
Kicauan burung terdengar jelas, seorang pria yang baru saja keluar dari sebuah bangunan, menguap, sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Jeans, keluar menghirup udara segar dengan wajah yang bengkak dan mata yang masih belum terbuka lebar. Berjalan melihat sebuah alat samsak tinju di halaman, perlahan jeans mendekat meninju samsak itu dengan sekuat tenaga.
Namun samsak itu tampak diam seperti tidak ada gerakan, membuat jeans bingung sembari melihat ke sekeliling nya, pasalnya jika ada yang melihat ini tentu dirinya sangat malu.
"Apa aku harus rajin Nge-gym, ya seperti nya aku terlalu sibuk di rumah sakit. Otot-otot ku pasti tegang." Ucapnya pada diri sendiri.
Tak lama James ikut keluar dan melihat sosok jeans di sana.
" Hey, apa yang kau lakukan kak!" Ucapnya mendekati Jeans yang juga menghampiri nya.
"Hanya menghirup udara segar saja." Jawab jeans merangkul James.
"Hey, bagaimana jika kita naik perahu?" Jeans mengalihkan pembicaraan.
" Ide yang bagus ayo kita pergi dengan Roan."
.........
Di sisi lain, Listya kini masih terjebak dengan pelukan pria iblis, yang dari kemarin terus mengancam nya.
"Aku mohon, hanya kali ini saja." Ucap nya memelas.
" Kau terlalu banyak bicara." Sarkas Dehan.
"Aku mohon~" Listya tampak sedih menyembunyikan wajahnya pada dada bidang pria itu.
" Pergilah, jangan buat aku sakit kepala." Ucap Dehan mengecup seluruh wajah Listya dan bangkit dari tidurnya.
Di sana Listya terdiam melihat Dehan yang masuk kedalam kamar mandi, wajah nya berseri melihat pintu keluar.
Dengan bergegas, ia turun tanpa mengganti piyama tebal yang ia kenakan, cuaca yang begitu dingin membuat Dehan tak punya pilihan, Listya harus mengenakan pakaian yang hangat meskipun dirinya lebih menyukai jika sang istri memakai piyama yang terbuka, ya itu adalah kebutuhan setiap lelaki.
contoh piyama
Ia menghilangkan ego nya demi istri manis nya, agar tidak masuk angin, bukan kah kesehatan adalah yang utama.
Setelah keluar dari kamar wanita itu masih harus menuruni tangga, namun tidak sengaja dirinya berpapasan dengan seorang pria yang juga keluar dari kamar nya.
" Selamat pagi." Sapa nya ramah, hari ini ia sangat senang.
Pria itu tak menjawab memilih untuk mengabaikan Listya, namun sekarang Listya sedang terkena penyakit bahagia. Tidak masalah jika Aident bersikap seperti itu, hati nya tetap senang.
Kenapa? Karena ini adalah impian terbesar di dalam hidupnya, berlibur di suatu tempat yang indah dengan pemandangan danau yang megah. Ia selalu berandai-andai suatu hari ia akan pergi ke tempat seperti itu, dan hari ini itu terwujud.
Tidak terbayangkan jika Jessica memilih tempat impiannya dan mewujudkan nya hanya dalam sekejap mata, tak tahu harus berbuat apa air mata mengalir mengingat Irena.
Andai jika ia pergi dengan keluarga nya mungkin kebahagiaan yang ia rasakan beribu kali lipat.
" Jangan bersedih, kita akan mencari solusinya, semangat Listya." Ucapnya menyemangati diri sendiri, dan mengusap air mata yang sempat mengalir.
Sementara seorang pria yang menuruni tangga terlihat merona dan melirik kembali ke arah wanita yang menyapa nya.
"Manis." Ucapnya tersenyum.
"Aident ayo ikut kita akan naik perahu." Ajak Roan merangkul Aident.
"Bisakah aku ikut juga?"
Semuanya tertegun menatap Listya, ya semua kecuali Dehan, Jack dan Lart yang tak ada di sana.
" Astaga! Kau sangat imut." Ucap Roan.
" Ya ampun." James ikut terpukau.
"Listya kau mau jadi adik angkat ku, aku rasa kita sangat mirip." Ucap Jeans tersenyum memegang dagunya.
" Sudah-sudah, kalian ini membuat nya bingung, tapi kau sangat lucu sayang." Ucap Lucy mencubit pipi Listya lalu memeluknya.
" Kau benar, kau seperti anak kecil tanpa make up." Ucap Rose juga menghampiri.
"Aku bingung, kenapa wanita bisa saling memeluk tanpa segan, membuat aku cemburu saja, kenapa aku bukan wanita saja ya." Ucap Roan kesal.
" Kau ingin jadi wanita, aku bisa membantu mu." Ucap James berkedip nakal.
"Kau saja." Ucap Roan mendorong wajah James yang sangat dekat dengan nya.
" Dasar gila." Ucap Jesica yang mendengar pembicaraan kedua orang itu.
"Hey sebaiknya kita sarapan dulu!" Teriak Jessica.
" Ya kalian makan duluan kami akan menyusul." Jawab Rose.
Dan mereka memulai sarapan dengan saling bercanda ria, tak lama Lart dan Dehan turun bersamaan. Setelah beberapa menit kemudian, Listya dan Rose ikut bergabung dengan yang lain, Dehan melirik Listya seakan atensinya tidak pernah lepas dari sang istri.
Namun yang di tatap lebih memilih diam tak mau melirik, takut nya Dehan berubah pikiran dan malah tak mengizinkan dirinya bersenang-senang hari ini.
"Ayo cepat bergegas, aku dan Aident akan memeriksa perahunya." Ucap James menarik Aident.
"Lart kau ikut?" Tanya Jeans.
"Aku ingin tidur." Ucapnya.
"Ayolah kau tidak ingin bersenang-senang?" Sekejap ia menatap Jessica yang bergidik.
"Dehan kau mau kemana?" Tanya Jeans melihat sosok pria itu berjalan keluar.
"Pergi." Ucap nya singkat dan padat.
" Ya syudah kalau begitu."
Mereka akhirnya berkumpul, para gadis memakai pakaian santai begitu pun para pria.
Style girl
Style boy
"Okay ayo!" Serentak.
"Baiklah para ladies, bagaimana jika kita bertanding?"
"Siapa takut."
Kelompok pertama.
Roan, Jeans , Lucy dan Listya.
Kelompok kedua.
Aident, James, Rose dan Jessica.
"Ayo, satu, dua, tiga!"
Mereka semua mulai mendayung, hanya lelaki, tidak dengan wanita. Mereka hanya duduk diam, karena tidak bisa mengayuh perahu.
"Ayo Roan!" Ucap Jeans semangat.
"Lebih cepat!" Teriak James.
Listya tersenyum melihat tingkah laku para pria yang sangat ambisius itu, dirinya dan Lucy asik berbincang, namun setelah itu Listya tertarik melihat air.
Tangan nya terulur menyentuh air sementara itu seorang pria yang sedang mendayung tiba-tiba tersentak dan mulai gelisah.
" Apa yang kau lakukan Aident, kenapa berhenti!" Ucap James panik saat perahu mereka tertinggal.
" Hahaha kita menang! Yuuuuuuhuuuu.." Sorakan Roan dan Jeans.
"Apa yang kau lakukan Aident." Batin nya memukul jidatnya sendiri.
" Astaga, kau ini kenapa Aident?" Tanya James kesal.
"Sudahlah, seperti nya danau ini cukup dalam. Bisa bahaya untuk para wanita." Ucap Aident beralasan.
" Ya kau benar, tapi kan ada kita." Jawaban masuk akal dari James membuat Aident terdiam sejenak tak tahu harus menjawab apa.
" Apa kau pikir orang itu bisa mengampuni kita, jika wanita nya tergores sedikit?" Ucap Aident melirik Dehan yang sedari tadi memerhatikan dari kejauhan.
" Ya ampun, aku lupa." James mengalihkan perhatian dari tatapan mata Dehan.
" Aident benar, keselamatan nomor satu, sebaiknya kita pelan-pelan saja dan menikmati pemandangan." Sambut Rose.
"Tentu saja sayanggg." Ucap James mengusap perut datar Rose, sekarang kehamilan Rose menginjak 2 bulan. Tentu saja, perutnya masih belum berbentuk.
"fiuhhh hampir saja." Batin Aident.