Don'T Touch Mine Or Die!!!

Don'T Touch Mine Or Die!!!
Chapter : Farewell



" Hentikan, hiks...hiks." Ucap Listya lirih.


Mendengar suara yang begitu sedih itu membuat nya berhenti, ia menjatuhkan badannya tepat di samping sang istri yang masih terisak.


Tangan nya yang besar mengambil alih kepala sang istri menarik nya pada pelukan hangat, jujur ia merasa bahagia namun juga sedih, karena malam ini malam terakhir nya bersama sang istri, sebelum menyelesaikan pekerjaan ia akan terus jauh dari pujaan hatinya.


Wajah datar senantiasa menghiasi wajah pria itu, terus membelai Surai hitam sang istri yang kini terlelap, ia sangat mengerti jika wanita itu sangat kelelahan.


Sungguh malam yang sangat menyesakkan, ingin rasanya membawa wanita ini selalu bersamanya, kemana pun. Agar ia dapat memerhatikan setiap kegiatan sang istri setiap hari, rengekan nya yang membuat kepala sakit.


Namun itu hanya keinginan semata, mengingat betapa berbahayanya pekerjaan itu, yang mungkin saja bisa merenggut nyawanya sendiri.


Ia juga tak begitu bodoh, mempertaruhkan hal yang begitu berharga baginya, hal itu sama saja dengan mati. Di buatnya wanita itu nyaman dalam rengkuhan hangat nya, sesekali mengecup permukaan wajah sang istri.


.........


"Semua telah beres, dia bisa datang kapan saja." Ucap seorang pria mematikan saluran telfon nya.


"Hey, apa yang kalian rencanakan?" Tiba-tiba seorang wanita duduk di pangkuan pria itu.


"Rencana apa?" Tanya Pria itu seolah tak mengerti.


" Kau pikir aku bodoh, bukankah kau akan mengirim Listya pada vila tersembunyi kita?" Ucap Nya lagi memainkan dasi sang suami.


Pria itu terkekeh, istri nya ini sangat pintar, ia tak dapat di bohongi dengan mudah, di usap nya Surai Chocolat itu lembut.


Mata kucing Jessica menatap wajah sang suami dengan sedikit senyuman nya, membuat pria itu menaikan satu alisnya.


" Apa aku bisa menemani nya?" Tanya nya menatap Lart.


" Kenapa sekarang kau begitu tertarik dengan wanita itu? Apa kau akan membalasnya karena merebut Dehan?" Ucap Lart tertawa.


" Tidak, aku sudah tidak tertarik pada pria itu. Aku hanya ingin bersenang-senang saja dengan gadis kecilnya. Kau tahu dia seperti adik ku Jennie." Jujur Jessica.


.........


" Kemasi semua barang nya." Ucap Dehan pada para maid.


" Kenapa?" Tanya Listya bingung.


" Aku akan mengirim mu ke vila." Ucap Dehan datar.


" Kenapa?" Pertanyaan yang sama.


" Aku akan menitipkan mu di sana, karena aku akan pergi bertugas ke luar negeri." Jelas Dehan.


" Ouhh baiklah, apa aku boleh membawa tuan cookie dan Chichi ?"


" Terserah." Ucapnya masih mengunyah makanan.


" Berapa lama kau akan pergi?"


" Entahlah." Jujur Dehan memang tidak tahu kapan ia akan kembali.


" Bagus lah."


"Seperti nya kau sangat senang, karena aku tak ada." Ucap Dehan tersenyum kecut.


"..."


Listya tak mau menjawab, karena tatapan pria itu tampak berbeda, ia takut akan menjawab hal yang salah, kalau boleh jujur benar apa yang dikatakan oleh iblis itu.


Hari seperti ini adalah suatu keajaiban, karena ia tak perlu patuh pada pria ini. Ia terlalu lelah dengan sikap dingin, posesif dan mesum pria ini.


" Cepat habiskan salad mu." Ujar Dehan melihat wanita itu termenung.


" Iya."


Setelah selesai dengan sarapan nya, Listya langsung berlari menuju kamar nya, mengecek Tuan Cookie dan Chichi.


"Tuan Chichi terlalu besar bagaimana aku membawanya?" Tanya Listya pada seorang pria yang sedang duduk memandangi nya.


"Bodyguard akan membawanya." Ujar nya.


" Kalau begitu, tuan Chichi aku akan membungkus mu." Ucap nya mengangkat boneka besar itu.



...


Saat ini mereka sedang di dalam mobil, yang melaju dengan kecepatan rata-rata. Dehan sedari tadi memeluk Listya, seakan tak terima akan kepergian nya.


" Ini di mana? Kenapa tidak ada satu pun orang." Tanya Listya melihat sekeliling.


" Kenapa tempat nya sangat jauh?"


" Apa kau takut?" Ujar Dehan.


" Ya sedikit."


" Tenang saja, banyak maid yang akan bersama mu."


...


" Kau ada di mana?"


" Kami akan sampai di Peron."


Peron : stasiun kereta api.


Netra wanita itu terus menerawang, kini mereka sampai di sebuah stasiun kereta api, padahal baru saja mereka melewati jalanan yang seperti hutan, dan kini mereka sudah di sebuah stasiun.


" Kereta akan sampai beberapa menit lagi tuan." Ucap salah seorang bodyguard.


" Ya."


" Jaga dirimu, baik-baik. Mungkin aku tidak bisa menghubungi mu." Ucap Dehan memeluk Listya erat.


" Kenapa?" Pertanyaan wanita ini membuatnya bungkam.


" Karena, aku tidak bisa."


Listya mengangguk,


"Aku hanya bisa mengantarkan mu sampai di sini." Ucap Dehan mengecup bibir itu.


" Jangan buat masalah, kau ingat itu. Aku tidak ada bersama mu, jika terjadi keadaan darurat kau bisa menghubungi Aident. Kau mengerti?" Ucapnya menangkup wajah sang istri.


" Kenapa harus dia, bagaimana dengan Roan dan Jeans?" Banyak sekali pertanyaan wanita ini.


" Kau juga bisa menghubungi mereka, tapi Aident tetap harus kau hubungi, kau mengerti?"


" Kenapa pria itu selalu saja ada." Cetus Listya dalam hati.


Dehan tak bisa berkata apa-apa lagi, mulutnya keram, kembali memeluk tubuh sang istri begitu erat, hingga sedikit membuat Listya sesak.


...


Kereta api sudah menunggu beberapa menit, karena pelukan Dehan tak kunjung usai.


Di lihat dari mana pun ia tetap tak rela meninggalkan istri manis nya.


" Tuan...?" Bodyguard agak takut memanggil pria iblis itu.


" Baiklah, aku harus pergi. Ingat kata-kata ku, jika tidak aku akan menghukum mu." Ucap nya.


" Iya."


Listya melihat kepergian sang suami, sembari memeluk sebuah boneka, ternyata cukup mengharukan, namun itu sama sekali tidak mengurangi rasa bencinya pada pria itu.



Sudah cukup banyak hal yang ia renggut dari kehidupan nya selama ini, meski ada rasa kasihan tetap saja tak bisa membuat hati nya yang hancur kembali seperti semula.


" Nona, mari." Ucap beberapa bodyguard menuntun wanita itu masuk kedalam kereta api yang sangat mewah.


Bahkan, memiliki fasilitas seperti sebuah hotel. Ia tak terlalu terkejut, bukan kah selama ini ia selalu di manjakan dengan kemewahan.


" Apa tempat nya Jauh?" Tanya nya pada seorang bodyguard di samping nya.


" Sedikit nyonya, mungkin memerlukan waktu tiga jam." Jawab bodyguard itu ramah.


Listya mengangguk mengerti, ia langsung memasuki sebuah kamar yang tersedia. Di lihatnya kamar itu dan meletakkan tuan cookie dan tasnya.


Niat ingin tidur, namun matanya tak kunjung terpejam, ia menatap langit langit begitu pilu.


Netra nya berkaca-kaca hingga satu tetesan air berhasil lolos tanpa persetujuan nya.


" Oh tuhan ku mohon bantu aku, aku ingin bebas." Ucap menutup mata nya sembari merengek dan memeluk boneka yang berada tepat di samping nya.


" Cookie, aku mau pulang." Rengek nya lagi.


...


Sementara itu, pikiran seseorang pria sedang kacau Baru beberapa menit ia meninggal kan sang istri, tetapi ia sudah sangat panik.