Don'T Touch Mine Or Die!!!

Don'T Touch Mine Or Die!!!
Chapter : Aident's house



Seperti biasa, Listya sedang bersiap untuk sarapan, saat sedang mencari sepatu dari rak.



Ia teringat sesuatu, si iblis itu akan pergi ke Jepang hari ini, dia juga akan menginap di sana.


Jadi apakah yang akan ia lakukan jika iblis itu pergi nanti nya, kabur? Tidak! Itu tak akan berhasil, apa mungkin ia pergi ke tempat Jeans dan Lucy saja, ya itu akan menyenangkan.


Pelayan yang menunggu dirinya memilih sepatu, akhirnya ikut turun tangan. " Nyonya, biarkan saya pilihkan." Listya tersadar, langsung mencekal lengan pelayan itu.


" Biar aku saja." Ucapnya cemberut.


Pelayan itu menunduk, ia lupa jika wanita merepotkan ini adalah alasan ia hidup saat ini, kenapa ia begitu berani pada istri bos nya.


"Apa yang kau lakukan bodoh!" Ucapnya dalam hati.


Listya mengambil sebuah sepatu bewarna hitam, ia tak mau memakai high heels karena kakinya terasa sakit jika berjalan terlalu lama.



Setelah memakai sepatu, ia menyusul Dehan yang sudah dari tadi menunggu nya di meja besar itu.



"Hai-hai, apa lama?" Senyum terbit di bibir berbentuk hati itu.


Dehan melirik kearah istri nya, sedikit aneh namun ia tak memperdulikan apa yang ia pikirkan.


"Ya." Jawabnya.


"Maaf." Listya menunjukkan wajah sedihnya.


Sementara sang suami tertawa melihat tingkah lucunya, makanan di hidangkan dengan indah di atas meja.


" Apa kau akan ke Jepang hari ini?" Listya bertanya di sela-sela makannya.


Dehan tak mengalihkan perhatian nya, "Dari mana kau tahu, aku akan ke Jepang?" Tetap fokus memakan makanan nya.


"Aku menguping pembicaraan mu tadi malam di telfon." Jujur nya tanpa dosa.


Dehan meletakan kedua sendok nya dan terbahak. "Astaga, kau benar-benar membuat ku gila." Dehan berdiri menuju Listya dengan cepat menyantap bibir segar yang dari tadi mengganggu nya.


"Hmmmffft,, apa yang...mmm." Ciuman yang sangat bergairah.


Para pelayan hanya diam, saling menatap satu sama lain, mereka sudah biasa dengan apa yang terjadi kepada dua orang itu.


Terasa sudah puas menikmati bibir sang istri, Dehan kembali duduk, tersenyum memakan sarapannya. Ia sangat senang, sekarang tak perlu khawatir, gadisnya sudah tak mencoba kabur lagi, ia menatap wajah itu tidak takut lagi padanya.


"Berapa lama kau di sana?"


"Dua hari."


"Kalau kau pergi ke Jepang, aku mau ke rumah kak Jeans." Ucapannya berhasil membuat pria iblis itu menghentikan kegiatan nya.


"Tidak."


"Kenapa?" Listya mempoutkan bibir nya lucu.


Sementara Dehan menunjukkan wajah datarnya, yang membuat sang istri terdiam dan sekarang, ia berdiri pergi dari sana meninggalkan meja makan.


Pria itu mengambil ponselnya, menekan beberapa tombol dan meletakan nya tepat di telinga nya.


"Ada apa?" Ucap seseorang di telfon


.........


Listya menghirup udara segar dari balkon kamarnya, lagi-lagi ia takut. Oh ayolah dia tidak akan membunuhmu!


Tak lama melamun memerhatikan pemandangan, Dehan muncul tersenyum menatap sosok wanita yang ia cari.


"Kau marah?"


Listya menunjukkan tatapan mata yang tajam, sambil menggelengkan kepalanya, lalu mengalihkan pandangan ke arah lain mengabaikan pria itu.


"Heh~ Ayo pergi."


Pria itu mengukir smirk khas miliknya, berjalan menuju mobil hitam yang terparkir rapi di halaman.


Dehan melirik wanita yang sedari tadi duduk diam di sebelah nya, tangan lembut itu tak ia lepaskan sepanjang perjalanan.


"Kita mau kemana?" Listya yang dari tadi diam, akhirnya membuka mulut, karena keingintahuan nya yang besar.


Mereka berhenti di sebuah mansion, tempat yang cukup terpencil cocok bagi orang-orang yang mencintai keheningan. Dehan membuka pintu mobil, membawa Listya menuju mansion itu.



"Selamat datang tuan, sudah lama sekali tidak berkunjung." Ucap seorang pria menyambut kedatangan mereka.


"hmm." Dehan hanya berdehem menanggapi perkataan pria itu.


" Mari tuan." Pria itu menuntun mereka berdua masuk kedalam.


Terlihat dari sana sosok yang sangat familiar, orang yang sangat menjengkelkan, hingga membuat Listya cukup terkejut melihat kehadiran nya.


" Baiklah, aku akan segera kembali. Aku harap, kau tidak membuat ku harus memotong kaki mu kali ini Dear." Dehan mengecup bibir hati itu lembut tersenyum pelahan pergi dari hadapan nya.


Apa maksudnya?


Dia di titipkan pada pria ini?


Oh yang benar saja, tidak mungkin mereka bisa tinggal dalam satu rumah. Ini tak masuk akal lagi, Listya menatap pria yang juga menatap nya.


"CK,, merepotkan." Aident hendak kembali menuju kamar nya.


Listya yang melihat, berlari mengejar pria yang meninggalkan nya, " Tunggu!" Ucapnya menarik jas Dehan.


"Ada apa?" Dehan berbalik menatap sosok wanita itu.


" Aku tak mau di sini, jangan tinggalkan aku di sini."


"Dear, jangan membantah ku. Aku akan segera kembali, dan menjemput mu, jadi tetap di sini sampai aku datang, kau mengerti."


" Tapi.."


"Shutt,..." Dehan menanggup pipi sang istri, mengecup kedua matanya.


"Baiklah, jangan lama-lama." Ucap Listya pasrah.


"of course my queen."


Setelah melihat kepergian iblis itu, Listya memandangi setiap sudut Bangunan yang ada di hadapannya. Ternyata ini adalah kediaman kelinci bodoh itu, oh benar sudah lama tidak melihat nya, dia hampir tak pernah memperlihatkan batang hidungnya akhir-akhir ini.


"Nona, jangan di luar, mari!" Pelayan memanggil Listya.


Saat sudah kembali ke dalam, Listya di suguhkan teh dan cemilan oleh pelayan yang ada disana, berbeda dengan mansion, hanya ada beberapa pelayan.


"Nona, mari saya tunjukkan kamar nona."


" Ya."


Kamar yang tersedia cukup besar, tapi warna kamar itu sangat membuat nya tak nyaman apalagi dekorasi yang sangat megah, karena terbiasa dengan kamar nuansa gelap Dehan, ia tidak bisa bersahabat dengan lingkungan.


"Dimana Aident?"


" Tuan sedang tidur di kamarnya."


" Bisa antar aku ke kamarnya?"


" Bisa, tapi tuan tidak boleh di ganggu."


"Aku tidak akan mengganggunya."


" Baiklah."


Pelayan itu mengantarkan nya ke sebuah pintu, yang ia yakini pasti kamar Aident, tanpa menunggu lama Listya membuka pintu itu.


Sosok yang ia sebut kelinci bodoh itu benar-benar sedang tidur, ia memandangi kamar nuansa abu-abu dengan dekorasi yang sederhana.



Berbeda dengan kamar nya yang sangat glamor, ia malah menyukai kamar ini di bandingkan kamar tadi.


" Kelinci bodoh." Panggil nya pelan.


Listya mendekati pria itu, dan mengayunkan telapak tangan nya tepat di wajahnya. Tak ada tanda-tanda, seperti nya ia memang tidur, ia melihat wajah yang begitu tampan seperti malaikat, namun tidak dengan sifatnya seperti iblis, sama dengan kakaknya yang psikopat itu.


"Apa kau mati?" Pertanyaan yang aneh, tak mungkin pria itu bisa menjawab jika ia tertidur, Listya terkekeh geli dengan apa yang ia lakukan.


"Apa yang lakukan disini."


Listya sebuah tangan memegang pergelangannya erat.