
Suara lantunan biola memenuhi ruangan, seorang wanita berbinar melihat aksi pria yang sedang bermain dengan biolanya.
"Apa kau suka?" Tanya tersenyum melihat wanita yang sedari tadi memerhatikan.
"Iya, sangat indah." Wanita itu mengangguk.
"Apa kau mau aku ajari?" Tanya nya lagi.
"Apakah boleh?"
"Tentu." Sekali lagi ia tersenyum menatap sosok wanita itu.
"Ambil ini," memberikan biola nya.
"Akan ku berikan untuk mu, kau tahu ini adalah hadiah pertama ulang tahunku yang di berikan kakek Jeremi."
"Jeremi?" Wanita itu memiringkan kepalanya lucu.
"Ya."
.........
"Tuan, ada surat untuk mu."
Dehan mengambil surat yang di berikan oleh sekretaris nya, pelan membuka isi dari surat, matanya mengikuti setiap kata yang tertulis hingga pada bagian terakhir.
Aura pembunuh nya semakin pekat, ia berdiri sembari Merapikan dasinya mulai melangkah pergi meninggalkan kantor milik nya.
Isi surat.
Untuk adik ku tersayang, adik ipar ku sekarang sedang bosan dirumah. Jadi aku sebagai kakak tertampan di dunia, berbaik hati mengajak nya ke rumahku, tidak perlu khawatir dia aman bersama ku.
Salam sayang Jeans ❣️
" Kurang ajar." Umpatnya melepaskan jas yang ia kenakan, menyisakan kemeja hitam yang masih berbalut rapi di tubuhnya.
Dalam perjalanan menuju kediaman keluarga Bridant, dengan kecepatan tinggi membelah angin, decitan ban mobilnya terdengar jelas, membuat para penjaga terkejut akan kedatangan nya.
"Ayo, makan camilan dulu, seperti nya kalian benar-benar cocok." Lucy membawa nampan berisi makanan ringan.
"Benarkah?" Jeans tertawa mendengar perkataan istri nya itu.
" Ya benar, sampai melupakan rumah sakit." Lucy menggelengkan kepalanya sembari menunjukkan senyum simpul.
"Tidak apa-apa, lagi pula aku sudah menyuruh bawahan ku, mengurus rumah sakit. Dan satu lagi, seperti nya kita punya tamu, hitung mundur 1 2 3..."
Brak!!
Pintu yang tertutup kini terbuka lebar, menampilkan sosok pria, dengan wajah mengerikan nya.
"Dehan!" Listya terkejut melihat sosoknya.
Sementara itu, dalang dari semua kejadian hanya diam memakan camilan nya dengan tenang, tanpa menghiraukan pria yang baru saja mendobrak pintu rumah nya.
"Apa yang kau inginkan?" Dehan melirik kearah pria yang tengah duduk.
"Apa kau bicara pada ku?" Jeans menunjuk dirinya sendiri.
"Seperti nya, kau sangat senang sekali mengusik ku?" Dehan tersenyum melihat wanita nya yang hanya diam seperti patung.
" Aku hanya membantu adik ipar ku, katanya ia sangat bosan dan ingin sekali bertemu dengan ku."
" Jadi apa yang kalian bicarakan?" Dehan berjalan menuju Listya, tatapannya terkunci pada wanita itu.
Lucy tampak khawatir, mencoba mengode suaminya agar melakukan sesuatu, ia takut sahabat nya akan mendapatkan masalah jika mereka hanya bungkam.
"Kami hanya bermain." Jawab Jeans setelah mendapatkan tatapan sang istri.
" Bermain, seperti nya seru, apa itu?" Dehan kembali tersenyum pada istri manisnya.
" Biola." Jawab Jeans lagi.
"Dear, kau belum menjawab pertanyaan ku." Dehan tak menggubris ucapan Jeans.
"Biola." Kali ini Listya membuka mulutnya yang sedari tadi tertutup rapat, tersenyum membalas senyuman iblis itu.
"Benarkah?" Dehan menanggup pipi sang istri, mengecup beberapa kali.
"Iya." Listya tak melunturkan senyumnya.
Iya ingat saat ini ia harus menjadi istri yang baik dan penurut, rencana nya tak boleh gagal kali ini, harus benar-benar matang dan tak ada yang boleh kurang.
"Baiklah, kalau begitu." Dehan menggenggam tangan kecil istrinya.
"Kak Jeans, kapan-kapan berkunjung lagi ya!" Teriak Listya sebelum hilang dari pintu.
"Ya!!" Balas Jeans tersenyum.
.........
"Kau senang?"
Listya mengangguk cepat sembari tersenyum, ya ia senang, rencana nya akan segera dimulai, dan ia akan mengakhiri hubungan nya dengan pria iblis ini sekarang.
"Jika begitu, berikan aku hadiah."
"Hah?" Listya tampak kebingungan.
" Berikan aku hadiah, karena tidak membunuh pria gila itu."
"Kau yang gila." Batin Listya tersenyum miris.
"Aku tak punya uang, lihatlah aku bahkan tidak punya dompet." Jawaban itu membuat Dehan terbahak.
" Aku tak ingin uang mu, berikan aku sesuatu yang berharga bagi mu." Ucapnya lagi.
"Kau sudah merenggut hal paling berharga dalam hidup ku, dasar orang gila." Batin Listya kembali menjerit ingin sekali membungkam mulut orang tak waras nya.
Tak apa, ia hanya harus bersabar sedikit lagi, jika sudah waktunya pasti ia akan membunuh pria ini dan biarlah ia jadi penjahat, karena saat ini ia harus menjadi penjahat.
" Kenapa kau diam?" Tanya Dehan.
" Tidak..., Aku tidak mempunyai hal yang seperti itu."
" Baiklah, bagaimana jika kau memberikan hadiah ini padaku?" Dehan menunjukkan senyum iblis nya mulai meraba leher jenjang wanita itu.
Turun..
Turun..
"Tunggu, perut ku sakit. Awhk!!"
Listya memegang perutnya, begitu pula Dehan yang merasakan hal yang sama, namun ia masih bisa menahannya. Berbeda dengan Listya, ia meringis kesakitan dan itu membuat suami tercinta menjadi panik dan khawatir.
"Ada apa?" Dehan menunjukkan wajah panik nya.
"Tidak..., Oh iya aku sedang datang bulan." Listya menepuk keningnya.
Dehan bernafas lega mendengar hal itu, ia juga lupa, bukankah sudah biasa ia merasa kesakitan setiap bulan nya, karena wanita nya menstruasi.
"Carikan, obat pereda nyeri datang bulan." Dehan menutup telfonnya.
"Duh, duh sakit."
"Apa sesakit itu?" Tanya Dehan.
"Iya sakit, aku mau tidur sekarang." Listya menurunkan kursinya agar bisa berbaring.
Dehan hanya diam, sejujurnya sakit yang ia rasakan tidak lah sesakit itu. Mungkin karena perbedaan fisik, ditambah lagi ia harus kembali ke kantor, perkejaan nya belum selesai akibat kejadian ini.
"Jeans sialan itu." Ia memijat pelipisnya.
Setelah mengantar istri nya ke mansion, ia kembali ke kantor, mengerjakan pekerjaan nya yang sempat tertunda.
Sementara Listya tersenyum lebar melihat kepergian iblis itu, perutnya kini tak nyeri lagi, sekarang ia harus mulai rencana.
Plan pertama, buat pria iblis itu bosan dan jenuh dengan sikap manja dan menjengkelkan, sehingga ia tak tahan lagi dan membiarkan dirinya bebas.
Plan kedua, jika plan pertama tidak berhasil, ia terpaksa membunuh orang itu dengan meracuni dirinya dengan obat yang di berikan Jeans kepada nya.
Disisi lain, seorang pria menatap biola yang terletak di atas meja, ia tersenyum tak sabar apa yang akan di lakukan oleh wanita itu nantinya.
"Kirim, ke kediaman Clarke ."
"Baik tuan."
.........
Ok lovely, sampai di sini dulu ya...
Semangatin Author terus..
Dah...❣️