proses penyembuhan Listya sedikit lamban.


"Kau bisa beristirahat sejenak, jangan terlalu memaksa tubuh mu." Ujar Jeans mengambil sebuah remote TV memberikan pada Listya yang sudah terduduk di bantu oleh perawat.


"Jika kau suntuk, kau bisa melihat acara TV. Aku akan pergi sebentar." Sambungnya mulai beranjak dari sana.


"Tunggu.. bagaimana aku bisa disini?" Tanya Listya sangat kebingungan.


Jeans kembali mendekat pada Listya, melihat setiap sudut wajah wanita itu. Sedikit lucu karena tatapan nya yang meminta penjelasan.


"Kau tak ingat?" Jeans kembali tersenyum dan berjalan menuju pintu keluar.


" Aku di tempat itu.. Tidak aku di laut dan .." Ucap Listya berfikir keras untuk mengingat kembali kejadian yang ia alami.


"Coba sedikit berusaha, nanti kau pasti tahu." Ucap Jeans melambaikan tangan nya pergi.


Listya tak dapat melihat punggung pria itu lagi kini semakin bingung, dan dengan segera menekan tombol power dan menyalakan TV.


"Masyarakat cemas akibat ratusan jiwa anggota kepolisian tewas, Kantor sektor****** yang menjadi pusat terjadi nya peristiwa tak terduga itu, membuat semua gempar., Seseorang narapidana yang di duga menjadi penyebab utama kantor sektor menjadi tempat pembantaian, masih belum bisa di temukan. Identitas nya masih belum bisa di ketahui, karena tak ada saksi mata yang bisa di minta penjelasan......."


Listya tampak tak tertarik pada berita itu langsung mengganti saluran.


"Tangki minyak laut Utara, yang dikabarkan terbakar hingga membuat semua yang ada di dalamnya tak tersisa, berdasarkan hasil penyelidikan sekitar tiga puluh orang menjadi korban atas terjadinya bencana itu. Wajah dan tubuh mereka yang terbakar membuat para korban itu di kenali...."


Saat mendengar kata-kata itu, Listya terserang sakit di bagian kepalanya, seakan sesuatu berputar kembali di benak nya.


Semua yang ia lupakan perlahan kembali, ia ingat di bawa oleh seorang pria ke tempat itu, dan di gantung di antara rebusan minyak mentah, tapi ada sesuatu yang ia lupakan. Pada saat itu ia bermimpi bertemu sang suami, namun seperti nya itu bukanlah mimpi saja.


"Dear."


" Kau sudah bangun?" Ujarnya menuju sang istri.


"Apa yang terjadi?" Sesuatu yang ia perkirakan di benak nya kini langsung ia tanyakan pada pria itu.


"Aku merindukan mu.."


"Aku bertanya."


"Kenapa kau begitu tertarik? Apakah itu lebih penting dari rindu ku." Ucap pria itu merubah raut wajahnya.


" Aku.."


"Shutt, tidak ada yang perlu kau tanyakan." Ujarnya mengambil anak rambut Listya memindahkan posisi helaian rambut itu kesamping daun telinga Listya.


"Apa..."


"Apa ini sakit?"


"Akh, jangan sentuh." Panik Listya saat pria itu menyentuh lengannya yang lebab.


" Hmm." Pria itu mulai mengendus aroma Listya melalui rambut sang istri.


Sembari sedikit mengecup kening wanita itu sayang, Alka hampir tak bernafas ketika mendengar perkataan Jeans yang mengatakan bahwa sang istri telah siuman.


Ia yang tengah sibuk di kantor, langsung bergegas menuju rumah sakit melihat kondisi Listya.


"Kenapa kau menyentuh nya itu sakit." Rasa tidak percaya Listya hampir menangis memukul lengan pria itu pelan.


" Maafkan aku." Alka terkekeh kecil namun merasa bersalah karena kejadian ini.


"Aku ..."


"Menangis saja, tak apa." Ucap Alka tersenyum manis memeluk wanita itu.


" Kenapa kau lama sekali, aku hampir mati." Seperti seorang anak yang merengek dan ketakutan. Listya menyembunyikan wajahnya pada jas hitam Alka.


"..." Tak ada jawaban. Tak tahu harus menjelaskan seperti apa.


"Apa kau mau berjalan- jalan?" Hanya itu yang ada di pikiran pria itu sekarang.


"Apakah boleh."


"Hmm."


Saat hendak turun dari tempat tidurnya, hampir saja wanita itu tersungkur jika tak di tangkap oleh Alka. Ia sendiri bingung mengapa kakinya tak bisa menopang berat tubuh nya.


"Ambilkan kursi roda." Titah Alka pada perawat yang ada di sana.


Ia mengangkat Listya ala bridal style menunggu kursi roda yang dibawa oleh perawat itu.


Setelah sampai, Alka meletakkan sang istri di atasnya, dan mulai mendorong kursi roda itu keluar dari ruangan.


"Apa yang terjadi, kenapa aku tidak bisa berjalan?" Tanya wanita itu gelisah.


"Mungkin karena kau masih lemah." Jujur Alka memerhatikan.


"..."


Setelah berjalan beberapa saat, atensi Listya mengarah pada dua wanita yang berjalan menuju mereka.


" Bukankah itu Fatia dan Geby?" Batinnya.


maaf ya lovely, author banyak tugas di kampus jadi agak lama up nya🌹🍒😥


https://www.instagram.com/reel/Cj-0hfloL0euOctrJvdHgij21Wm0G7ZXLzBNaU0/?igshid\=YmMyMTA2M2Y\=


like trailer nya ya🥰