
"Kenapa dia terus mengikuti ku?" Tanya Listya kesal pasal nya, Richard dari tadi mengikuti dirinya kemampuan.
"Mungkin dia mau memakan mu." Ujar Alka menatap laptop di meja kerja nya.
Listya membeku, tunggu sebentar ___ bukankah ini sama dengan yang ada di televisi? Ia ingat jika biasanya predator ingin menerkam mangsanya ia akan terus mengikuti kemana pun mangsanya berada, dan memerhatikan gerak gerik dari calon makanan nya itu.
Listya bergidik ngeri, melirik si kucing besar dengan wajah ketakutan, 1 2 3 lari....
Listya langsung berlari menaiki tangga menuju kamar nya, dengan cepat Richard mengejar sampai saat hendak menutup pintu kamar, kucing putih itu sudah masuk duluan. Lihat betapa lincahnya hewan yang satu ini, bahkan Listya kalah telak.
Ia berjalan mundur saat Richard sudah semakin mendekat padanya, namun ada yang aneh dari tatapan itu. Listya kehabisan akal, apa yang akan ia lakukan sekarang apa ia akan benar-benar ' Deat ' disini di tempat ini?
Listya hampir berteriak saat kuku-kuku itu menarik narik gaun yang ia kenakan, susah payah wanita itu menelan Saliva nya sendiri. Ia benar-benar ketakutan sekarang namun sedetik kemudian tatapan nya bertemu dengan iris si kucing besar itu.
Seperti seseorang yang sangat familiar, benar sangat mirip. Kenapa ia malah membandingkan nya dengan wajah pria iblis itu? Listya memijit pelipisnya yang terasa berat. Dan kemudian kembali tertegun saat kucing putih itu menjilati lengan nya, sungguh manis Listya sampai lupa jika hewan itu adalah seekor harimau.
Tangannya langsung menghantam perut berbulu itu dan mulai menggelitik nya hingga membuat Richard berguling-guling melihat hal itu Listya semakin menjadi-jadi menjalankan aksinya.
Sementara itu, setelah selesai bergulat dengan laptop milik nya, Alka mengedarkan pandangannya ke sekeliling, tak ada tanda-tanda wanita dan peliharaan nya itu.
Padahal baru saja tadi mereka mondar mandir , tapi kemana mereka?
Ia bangkit dan berjalan dengan santai melihat semua sudut mansion, salah satu pelayan yang menyaksikan jika tuannya sedang mencari sesuatu datang dan langsung bertanya padanya.
"Tuan apa kau sedang mencari nyonya?" Ujarnya tepat sekali.
"Right." Ujar nya dingin.
"Nyonya ada di kamar." Tanpa menunggu lama ia langsung menyusul ke kamar tempat istri mungil nya.
...
James, Roan, Aident sedang menuju kediaman Drake. Tepat nya mansion Alka, dengan di temani oleh tiga wanita yang meminta untuk ikut mengunjungi Listya.
"Bunny, bukankah dokter bilang kau harus banyak beristirahat?" Ujar James pada istri nya yang mulai membuncit.
"Aku tadi sudah istirahat." Jawab Rose.
"Tapi.." Jeans terpaksa menghentikan ucapannya karena seseorang sudah memotong pembicaraan nya.
"Kami akan menjaga istri mu, jangan khawatir." Ujar Jessica dan di tatap sinis oleh James.
"Terakhir kali kau mengatakan hal yang sama sebelum Listya di culik. Sindiran itu di ucapkan oleh James.
"Kau ini..." Hampir saja ia menjambak rambut pria mochi itu namun, ia merengek pada Rose membuat Jessica mengurungkan niatnya.
"Untung saja bukan kau yang di culik bunny." James memeluk Rose.
"Ya itu benar, James bukan Dehan yang bisa menghancurkan penjara dan tambang minyak seorang diri, hanya untuk menyelamatkan orang lain." Ujar Roan terkekeh.
"Hey, apa kau mengejekku?" James menatap pria itu tajam.
"Aku benar bukan, ahhh pria itu benar-benar hebat." Roan menepuk-nepuk dadanya dramatis, namun tidak mengalihkan perhatian dengan jalan dan kembali fokus menyetir.
Sedangkan mobil merah milik Aident sudah melambung jauh dari mobil mereka berlima,
"Lucy, apa kak Jeans punya waktu luang Minggu ini?" Tanya James tiba-tiba melirik Lucy yang duduk di di sebelah Rose. Mereka duduk bertiga di jok tengah sedangkan Jessica dan Roan di depan.
"Seperti nya ada, dia harus pergi ke Brazil menemui pasien." Ucap Lucy sambil memegang dagunya.
"Ahhh ya sudah lah." James menunjukkan ekspresi lesu.
...
Dua mobil sudah mulai masuk ke perkarangan mansion megah itu, setelah mobil berhenti ke enam manusia itu turun.
Tak menunggu lama mereka langsung masuk ke dalam, dapat mereka lihat seperti nya hanya ada beberapa maid di sana.
Sungguh aneh, melihat pemandangan ini, tak biasanya maid berkurang di mansion bak istana milik Alka. Namun sekarang mereka terdiam dan hampir berteriak saat menemukan seekor harimau putih sedang berkubang di karpet di temani seorang wanita di sana.
"Listya awas!!!" Teriak Lucy khawatir, apa yang sedang di lakukan sahabatnya itu? Bersama harimau___ hampir saja ia pingsan di buatnya.
Tak lama Alka datang memerhatikan ke enam manusia yang baru saja datang, ia tak menggubris keberadaan mereka dan lebih memilih duduk di atas sofa singel milik nya.
Sebelum itu, ia menyempatkan memberikan sebuah kiss pada istri yang sedang bermain di depan nya.
"Hey, kenapa kau membawa Richard kembali. Bukankah dia sudah di pindahkan." Ucap James kesal.
Sementara itu Lucy dan Rose tak bisa mengendalikan ekspresi wajah mereka yang ketakutan. Listya yang sadar dengan hal itu bangkit dan mendekat pada ketiga sahabat nya.
"Apa kau tak apa?" Ujar Lucy membolak-balik tubuh wanita itu panik, ketika Listya sudah sampai pada mereka.
"Tidak Lucy." Listya menunjukkan senyum hangatnya.
"Kenapa kau dekat-dekat dengan hewan itu? Apa Dehan memaksa mu, katakan padaku?"
"Bukan Dehan, tapi Alka." Ujar Listya membenarkan nama pria iblis itu.
"Ha?" Lucy mengerjabkan mata lalu mengerti dan mengangguk.
" Tidak, Richard tidak jahat. Dia sudah jinak." Ucap Listya menjelaskan, meski ia sendiri sempat ketar-ketir saat pertama kali bertemu dengan kucing putih itu.
Sejauh ini Hanya Aident yang berani mendekat pada Alka yang sedang duduk di sana, di ikuti oleh Roan dan James.
Kedua pria itu masih sedikit ketakutan, pasalnya dari dulu mereka tidak menyukai peliharaan adik mereka itu, bagaimana tidak hewan nya adalah seekor harimau.
Aident yang sudah terbiasa, tidak menunjukkan ekspresi apapun, dan dengan santai duduk di salah satu sofa.
"Hey, ada apa kau membawa nya kembali setelah enam bulan?" Ujar Roan mencoba tenang, ia tidak bisa tenang jika ada Richard.
" Charizard, tua bangka itu berhasil mencuri nya." Ujar Alka mengelus punggung sang kucing, kucing itu dengan manja bersandar di kaki Alka.
"Kau tidak membunuhnya bukan?" Tanya James dengan tatapan penuh selidik.
"Jika dia bukan teman Jeremy, aku sudah membunuh nya." Ucap nya tersenyum.
"Hey, sopan lah, kakek Jeremy bisa mendengar mu nanti." Roan menggelengkan kepalanya ketika Alka dengan santai menyebutkan kakeknya yang sudah meninggal seperti seorang teman.