Don'T Touch Mine Or Die!!!

Don'T Touch Mine Or Die!!!
chapter: confusion and the past



Dengan sangat sabar pria itu berdiri di sana, menunggu seorang putri yang masih belum bisa mengatupkan kedua matanya.


" Apa yang harus aku lakukan, aku tidak bisa tidur." Paniknya bangkit terduduk kembali.


"Aku pergi." Ucap pria itu muak.


" Tunggu!!!"


"Ini sudah lebih setengah jam dan kau masih juga belum tidur, apa kau pikir aku tidak punya kehidupan, sehingga harus menunggu mata mu yang jelek itu tertutup?" Ucap nya dengan menggebu-gebu.


"Aku hanya.. Salah siapa yang menceritakan hal yang menyeramkan pada ku!!" Balas sang putri.


" Kau..., aku tunggu 5 menit jika kau tidak tertidur juga aku akan pergi." Ucap nya geram.


Listya mengangguk cepat, langsung berbaring menutup kedua matanya yang sebenarnya memang sudah mengantuk namun susah di ajak kompromi.


Aident melihat jam tangannya sendiri, memerhatikan gerak setiap detik jam itu, dan di rasa sudah habis waktu, ia melirik wanita itu. Nafas yang teratur dengan wajah damai, menandakan ia sudah terlelap.


Dan sekarang giliran dirinya yang juga harus menjemput alam mimpinya, tubuhnya juga memerlukan istirahat apa lagi harus menghadapi seorang wanita yang merepotkan.


.........


"Tuan, Vila yang terasingkan, saya menemukan lokasi itu."


"Baik kita pergi ke sana."


"Tapi pak, ada sedikit masalah."


"Jelaskan."


"Tempat itu adalah Electric maze, dan tidak mungkin untuk menembusnya."


"Apa kau bercanda?"


"Siap! Tidak pak, saya sudah selidiki. Jika bukan orang dalam kita tidak bisa masuk pak."


"Orang dalam?"


" Ya pak."


"Baiklah, biar aku yang masuk ke dalam." Ucap nya dengan semangat.


"Tapi pak..."


"Shuttt..."


.........


"Ini Malam terakhir ku di sini, aku harap kalian merindukan ku nanti." Ucap seorang pria yang tengah duduk dengan kedua lengan nya yang terikat besi.



"Hitung mundur di mulai..."


.........


Wanita itu mendelik saat tidur terganggu dengan sinar yang mulai menusuk di wajahnya, para maid yang sudah datang untuk membantu dirinya, mulai dari membersihkan kamar hingga berdandan.


" Nona, sekarang waktunya untuk sarapan."


" Kalian biasanya tahu jika aku lapar aku akan turun sendiri, ada apa?"


"Nona Jessica mengajak anda pergi berbelanja." Ucap maid itu.


" Benarkah? Dimana dia sekarang?"


" Mereka sedang menunggu di bawah."


" Baiklah, aku akan mandi."


"Ayo cepat."


.........


"Kalian tahu!"


Kedua wanita itu menggeleng serentak mendengar ucapan Rose.


"Sebenarnya rencana kita kemarin itu sudah di ketahui oleh para pria, dan pantas saja meretas sistem sangat mudah, karena sebenarnya memang sudah di buka oleh para pria itu."


" Benarkah? Ya aku juga merasa ada yang aneh saat aku memberikan obat pada para penjaga. Mereka tidak waspada sedikit pun, aku pikir saat itu adalah sebuah keberuntungan." Sambut Lucy


"Sulit menyembunyikan sesuatu dari para pria itu."


" Huh~" Mereka menghela nafas panjang.


"Teman-teman!" Suara yang begitu familiar.


Ketiga wanita itu mengarahkan atensi mereka, pada gadis yang berlari menuju mereka.


"Kau sudah selesai?" Jessica.


"Sudah." Ucap nya semangat.


"Kita akan pergi kemana?"


" Shopping tentunya." Jawab Lucy tersenyum manis.


" Kau sudah sarapan?" Rose.


" Baiklah, ayo!"


.........


"Lucy, mengapa mereka juga ikut?" Bisik Listya melihat kedua wanita yang semalam.


"Mereka di tugaskan menemani kita, kau tahu mereka itu sangat handal." Jawab Lucy mantap mengacungkan ibu jarinya.


"Ouhh."


Setelah beberapa saat di perjalanan Listya berpikir keras, ia lupa bagaimana bisa ...


" Lucy, saat pertama kali kemari, aku menaiki kereta api, dan sangat jauh dari kota, lalu mengapa semalam kita berada di kota tanpa naik kereta?"


"Kau masih tidak tahu, ada jalan keluar rahasia, tak ada yang tahu kecuali Kita."


" Benarkah?"


" Ya benar, hanya keluarga Seven Deadly Brothers, yang bisa menggunakan jalan rahasia ini, saat sedang dalam keadaan mendesak."


"Ouhh kenapa kemarin aku tidak lewat dari sini saja, bukan kah akan lebih cepat?"


" Bukan aku bilang, hanya saat keadaan mendesak."


" Tapi ini bukan keadaan mendesak."


" Tapi kau ada bersama kami tanpa Dehan bukan, ini salah satu keadaan mendesak."


"Apa hubungannya?"


"Kau tahu bukan, jika menyangkut diri mu apapun itu adalah hal yang paling penting."


"Saat kau kemari, Dehan masih ada di negara ini. Jadi ia masih bisa menjangkau mu." Sambung nya.


" Maksudmu sekarang Dehan tidak ada di negara ini? Ke negara mana?"


" Jauhh aku tidak tau." Ujar Lucy mengedikkan bahunya.


"Aku ingin tahu, kenapa aku di izinkan ikut kalian?" Bingung Listya saat mengingat sudah dua kali berturut-turut ia keluar dari Vila.


" Itu semua karena Jessica memaksa Lart." Lucy terkekeh kecil.


" Benarkah?"


" Ya di tambah, Dehan yang tidak akan mengetahui nya."


" Untung saja dia tidak di sini." Listya ikut terkekeh kecil.


.........


"Pak, GPS sekarang berada di pusat kota."


"Bagus sekali, ini kesempatan emas." Ujar nya.


"Baik pak!"


Mereka ikut menancapkan gas mobil dengan kecepatan tinggi, menyusul pusat perhatian mereka.


"Listya! Lihat ini." Ujar Lucy memperagakan gerakan dengan gaun yang baru saja ia kenakan.


" Apa aku seperti Model yang ada di televisi?"


" Ya sangat mirip." Listya menepuk tangan bangga.


Memang benar, bahkan mereka berenam, sangat mirip seperti model apa lagi sang istri king yang memiliki wajah bak putri Yunani.


Saat semuanya sedang bersenang-senang sembari bercanda ria, berbeda dengan dua wanita yang sedari tadi memerhatikan.


Satu tampak tak perduli, lebih memilih memainkan ponselnya dan yang satu tampak tak senang.


Ia terus memerhatikan gerak gerik setiap yang salah satu wanita itu. Hari ini mood nya hancur karena ada nya wanita itu, karena ia menganggap yang terjadi semalam adalah mimpi.


Namun ternyata itu tidak sesuai dengan keinginan nya, dengan adanya wanita itu maka yang terjadi semalam bukanlah mimpi tetapi kenyataannya.


Ia tak mau percaya dengan perkataan para wanita itu yang menganggapnya sebagai istri dari pada pria bernama Alka itu.


" Ia tidak cantik sama sekali." Ujarnya tanpa sadar.


" Kau mengatakan sesuatu?" Tanya Fatia yang ada di sebelahnya.


"Tidak kak." Elak nya panik.


Fatia hanya mengangguk, mungkin ia salah mendengar. Saat kembali melihat benda pipi yang ada di genggamannya, mata nya berbinar.


Dimana kau?


Pesan yang tertera di sana, membuat hati berdebar-debar tak menentu, baru kali ini pria itu menanyai nya setelah terakhir kali bertemu tepat nya 10 tahun lalu.


.........


Dulu dia sangat manis, wajah nya yang senang tertawa dan tersenyum kini berubah drastis, dulu dia selalu memanggil ku dengan hangat.


Namun sekarang berbeda, ia bahkan tak mau sekedar menyapa atau melirik ku, apa yang terjadi pada mengapa ia berubah?


Aku takut ia akan membenci ku, apa aku berbuat salah padanya, ia tak pernah mengatakan apapun bahkan setelah aku pindah bersama kembaran ku.