
Sudah hampir siang namun wanita itu masih belum bisa bergerak dari posisi, sudah berkali-kali ia memberontak namun tetap saja itu hal yang sia-sia.
Pergelangan tangan pria iblis itu tak mau longgar sedikit pun, mengunci pergerakan sang istri.
"Lepaskan!" Ucapnya masih sedikit mencoba lepas.
"Dua menit lagi." Bisik Dehan tersenyum.
"Kau mengatakan itu lebih dari 20 kali, tapi sudah lebih tiga jam kau masih tidak bergerak." Ucap Listya sudah muak.
"Aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan mu, aku bingung bagaimana aku bisa jauh dari mu nanti nya?" Ucap Dehan enggan membuka mata.
Entahlah Listya tak mengerti, pria itu terus bergumam hal-hal aneh, ia tak mau berfikir terserah apa pun yang ingin di katakan pria itu. Iya hanya ingin lepas dan beranjak dari tempat nya sekarang, sungguh tak nyaman jika terus-menerus di pelukan pria ini.
Beberapa saat kemudian akhirnya sesuatu terlintas di benak nya, kenapa ia tak melakukan nya sedari tadi mungkin saat ini ia sedang jalan-jalan di taman.
"Awhh, perutku sakit." Cicitnya.
" Hmmm." pria itu tidak bodoh, ia tahu jika sang istri sedang berbohong.
Bukankah jika istri manis nya kesakitan maka yang pertama kali merasakan hal itu adalah dirinya sendiri. Namun saat sang istri, meringis ia sama sekali tak merasa kan apapun.
"Kenapa kau tidak melepaskan akuuuu!!!" Pekik Listya frustasi.
"Hahahaha,,,," Sementara itu pria yang membuat nya seperti itu tertawa geli.
"Baik-baik, tapi sebelum itu berikan aku kiss morning." Dehan tersenyum sumringah.
"Lihat jam, sekarang bukan lagi pagi. Sudah siangggg apa kauuu tauuu!" Geram Listya.
"Terserah." Dehan sama sekali tidak berubah raut wajahnya, tetap tersenyum.
Sekali lagi Listya menghela nafas panjang, sedang kan Dehan tengah menunggu satu kecupan dari nya. Saat ini pria itu sungguh merepotkan seperti anak bayi, Listya harus bersikap seperti seorang ibu agar bisa keluar dari jeratan nya.
Dengan wajah jengkel ia mendekatkan bibirnya pada pipi pria itu, pelahan tapi pasti ia mendaratkan satu kecupan, sehingga tanpa ia sadari bahwa jantung pria itu tiba-tiba memompa darah sangat cepat.
Entah lah, seketika raut wajah Dehan berubah serius namun dengan sedikit smirk, yang membuat Listya kebingungan.
"Perasaan ku tak enak." Ujar nya dalam hati.
Hal itu di buktikan dengan Dehan tiba-tiba mengangkat nya, berjalan menuju bathroom.
Tanpa menunggu lama Dehan menyalakan shower yang sekarang menghujani mereka dengan air.
"Apa yang kau lakukan!" Listya panik merasakan tubuh hangat nya kini kedinginan akibat cepratan air.
"Ayo mandi bersama, aku sangat merindukanmu." Ajak Dehan kegirangan.
Setelah beberapa menit kemudian keduanya keluar dari kamar mandi, Dehan tersenyum menyeret Listya paksa.
Sementara itu Listya sudah kehabisan tenaga dan kata-kata, ia menyerahkan, sudahlah percuma tak ada yang akan berubah sesuai keinginan nya.
.........
"Aku sudah menyiapkan tempat yang paling aman untuk nya, sesuai dengan yang kau inginkan." Ucap Lart
"Tempat apa?" Tanya Jeans penasaran.
"Ya, apa yang sedang kalian bicarakan?" Sambung Roan meminum secangkir teh.
Senyap tak ada yang menjawab pertanyaan kedua orang itu, di tambah suasana yang begitu canggung mengiringi pertemuan mereka.
"Kalian sudah lupa? Rival Dehan sekarang sudah muncul, bukan kah sejak dulu dia selalu membuat onar di kalangan mafia." Jelas James yang datang menepuk pundak Lart.
Dengan kasar Lart menepis lengan James, dan di balas dengan tawaan oleh si mochi itu.
"Ahhh benar, kenapa dari dulu kau tak membunuh nya?" Ujar Jeans.
" Jika aku membunuhnya, aku akan sangat merugi, karena hanya dirinya harapan pemerintah, dan tak ada lagi lawan yang pantas untuk aku bersenang-senang nanti nya." Jawab Dehan tersenyum.
"Ya benar, bahkan aku dengar kabar, dia melenyapkan beberapa anak buah nya agar bisa masuk kedalam pack musuh. Dan menyamar menjadi penjahat handal dan lihai, tak ada yang menyadari hal itu, bahkan kita sendiri. Mungkin saja sekarang dia sedang di sini memerhatikan kita?" Ucap James melirik kearah Aident.
"Hmm, kau salah. Sekarang aku masih belum merasakan kehadiran nya." Lontar Dehan serius.
"Hei adik kecil, ada apa? Belakangan ini kau sangat pendiam. Apa kau rindu Jack? Tenang saja dia akan segera pulang." Ucap Jeans mengacak rambut Aident.
"Jangan sentuh aku!" Ucap Aident menepis lengan Jeans.
Sekarang suasana mulai mencair setelah pria itu mulai tertawa ringan, walaupun Dehan sendiri masih belum menerima maaf dari adik kepercayaan nya itu.
Mereka berkumpul di kediaman James karena ingin merayakan kehamilan Rose, yang kini menginjak 3 bulan.
Beberapa saat kemudian, para wanita itu datang dengan membawa beberapa cake, dan biskuit yang merupakan hasil karya mereka sendiri.
Wajah mereka berantakan akibat tepung yang sempat terjatuh terutama Rose yang hampir seluruh tubuhnya terkena tepung.
Para pria terbahak melihat penampilan mereka kecuali Dehan dan Aident, mereka hanya diam menatap satu orang.
Lart yang biasanya diam ikut tertawa kecil melihat istri kucing nya yang ikut berbalutkan tepung.
" Sebenarnya siapa yang di masak kue atau kalian." Kekeh Jeans.
Keempat wanita itu tersipu malu tak terkecuali Listya yang ikut tersenyum melihat gaun nya juga ikut putih.
Dehan menatap sosok wanita itu intens, sehingga membuat sang istri tak nyaman, langsung menghampiri nya.
Dehan meraih lengan Listya, duduk di pangkuan nya mengusap pipi yang berbalut sedikit tepung, semuanya menjadi penonton dengan perlakuan khusus Dehan pada Listya.
"Sudah cukup, aku juga punya istri, ayo sayang kemari aku akan membersihkan wajah mu." Ucap Jeans yang tidak ingin kalah dengan Dehan.
Lucy langsung memberikan satu hantaman pada pria itu, memuat semua orang tertawa geli.
"Apa yang kau lakukan!!! Itu sakit.."
"Diam kau!" Ucap Lucy ikut tertawa.
Setelah beberapa saat mereka berbincang- bincang hangat Jessica berdiri.
"Semuanya dengar, aku ingin menyampaikan sesuatu. Bagaimana jika pekan ini kita pergi untuk berlibur?"
"Wahhh, ide yang sangat bagus. Kita harus pergi." Sambut Jeans.
"Ya, kenapa tidak." Sahut Roan.
"Aku ingin berlibur." Balas James.
"Baiklah, kita sepakat pergi pekan ini." Ucap Lart setuju.
Ke empat wanita itu saling memberi kode dengan kedipan mata, seperti nya akan sangat menarik jika rencana mereka berhasil.
"Aku tidak ikut." Ucap Dehan tiba-tiba membuat mereka terdiam seketika.
"Ada apa?" Tanya Lart.
"Aku ingin pergi." Ujar Listya menatap pria itu.
Namun pria itu sama sekali tidak perduli membuat Listya panik, oh ayolah.
"Aku ingin pergi, ayo kita pergi juga." Bujuk nya dengan wajah cemberut.
" Bukan kah, lebih baik kau menghabiskan waktu berdua dengan ku?"
"Bukan kah, sejak awal aku selalu bersama mu, aku mohon sekali saja. Aku tidak akan merepotkan mu nanti, aku mohon!!"
"Ck..Merepotkan." Decak nya.