
"Kenapa kau sangat lama, CK!" Ujar pria itu kesal.
"Dress ku, mata mu buta?" Listya masih berusaha agar tetap berjalan namun gaunnya terasa sangat berat saat ini.
Ia sendiri bingung, padahal sebelumnya tidak seberat ini. Dia bisa berjalan dengan baik, dan bisa menyeimbangkan tubuhnya yang memang sedikit lemas.
Karena belum sembuh total, ia seperti kehilangan banyak energi dan tak mampu beraktivitas berlebihan seperti sebelumnya. Ia tahu betul ini akan terjadi namun, ia masih bersikeras untuk mengikuti pesta.
Setelah berhasil duduk di mobil, Listya menghela nafas dan melihat Aident yang menutup pintu ikut masuk kedalam mobil. Pria itu tak berbeda dari biasanya, ia masih dingin dan sedikit kasar padanya.
Dasar kelinci bodoh!!!
.........
Di perjalanan senyap, tak ada yang bersuara. Listya memerhatikan jalanan dengan datar dan lihatlah ia seperti sedang termenung.
"Kau baik-baik saja." Suara itu membuat Listya tersadar dan tersenyum pada Aident.
"Kau baik-baik saja? Aaahhh kau sangat lembut." Ejek Listya hampir tertawa.
"Cih." Ujar pria itu kembali menatap jalanan.
"Siapa gadis itu?" Aident yang tadinya menatap jalanan kembali mengalihkan pandangan pada wanita yang tepat berada di sebelahnya.
"Apa kau cemburu?" Pria itu tampak tersenyum sinis.
"Ha? " Listya mencoba mencerna ucapan pria kelinci itu dengan otak nya yang waras, coba pikirkan apa yang terjadi jika seorang Alistya queenetya bisa cemburu pada seorang iblis yang membuat nya menderita.
"..."
Kembali senyap tanpa satu para katapun yang keluar dari mulut kedua insan itu. Kini Listya melepaskan high heels nya, itu cukup untuk membuat kaki mungilnya bisa bernafas kembali.
.........
Di sisi lain, Alka masih diam menatap lurus ke depan, udara di dalam mobil sangat menyesakkan sehingga ia harus melonggarkan dasinya.
"Apa kau kepanasan?" Tanya seorang gadis di sampingnya.
"..." Tetap diam tanpa menjawab, membuat Ruphilla mengernyitkan dahinya, pria ini sangat berbeda dengan pria-pria yang pernah ia temui sebelumnya.
Aura nya sangat sesak, dan lihat pria itu bahkan tidak sama sekali melirik ke arah nya meski dari tadi ia mencoba menggodanya.
"Apa kau menyukai ku?" Ujar nya membuat Alka tersenyum.
"Aku sangat menyukai mu, so is your father. I really like you guys, you managed to get me excited tonight." Jawab Alka membuka benda pipih yang berada di saku jas hitam nya.
"Benarkah." Ruphilla tersenyum takut mendengar ucapan pria yang ada disampingnya itu.
"Tenang lah Ruphilla, dengar ucapan pria itu, Dia menyukai mu." Ujar nya membatin.
Mobil yang dari tadi melaju kini berhenti di suatu tempat, tepatnya bar milik Roan. Tempat yang biasa nya ada orang-orang kaya itu kini kosong. Tak ada satu manusia pun terlihat di sana, gelap gulita hanya cahaya remang-remang.
Alka melangkahkan kakinya menuju tempat itu, di ikuti dengan Ruphilla dan para penjaga.
Gadis itu tampak merinding tak tahu harus mengatakan apa.
Dirinya khawatir dengan keadaan nya sekarang, namun semuanya sirna seketika saat lampu menyala dan beberapa balon berjatuhan dari atas.
Balon yang begitu cantik dengan warna putih dengan lampu-lampu kecil yang indah, tak lama datanglah seorang pemuda menyambut mereka.
"Selamat datang, nona Ruphilla kami sudah menunggu kau datang pesta kita bisa di sekarang." Ujar nya dengan senyuman yang manis.
Ruphilla sama sekali tak bisa berhenti terkekeh, ia sangat senang saat Roan begitu sangat menghormati dirinya.
"Apa pesta nya bisa di mulai?" Tanya Roan menatap pria dengan wajah serius di samping gadis itu.
"James akan segera tiba bersama Jack." Roan menawarkan sebuah gelas berisi wine untuk Ruphilla.
Senyum pria itu tak luntur sama sekali, membuat Ruphilla ikut tertular. Ia menjadi sangat bersemangat menunggu kedatangan seluruh anggota seven deadly brother.
Hal ini sudah ia nantikan, tak sia-sia perjuangan dirinya menjadi putri yang bertalenta selama ini. Menjadi model sekaligus artis, dengan segudang prestasi, menjadi idaman setiap lelaki di dunia. Ia rasa ini cukup untuk membayar semua usahanya dengan menjadi seorang istri orang yang paling di takuti di negara ini.
.........
"Kita mau kemana?" Ujar Listya melihat mobil yang di kendarai tidak menuju mansion.
"Diam, duduk saja." Sarkas Aident tanpa melirik.
Listya mencibir dengan wajah kesal, pasalnya pria itu sama sekali tidak menjawab dengan baik.
Hati nya sekarang sedang sibuk bergelut dengan pikirannya yang sangat tidak bisa bekerja sama, mungkin karena rasa yang seharusnya tidak boleh ada yang selalu ia pendam selama ini.
Bukankah ia ingin pergi, namun sebenarnya dalam hati seorang gadis kecil itu ia sangat menyukai pria iblis yang selalu membuat nya menderita itu. Jangan salahkan dirinya karena tidak bisa menahan diri untuk menyukai pria iblis dengan cover malaikat.
Namun rasa suka itu harus di paksa berhenti karena, sikap malaikat yang ternyata adalah iblis, manusia seperti itu tidak pantas untuk di cintai gadis normal seperti dirinya.
Bukankah sama saja memakan makanan yang beracun, dengan membunuh diri sendiri jika rasa itu ada.
Setelah beberapakali berbelok, akhirnya mereka sampai di tempat yang di tuju dengan wajah yang penuh tanda tanya. Disaat ia melihat beberapa bodyguard muncul menyambut mereka di depan bar Roan.
"Ayo masuk, jangan diam." Sindiran pedas keluar lagi dari mulut pria kelinci itu.
"Dasar mulut ular." Cibir Listya sekali lagi.
Aident menatap nya sadis, namun tetap membantu wanita itu turun dari mobil apa lagi pakaian yang cukup menyusahkan nya.
High heels nya sengaja ia lepaskan, namun itu membuat Aident mengacak rambutnya. Lihat wanita itu sekarang telanjang kaki dan sangat mudah nya ia tersenyum seperti itu.
Aident mengeluarkan sebuah sendal dari dalam bagasi mobil, sendal bulu-bulu dengan warna abu-abu khas pria itu.
"Pakai ini." Ucap nya memakaikan paksa pada kaki kecil nan putih itu.
"Iya, pelan-pelan. Aku sendiri bisa melakukan nya." Ujarnya sambil mendorong punggung Aident.
"Dasar banyak tingkah." Kesal Aident menatap nya tajam.
"Ya kenapa." Jawab Listya tak mau kalah.
.........
"Tuan, Nyonya sudah sampai." Bisik seseorang pada Alka yang sedang hikmah menghirup asap rokok nya.
Alka mengangguk sembari meletakkan rokok nya dari tadi ia nikmati, ia melirik James dan Jack yang sedang bercanda ria dengan seorang wanita cantik.
"Hahaha, lalu apa yang terjadi pada pria itu?" Jack antusias.
"Dia bunuh diri, dan membuat aku kerepotan." Ucap Ruphilla memijit pelipisnya, seakan-akan sakit kepala.
"Sungguh? Lalu bagaimana dengan nasib semua pria itu." Tanya James terkejut.
"Aku hanya memainkan mereka untuk kesenangan." Jawab nya lagi.
"Seperti apa?"
"Aku memanfaatkan tubuh kekar mereka."
"Wahh, kau sangat berbahaya."
Semuanya tertawa terbahak-bahak mendengar cerita gadis itu yang sangat membosankan.