
" Hey! Ayo kita kembali. " Instruksi James melihat sang istri mulai kelelahan.
"Secepat ini? " Ucap Roan.
"Kita harus kembali." Aident melirik Dehan dan di ikuti oleh semua orang.
Tanpa tunggu lama, mereka mulai mendayung perahu pergi ke tepi, perlahan tapi pasti, setidak nya Listya dapat bermain, meski hanya beberapa saat.
Setelah menurunkan seluruh penumpang, Jeans berjalan menghampiri sosok pria yang berdiri tegak di halaman. Dengan tangan merangkul pundak pria itu, dan senyuman yang menjadi ciri khas seorang Jeans.
"Ayo-ayo, kita berjalan santai sebentar. " Ucapnya menuntun Dehan pergi ke arah berlawanan dengan yang lain.
Si samping itu Lucy dan Listya tampak bingung, namun seperkian detik Jeans mengedip kedua wanita itu memberi isyarat.
"Bersenang-senanglah." Ucap Jeans tanpa suara melalui gerakan bibir.
Lucy langsung menggandeng lengan Listya semangat, setelah mengetahui niat Jeans, mereka tampak senang, melangkah pergi menyusul Rose dan Jesica.
"Ayo kita bersenang-senang sedikit lagi! " Ujar Lucy hampir berteriak.
Langkah mereka di penuhi kegembiraan, seakan Listya lupa sesaat semua penderitaan nya, ia menyadari senyuman orang-orang ini, yang masih ada, sampai saat ini bersama nya.
.........
"Lepaskan." Ucap Dehan dengan tatapan tajam.
Jeans langsung mengangkat tangannya, kala merasakan aura Dehan mulai berubah mencekam.
"Maaf-maaf, berilah sedikit udara agar dia bisa bernafas sebentar. " Kata Jeans menatap pria itu saksama.
"Kau tak perlu mengajari ku. Jangan terlalu ikut campur, dengan kehidupan ku! " Ucap Dehan dengan penuh penekanan.
"Ya, ya, ya. Terserah, sekarang kau bukan adikku, aku tak akan mencampuri urusan mu. Tapi... Kau tahu? Sekarang Listya adalah orang yang penting bagiku, anggap saja dirinya adalah pengganti dirimu di hidup ku. " Jelas Jeans panjang lebar.
"Dan segala sesuatu tentang nya, adalah urusan ku, dan kau tak punya hak merenggut hak itu dari ku. " Sambung Jeans tersenyum duduk di sebuah kursi yang sudah ada di sana.
"Hah.. Benarkah. " Ucap Dehan terkekeh geli.
"Terserah. " Jeans mengedikkan bahunya tak perduli.
"Aku akan pergi, ku titipkan dia pada kalian semua." Atensi Dehan mulai menerawang ke atas langit.
"Bagaimana, dengan ancaman mu yang biasanya? " Tanya Jeans tersenyum.
"Heh~Jika wanita ku sampai tergores sedikit saja, nyawa kalian taruhannya. " Jawab Dehan.
"Itu baru benar. " Tawa Jeans pecah.
.........
"Ayo kita sekarang mulai!" Ucap Rose.
Mendengar instruksi Rose membuat Listya tampak bingung, pasalnya ia tak pernah bermain tenis.
Kelompok di bagi dua.
Listya dan Aident vs Lucy dan Roan.
"Ayo Listya kau pasti bisa. " Sorak Rose semangat.
Plak...
Bola mati, poin untuk Roan dan lucy, Listya tersenyum kikuk.
"Kau tidak bisa main? Pukul bolanya! " Seru Aident, karena tak satu pun bola berhasil di pukul wanita itu.
"Aku tidak pernah bermain tenis." Jujur Listya.
Sementara poin terus masuk pada pihak lawan, sudah tertinggal jauh.
Plak..
Listya menutup matanya ketika bola lemparan Roan menuju dirinya, namun saat membuka mata seorang pria berdiri tepat di hadapan nya menanggkis bola tersebut.
Adient terpaksa maju saat Listya tampak takut pada bola, setiap kali bola melewati net Aident menangkisnya dengan sangat lihai.
Sementara Listya tampak takjub, melihat aksi Aident yang dengan mudah membalikan posisi.
Hanya tinggal beberapa poin lagi, kini Aident dan Listya memimpin permainan, walau Listya hanya diam memerhatikan dari punggung pria kelinci itu.
Priiitt!!
Bunyi peluit menandakan permainan telah berakhir, Aident melirik wanita yang ada di belakang nya.
"Kau sangat payah!" Sindir Aident tersenyum remeh.
" Ya, ya aku memang tidak bisa bermain." Gerutu Listya tak mengelak perkataan pedas Aident.
" Hey ayolah ini hanya permainan." Ucap Lucy mencoba mencairkan suasana.
" Ya, pasti akan ku balas kekalahan ini, hahaha." Tawa Roan membuat mereka semua terdiam melihatnya.
.........
"Jadi kau punya rencana?" Ujar Jeans meminta penjelasan.
" Tidak." Ucap Dehan datar senantiasa melihat pemandangan indah.
"Baiklah, semoga kalian bersenang-senang."
" Hmm." Dehan bangkit dari duduk nya .
"Ada apa?"
" Waktunya habis." Ucap Dehan tersenyum meninggalkan Jeans sendiri.
...
"Dear." Suara itu langsung membuat Listya membeku seketika.
" Y..a?" Ucap nya gugup.
Dehan tak melanjutkan ucapannya, memilih menghampiri wanita itu, mengalungkan lengannya pada pinggul Listya dengan lembut mengikis jarak.
Semua orang terdiam pergi dari sana, tak terkecuali Aident, mereka pergi mencari kegiatan lain. Dengan demikian maka hanya tinggal kedua suami istri itu, Dehan memulai aksinya memberi bekas merah pada leher putih itu.
Listya sempat memberontak, namun jika seperti itu mungkin Dehan akan lebih ganas dan menghukum nya, tentu itu adalah hal yang sangat ia hindari, ia lebih memilih diam dan mencoba tenang.
" Kau sangat senang?" Tanya Dehan di sela-sela kegiatannya.
" Hmm." Ucap Listya mengangguk.
"Baiklah, apa kau mau ke pantai?" Dehan berhenti, dan menatap Listya dengan lembut.
"Ya baik...ehh. Benarkah? Kau tidak bercanda?" Tanya Listya terkejut.
" Heh."
"Apa aku bisa berenang?" Tanya Listya antusias.
" Ya." Ucap Dehan.
"Benarkah? Terimakasih." Listya seakan menerima kebaikan Tuhan, setelah sekian lama akhirnya pria iblis ini berinisiatif mengajak nya melakukan hal yang menyenangkan.
Ia pikir mungkin tak ada hari di mana Dehan bersikap seperti manusia pada umumnya, tidak mengekang dirinya yang malang di mansion besar gelapnya.
"Apa yang terjadi sebenarnya?"
Flashback
"Tuan, nyonya dan tuan Aident berenang di pantai, dan seperti nya nyonya sangat senang." Ucap asisten Dehan sewaktu menitipkan Listya.
"Pantai?"
"Ya tuan, apa kita perlu menghubungi tuan Aident?" Ucap asisten itu .
" Tidak perlu, awasi saja tidak ada bahaya."
"Baik tuan."
Flashback end
"Kenapa kau mengajakku pergi ke pantai? Bukankah kau tidak suka aku keluar." Tanya Listya memastikan dengan sedikit ketakutan.
" Aku pikir kau akan senang."
"Sejak kapan ia memikirkan orang lain selain dirinya sendiri." Batin Listya.
"Tapi, mungkin itu ide yang buruk." Dehan berfikir sejenak.
"Tidak, tidak, tidak. Itu ide yang sangat bagus." Ucap Listya menarik baju Dehan.
"Tidak.." Dehan tidak bisa melanjutkan ucapannya saat Listya merengek.
" Tidak, tidak bisa ditarik kembali, kau sudah mengatakan akan mengajak ku ke pantai."
Dehan menatap wajah lucu itu datar, ini ide yang buruk mungkin sebaiknya ia tidak mengatakan hal merepotkan itu.
"Ayo kita pergi." Tiba-tiba Seorang pria tak asing datang.
" Kau datang?"
"Tentu saja, semua liburan tapi aku tidak. Bukankah itu tidak adil." Ucap Jack menunjukkan senyum plus lesung pipi nya yang manis.
" Kita akan bersenang-senang ke pantai." Teriak Jack memuat semua orang bisa mendengar suara nya.
"Ya itu ide bagus." Ucap Lart juga antusias.
Jessica menatap suaminya itu, tersenyum membuat pria itu tidak berani menatap wajah istri nya yang sangat mengintimidasi.