Don'T Touch Mine Or Die!!!

Don'T Touch Mine Or Die!!!
Chapter : wedding preparations



Seluruh mobil hitam memenuhi jalanan, seorang pria keluar dari salah satu mobil, memakai setelan jas sesekali menggigit bibir bawahnya.


Ohh rasanya tak sabar lagi..


Ayolah hanya tinggal beberapa menit lagi, ia menyenderkan punggungnya di depan mobil, yang terparkir rapi menutupi seluruh jalanan.


Senyuman iblisnya terukir jelas, melihat mobil taksi yang menuju ke arah mereka. Saat taksi itu berhenti, keluar lah seorang pria yang tak lain adalah supir taksi itu, ia menghampiri Dehan, meminta ampun agar segera di lepaskan.


"Dia disana, tuan."


"Hmm." Dehan tersenyum melirik ke arah mobil taksi itu.


"Saya sudah memenuhi permintaan tuan, sekarang biarkan saya pergi."


" Tentu saja." Mendengar kata dari sang tuan, salah satu bodyguard melemparkan sebuah kunci pada supir taksi itu.


"Hadiah mu." Ucap Dehan pergi menuju Sang gadis.


Supir taksi itu bersyukur, mengambil mobil yang diberikan pada nya, entah hari ini keberuntungan atau kesialan nya.


Ia mendapat mobil yang bahkan tak bisa di bayangkan harganya, orang kaya saja belum tentu memiliki mobil kualitas terbaik.


Seumur hidup ia tak pernah bermimpi akan mendapatkan mobil luar biasa ini, tak pernah ia bayangkan, namun hanya mendapatkan mobil ini, nyawa nya hampir melayang.


Dehan mencoba menenangkan detak jantungnya, tangan nya terulur membuka pintu mobil, menampilkan sosok gadis yang membeku di sana.


Dehan dengan sedikit tergesa menarik lengan Gadis nya, hingga keluar dari dalam mobil, tak ada perlawanan, suasana menjadi canggung.


Ia memasukkan Listya ke dalam mobil hitam milik nya, tangan lembutnya itu membuat ia menoleh kearah gadis itu.


Hanya ada keheningan sepanjang perjalanan, Dehan tahu jika sekarang ini gadis itu sedang panik, namun juga ia terkekeh melihat tingkah lucunya, yang hanya diam seperti kucing.


Setelah sampai di kediaman nya, sembari memegangi tangan sang gadis, mereka berdua di sambut oleh banyak nya pelayan yang menunggu di depan pintu.


" Persiapkan semua nya." Tentu saja langsung di angguki oleh seluruh pelayan.


Dehan kemudian kembali menyeret gadis itu, namun tiba-tiba pergerakan nya terhenti, ia melirik sang gadis yang berhenti mencoba melepaskan tangannya.


Dehan tersenyum melepaskan tangannya, dan berlalu meninggalkan gadis itu, Listya menatap punggung pria gila itu menjauh, tiba-tiba lengan nya di gandeng oleh dua orang wanita, dengan gaun putih hitam yang mereka kenakan.


" Nona, mari ikut kami." Ajak mereka berdua menyeret Alistya pergi dari sana.


Sebuah kamar, di sana sudah ada beberapa pelayan lainnya sedang tersenyum melihat Listya, ia di buat takjub dengan kamar yang indah itu dengan hiasan bunga yang cantik.


Atensinya tertuju pada sebuah gaun putih polos dengan segala pernak-pernik berkilauan yang membuat matanya berbinar. Namun ia segera menggelengkan kepalanya, menghilangkan pikiran bodoh itu.



"Oh ayolah.. kendalikan dirimu." Batinnya memperingati diri sendiri.


"Nona, ini waktunya istirahat. Besok adalah hari yang sangat penting, Jangan sampai kau kelelahan." Ucap salah satu pelayan itu menuntun Listya ke atas kasur berukuran King size.


" Tunggu dulu, ada apa ini?"


Alistya melepaskan pegangan para pelayan, dan melangkah keluar dari kamar, dapat ia lihat seorang pria tua sedang berada tepat di hadapannya.


" Nona, kau ingin kemana? Besok adalah hari pernikahan mu, jangan membuang tenaga dengan percuma." Ucapnya.


"Ha! Apa? Maaf tuan, aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau maksud. Pernikahan apa? Aku tidak akan menikah."


Listya tentu tak terima dengan ucapan pria itu, apa lagi mendengar kata 'pernikahan' membuat ia tak bisa berfikir jernih.


"Mari saya antar." Felix tersenyum.


Saat menunjukkan sebuah ruangan, Listya mendahului Felix membuka pintu tanpa permisi.


Matanya terbelalak melihat pemandangan di dalam ruangan itu, bau anyir darah memenuhi penciuman, tubuh nya bergetar hebat. Bahkan, ia sangat sulit menelan saliva nya sendiri.


Dehan melirik ke arah gadis yang baru saja masuk ke dalam, ia tersenyum menatap sosok gadis cantik itu, matanya yang indah membuat dirinya hampir kehilangan akal sehat.


Seorang pria yang tergeletak di lantai, ingin mengeluarkan suara nya, namun tidak bisa akibat luka sayatan tepat di tenggorokan nya.


" Ada apa? " Tanya Dehan melihat Felix yang baru saja datang.


"Nona ingin bertemu dengan anda." Jujur Felix membungkuk pada pria itu.


Alistya merasakan panas pada kulit nya, kepalanya terasa berat, matanya buram hampir tak bisa melihat, nafasnya tersengal bibir nya yang pucat.


Kini ia tak merasa apa pun lagi, tubuh nya terhempas di dingin nya lantai, pria yang sedari tadi duduk santai, kini bangkit mengejar gadis itu.


.........


Sinar mentari mengusik tidur seorang gadis, pelahan ia mulai membuka matanya dengan keringat membasahi pipinya, apakah ia bermimpi? Oh mimpi yang sangat aneh.


Ia melihat ke sekeliling, menatap kamar yang sama dengan yang ada di mimpi nya.


" Nona ini saat nya bersiap." Para pelayan membantu Listya bangkit.


Tunggu, apa?


Bukan?


Bukan mimpi?


Yang benar saja!!!


"Aku harus pergi," Listya melepaskan pegangan para pelayan dan berlari menuju pintu.


Sayang sekali, yang terlihat adalah Listya berkutat memutar-mutar gagang pintu kesal.


Pintu terkunci membuat nya semakin panik, sedikit memaksa, ia malah menggunakan kekerasan pada pintu itu, dengan menendang-nendang hingga kaki nya kesakitan.


" Nona, aku sarankan lebih baik anda sedikit tenang, tuan tidak suka keributan. Jika tidak, nyawa kita bisa melayang." Seorang pelayan wanita menghampiri Listya.


Seketika tubuh nya membeku, apa yang baru saja ia katakan adalah sebuah peringatan atau lebih tepatnya ancaman?


"Baik nona, ini waktunya mandi." Seluruh pelayan mengiringinya menuju bathroom.


Tak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulut nya, seolah terkunci akibat perkataan pelayan itu, tubuhnya sedikit tidak nyaman karena pijatan lembut dari para pelayan.


Ia akui ini adalah yang sangat ingin ia lakukan jika setelah sidang kelulusannya, akan tetapi dirinya tetap tak nyaman, meski pun menenangkan dari sebelumnya.


^^^...^^^


" Ingat, jangan ada satu pun manusia kecuali kami. Jika tidak kau tahu akibatnya."


" Baik tuan, nona sedang bersiap. Bukankah seharusnya anda juga bersiap?"


" Ya."