Don'T Touch Mine Or Die!!!

Don'T Touch Mine Or Die!!!
Chapter : can't wait



"Dasar." Jeans memutar bola matanya malas, melihat sikap dingin manusia itu.


sementara pemuda itu sedikit tersenyum, hanya sedikit hampir tak terlihat, sekarang yang ada di otaknya hanya satu.


'WOW'


Ia tak pernah mengalami hal ini sebelum nya, itu membuat dadanya berdegup kencang, nafas nya sedikit tak beraturan.


Ingin sekali ia menjadi kan gadis kecil itu milik nya, tangan hangat nya terasa sangat jelas, mungkin saat ini, ia sedang menyentuh sesuatu yang hangat atau apapun itu.


"Aku ingin dia."


Tawanya terdengar di seluruh ruangan, sekarang dirinya tak bisa di kendali kan, tubuhnya bergetar hebat membayangkan wajah gadis itu.


Sungguh tak masuk akal, anak yang berumur 6 tahun, seperti mengalami masa pubertas yang seharusnya belum terjadi.


.........


"Bawa dia pada ku." Titah Nya pada seorang pria tua, yang tak lain adalah kepala pelayan.


"Tuan, jangan lupa. Tuan Jeremi masih memantau setiap yang kau lakukan, aku takut ini akan menyebabkan masalah dan dapat membahayakan nyawa gadismu." Ucapan itu membuatnya membeku, benar, ia lupa jika Kakek sialan itu masih hidup.


Oh ayolah, apakah dia harus membunuh manusia keji itu, jika di pikir-pikir si tua bangka itu memang sangat berjasa. Atas segala sesuatu yang ia perbuat, mulai dari membunuh orang tua yang sangat ia benci sampai mengajar kan hal-hal baru tentang kejamnya dunia.


Mungkin sebaiknya ia tak mengusik kehidupan sang gadis, sebelum dirinya benar-benar mampu menjaga dan menjauhkan gadis itu dari pria gila, yang ia yakini pasti akan menimbulkan masalah untuk nya.


Mau bagaimana lagi, kali ini ia harus menahan diri untuk masa depan nya kelak, ia harus mengalah, meski dalam kamus nya tak ada kata ' mengalah ' mungkin ia harus menambahkan kata itu kali ini.


"Baiklah, jangan sampai ini bocor pada kakek sialan itu."


Dan langsung di angguki oleh kepala pelayan, yang selama ini memihak kepada nya, tidak di ragukan lagi kesetiaan nya selama ini.


Ia percaya sepenuhnya kepada sosok pria itu, ia bahkan lebih berharga dibandingkan menjadi kepala pelayan.


.........


"Kak, Risyta mau pulang." Ucapnya melihat sekeliling tak mendapati sosok Irena.


"Kak!" Panggil nya lagi.


Sekarang tinggal dirinya yang berada di taman itu, dan hari mulai gelap, seperti nya akan hujan melihat awan hitam menyelimuti langit.


Tik..Tik.


Tangan kecil nya merasakan tetesan air yang jatuh dari atas, dan sekarang seluruh tubuh nya ikut merasakan guyuran hujan.


Dingin, tapi tidak terlalu buruk, ia mulai berlari-lari kecil bermain dengan riang, meskipun sekarang ia sudah basah kuyup.


Saat tengah asyik bermain, tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri nya, seorang pria tua dengan kaca mata tersenyum ramah.


"Nona, jangan main di hujan, anda bisa sakit nantinya." Sungguh, gadis itu tampak sedikit kebingungan.


Namun benar yang ia katakan, sedari tadi kepalanya merasakan pusing, tapi tak ia hiraukan nya sama sekali.


"Mari, saya antar pulang." Ucapnya lagi.


" Tentu saja."


Pria itu, mulai mengulurkan tangannya dan disambut baik oleh gadis kecil itu, mereka segera pergi dari sana, seperti yang ia katakan tadi, mereka sampai di rumah si gadis kecil.


Listya langsung berlari masuk ke dalam rumah, sembari melambaikan tangan kecil nya pada pria itu.


Saat ia membuka pintu terlihat di sana seorang wanita sedang khawatir, ditambah seorang gadis yang menangis.


"Kak Iren," Ucapnya mengejutkan mereka.


" Listya, kamu dari mana sayang." Rania langsung memeluk nya erat begitupun Irena yang menangis semakin kencang.


"Maafin kakak Ya, kakak lupa kamu masih main di taman." Sesalnya.


Rania memeluk kedua malaikat kecil nya itu, bersyukur tak ada hal buruk yang terjadi, dan sekarang ia harus menelfon suaminya yang mungkin masih mencari keberadaan Listya di taman.


" Listya, tadi kesini sendiri?" Tangan lembut Rania membelai rambut hitam gadis itu.


"Risyta sama kakek,"


"Kakek?"


.........


Setiap hari, setiap detik, tak ada yang tau apa yang sebenarnya terjadi pada seorang Dehan. Ia selalu mencoba menenangkan diri, karena ia tak pernah bisa menghilangkan wajah itu.


Wajah yang sangat senang tersenyum, kadang, ia berfikir bagaimana jika ada orang lain yang merasakan hal serupa terhadap gadis itu.


Jangan sampai itu terjadi, tapi setelah ia cermati lebih dalam, apa salahnya jika ada orang lain yang menyukai nya. Toh yang akan menjadi pemilik gadis itu hanya dirinya seorang.


Tak ada yang perlu di khawatir kan, tapi tetap saja itu membuat dirinya tak bisa tidur nyenyak, apa lagi ia merasakan sakit yang dialami oleh gadis itu kapan saja dan dimana saja.


Waktu silih berganti, sekarang dirinya akan memulai bisnis dengan menjadi ketua baru perusahaan, si tua itu kini sudah masuk ke dalam neraka.


Ia dapat menghela nafas, akhirnya saat yang ia tunggu-tunggu, rasanya tak sabar lagi. Ia harus mulai dari mana dulu? Apakah ia langsung membawa gadis kecilnya, atau mendekatkan diri terlebih dahulu.


Ahh mungkin tidak perlu, akan lebih mudah jika ia langsung menculik sang gadis. Hari sudah malam, ia tak tega melihat wajah lelah gadis kecilnya, ia harus bersabar menunggu esok datang.


Saat hendak tidur, ia merasakan perih pada perut bagian bawah, ia lupa ini sudah waktunya gadis itu datang bulan.


Setiap kali ia datang bulan pasti dirinya merasakan sakit pada perut nya, tapi tenang, ia sudah biasa, tak menyakitkan sama sekali untuk pria kekar seperti nya.


"Ayo beri sedikit kejutan, karena tidak menjaga diri dengan baik."


Sudah di pastikan jika gadis nya itu sangat nakal dan ceroboh, karena ia selalu mendapat sakit di bagian tubuhnya.


Maka dari itu, ia membuat rencana dengan menyewa supir taksi, agar lebih menyenangkan. Seperti apa ekspresi gadis itu, saat dirinya datang.


Ia semakin tidak sabar, andai waktu cepat berjalan.


" Aku ingin dia."


Lovely Jan lupa komen like and share ya😘🥰