
Seluruh orang mengelilingi ke empat manusia itu tak berani mendekat, apa lagi mereka semua tahu siapa identitas kedua pria itu, dan di tambah dengan satu lagi yang sedang duduk di salah satu meja.
"Tuan-tuan dan nona-nona, acara selanjutnya adalah pengenalan menantu dari Tuan Rapillius de Sebastian."
"Terimakasih, malam ini saya akan mengumumkan seorang pria yang akan menikah dengan putri tunggal ku Ruphilla de Sebastian. Mungkin semua sudah mengenalnya, pria yang sangat hebat, dia lah pria yang paling pantas untuk bersanding dengan my princess. Tuan Alka." Rapillius menyunggingkan senyumnya menatap pria yang sekarang ini menatapnya datar.
Semua orang yang ada di sana yang tadinya masih berbisik-bisik tentang siapa pria itu di buat tegang, suasana seketika mencekam dengan aura kelam yang keluarkan oleh seorang pria.
Alka menutup mukanya dengan satu tangan dan mulai tertawa, ia sangat geli dengan pernyataan pria paruh baya itu. Namun sesaat ia melihat pada sang istri yang tampak bingung, tentu saja wanita itu bingung.
Listya tak mengerti, pikiran nya bercampur aduk, ia menangkap dua hal dari kejadian itu.
Pertama, Alka yang akan menikah dengan wanita lain.
Kedua, apa yang akan terjadi?
Di satu sisi ada perasaan aneh yang menyelimuti hati nya, dan satu sisi ia merasa senang, Karna jika Alka menikah dengan gadis itu, tentu itu akan bagus untuk nya bukan. Ia bisa kembali ke rumah nya yang sesungguhnya jika gadis itu menjadi pengganti dirinya.
Namun tetap saja ia merasa hati kecil nya sedikit perih, meski ia tak mengerti mengapa hatinya bisa seperti itu. Ia sedih namun tidak sedih, ia senang namun tidak senang.
Itu lah yang ada di benaknya saat ini, apa yang sebenarnya terjadi? Apa dia sudah gila sekarang, ya mungkin saja, tinggal bersama orang gila mungkin bisa menular pada nya.
...
Rapillius turun dari atas panggung menghampiri Alka, ia masih tersenyum membawa anak gadisnya pada pria itu.
"Ahhh, apa yang membuat mu begitu yakin bahwa aku mau menjadi menantu mu?" Kekeh Alka dan langsung di jawab oleh pria paruh baya itu.
"Tentu saja, My Princess is the Princess of all Princesses. Jadi apa yang membuat mu ragu?" Senyum pria itu masih belum luntur, ia menjawab dengan penuh ketenangan.
"ah I'm sorry, tentu saja Putri mu sangat berharga. Aku sangat beruntung jika bisa menjadi pasangan untuk nya." Jawab Alka menunjukkan raut wajah aneh.
Alka sedikit melirik Listya, melihat apa yang dilakukan oleh pujaan hati nya saat melihat dirinya sekarang. Dirinya agak kecewa, saat melihat ternyata sang istri sama sekali tak menunjukkan ekspresi marah.
Dia kembali menatap dua orang yang ada di depan sekarang, ia memikirkan suatu ide di otak genius miliknya.
"Baik-baik, untuk merayakan ini tentu harus membuat pesta benar?." Ujarnya masih tersenyum menatap gadis di hadapannya.
Gadis itu merasa tak percaya, Alka yang begitu tampan membuat nya terhipnotis. Rahang yang begitu tegas, mata hitam kelam yang dapat menghunus hingga ke ulu hati. Ia menyukai sensasi listrik ini, dadanya menggebu-gebu tak sehat.
Jika Ruphilla memandang pria itu begitu menarik maka berbanding terbalik dengan wanita yang setia berada di samping Alka, ia menganggap pria itu monster, tatapan nya bagai elang, dengan sikap yang bisa berubah kapan saja, ia pikir pria itu sakit jiwa.
"Of course."
"Okay, Jeans siapkan tempat kita berpesta malam ini." Jeans yang mengerti, mengangguk tersenyum.
Berbeda dengan Lucy yang sudah membulatkan matanya tak percaya dengan tingkah suaminya itu, apa yang terjadi sebenarnya.
" Mari." Ajak Alka tak lupa menyunggingkan senyumnya.
"Ahh aku tidak bisa ikut, kalian saja. Aku rasa aku sudah cukup tua untuk berpesta dengan anak muda." Rapillius meminum wine nya yang mulai habis.
"Sayang sekali kalau begitu." Ujar Alka sedikit sedih.
"Ayah." Panggil Ruphilla.
"Tak apa sayang, pergilah." Ujar Rapillius membelai rambut sang putri.
Listya menatap Aident yang ternyata sedang menuju dirinya dan Alka, ia mengangguk tersenyum dan pergi mendekati Aident.
Disini lain, Ruphilla sedikit cemburu melihat perlakuan hangat yang di berikan Alka pada Wanita itu, ia sangat merasa terganggu, tapi ia mencoba menahan segalanya.
Ia harus bersabar, bukankah jika sudah menikah nanti, dia bisa mengusir wanita jal*ng itu. Ia sudah memikirkan hal lain nya yang akan ia perbuat setelah menikah dengan pria terkaya di kota ini nantinya.
"Ayo." Senyum Alka berjalan duluan.
Ruphilla tersenyum mengikuti pria itu yang sudah berjalan keluar, dapat ia lihat sebuah mobil yang cukup besar sedang menanti nya dengan pria yang sedang membukakan pintu mobil untuk nya, siapa lagi jika bukan Alka.
Ia langsung masuk kedalam mobil tersebut, di susul Alka, bukan mobil yang ia kendarai dengan Listya tadi, kali ini mobilnya lebih besar.
Alka menatap lurus ke depan, tak memerhatikan gadis yang berada di samping nya meski agak berjarak, ia ingin muntah mencium aroma tubuh wanita itu yang sangat menyengat, aahh ia sedikit rindu dengan aroma strawberry istri kecilnya sekarang.
Ruphilla tampak malu-malu mencuri pandang pada pria yang ada di samping nya, ia tidak memerhatikan yang lain hanya pria itu, aromanya maskulin sangat memabukkan, seakan menggoda nya saat ini.
"Wanita itu, siapa dia?" Tanya nya tiba-tiba teringat dengan Wajah jal*ng itu.
"Menurut mu?" Alka terseyum pada Ruphilla.
"Dia jal*ng mu?" Ujar nya semakin membuat Alka semakin tergelak.
"Hahaha."
"Aku tak menyukai nya, bisakah kau tidak berhubungan dengan nya." Ruphilla tampak kesal.
Sementara Alka terkekeh kecil tak mengindahkan ucapan dari gadis itu, ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.
...
"Hei apa ini lelucon? Apa yang terjadi." Lucy yang tak sabar langsung menanyakan pada suaminya itu yang tampak tenang.
"Kenapa?"
"Alka akan menikah dengan gadis itu?"
"Ya tentu saja, siapa yang tidak mau menikah dengan model terkenal, lihat bodynya yang eerrr seksi." Ucap Jeans menunjukkan ekspresi lapar.
"Apa kau gila? Bagaimana dengan Listya." Teriak Lucy.
"Mungkin dia akan tetap di kurung." Sekarang ekspresi pria itu terlihat sendu.
"Kalau begitu, kita akan membantu nya. Tidak mungkin gadis malang itu tetap di kurung meski Alka menikah dengan gadis lain."
"Ya kita akan membantu nya, tapi aku perlu waktu, kita buat gadis itu jadi umpan terlebih dahulu." Jawab Jeans.
Lucy kemudian terdiam, benar apa yang dikatakan oleh suaminya itu, ia harus bersabar sedikit dan melihat kelanjutan dari cerita ini.
...
"Hei, lamban. Cepat!" Ujar Aident melihat Listya masih jauh di atas tangga.
"Apa kau tahu aku kesulitan disini." Listya kesal pasal nya bajunya kini terasa sangat berat, padahal tadi tidak terlalu sulit.