Don'T Touch Mine Or Die!!!

Don'T Touch Mine Or Die!!!
chapter: Trauma



Fatia dan Geby sedikit membungkuk saat melewati kedua sejoli itu, sementara Alka sama sekali tak mengalihkan perhatian yang lurus ke depan.


Listya sedikit memamerkan senyumnya miliknya kala melihat kedua wanita itu, namun keduanya tampak serius hingga menunjukkan wajah datar tanpa ekspresi.


Listya sendiri bingung ada apa sebenarnya, ia juga melirik mimik wajah Alka yang masih fokus mendorong kursi rodanya.


"Ada apa?" Tanya pria itu kala melihat sang istri.


"Tidak..." Ujarnya mengalihkan pandangan.


Keduanya sampai pada sebuah taman yang berada di rumah sakit, di sana juga terdapat beberapa pasien yang sedang berjalan-jalan.


Alka membawa Listya pada sebuah Kursi di sana.


Pria itu menduduki kursi mengarahkan Kursi roda Listya agar menghadap padanya, namun sang istri tampak tak nyaman dengan posisinya. Ia dapat melihat wajah suaminya itu dengan sangat jelas, ia sedikit berantakan dengan tatanan rambut ala bangun tidur. Namun bukan itu yang membuatnya gelisah tetapi tatapan mata yang tajam milik pria itu selalu tertuju pada dirinya.


"Bibir Strawberry ku..." Ujarnya menyentuh pelan sudut bibir hati Listya yang sempat terluka.


" Aku keliru, ternyata kau sangat tidak patuh." Sambung-nya.


"Apa yang terjadi?" Listya masih terlalu Bingung dengan kejadian yang ia alami.


" Kau bertanya pada ku? Bukankah aku yang seharusnya bertanya."


"A.." Listya terdiam tak tahu harus berkata apa.


" Aku mengirim mu ke Fana agar kau tidak ditemukan dan jauh dari bahaya, tapi kau sangat ingin aku berbuat sesuatu yang buruk pada mu." Ujarnya menarik nafas dalam.


"Aku tidak melakukan apapun! Pria itu..." Listya sedikit meninggikan suara untuk membela diri, tapi ia bingung harus menjelaskan dari mana.


"Jika terjadi sesuatu pada mu, kau akan melihat aku yang sebenarnya Dear." Ucap pria itu menggenggam telapak tangan Listya.


"Sakit..." Seru Listya saat pria itu menggenggam erat telapak tangannya.


" Sakit ini tak sebanding dengan rasa takutku Dear." Raut wajahnya yang tiba-tiba merubah ganas.


"Sakit, aku minta maaf." Listya rasa sesuatu mulai membasahi pipinya.


Alka melepaskan genggamannya, beralih memeriksa telapak tangan yang sudah memerah. Ia membelai lembut tangan sang istri, entah apa yang terjadi padanya Listya tak pernah melihat suami iblis nya itu dengan tatapan yang ingin membunuh dirinya.


" Kau kenapa?.. hiks..hiks" Ucapnya sembari terisak.


"Memberikan peringatan." Jawab Alka memperlihatkan senyumnya.


Pria ini berubah-ubah sangat cepat, waktu di ruangan ia masih biasa saja, baru saja ia menggenggam telapak tangan nya kasar lalu kini tersenyum kembali.


" Ayo pergi." Ujarnya berdiri kembali mendorong kursi roda Listya.


Saat ini Listya tampak khawatir, badan nya berkeringat, takut dengan perlakuan pria itu. Tidak, bukan itu saja. Listya juga teringat pada pria yang menampar wajah nya dan mengikatnya di atas tungki minyak yang mendidih.


.........


Flashback on


" Ada trauma, mungkin ia akan sangat sering gelisa dan takut." Jelas Jeans pada Alka.


" Lalu?" Alka.


" Hanya itu." Senyum Jeans.


" Aku ingin kau membuat nya tidak bisa berjalan." Titah Alka menatap pria itu.


"Apa kau bercanda?"


"Apa aku terlalu baik pada mu." Kesal Alka saat sepupunya malah mengira dirinya bercanda.


"Kau tidak bisa seperti ini, kenapa kau semena-mena." Kesal Jeans.


"Dia wanita ku, milik ku. Jangan pernah mengajariku, untuk terakhir kalinya jangan ikut campur. Atau tak akan ada hal baik yang terjadi!" Ujarannya meninggalkan sang sepupu dengan wajah datar.


"Kau tak pernah berubah." Jeans menggelengkan kepalanya, ternyata adik nya itu masih sama seperti dulu.


.........


"Kapan bisa pulang?"


"Istirahat, kita akan pulang jika kau sudah sembuh." Ucap iblis itu menggendong Listya kembali ke ranjang.


Listya menekuk wajahnya, sedih bercampur cemas. Entahlah tubuhnya kaku dan masih berkeringat, padahal pendingin ruangan menyala dengan baik.


"Aku..." Saat hendak menyentuh pipi putih itu, Alka di buat kaget.


"Jangan sentuh." Ucap Listya menepis lengan kekar itu.


Nafas yang memburu seperti baru berlari berkilo-kilo meter, wanita itu tak mau disentuh oleh Alka, bahkan ia menjauh dari pria itu.


"Ada apa?" Tanya nya bingung.


"Tidak, tidak. Aku tidak papa, cuma disini sangat panas." Listya mencoba tenang dengan mengatur nafasnya.


"Listya ini waktunya pemeriksaan... Ada apa?" Jeans yang baru saja tiba, Langsung menghampiri kedua manusia itu.


Saat hendak mendekati Listya, dengan cepat Alka menghalangi Jeans yang sedikit lagi bersentuhan.


"Apa yang kau lakukan?" Tanyanya dengan penuh penekanan.


"Ahh maaf. Listya lihat aku, hey." Seru Jeans menjentikkan jari nya dihadapan Listya.


Seketika atensi wanita itu tertuju pada nya, tentunya masih dengan wajah cemas serta ketakutan.


"Apa kau melihat sesuatu?" Tanya pria itu.


Listya menggelengkan kepalanya cepat, dan kembali menundukkan kepalanya, namun tiba-tiba Alka menarik lengannya. Sang istri terkejut mendapati suaminya itu sedang tersenyum hangat padanya.


Pelahan semuanya kembali normal, Listya terus menatap wajah pria itu intens. Ia juga melirik Jeans yang ternyata masih di sana memerhatikan.


"Ada apa, bisa kau ceritakan apa yang terjadi?" Tanya Jeans kembali mendekat, namun masih berjarak.


" Ada pria tua, dia menamparku. Kuat sekali dia juga mau merebusku di minyak mendidih dia..dia.." Panik Listya mengingat kembali.


"Shutt.. calm dear." Ucap Alka lembut, membuat Listya kembali tersadar.


Alka mengusap keringat di pelipis wanita itu sayang, pria itu kini kembali seperti semula. Ucapannya membuat Listya tenang dengan nafas yang kembali teratur.


"Baik, tak apa. Perawat ambil Valium, takaran 2mg." Titah Jeans pada salah seorang perawat disana.


Setelah meminum obat yang diberikan Jeans barulah Listya tampak nyaman dan mulai bersandar pada bahu Alka, yang menghadap padanya.


Jeans menatap raut wajah tenang itu, sedikit lega. Listya sepertinya cukup lelah bergelut dengan ingatannya sendiri.


Sementara Alka mengelus punggung sang istri, pelahan membuat Listya semakin nyaman, cukup lama beranda di posisi itu Listya akhirnya tertidur.


Alka membaringkan tubuh mungil itu pada ranjang, dapat ia lihat wajah damai itu dengan jelas. Saat seperti ini ia sangat senang, memerhatikan miliknya yang selalu bersama dengan.


Tapi itu tidak bisa ia lakukan sekarang, karena sang sepupu masih menunggu dirinya untuk berbicara diluar.


Alka mengecup pucuk kepala sang istri dalam, sebelum benar-benar pergi dari sana. Ia keluar dan langsung menemukan sosok yang sedang menunggunya.


"Kau lama sekali, kau tahu waktu ku adalah segalanya?" Sarkas Jeans.


"Apa aku perduli?" Sambut Alka tersenyum.


"Ouhh yang benar saja, sudahlah aku langsung ke intinya saja."


"Hmm."


"Trauma Listya bisa sembuh dengan baik, jika tak ada penekanan atau ancaman yang merangsang ingatan buruknya." Jelas Jeans pada pria itu.


"Dan satu lagi, bersikap buruk pada bisa menimbulkan depresi berat. Jadi aku harap kau tidak membuatnya takut." Sinis Jeans menatap wajah sadis sang adik.


Hai lovely jangan lupa komen ❣️🌹🍒