Don'T Touch Mine Or Die!!!

Don'T Touch Mine Or Die!!!
Chapter: oil tank



"Seseorang yang mungkin kau kenal saat ini sedang bersama ku."


"Seorang wanita cantik, bibir berbentuk hati, dan sedikit pemalu." Sambungnya.


Alka yang tadinya tersenyum seketika merubah raut wajahnya datar, menatap wolkie tolkie itu dengan tatapan nanar.


" Temui aku, tuttttt..."


Alka menggenggam tangannya yang bergetar hebat, rahangnya mengeras matanya menajam dan segera pergi dari tempat itu.


...


" Ouhh, sayang sekali. Baterai nya habis, apa dia akan tersesat nanti?" Tanyanya pada diri sendiri.


" Pak! Pimpinan wakil ketua akan tiba beberapa saat lagi " Ucap seorang pria menghampiri Luke.


"Ada apa?"


" Dia ingin menangani kasus ini."


" Baiklah, sebenarnya aku kurang suka pada pria tua itu."


"Pak!"


" Biarkan dia mengurus semuanya, setelah itu kita pergi dari sini."


"Tapi pak..."


"Jika kau ingin mati kau boleh tetap tinggal disini." Luke menatap pria itu tersenyum manis.


"Tidak.. pak."


...


"Aident, seperti nya ini akan memerlukan waktu sedikit lama." Ucap Fatia menatap pria itu takut-takut.


"Temukan, bagaimanapun caranya." Ujar pria itu garang.


Pria itu keluar dari dalam mobil berwarna abu-abu tersebut, menghirup udara guna memenangkan pikiran nya.


"Ayolah Aident tenang." Batinnya begitu gelisah tak bisa di kendalikan.


...


Sisi lain , Alka memberhentikan sebuah mobil seorang yang sedang berkendara di jalanan yang sepi, para pemuda di dalamnya merasa kesal dan turun dari mobil.


"Hey, apa kau gila.."


Bank..Bank..


Dua tembakan tepat mendarat di pelipis pemuda-pemuda itu, ia langsung mengambil alih mobil dan meninggalkan kedua mayat pemuda yang baru saja mendapatkan hadiah berupa maut dari sang pria yang tak dikenal.


Dengan kecepatan tinggi menuju sebuah pantai, setelah turun dari mobil itu. Ia melihat Speedboat dan melompat ke atasnya, tanpa menunggu lama ia menjalankan Speedboat itu pergi.


"Mana wanita itu?" Ucap seorang pria berjalan di iringi dengan pria berseragam yang berbaris rapi menyambut-nya.


"Siap pak, dia ada dalam." Lapor salah satu pria pada nya sembari memberi hormat.


Brakkk...


Pintu terpental kasar hingga membuat seorang wanita yang duduk sembari memeluk lututnya terkejut, dengan mata yang sembab pipi yang memerah sehabis menangis.


"Bawa dia!"


Dua orang pria itu mulai memegangi lengan Listya, yang membuat sang wanita berteriak meronta-ronta.


"Tidak.. lepaskan aku!!!" Pekiknya.


Tak ada yang menghiraukan teriakan nya, dirinya tetap di seret pergi, dapat ia lihat pemandangan malam yang begitu menakutkan dan lebih buruknya ini adalah lautan.


Kedua lengan nya di ikat menggunakan tali, dengan terus memohon untuk di lepaskan.


Dapat ia lihat pria tua itu tersenyum melirik nya.


"Sayang sekali, kau harus menjadi korban." Ujarnya prihatin.


"Iya pak, aku adalah korban. Tolong aku, selamatkan aku! Aku tidak tahu apa-apa." Listya terisak-isak meskipun begitu ia tetap menyelesaikan kalimatnya dengan baik.


Plak..


"Tak ada yang memerintahkan mu bicara!!" Satu tamparan mendarat tepat di pipinya yang putih itu.


Plak!


Pria itu terus menampar Listya sehingga jari-jarinya membekas di wajah mulus gadis itu, Listya meringis ketika sudut bibirnya meneteskan darah.


Satu kata yang ingin dia keluhkan saat itu adalah 'takut', tidak ada yang tidak takut jika dihadapkan dengan kematian, bukan? Namun saat ini Listya memang benar-benar tidak berdaya.


Pria itu menangkup wajah Listya dengan kasar, dia tersenyum miring melihat berapa berantakannya sanderanya ini. "Dengar, nyawamu saat ini masih sangat berguna. Aku akan memutuskan nasibmu setelah aku menghabisi bajingan itu.”


Listya membuang muka sehingga cengkraman pada wajahnya terlepas begitu saja.


Saat pria itu menatap para bawahannya, seringaiannya semakin melebar. "Ikat dia di tiang. Selanjutnya kalian tahu apa yang harus dilakukan, bukan?"


Para bawahan tersebut mengangguk dan langsung menyeret Listya pergi dari tempat itu. Listya sempat meronta untuk memberikan perlawanan, namun lagi-lagi tubuhnya terlalu lemah untuk sekedar melukai pada serdadu berbadan besar tersebut.


Para pria itu membawanya naik ke salah satu tangki pengolahan minyak mentah yang suhunya dipastikan sangat panas. Di atas lubang lingkaran berdiameter sekitar 60 sentimeter yang ditutupi oleh bahan yang sama dengan tangki tersebut, terdapat sebuah tiang penyanggah yang pada cabangnya dipasangi tali tambang seukuran jempol kaki.


Salah seorang pria menarik ujung tali tersebut, kemudian mengikatkannya dengan erat sehingga membuat bekas membiru di pergelangan tangan Listya. Setelah dipastikan semua telah selesai, pria satunya menarik ujung tali dari belakang sehingga Kaki Listya benar-benar tidak menginjak apapun lagi. Mereka pun membuka tutup tangki dari minyak yang sedang dalam proses pengolahan tersebut.


Listya bergidik dia sempat berteriak beberapa kali, sebelum para penjaga itu menyumpal mulutnya dengan sapu tangan. Tepat di bawahnya, sebuah lubang seukuran hulahop menganga dengan uap panas yang tidak dapat ditolerir. Listya dapat melihat dengan jelas bahwa ribuan liter minyak mentah tersebut meletup-letup dan mendidih.


Tidak butuh waktu lama untuknya menumbuhkan bulir-bulir peluh di tubuhnya, dia tidak sanggup lagi.


...


Alka mengerem speedboatnya saat mendekati bebatuan karang di sekitaran pelabuhan tambang minyak tersebut. Dengan sedikit meringkuk dia kemudian memanjat dari tepi karang tersebut dan segera menempelkan punggungnya di dinding.


Alka mengamati dua orang penjaga yang baru saja menepikan sebuah kapal pribadi yang dikenalnya. Darahnya seketika berdesir ketika adrenalin mulai bergolak di dalam dirinya. Alka memiringkan kepalanya sehingga menghasilkan bunyi 'krak' dari sana.


Pria itu mengendap-endap menyusuri dinding hingga sampai tepat di samping pelabuhan. Saat salah seorang penjaga hendak kembali ke dalam, Alka langsung menyergap pria bugar itu dan menariknya ke dinding. Tangan kirinya segera merogoh saku dan mengeluarkan sebuah pistol.


Penjaga satunya lagi yang menyadari adanya bahaya dengan sigap melakukan persiapan, sehingga pada saat itu mereka berakhir pada posisi saling menodong.


Alka mengunci pergerakan penjaga satunya dengan sebelah kaki tanpa melepas todongannya.


Saat penjaga itu mendekat, Alka spontan menunduk dan menendang penjaga yang menempel di dinding sehingga terjatuh ke dalam air. Peluru menembus tepat beberapa senti di atas kepalanya, untungnya dia menghindar tepat waktu. Tak mau berlama-lama, Alka langsung menerjang dari arah bawah, membuat penjaga itu kaget setengah mati.


Yah, cara terbaik untuk menghindari senjata yang ditodongkan adalah dengan mendekati lawan. Saat penjaga itu hendak membalik arah pistolnya, peluru Alka sudah terlebih dahulu menembus perut penjaga itu dan membuatnya terjerembab ke tanah.


Dua sumber masalah sudah diselesaikan. Alka lantas merebut pistol dari penjaga yang sudah sekarat itu, menggeledah beberapa bagian untuk mencari senjata lainnya. Setelah berpikir itu sudah cukup, Alka mendorong tubuh tak berdaya itu ke dalam laut.


Pria itu cepat-cepat mencari pintu masuk. Kebetulan tidak ada orang yang menjaga di area sana. Dia masuk cukup dalam, beberapa kali meringkuk dan bersembunyi di balik puluhan tangki-tangki raksasa yang ada di tempat itu.


jangan lupa komen ya lovely 🥰🌹