Don'T Touch Mine Or Die!!!

Don'T Touch Mine Or Die!!!
Chapter: Fun game



"Hahaha...apa aku terlalu terburu-buru?" Pria itu kembali tergelak namun saat ia menoleh kesamping ia malah mengepalkan kedua tangannya geram.


Tangannya merogoh kantong mengeluarkan senjata api, dengan tatapan datar menuju para pria yang terbaring di samping tangki akibat ledakkan.


Hampir setiap tubuh pria berseragam itu terbakar akibat minyak, di tambah api yang tak kunjung padam, membuat mereka semua tak berdaya.


Alka harus cepat beraksi, sebelum semuanya terbakar habis dan satu hal yang paling penting, wanitanya masih ada disana dan mungkin saja bisa terluka jika api menjalar.


Ia menembak seluruh pria yang ada disana sehingga membiarkan tempat itu menjadi lautan api dengan warna yang begitu indah.


Merah dan sedikit amis, Indra nya mencoba menikmati setiap amis darah itu yang sudah mulai bercampur dengan air laut.


Ia berjalan mendekati mayat itu dengan wajah yang begitu bengis menginjak lengan yang pernah menyentuh belahan jiwanya, yang berani mengikat sang gadis di bawah tangki minyak sialan itu.


Tak satu pun dari manusia itu ia lewatkan hampir setiap pria yang ada disana telah terpisah dari lengan mereka karena perbuatannya, saat sedang asik dengan kegiatannya, atensi sang Alka mengarah pada seorang pria tua yang sedang bermain di lantai besama api.


Alka terseyum tak karuan, seperti seorang anak yang menemukan sebuah mainan robot yang menakjubkan.


"Apa yang terjadi?" Ucapnya berjongkok.


"Biada*b!! kau akan menyesali setiap yang lakukan pada ku hari ini." Ujar pria tua itu masih mencoba merangkak menjauh dari api di belakang nya.


"Benarkah? Bukankah aku yang harus mengatakan hal itu, setiap rasa sakit yang kau berikan pada wanitaku akan aku ganti sepuluh kali lipat." Alka menangkup pipinya sendiri sembari tersenyum manis mengambil sebuah benda cantik di salah satu saku celananya.


"Waw lihat, bukankah ini cantik Demian?" Ucap memperlihatkan benda kecil dan tajam itu.


Pisau kecil kesayangan yang tak akan pernah ia tinggalkan dalam keadaan apapun, bukan karena bentuknya namun karena perannya yang sangat berbahaya.


Jika sedikit bersentuhan dengan kulit, pasti sudah membuat sebuah ukiran yang tak akan pernah hilang seumur hidup.


Alka melirik tangan pria renta itu dengan seksama dan...


"Akhhh!!!"


Satu tusukan tepat di telapak tangan Demian, pekikan yang keluar bagaikan album baru yang ia dengarkan. Entah karena efek dari perlakuan nya pada sang istri, membuatnya menjadi senang berkali-kali lipat.


"Kau bedeb*h berani sekali menyentuh pipi putih istri ku!" Ujarnya menarik dan kembali menusuk telapak tangan itu.


Senyum dan tawa, raut wajah nya kini tepat seperti seorang anak laki-laki yang sedang bermain.


Tak sanggup mengeluarkan suara lagi, Demian terdiam merasakan setiap tusukan yang sudah memisahkan jari-jari tangan.


Ia bahkan ingin menjerit keras, agar mati. Tapi apa daya, semua yang ia rencanakan tidak ada yang berhasil.


Tak terbayangkan jika hari ini hal yang ia hindari selama hidupnya terjadi, ia selalu mengatakan pada seluruh anggotanya agar tidak membuat keributan atau membuat King tertarik.


Tapi hari ini, ia lah yang mengingkari hal yang ia katakan sendiri. Dia kini berada dalam keadaan mati namun masih bernafas, tubuh kaku tak bisa di gerakan, sebagian tubuhnya melepuh karena terbakar api.


Sungguh teragis, namun ia tak bisa menyalakan pria bernama Alka ini sekarang, karena dirinya lah yang memulai masalah terlebih dahulu.


...


"Aku menemukan nya, GPS nya di laut Utara sebuah tangki minyak." Fatia.


Namun karena pria yang bersamanya kini begitu serius ingin menyelamatkan seseorang yang mungkin saja adalah saingan nya.


Dari gerak-gerik pria ini, ia bukan hanya sekedar khawatir namun ada rasa lain yang menonjol.


Fatia tak mau ambil pusing, dan kembali fokus, ia tak mau memikirkan hal itu sekarang. Sementara pria yang ada di samping nya sama sekali tak perduli pada partner nya itu.


"Hubungi Kak Lart dan yang lain." Titah Aident tetap fokus pada jalanan.


"Baik." Sambut Fatia membuka iPad nya.


...


"Hey!" Ucap Alka bingung saat mata pria tua itu tak berkedip.


Tangannya terulur untuk mencongkel kedua mata Demian, di rasa sudah tak merusak pemandangan karena mata itu, ia berhenti dan menusuk beberapa kali kepala sang pria tua.


Namun saat ia lihat pisau yang ada di genggaman nya, ia masih belum puas, tapi pria itu sudah mati. Wajahnya kesal, melihat setiap orang yang ada di belakang nya, memastikan apakah masih ada yang bisa di ajak bermain.


Namun di lihat dari manapun, tak ada satu pun yang selamat, ia berjalan perlahan namun saat atensinya kembali bertemu dengan sang istri ia malah menjadi panik.


dengan sesegera mungkin ia berlari menghampiri Listya, mengangkat nya menjauh dari api yang sedikit lagi mencapai dirinya, Untung saja.


Dilihatnya tubuh sang istri yang penuh dengan keringat, akibat panas. Alka menaiki Speedboat miliknya meletakkan Listya senyaman mungkin, agar bisa beristirahat.


"Kau baik-baik saja Dear?" Ujarnya terkekeh melihat wajah yang begitu ia rindukan.


"Ayo kita pulang." Sambungnya.


...


Disisi lain Aident dan Fatia sudah berada di atas Speedboat, dan hampir setengah perjalanan menuju tangki minyak tersebut.


Mereka masih terus menjalankan mesin dengan keheningan, karena keduanya yang tak mengeluarkan suara.


Fatia menahan diri untuk tidak bertanya pada pujaan hati nya, karena pria itu masih sangat fokus. Ia takut membahas apapun saat ini mungkin saja itu membuat Aident tak nyaman dan mungkin saja membencinya.


Sudah cukup selama ini dijauhi, ia tak mau ada jarak lagi diantara mereka berdua, itu akan membuat nya tersiksa.


...


Alka, melihat wajah yang begitu indah disinari cahaya rembulan malam, meski gelap ia masih bisa melihat wajah sang istri dengan jelas.


malam yang begitu mendukung dengan bulan purnama yang terang, memantulkan sinarnya di lautan. Persis seperti sebuah lukisan, ia sedikit menikmati saat-saat ini.


Hanya sebentar, karena dapat ia rasakan hawa dingin menyentuh tubuh nya dengan tiba-tiba, tentu saja itu adalah Listya yang mulai kedinginan.


Alka tak mau ambil resiko, dan kembali melanjutkan perjalanan menuju daratan. tanpa ia sadari ada Speedboat lain di sisi yang berbeda menuju mereka.


Alka tak perduli dan tak mau perduli, sekarang prioritas utama adalah membawa sang istri kembali, dan mengobati setiap luka nya.


see you... my lovely 🌹