
"Sekarang dia dalam masalah. Hahaha." Lart kembali terbahak.
"Apa maksudmu?"
"Luke tidak mungkin bodoh, ia seorang yang cerdas dan mengetahui jika ia tak mampu menaklukkan Alka, dia pasti memiliki rencana yang akan menyusahkan kita semua." Jelas Lart pada istri nya itu.
"Lalu?"
"Aku akan menghubungi Hestia dan Gabyriell. Kita akan butuh mereka." Jessica memutar matanya malas mendengar nama kedua wanita itu.
"Aku juga akan ke Vila."
Lart meliriknya aneh, seakan bertanya dengan raut wajahnya ' kenapa?'
"Apa tidak boleh?"
"Aku harus bertanya dulu pada nya."
" Sangat merepotkan." Ujar Jessica berlalu pergi.
Lart mengikuti langkah sang istri yang siap masuk ke dalam kamar, ia melihat pria itu bingung saat pintu kamar di kunci.
"Aku tak akan memberi tahu nya."
"Bukan kah sudah cukup lama?" Sambungnya mendekati sang istri, perlahan melingkarkan lengannya pada pinggang ramping sang istri mesra.
Jessica menatap suaminya itu dengan senyuman manis, dan .,.....
Skip.
Pagi ini Listya tampak seperti mayat hidup, wajah nya pucat dengan mata yang membengkak, setelah lelah menangisi kebodohan yang ia perbuat.
Seluruh maid histeris saat memeriksa kondisi tubuh Listya, mereka panik dan langsung mengurus wanita itu.
Setelah mendapat laporan dari para pelayan, Aident memutuskan untuk memanggil Jeans, karena tak ada dokter yang bisa masuk ke dalam Vila kecuali pria narsis itu.
Tak beberapa lama, datang lah dua pasangan suami istri dengan cepat tanpa menghiraukan Aident yang ada di hadapan mereka, yang kedua manusia itu lakukan adalah bergegas menuju wanita yang berada di ranjang sedang terbaring tak berdaya.
"Apa kau baik-baik saja." Ujar Lucy langsung duduk di bibir kasur menggantikan maid.
"Listya apa kau bisa mendengar kata-kata ku?"
"Hmm.." wanita itu tampak lemah.
"Baik, apa dia sudah makan?" Tanya jeans pada para maid.
"Nyonya belum makan dari pagi, ia tak mau makan."
"Kalian sangat lalai." Ujar Lucy.
"Maaf." Ucap para Maid membungkuk tak tahu harus apa.
" Ini hanya demam biasa, seperti nya sebelumnya Listya jarang sekali demam sehingga membuat tubuh nya terkejut tak terbiasa." Jelas Jeans saat mata Lucy menajam pada setiap maid .
"Apa kemarin ia telat makan? "
" Kemarin nyonya pulang ke Vila sore, bersama tuan Aident, seperti nya nyonya tidak makan siang.
"Mereka dari mana?"
"Nyonya tersesat saat berjalan-jalan dan tuan Aident yang mencari nya.
"Baik lah."
Setelah selesai memeriksa Listya, Jeans terpaksa harus pergi. Karena urusan rumah sakit nya yang kacau.
"Sayang aku akan tetap di sini." Lucy.
Jeans menatap Aident sedari tadi menunggu di ambang pintu, tak ada respon akhirnya Jeans mengangguk membiarkan Lucy.
"Aku harus kembali, ku harap kalian akan akur." Ucap Jeans tersenyum memerhatikan mimik wajah Lucy.
...
Sedetik kemudian.
"Apa! Dia yang mencoba kabur. Kenapa aku yang salah?" Aident menatap sinis Listya yang ada di tempat tidur.
Kali ini Lucy berbeda, biasanya ia sangat takut pada pria yang bernama Aident itu, ada apa?
Aident keluar dari sana tanpa mengatakan satu patah katapun, ia sendiri bingung kenapa ia malah tak berdaya menghadapi Lucy.
Biasanya jika Aident menatap nya ia pasti akan sangat canggung dan tak berani menatap pria itu. Namun sekarang, ia malah membela diri nya karena tak mau di salahkan.
Dimana letak kesalahannya,?
Aident atau Lucy?
Lucy merawat Listya sepanjang malam, ia terjaga karna Listya yang mengigau banyak hal. Kadang ia berteriak kadang ia tersenyum kadang menangis dalam tidurnya.
Itu membuat nya tak bisa tenang selalu mengecek keadaan sang sahabat, jujur Lucy tampak sedih dan prihatin dengan keadaan Listya, ia sendiri tahu jika mental teman nya ini sangat jatuh menghadapi seorang Arka.
Kejam, bengis, tak berperasaan, sifat egoisme yang mendominasi dan selalu memenuhi kemauannya tanpa perduli pada siapapun.
Bagaimana jika kita yang berada di posisi itu? Menghadapi seorang monster yang siap melahap siapapun mengusik dirinya.
...
Dehan atau lebih tepatnya Alka, kini sedang menunggu kabar dari sang Rival namun sampai saat ini belum ada satupun yang bisa memberi tahu nya tentang pria itu.
Ia mulai bosan, melihat penjaga setiap kali menyentuh dirinya, ingin rasanya menguliti semua manusia yang sombong itu.
Mereka sudah puas hanya dengan menyiksa dirinya yang lemah dan tidak berdaya, tapi kesenangan mereka tak seberapa dengan kesenangan Alka yang akan segera bertemu dengan sang Rival.
Ia tak henti menghentak kaki nya tersenyum, tetapi berhenti saat ia merasa badannya yang berkeringat dan tubuh nya yang berangsur-angsur panas namun tidak dengan yang ia rasakan, dingin yang menyapa membuat ia mengerti apa yang terjadi.
Malaikat nya, cinta nya, kehidupan nya kini sedang tidak baik-baik saja, dirinya seketika cemas tubuhnya bergetar hebat.
"Tuan...."
"Katakan padanya, hanya demam biasa." Ucap Lart menyuruh sang bodyguard itu pergi.
"Kenapa ia bisa tahu, padahal belum ada yang melaporkan. Memang kekuatan cinta yang luar biasa." Ia sendiri bingung apa yang membuat Dehan ralat Alka begitu mengetahui apa yang sedang terjadi pada wanita itu.
Bahkan seberapa besar pun ia membandingkan diri, ia tetap tak bisa melawan sesuatu yang di pikirkan atau lakukan oleh Alka, cemburu jelas saja ia cemburu.
Bagaimana pun Alka adalah orang pertama yang di cintai oleh sang istri, tapi tak membuat nya membenci pria itu, malah membuat nya ingin terus belajar.
Dulu ia sangat di banggakan karena kejeniusan nya, namun setelah bertemu dengan Alka membuat dirinya terdorong bagaimana bisa lebih dan lebih lagi.
...
Setelah mendapat laporan dari anak buah nya, Akhirnya Alka sedikit tenang, meskipun begitu ia tetap cemas pada wanita kesayangan nya itu. Apa yang terjadi jika ia terus menerus disini tanpa melihat wajah yang menjadi candu nya.
Sedih, senang, rindu, cemas, bercampur aduk. Ia sendiri bingung harus berekspresi seperti apa.
...
Setelah satu Minggu lamanya baru lah Listya bisa keluar masuk vila, ia sendiri merindukan udara yang menyegarkan dari matahari pagi.
Selama satu Minggu di kamar membuat nafas nya berat dan sangat bosan, Lucy yang selalu bersama nya, senang saat teman nya itu ada di sisi nya.
Namun ia juga jadi tak bebas melakukan apapun, layaknya seorang ibu yang sedang merawat anak nya.
"Listya tunggu aku!" Teriak Lucy menghampiri Listya yang sedikit jauh dari Vila.
"Kau jangan terlalu lelah, ingat itu?"
"Hey bukan kah kita membutuhkan tenaga jika ingin melakukan sesuatu." Tiba-tiba terdengar suara wanita yang sangat familiar.
Jessica dan Rose kini tersenyum pada kedua wanita itu,
"Kenapa?"
" Kalian disini?"
"Ya kami tidak akan mengikuti ritual membosankan mu Lucy."
"Ya ya, baik lah."