
Alka hanya diam, ia memang tidak pernah bisa sopan pada siapapun, termasuk kakeknya sendiri. Ia bisa melihat istrinya sekarang sibuk dengan dunianya sendiri, dengan tiga wanita yang sudah menarik nya pergi ke arah dapur.
" Jangan duduk di sana, aku takut pada harimau itu." Cicit Lucy di angguki oleh Rose.
"Ya, Richard biasanya tidak akan senang jika ada orang asing." Ujar Jessica melirik ke arah hewan buas itu.
" Kau tau namanya?" Listya terlihat terkejut.
" Ya, Richard dari bayi sudah bersama Dehan." Jujur Jessica, memang benar jika Kucing itu dari kecil sudah ada bersama mereka.
"Bukan Dehan, tapi Alka." Lagi-lagi Listya membenarkan ucapan nama itu.
P"Kau ini, Dehan dan Alka sama saja." Ujar Jessica terkekeh.
" Tidak, aku lebih suka dengan Alka. Dehan itu mengingatkan aku dengan iblis, kau tahu." Listya tampak kesal, memang benar ia membenci nama Dehan, karena nama itu mengingatkan ia pada Irena dan kakak ipar nya David yang sekarang tidak memiliki kabar.
" Baik-baik terserahlah." Lucy dan Rose hanya tersenyum melihat Jessica yang pasrah dan mau mendengarkan ucapan aneh Listya.
Padahal apa bedanya, kedua nama itu di kenal dengan king mafia, dan sangat melekat. bedanya Alka lebih mendunia di bandingkan Dehan, karena nama 'Dehan' hanyalah nama samaran. Mereka bahkan lebih menyukai Dehan di bandingkan dengan Alka, nama Alka sudah di kenal dengan kekejaman tiada dua, itu membuat orang-orang bergidik ngeri.
"Apa kalian lapar?" Ucap Rose, biasalah seorang bumil yang menginjak tiga bulan sudah mulai butuh banyak asupan makanan.
Listya melirik Lemari es dan berjalan mendekatinya, tanpa berfikir panjang ia membuka lemari es itu, di sana tertera berbagai macam jenis makanan seperti halnya supermarket kecil.
Banyak makanan, namun ia jengkel karena hanya ada makanan ringan dan bahan baku lainnya, dan tak mungkin membiarkan Rose memakan makanan itu, mungkin tidak baik untuk janinnya nanti.
Jujur Listya hanya melihat roti dan selai strawberry, ia bingung namun suara seseorang membuat nya terkejut.
"Apa yang kau lakukan, minggir!" Ujar Aident mencoba menggeser posisi Listya.
"Aku duluan."
"Ya sudah cepat." Pria itu kembali mundur, namun ia kembali heran kenapa wanita itu hanya diam.
"Kenapa kau hanya diam, cepat aku ingin mengambil susu." Ujar nya lagi.
"Tidak ada makanan yang jadi."
"CK, maid. Bukankah kau bisa menyuruh maid membuat makanan." Listya menepuk jidatnya, ia lupa. Dan langsung menghampiri seorang maid, meminta nya membuat makanan sehat untuk ketiga sahabat nya.
Maid itu tentunya langsung menjalankan tugas yang di berikan oleh nyonya nya, saat itu Listya kembali melirik pria yang sedang mencari sesuatu di depan lemari es.
"Kau mau apa?" Tanyanya penasaran.
"Susu pisang." Ujar Aident dingin.
"Susu pisang di sebelah." Listya melirik Lemari es yang berbeda di sebelah lemari es satunya.
" Ohh." Aident langsung menutup lemari es itu dan beralih pada lemari satunya.
Senyum nya mereka setelah mendapat apa yang ia cari sedari tadi, ternyata minuman susu dan buah-buahan di simpan di tempat yang berbeda.
"Ambilkan aku satu." Pinta Listya.
Aident yang sudah menyeruput susu kotak itu, mengambil satu kotak lagi untuk Listya. Namun anehnya wanita itu malah menggelengkan kepalanya saat susu pisang sudah di depan matanya.
"Kenapa?"
"Aku mau yang strawberry." Ucapan membuat Aident memutar matanya malas dan mengembalikan susu pisang itu.
"Terimakasih." Ujarannya, menerima susu rasa strawberry itu sembari tersenyum tipis.
Aident tampak tertegun, menatap punggung Listya yang mulai menjauh. Mulutnya terasa gatal ini memanggil nama itu namun rasa gengsi juga menyelimuti hati nya.
"Tunggu!" Ucapnya tanpa sadar.
Listya langsung berbalik menatap pria itu, ia sepertinya sedikit aneh, karena pendingin ruangan masih menyala kenapa dia berkeringat?
"Ada apa?" Listya kembali berjalan mendekati nya.
"Apa?"
"Aku bilang apa kau baik-baik saja?" Ujarnya lagi dengan wajah kesal.
"Tidak, aku bosan. Aku mau keluar bermain di taman." Listya mengeluarkan uneg-uneg yang ada di hati nya berharap jika pria itu tersentuh, mungkin saja ia bisa membantu nya.
"Ha!" Listya tersenyum menarik rambut hitam pria itu sekilas.
"Apa yang kau lakukan." Aident meringis merasakan sakit di kepala nya.
" Kurang lebih seperti itu rasanya, maksudku keadaan ku sekarang." Listya menaikan dagu terkekeh.
Ia sendiri bingung mengapa ia melakukan itu pada kelinci bodoh itu, apa dia sedang mencari masalah.
Aident hanya diam menatap wajah Listya intens, dan saat wanita itu ingin berbalik lengannya tiba-tiba menarik rambut panjang Listya.
"Akhhh sakit." Listya menarik rambut nya kasar dari pria itu.
"Apa yang kau lakukan?"
"Itu yang aku rasakan, maksudku saat kau menarik rambutku." Ucap Aident mengedikan bahunya sembari tersenyum senang berjalan meninggalkan sang empu.
Dasar kelinci bodoh!!!
...
Alka melirik kearah empat wanita itu yang sedang bercanda ria, kepalanya sedikit pusing dengan kebisingan yang terjadi di rumah nya yang damai. Akibat manusia-manusia ini kediaman nya menjadi sangat ramai, ia juga melihat Richard yang sedang menatap sang istri dengan tatapan sedih.
"Apa kau juga sedih sobat, ayo kita usir mereka semua." Ujarnya mengelus punggung Kucing besar itu.
James dan Roan yang mendengar pembicaraan si iblis langsung berdiri, sementara Aident masih dengan posisi nya tak menggubris keadaan.
"Hey, hey kau tak perlu mengusir. Kami akan pergi, jangan buat wanita-wanita itu sedih." Lagi pula urusan mereka sudah selesai.
"Ayo sayang, kita harus kembali. Seperti nya aku harus bekerja." James merangkul pundak Rose.
"Tak apa aku di sini saja, kau bisa pergi."
"Tidak, maksudnya bukankah kita harus periksa kandungan?" James menetralkan raut wajahnya.
"Bukankah itu lusa?" Bingung Rose.
"Sudah di percepat." Jawab James panik saat Alka sudah melangkah menuju mereka.
"Aku pikir kalian terlalu lama disini, silahkan pulang." Ujar Alka datar membuat semua orang terdiam.
Rose, Lucy dan Jessica langsung berdiri kikkuk, mereka mengerti maksud James sekarang. Listya cemberut saat tahu teman-temannya harus pergi sekarang.
"Kami pergi dulu, Listya jaga diri baik-baik." Lucy memberikan pelukan hangat nya.
"Tak bisakah kau di sini saja, kita bicara lebih lama." Ucap Listya memohon.
"Dear." Alka menatap sang istri tajam.
Terpaksa Listya menundukkan kepalanya, takut dengan tatapan itu. Namun ia masih sedih, pasalnya ia sangat bosan tanpa mereka bertiga nanti nya.
"Dah.." Mereka akhirnya pergi.
Tinggal Aident yang masih duduk di sana. Listya melihat Richard yang sudah berguling-guling di karpet masih di tempat yang sama, ia lupa masih ada teman yang satu ini.
Aident terkejut saat Richard melakukan hal itu, pasalnya ia belum pernah melihat Richard yang seperti ini. Bersikap manja sampai berguling-guling
Listya langsung mengambil tempat untuk memberi elusan halusnya untuk si kucing putih besar itu, namun iris Hazelnya menajam melihat pria yang sedang duduk dihadapan mereka.
"Apa?"
Komen terus ya biar author tetap semangat 😓