Don'T Touch Mine Or Die!!!

Don'T Touch Mine Or Die!!!
Chapter : vacation together



"Aku sudah selesai!!!" Teriak wanita itu menuruni tangga.


"Jangan berlari.."


"Aaaaakkkhhh.." Baru saja ia di peringati dannnn...


Listya tersenyum saat menabrak tubuh Dehan, sungguh konyol. Pria itu menghela nafas panjang, Untung saja ia berhasil meraih tubuh istrinya yang sedang senang itu.


"Aku siap." Ucap nya tersenyum tanpa dosa.


Dehan hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang sangat bahagia itu, raut wajah yang sangat penting dalam kehidupan nya saat ini. Ya tak ada yang lebih penting, dari wanita yang satu ini.


Hari ini mereka akan pergi, tentu saja rencana untuk berlibur tidak lah gagal. Dengan pakaian santai, bertaut kaos hitam serta celana pendek berbalut di tubuh pria itu, namun hal sama sekali tidak merubah Kepribadian nya yang seperti es batu.


"Ayo." Ucapnya menggenggam telapak tangan Listya erat.


.........


Sementara itu di kediaman Jeans dan Lucy.


"Cepatlah, mau berapa lama lagi aku menunggu mu!!" Teriak Lucy pada suaminya yang tak kunjung datang.


" Iya aku harus mengatur rambut kuuu!!" Balas sang suami.


"Astaga,, aku pergi duluan saja." Ucap Lucy menyerah, dia tahu suaminya memerlukan waktu lebih lama untuk penampilan yang sempurna.


"Aku siap, kau tahu kan aku tidak boleh kurang sedikit pun, penampilan adalah kunci ketampanan." Ucapnya bangga, namun semenit kemudian...


"Sayang?" Ucapnya memastikan.


"Tuan, nyonya sudah pergi duluan." Ucapnya seorang pelayan.


"Apa? sayanggg!!" Panggil nya, segera menyusul Lucy.


.........


Satu persatu mobil datang ke bandara, di sana sudah ada pesawat yang menunggu mereka, Lart dan Jessica lah yang pertama kali tiba di susul oleh Roan dan Aident begitu pula Rose dan James.


"Di mana kak Jack?" Tanya Aident tak melihat sosok pria itu.


"Dia akan menyusul, tenang saja. Tidak mungkin dia mau melewatkan kesempatan seperti ini bukan?" Balas Roan tersenyum.


Setelah beberapa menit kemudian, mobil Dehan dan Jeans tiba bersamaan, mereka melihat sosok Dehan yang berbeda dengan biasanya.


"Wow, sudah lama sekali rasanya tidak melihat pakaian itu." Ujar James.


Benar sekali, kini ia bukanlah seorang CEO kejam melainkan sosok pria manis, orang bisa salah tingkah jika melihat penampilan Dehan hari ini.


Tak di pungkiri Jessica juga sempat menatap pria itu kagum, bagaimana pun juga dulu pria itu adalah seorang yang berarti di dalam hidupnya.


Listya yang tadi nya tidak memerhatikan kini pun ikut serta dalam memandang pria iblis itu, seketika raut wajah nya sendu dengan rona merah di pipinya.


Suasana memanas namun...


"Hey, berhenti kagum pada ku, ya ya aku memang sedikit berlebihan berdandan hari ini." Ucap Jeans memecahkan suasana.


"Hahaha..." Aident dan Roan terbahak sedetik setelah perkataan pria konyol itu.


"Sudahlah ayo pergi,.." Ujar Lart.


Mereka akhirnya mulai memasuki pesawat, saat ini Listya pun ikut menyusul dengan Dehan di belakang nya.


"Tunggu." Ucap Dehan menarik Listya.


"Kenapa?"


"Tali sepatu mu lepas." Ucapnya membungkuk meraih tali sepatu.


"Dia cukup manis." Bisik nya dalam hati.


Listya menatap rambut pria itu dari atas , cukup penasaran hingga telapak tangan nya terulur menyentuh rambut gelap itu.


Dehan yang tadinya fokus dengan kegiatan nya, kini terkejut membulat kan mata nya pelahan mendongak menatap sang istri.


Listya tersadar menarik lengan nya dengan cepat.


Baru kali ini ia merasa bingung pada perbuatan seseorang, padahal sudah jelas bahwa Listya tanpa sadar membuka sedikit hati untuk dirinya, meski hanya sedikit namun itu adalah hal yang sangat berarti namun saat ini pria itu malah kebingungan.


Ia sama sekali tak menyadari hal itu, anggap saja dirinya polos, selama ini obsesi mendominasi tanpa ada perasaan cinta. Membuat nya tak merasa kan hal-hal kecil nan manis dari cinta.


"A..Yo masuk." Ucapnya gugup.


Keduanya canggung dan itu sama sekali tidak menyenangkan, Dehan tidak mengerti mengapa ia seperti ini. Dan kembali seperti semula, menyuruh Listya lebih dekat dengan nya, sembari menghirup aroma rambut wanita itu.


Tenang dan nyaman, ini lebih baik dari pada yang tadi. Ia meraih tubuh istrinya itu posesif sehingga membuat sang istri tak bisa bergerak leluasa.


" Lepaskan aku." Ucap Listya sedikit memberontak.


" Jangan merusak nya, lakukan saja." Gumam Dehan.


Sekejap Listya terdiam tanpa banyak bicara, bahkan Dehan sendiri sedikit terkejut saat istrinya itu langsung menurut, tidak biasa nya ia langsung mau saat Dehan menyuruh nya.


Tapi bukan kan itu suatu keuntungan bagi nya, kini istri kecilnya semakin penurut, itu saja sudah sangat membantu nya.


"Hey, bisakah kau seromantis Dehan, kau tidak pernah memperlakukan ku dengan manis seperti itu." Ujar Rose menepuk pundak James.


"Astaga, jangan minta aku seperti itu. Kau tahu Dehan itu ya... begitu lah." Jelas James mengisyaratkan jari nya di kepala.


"Jadi kau ingin bilang Dehan sudah gila?" Ucap Rose langsung di bungkam James.


"Jangan keras-keras!" Tegur James berbisik.


"Dehan!! James bilang kau sudah gila." Ulang Roan cukup keras hingga membuat Dehan melirik kearah mereka.


" Kau cari mati?" James sekali lagi membungkam mulut seseorang.


"Lepaskan!! Apa kau tidak mencuci tangan. Bauuu sekali." Ejek Roan.


" Kau benar, aku lupa cuci tangan tadi saat ke kamar mandi." James mencium tangan nya sendiri.


"Apa? Hoekkk...hoekkk." Roan hampir muntah mendengar ucapan James.


"Hehehe." Sementara James terkekeh tanpa dosa.


Sementara itu Dehan hanya diam tak perduli dengan kedua orang itu, dan kembali melirik sang istri tersenyum sumringah.


"Dear kau senang sekali?" Tanya nya penasaran.


"Tentu saja, akhirnya ada juga yang sependapat dengan ku jika kau itu gila." Batin nya menjerit ingin mengatakan itu, namun tak mungkin ia mengaku, jika ia tak sayang nyawa.


" Tidak." Ucapnya menggeleng cepat.


" Aku ingin tahu, kau pernah menyukai seseorang?" Tanya pria itu sontak membuat Listya menatap nya aneh.


"Ahhh sudah lah." Dehan menggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal dan mengalihkan pandangannya.


"Pernah dulu saat aku sekolah menengah atas." Ungkap Listya tersipu.


"Ha?" Dehan seakan tak percaya jika wanita itu akan menjawab pertanyaan Konyol nya.


" Ya, dulu ada seorang senior yang paling baik kepada ku, dia sering membantu diriku saat kesulitan." Tanpa sadar Listya mengungkapkan isi hatinya yang selama ini ia pendam.


"Lalu? Siapa namanya?" Tanya Dehan semakin penasaran.


" Aku tidak bisa mengatakan nya karena terlalu malu, dia juga sudah dekat dengan gadis lain. Dan namanya... namanya Hendra." Listya tersenyum lirih mengingat semua itu.


"Jadi kau menyukai penjaga yang aku kirim, hahaha ya ya ya..." Dehan terkekeh geli.


" Apa?," Listya tampak kebingungan.


"Hendra Tomson, pemuda itu sekarang sudah menikah dan memiliki 4 anak. Dulu saat aku tidak bisa dekat dengan mu aku mengirim beberapa penjaga untuk mengawasi mu."


"Apa!! Jadi jadi... Kak Hendra itu.."


" Benar, dia bawahan ku dan tidak hanya dirinya, penjaga sekolah, seorang guru dan siswi bernama Tifa."


Saat itu lah Listya menulusuri ingatan nya dan mengingat penjaga sekolah yang sangat dingin namun tetap membiarkan dirinya masuk walaupun terlambat, guru olahraga yang sedikit pilih kasih terhadap nya dan teman yang selalu bersama nya Tifa.