Don'T Touch Mine Or Die!!!

Don'T Touch Mine Or Die!!!
chapter : ridiculous story



" Ha!"


" Ya, cepat."


Listya berpamitan dengan ke tiga Wanita itu, mengucapkan terimakasih dan bergegas turun dari mobil.


Setelah menghilangkan dari balik gerbang Vila, kini mobil kembali berjalan di sana suana menajam, apa yang terjadi?


" Kenapa wanita asing itu malah masuk kedalam Vila?"


" Dia bukan wanita asing Geby, dia istri Dehan." Jelas Rose.


"Ha! Dehan?"


" Maksudku Alka." Rose menggaruk tengkuknya, sadar jika ke dua wanita ini tak tau nama itu.


"Apa kau bercanda?" Geby seakan tak percaya jika orang itu sudah menikah.


.........


"Tuan?"


" Aku akan tetap di sini beberapa hari lagi."


"Baik tuan."


"Aku ingin mereka sedikit bersenang-senang lagi, sampai aku hancurkan semuanya." Ucap nya tersenyum.


.........


Tiiitttt!!


Sebuah mobil berwarna abu-abu berhasil berhenti di sebuah mansion, ke lima wanita itu turun, dan melangkah masuk ke dalam nya.


"Kau tak papa sayang.." Ucap seorang pria mochi menghampiri Rose.


Rose menggelengkan kepalanya, yang menandakan ia baik-baik saja. Syukur lah, tak terjadi apa-apa pada ibu hamil itu, dan betapa bodoh nya dia membiarkan sang istri pergi tanpa penjagaan.


" Seharusnya aku tidak mengizinkan mu tadi." Sesalnya.


" Jika kau melarang aku pasti akan tetap pergi, hehe." Ucap nya tersenyum tanpa beban.


" Kau ini, sudah mulai nakal ya." Ujar James mengetuk dahi Rose.


Sementara itu, ke empat wanita lainnya hanya bisa menonton keberlangsungan nya drama suami istri itu.


"Kenapa kalian diam, ayo masuk!" Ucap Jessica mendahului mereka.


Setelah mendengar perkataan Jessica, mereka pun ikut masuk, sementara sepasang kekasih itu kini kebingungan saling mengedik kan bahu mereka bersamaan.


"Ayo kita masuk."


" Iyaa."


.........


"Tempat ini lagi, huh~" Listya tampak lesu namun tersenyum saat mengingat kembali kejadian tadi, ia pikir itu tidak lah buruk.


Tanpa di sadari, selama ini wanita bernama Jessica itu sangat mengerti dirinya, mulai dari berlibur, sampai hal gila seperti tadi pun ia lakukan untuk diri nya.


"Bukankah dia sangat manis." Ucap nya tersenyum, meskipun wajah Jessica sedikit menyeramkan namun itu tak menutupi kebaikan wanita itu.


"Nyonya, saat nya tidur." Maid yang sudah ada di dalam menuntunnya untuk bersiap.


Setelah mengganti pakaian nya, ia naik ke atas kasur yang empuk itu. Masih belum bisa tertidur, sudah mencoba menutup mata namun ia masih terjaga.


Sesaat setelah berguling- guling frustasi, ia memutuskan untuk bangkit kembali mengambil gelas berisi air di atas nakas, meneguknya sedikit.


Namun ia merasa tidak suka, dan hampir memuntahkan nya, menarik nafas panjang lalu melangkah pergi menuju pintu.


Tujuannya saat ini adalah dapur, lidah nya sangat ingin meminum yang manis-manis sekarang.


Dapat ia lihat tidak ada orang lagi, karena tentu saja saat ini para maid sedang beristirahat.


Dapur itu remang-remang, hanya ada sedikit cahaya namun ia masih bisa melihat jalan dan menemukan lemari es. Tanpa pikir panjang, Listya membuat kedua pintu lemari es itu yang menampilkan berbagai macam jenis pangan.


Dapat ia lihat segala macam minuman bergizi di sana, dan tak ada yang menarik perhatian nya sampai atensi nya tertuju pada sebuah botol bertuliskan susu pisang.


Hanya tersisa satu, ia langsung mengambil nya dan meneguknya sedikit merasakan rasa manis di mulut nya.


" Hey, apa yang kau lakukan." Tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang membuat nya terkejut setengah mati.


"Aaaaa!!!"


"Berhenti, ini aku." Panik Aident menatap Listya yang berteriak.


"Kenapa kau di sini?"


"Aku yang menanyai mu duluan."


"Aku mau minum."


"Minum?... Tunggu kenapa kau meminumnya, itu sisa satu, dan itu milik ku." Ucap Aident terkejut merebut botol yang ada di genggaman wanita itu.


" Apa yang lakukan, aku duluan yang menemukan nya."


"Aku sengaja menaruhnya di bawah agar tak di ambil, kau malah meminum nya. Lihat sekarang tinggal seperempat lagi.. kau ini." Ucap nya sedikit kecewa.


" Bukankah kau bisa membeli pabrik nya?" Listya kembali teringat dengan perkataan sombong pria itu saat ia menawarkan susu pisang sebelum nya.


" Kau.." sudahlah tak ada gunanya berdebat, Aident meneguk sisa susu itu dengan lahap.


Ia meminum satu botol besar jus mangga, terlihat sangat kehausan, Aident pun sedikit bingung.


" Apa kau sehaus itu?"


" Ya." Jawab nya cepat.


.........


"Pak! Saya sudah melacak nya."


"Kau sudah menemukan nya?"


"Ya pak."


" Tunjukkan pada ku."


Atensi nya melirik dokumen itu dengan kesal, namun ia juga tak bisa menyembunyikan lengkungan dari sudut bibirnya.


"Tak di sangka, ini sangat mudah."


" ... "


" Aku bisa langsung menuntaskan ini segera."


"Ya pak."


" Ayo bergerak."


.........


Setelah meminum habis jus itu, Listya merasakan jika perutnya penuh, melangkah pergi meninggalkan Aident yang masih berdiri tegak memerhatikan nya.


" Kau mau kemana?"


" Mau tidur."


" Tidur ke kamar mu, jangan menyusahkan ku." Ucap nya melihat wanita itu duduk di sebuah sofa di ruang tamu Utama.


" Aku tak sanggup naik lagi." Ujar Listya enteng menutup matanya.


Ia terserang rasa kantuk, memejamkan matanya menikmati proses alam mimpi nya, namun itu harus kandas saat ia di ganggu oleh ucapan seorang pria di samping nya.


" Kau tak takut? Di sini biasanya ada suara aneh. Yahh tidak heran, di sini adalah kuburan hampir 500 orang. Mungkin arwah mereka tidak tenang." Jelas nya tersenyum.


"Kau hanya bercanda."


"Kapan aku pernah bercanda?"


" Waktu itu juga kau bilang kau hanya bercanda, padahal aku sudah mencium..." Mulut nya di bekap tak sempat melanjutkan kalimatnya.


" Itu memang bercanda, tapi sekarang aku tidak bercanda." Ujarnya panik.


" Apa buktinya?"


Sesaat Aident terdiam melirik ke arah lain, setelah itu juga seketika ada suara-suara yang membuat Listya mencari arah suara itu.


Hiii..hi...


" Kau dengar kan, aku tidak bercanda. Sekarang kau hanya mendengar suara menangis, tapi bukan hanya suara ini saja nanti nya yang akan kau dengar."


" Mereka mungkin akan masuk ke dalam mimpi mu." Sambung nya.


" Benarkah?" Listya menelan Saliva dengan susah payah mendengar ucapan pria itu.


" Terserah kalau kau tidak percaya, aku akan pergi tidur." Aident bangkit dari duduknya.


" Tunggu!" Listya menarik lengan pria itu tiba-tiba.


" Apa?"


" Temani aku kembali ke kamar."


" Apa kau bercanda?"


" Kapan aku pernah bercanda?"


" Astaga!"


" Ayoooo." Listya menarik lengan pria itu menuntunnya menaiki tangga.


Setelah sampai di depan pintu ia masih tetap di seret, Aident hanya bisa pasrah mengikuti setiap perlakuan wanita di hadapan nya itu.


" Tunggu, tetap di sini sampai aku tertidur."


" Apa!"


"Aku janji akan cepat tidur, tapi tolong jangan tinggalkan aku sebelum aku tidur."


" Ini tidak masuk akal."


" Salah mu, kenapa kau ceritakan cerita seram itu pada ku, mungkin saja mereka akan masuk kedalam mimpi ku karena Dehan."


" Konyol."


" Jangan bilang kalau itu juga bohong?"


"..."


" Meski bohong, kau tidak boleh pergi sampai aku tertidur."