
Bank..bank..
Terdengar suara teriakan wanita, menangis meratapi keadaan suaminya yang terbunuh tepat di hadapan nya. Tak ada yang bisa ia lakukan, ia harus bungkam menatap anak kecil yang baru saja datang.
"Kau..."
Namun sekarang penglihatan nya gelap tak ada cahaya sedikitpun, nafas yang tadinya sesak kini tak ada lagi. Terbaring di antara lantai yang berwarna merah, tubuhnya yang hangat berubah drastis.
Anak kecil itu hanya diam, matanya berkaca-kaca melihat kejadian mengenaskan yang menimpa kedua orang tua nya.
"Hahaha,"
Ia tertawa, katakan jika ia tak normal, karena tertawa saat melihat kedua orang tua nya meninggal.
.........
"Tuan muda, ini waktu nya pulang."
Seorang pria dan anak laki-laki tiba di sebuah taman bermain, tempat berkumpulnya anak-anak.
Ya benar.
Tanpa mengindahkan perkataan supir nya, ia turun dari mobil, duduk di bawah salah satu pohon yang ada di sana. Menikmati deru angin menerpa wajahnya, sungguh tenang.
" Aaaa, Risyta mau es klim." Seorang anak merengek meminta Ice cream.
"Iya, tapi hanya satu Listya." Ucap salah satu gadis yang lebih besar dari gadis itu.
Suara rengekan itu membuat nya menoleh, ke arah dua orang gadis kecil yang sedang membeli Ice cream tak jauh darinya.
Ia terus memandangi setiap gerak gerik kedua orang itu, tanpa mengalihkan pandangan.
"Di sini dulu, kakak ambil tisu. Jangan kemana-mana!" Titah sang kakak meninggalkan kan adiknya
Dan mendapat anggukan lucu, dari sang adik apa lagi saat Ice cream memenuhi bibir kecilnya. Sementara itu, anak lelaki yang tadinya memerhatikan mereka, kini tak perduli lagi dan lebih memilih untuk memejamkan mata nya, mencoba menenangkan hati.
"Halo kak." Suara itu terdengar kecil hampir tak bisa di tebak apa yang dikatakan nya.
Dehan tak menggubris suara itu dan tetap pada posisi yang sama, tak bergeming dari tempatnya, matanya masih setia terpejam.
"Kakak!"
Kali ini Dehan terpaksa membuka matanya saat tangan mungil itu menarik kerah baju nya, matanya membulat sempurna, terkejut menatap bola mata yang berbinar itu.
Baru kali ini Dehan tampak kebingungan, saat gadis kecil itu tersenyum mengelus rambut hitam nya, sementara supir yang sedari tadi menunggu ikut di buat terkejut.
"Maaf, jangan.." Ucapan pria itu terhenti saat melihat tatapan sang tuan muda.
"Kakak, kenapa?" Tanyanya polos tanpa dosa.
Tak ada jawaban, ia hanya diam menyaksikan aksi gadis itu. Bahkan sekarang, ia merasa tidak nyaman karena kerah baju dan rambutnya terasa lengket akibat sisa Ice cream di lengan kecil nya.
"Kakak, mau es klim." Ucapnya nya lagi, dan kali ini ia mendudukkan tubuhnya di samping anak laki-laki itu dengan kaki yang menggoyang lucu.
"Tapi udah abis." Ucapnya menunjukkan kedua tangannya, yang kotor bekas Ice cream.
"Nama kakak, siapa?.
Gadis kecil itu tersenyum manis menatap Dehan penuh rasa penasaran, entah apa yang ada pikiran mungil nya.
"Listya!" Terdengar suara seseorang memanggil.
"Sayang, astaga apa yang kau lakukan?" Ucap wanita itu terkejut melihat sesosok anak laki-laki bersama putrinya.
"Maaf, maafkan putri ku. Dia memang sedikit nakal." Ucap pria itu pada sopir.
Tak ada jawaban dari kedua orang itu, yang satu mengunci tatapannya pada Listya dan yang satu tersenyum terpaksa, mengangguk pada kedua suami istri itu.
"Dah Kak Risyta pulang dulu, nanti main ke rumah ya." Ucapnya melambaikan tangan kecil nya sebelum jauh dari pandangan mereka berdua.
"Tuan.." Lagi-lagi ucapnya terpotong saat Dehan dengan tatapan tajam nya ia lontarkan.
"Cari tahu, tentang gadis itu." Ucapnya.
"Ya tuan."
.........
"Bahhhh.." Dari kejauhan ia memerhatikan kedua gadis sedang bermain dengan riang nya.
Senyum terbit di bibir nya kala melihat sala satu dari mereka menangis karena terjatuh, namun tak lama senyum itu putar saat kedua lututnya terasa perih.
"Tuan muda, anda baik-baik saja?" Tanya salah satu bodyguard.
Dehan mengangkat dua jari nya, memerintah kan semua bodyguard nya pergi dari sana.
Tangan nya memegang kedua lututnya, ada yang aneh, Ahh mungkin hanya kebetulan saja.
Ia kembali mengamati kedua gadis itu yang tengah meminum coklat hangat yang di baru saja di berikan oleh seorang wanita.
"Ahh,,," Sekarang ia merasakan panas pada bibirnya.
Begitu pula dengan gadis di sana, ia sedang menangis saat bibirnya terbakar akibat tak langsung meminum coklat hangat itu.
Ohh apa dia gila sekarang? Ini tak masuk akal sama sekali, mungkin ia harus pergi ke dokter, dan bertanya apakah dirinya sudah gila sekarang?
.........
" Tidak ada yang salah, mungkin ini hanya perasaan mu saja." Ucap Bridant.
" Mungkin kau sudah gila," tiba-tiba seorang lelaki muncul tersenyum menatap sepupu nya itu.
"Heh, ya aku gila." Jawabnya mengindahkan perkataan Jeans.
"Kalian berdua sama-sama gila." Potong Bridant berdiri dari duduknya.
Memukul kepala anak kurang ajar yang tak tahu malu itu, Jeans meringis kesakitan akibat pukulan itu.
"Ayah, nanti aku benar-benar bisa gila, apa kata dunia, jika orang tertampan di seluruh semesta jadi gila. Astaga!!" Jeans membenarkan kerah bajunya.
"Seperti nya, aku salah memiliki putra aneh seperti mu." Bridant pergi dari ruangan itu, ia tak mau memperdulikan kedua manusia yang sudah gila itu lagi.
"Hey, seperti nya aku pernah membaca di salah satu buku tentang masalah mu." Jeans menatap sepupunya itu dengan tatapan mata yang aneh.
" Ya aku ingat, ini pernah terjadi di keluarga kita. Kau ingat bibi Sella? Dia juga mengalami hal yang sama dengan mu, beda nya ia tak tahu siapa yang membuat ia kesakitan."
" Ia juga hampir bunuh diri akibat tekanan itu, sekarang dia sudah di asing kan karena di anggap gila. Bagaimana kau mau bertemu dengan nya?" Sambung Jeans.
" Aku tak tertarik sama sekali." Ia berdiri pergi meninggalkan Jeans di sana.