
"Kau baik-baik saja?"
" Ya.." suara yang begitu sendu ditambah senyuman yang dipaksakan.
Lucy dan Rose memeluk nya erat, begitu pun Listya yang mencoba menyalurkan semua kesedihan nya, berharap rasa itu sendiri berkurang.
" Dengar sayang, mungkin kami tidak bisa membantu dengan masalah mu, tapi kami akan tetap bersama mu. Kami tak akan membiarkan kau sendirian."
"Kenapa,,,hiks kenapa harus aku orang nya? Apa tak ada wanita lain di dunia ini?"
Jessica merasakan hal yang sama, jika saja Alka bisa tertarik padanya. Mungkin Listya tidak akan menderita, dan mungkin saja tak ada yang terluka.
Bisakah waktu kembali terulang?
Mungkin semua nya bisa di ubah?
...
Sisi lain.
"Tuan....."
"Sh***." Umpatnya sembari tersenyum.
"Kau ingin bermain lebih ternyata, baiklah ayo kita bermain lebih." Hati nya mendidih, mendengar kabar yang baru saja di dapatnya.
...
"Hey nona, apa kalian tahu ini dimana?" Tiba-tiba seorang pria berhenti dengan motor nya tepat di hadapan keempat wanita yang sedang memakan Ice cream.
"Bagaimana kau bisa masuk ke wilayah ini?" Bingung Jessica.
Ia ingat jika wilayah ini di jaga oleh beberapa bodyguard yang di tugaskan oleh Lart, tapi tak ada tanda-tanda para bodyguard itu.
"Ahh tadi aku di jumpai oleh beberapa pria, padahal aku hanya bertanya, tapi mereka sangat menakutkan ." Ucap memperagakan gerakan kedua jari takut.
"Apa?" Ucapan pria itu semakin membingungkan.
"Hey nona manis siapa namamu?" Pria itu tersenyum melirik Listya yang tengah bersembunyi di balik tubuh Lucy.
" Jangan kurang ajar, atau kau akan menyesal." Peringatan itu di ucapkan oleh Rose.
"Maafkan aku tapi di mana letak kurang ajar ku nona, tetapi jika aku salah aku akan senang hati meminta maaf." Ucap nya turun dari atas motor.
Tatapan nya sama sekali tak teralihkan, pada seorang wanita di balik sana, rasa penasaran nya semakin menjadi-jadi saat wanita itu semakin menyembunyikan diri.
"Aku tidak jahat nona, aku janji." Ucap nya lagi mengacungkan jari kelingking nya dengan senyum hangat.
"Hey!" Jessica menepis lengan pria itu kasar saat ia mendekati Listya.
"Maaf aku lancang, maafkan aku..."
Bang!!!
Suara tembakan baru saja terdengar, membuat semua nya mematung, lain halnya dengan pria itu, ia malah tergelak.
"Maaf nona-nona, seperti nya ada sedikit masalah." Ucap berbalik.
"Kau!" Ucap segerombolan pria dengan kacamata hitam nya.
" Ateez." Ujar Lucy melirik Jessica.
"Luke kau berinisiatif untuk bertemu ajal mu?" Ucap salah satu pria berkacamata itu.
"Wah kawan, seharusnya kalian bisa lebih berhati-hati, ada malaikat disini dia akan ketakutan." Pria yang bernama Luke itu kini tersenyum manis, melirik kembali ke arah ke empat wanita di belakang nya.
"Kita dalam bahaya, ayo pergi!" Jessica memutar matanya jengah.
Lucy dan Rose mengangguk, menarik lengan Listya. Mereka mulai melangkah pergi, karena rencana awal gagal total, dan dari mana datangnya para pria-pria keparat ini?
Bang!!
Lagi-lagi suara itu, Jessica terpaksa berhenti saat satu tembakan mendarat tepat di hadapan nya.
"Tak ada yang boleh pergi!" Teriak pria itu.
" Kau seharusnya lebih sopan pada wanita, jangan membuat nya takut."
"Aku pikir sekarang, mulut mu itu kini terlalu banyak bicara. Benar bukan?"
Jessica menekan beberapa tombol di benda pipi yang baru saja ia dapat dari Rose. Setelah tersambung pada nomor tujuan ia mengaktifkan mode speaker, membiarkan benda itu merekam setiap perbincangan.
"Wanita mu tak cukup satu? Aku lihat mereka juga sangat cantik, mungkin mereka bisa menjadi pengganti kekasih ku yang dulu kau bunuh."
" Kekasih? Sejak kapan dia menjadi kekasih mu. Kau begitu bodoh, kau tahu kekasih mu itu adalah anak buah ku yang menyamar."
"Jika memang dia adalah anak buah mu, mengapa kau membunuh nya?"
"Sialan kau!"
Bang!
"Ahkkk!" Teriak Listya histeris.
Luke menarik lengan para wanita itu bersembunyi di balik tembok kecil.
"Sembunyi lah, sampah!"
"Ahh, seperti nya dia sangat dendam pada ku." Ujarnya Santai sambil tersenyum melirik Listya di samping nya.
"Apa kau gila?" Sarkas Jessica.
Mereka berlima terpaksa bersembunyi di balik tembok kecil yang sempit itu, dan sayang nya bantuan masih belum datang.
Bam!!
Mereka kembali terkejut saat melihat para pria tadi tergeletak, akibat sebuah ledakan yang cukup besar, Untung saja mereka sedang bersembunyi, Karna jika tidak mungkin mereka pun ikut hangus.
"Ayo, mereka sudah datang."
"Tunggu!"
"Apa?"
" Bisakah kita bertemu lagi?" Ujar nya tanpa mengalihkan pandangannya pada Listya.
"Kau ingin mati?"
"Baiklah maafkan aku. Terimakasih malaikat, aku yakin kita akan bertemu lagi, perkenalkan aku Luke, senang bertemu dengan mu."
Jessica sendiri bingung, pria aneh yang tak sayang nyawa ini, di tambah seperti nya dia bukan pria biasa. Karena bisa berurusan dengan salah satu mafia di kota ini.
"Sebaiknya jangan berurusan dengan kami, jika kau benar-benar menyayangi nyawamu." Peringatan Jessica kembali ia ucapkan, dengan wajah datar.
Anggap saja tanda terima kasih, karena menyelamatkan nyawa mereka berempat, tapi sebenarnya tidak perlu. Karena dia lah yang membawa kelompok Ateez. Dan mengganggu waktu mereka malam ini.
Listya sama sekali tak tertarik bahkan hanya sekedar melirik pria itu, ia lebih memilih menundukkan kepalanya dengan tatapan kosong.
"Fatia kau?"
"Ayo!"
Dua orang wanita sudah menunggu mereka di dalam mobilnya, Jessica tidak terlalu terkejut mendapati kedua gadis itu.
"Hai."
"Hai Geby." Sapa Rose.
" Kenapa kalian kembali?" Tanya Lucy.
" Ada hal mendesak, kami harus kembali." Jelas Fatia yang sedang menyetir.
Listya bingung, ia sendiri tidak mengenal kedua wanita ini, dan seperti nya mereka bukan orang asing bagi ketiga sahabatnya itu.
"Oh iya, Listya. Ini adalah Fatia dan Geby, mereka ada teman kami saat masih kecil. Kau bisa lihat kan bahwa mereka kembar." Jelas Rose.
" Kau bisa menandai Fatia karena rambutnya yang pendek." Sambung Lucy.
Sementara Jessica yang mengetahui kedatangan kedua wanita itu memilih diam, membiarkan kedua ajudan nya yang menjelaskan pada Listya.
"Apa yang terjadi, seperti nya kalian tadi bersenang-senang." Ujar Geby bersemangat menunggu cerita dari ke empat wanita itu.
"Kami hanya ingin jalan-jalan saja." Jelas Jessica melirik keluar jendela.
"Kita harus kembali, sekarang sedikit berbahaya untuk mengemudi sendiri." Ucap Fatia melajukan mobilnya.
"Aku tau." Jessica malas.
...
" Vila? Kenapa kita ke sini." Pertanyaan yang di lontarkan oleh Geby.
"Listya." Fatia melirik wanita yang sedari tadi memerhatikan.
"Ya?"
"Turun, dan masuk lah." Ujar nya lagi.
" Ada apa kak, kenapa kau menurunkan nya disini, ini area terlarang untuk kita semua."
"Tidak untuk Listya." Sambung Lucy tersenyum.
"Ha!"