
"Jika seperti ini, aku sudah tak terlalu tertarik lagi untuk pergi." Ucap Dehan meminum wine menatap dari jendela.
"Apa maksudmu?" Seorang pria yang juga ada disana menunjukkan wajah serius nya.
"Kau saja." Ucap Dehan menatap sosok wanita yang sedari tadi duduk diam sembari membaca buku di taman.
"Apa kau bercanda, dia akan aman." Ucap pria itu datar.
"Aman? Dua hari aku meninggalkan nya, dan sudah membuat darah memenuhi lengan nya."
Dehan menyeringai mengalihkan perhatian nya pada pria itu, hanya sebentar, karena ia langsung melirik kearah istri tercinta nya yang kini memainkan bunga, tak lagi melihat tulisan-tulisan di bukunya.
"Kali ini, biar aku yang urus. Kau tak perlu khawatir, dia akan aman." Ucap nya mulai terlihat resah.
"Kau sangat percaya diri Lart. Ya, ya baiklah. Jika kau yang mengatakan nya. Aku mungkin bisa tenang." Dehan tak habis pikir dengan pria satu ini, hanya karena ingin bersenang-senang, ia rela melakukan apapun.
.........
"Nyonya, ini saat nya minum obat." Ucap seorang mate menuju Listya.
"Kenapa aku harus selalu meminum obat, luka ku sudah sembuh. Aku yakin tak perlu minum lagi." Ucap Listya percaya, dirinya juga pernah mempelajari tentang medis, ya meski tak lama, tapi ia tidak bodoh.
Sayang sekali, jika saja dirinya sempat belajar di universitas. Mungkin ia sudah bisa merawat luka nya sendiri, namun sekarang seakan yang yang pernah ia pelajari hilang dari ingatan nya.
Ya, Itu bukanlah kesalahan nya, mengingat kondisi mental nya yang kini tak bisa di prediksi akibat perbuatan pria yang mengaku sebagai suaminya.
Dan kini hal yang paling penting dalam hidupnya, adalah bagaimana bisa lepas dari cekaman pria itu dan kembali hidup bahagia bersama Irena.
"Nyonya, apa perlu saya katakan pada tuan." Ucap wanita itu.
" Ya ya ya, katakan saja. Aku tak perduli, lagi pula siapa yang mau minum obat setiap hari." Ucap Listya jengkel dengan raut wajah kesal.
Oh, seperti nya plan pertama gagal total, manusia iblis itu bahkan tak terlihat bosan sedikit pun, ekspresi wajahnya susah di mengerti, dan semua yang ia lakukan sama sekali tidak berubah apapun, Mala membuat pria itu semakin menggila. Apa sekarang ia terpaksa harus menggunakan plan kedua.
Ia sedikit gelisah, obat ralat racun itu masih ia simpan dengan aman, bahkan Dehan tak menyadari itu. Ya ini suatu kemajuan, mengingat Dehan sudah tak terlalu waspada terhadap dirinya.
Saat hendak melangkahkan kakinya, tak sengaja atensinya berpasan dengan pria itu, yang sedang menatap nya intens dari jendela.
Listya memberikan tatapan sinis pada sang suami, dengan langkah gontai meninggalkan taman, sementara itu Sang suami terkekeh, melihat istri nya yang manis, marah membuat nya senang.
Bahkan Lart kebingungan saat melihat Dehan yang notabenya tak pernah tersenyum atau tertawa, kini terlihat seperti seseorang yang berbeda.
"Aku akan pergi pekan depan, aku yakin budak pemerintah itu sedang menunggu ku. Aku akan mempermudah pekerjaan mereka." Ucap Dehan tersenyum sumringah keluar dari ruangan itu.
Sementara Lart menggelengkan kepalanya sembari tersenyum, sungguh ia tak sabar.
"Aku akan menjadi penonton setia mu." Ucapnya melangkah pergi.
.........
Dehan berjalan menuruni tangga, dengan sedikit smirk di bibirnya, kala melihat sosok wanita yang termenung menatap lukisan yang tak lain adalah dirinya.
"Bukankah, aku melarang siapapun masuk kemari ." Ucapnya membuat wanita itu terkejut waspada.
"A..aku tidak tau." Ucapnya sedikit gugup.
Hanya satu tema dari semua karya dua dimensi itu, tak lain adalah seorang gadis cantik yang hampir membuat nya hilang akal, ya mungkin sudah.
"Mengapa banyak sekali foto ku di sini, dan ini juga foto kecil ku, bagaimana kau mendapatkan nya." Ucapnya langsung menyampaikan pertanyaan yang memenuhi kepala nya sedari tadi.
" Aku tak harus menjawab pertanyaan yang sudah ada jawaban nya." Ucap Dehan mengambil salah satu bingkai foto.
"Maksudmu?" Listya merasa tidak puas dengan apa yang dikatakan pria itu.
"Ya, jawabannya hanya satu. Kau itu sudah lama menjadi milikku, hanya saja aku membiarkan mu kebebasan, sebelum aku membawa mu." Ucap Dehan membelai bingkai foto yang ada di tangan nya.
"Jadi kau ingin bilang, bahwa kau sudah mengenal diriku bahkan saat aku masih kecil?" Ucap Listya tak percaya.
Pria yang sedang duduk itu terkekeh, bahkan tidak ada manusia yang bisa percaya anak berusia dini bisa jatuh cinta, sungguh tak masuk akal.
Ya tentu itu bukanlah cinta, lebih dominan obsesi, dan sama sekali tidak sehat.
Listya hanya diam tak habis pikir, mengapa dari sekian banyak orang jahat, ia malah di pertemukan oleh psikopat yang sudah gila.
Ia tak mau menatap pria itu lagi, dan mengalihkan atensinya menuju sebuah bingkai foto yang terdapat dua anak kecil di dalamnya.
Dan dapat ia pastikan itu salah satu orang itu adalah dirinya, dan anak laki-laki di samping nya, ia sama sekali tidak mengingat pernah bertemu dengan sosok anak itu.
"Manis sekali bukan, kau mencium ku pertama kali saat ulang tahun mu." Dehan mengambil alih bingkai foto itu, dari sang istri yang sudah mematung.
"hmm.. kenapa wajah mu terkejut seperti itu."
Dehan tertawa melihat raut wajah istri nya itu.
"Kau..."
"Apa ini, ini sangat aneh. Dulu kau sangat menyayangi ku, tapi sekarang kau malah ingin pergi dan membenciku."
Listya sedikit melirik kearah pria itu, tatapannya sedikit sendu, dan entah mengapa pipinya mulai memanas, ia melihat ke ambang pintu dan berjalan pelahan.
"Kau akan pergi, ku pikir kau cukup tertarik dengan hal-hal yang ada di ruangan ini."
Listya tak menggubris perkataan pria itu, dan mempercepat langkahnya keluar dari sana, sementara itu Sang suami hanya bisa melihat istri mungil nya menghilang dari pandangan.
.........
Dari awal semua ini tak baik-baik saja, kehidupan yang kacau membuatnya menjadi monster. Orang tua yang tidak pernah memberikan kasih sayang yang ia inginkan, dan semua tekanan yang ia alami.
Dehan tak pernah mengeluh, seolah dirinya berfikir ini adalah hidup yang cukup menarik untuk nya, dari dulu ia tak pernah tersenyum atau senang, ia berbeda dari kebanyakan orang.
Jika anak-anak lain bermain, dirinya sendiri merasa itu bukanlah suatu kesenangan, ia lebih suka menggunakan akal nya untuk berfikir keras, dengan hal-hal yang di luar nalar seorang anak.
Tak ada yang memberikan dirinya pencerahan, semua yang ia lakukan di anggap benar, bahkan saat ia mencoba membunuh seorang wanita yang selama ini merawat nya.
Wanita yang selalu membuat nya kesal, wanita yang menyebut dirinya seorang ibu. Wanita sialan yang seolah mengerti cara mendidik anak.
Wanita yang mementingkan diri sendiri tanpa memikirkan orang lain, begitu pula pria yang bersamanya, mungkin mereka ditakdirkan untuk bersama, seperti kata orang "jodoh mu adalah cerminan diri mu."
namun itu sama sekali tidak berlaku pada pasangan kita yang satu ini, ya bagaimana tidak, jika wanita polos berjodoh dengan psikopat gila?