
"Wah sepertinya hari ini kalian sedang senggang ya." Ucap Roan melihat kelompoknya berkumpul di bar.
Jeans, Lart, Aident, James , dan Jack kecuali Dehan yang hampir tak pernah datang.
"Ahh iya aku hanya ingin minum, sudah lama aku tak kemari karena istri ku." Ucap Jeans menunjukan wajah memperihatinkan.
"Kau benar, Rose juga melarang ku." James menepuk punggung Jeans yang bernasib sama.
"Ternyata kita senasib." Jeans dan James saling berpelukan.
"Bodoh." Ucap Aident melihat tingkah kedua orang itu.
"Kalian takut dengan istri?" Aident tersenyum remeh.
"Kau akan merasakannya jika punya istri, kau tahu." Jeans melepaskan pelukannya pada James.
"Alah kalian saja yang lebay, istriku saja selalu menuruti apapun yang aku perintahkan tanpa perotes." Ucap Lart sombong.
Roan dan Jack hanya jadi penonton drama yang dimainkan para pria itu.
"Jadi begitu." Terdengar suara seorang wanita menatap Lart tajam.
Lart terkejut setengah mati melihat istrinya sedang berdiri didepan pintu.
"Sayang kau..Kenapa kau disini?" Ucapnya berkeringat dingin.
"Seharusnya aku yang menanyakan itu bukan." Wajah Jessica seperti singa yang kelaparan.
"Hahahaha, Kak Lart apa yang kau tunggu? Perintahkan Jessica untuk tak mengganggumu." James terbahak dibantu dengan Jeans.
"Ya Benar, bukankah kau hanya perlu memerintah nya."
Lart sempat menatap tajam kedua orang itu, namun saat menatap Jessica ia menunjukkan raut memelas.
"Sayang aku hanya becanda."
"Malam ini tidur dijalan." Ucap Jesica dengan wajah singa nya.
"Sayang maafkan aku," Lart memegang kedua tangan Jessica, menciumi tangan lembut itu berkali.
" Hey Kak bukankah Jesica sedang memberimu cinta." James yang masih berhenti tertawa.
"Oh Cinta." Seorang wanita menarik telinga James.
"Aahhkkk, kenapa kau disini." Ucap Jimin melihat Rose.
"Kau Juga." Telinga Jeans juga ditarik oleh seorang wanita.
"Honey, akkhhh sakit." Pekik Jeans merasakan telinganya akan segera lepas akibat tarikan Lucy.
"Hey Nona-nona, kenapa kalian bisa ada disini?" Tanya Roan pada ketiga wanita itu.
"Kami hanya mampir." Ucap Lucy tersenyum manis pada Roan namun tangan nya masih belum melepaskan telinga Jeans.
"Sudahlah mari kita minum, kalian ribut sekali." Ucap Jack memecahkan suasana.
"Aident kapan kau akan menikah?, kenapa kami tak pernah melihat mu kencan sekalipun." Ucap Jeans pada Aident yang sedang meminum wine nya.
"Ya dan kalian berdua juga." Sambung Lart menatap Roan dan Jack.
"Aku tak akan menikah." Ucap Jack santai.
"Apa kau Gay? " Tanya James sembarang.
"Ahh tidak, aku hanya tak ingin nantinya wanita yang menikah denganku dalam bahaya. " Jelas Jack.
Memang benar apalagi pekerjaan mereka sangat mengerikan, tak mungkin ada wanita yang ingin suami nya adalah seorang pembunuh profesional.
"Ya kau benar, dan lagi untuk apa menikah jika aku di kelilingi wanita cantik. " Roan berkedip nakal pada Lucy dan Rose.
"Dan Kau? " Tanya Lart lagi mengalihkan perhatian pada Aident.
"Aku tak tahu." Seakan tak perduli Aident begitu cuek mengenai wanita.
"Kalau begitu biar aku Carikan." Ucap Jeans tersenyum.
" Siapa?" Tanya Lucy penasaran.
"Aku punya kenalan, dan sifat nya sangat cocok dengan Aident.
.........
Dehan memakirkan mobilnya tepat di sebuah gedung yang teramat besar, Dehan membuka pintu untuk Listya membawanya masuk kedalam gedung itu, Listya melihat banyak sekali orang-orang yang berbuat dosa di sana.
Tanpa menghiraukan orang orang di sekitar nya Dehan menuju satu ruangan.
Cklek..
Semua orang yang ada disana menatap pada mereka berdua, mereka begitu terkejut melihat Dehan datang seorang wanita yang bersembunyi dibelakangnya.
"Listya." Batin Rose.
Dehan dengan wajah datarnya duduk di tempat duduk dan membawa Listya duduk disampingnya.
"Ahh Adik ipar." Sapaan ramah pertama kali dilontarkan oleh Roan.
Dehan tak mementingkan itu dan lebih memilih mengambil wine yang diberikan Jack. Sementara Listya terkejut melihat dua orang wanita yang duduk tersenyum kikkuk menatapnya.
"Rose." Ucap Listya.
Rose juga menatapnya tapi ia mencoba mengendalikan raut wajahnya dengan tersenyum.
Jujur ia sama sekali tak percaya perkataan Lucy beberapa hari lalu, ia juga tak berani karena Dehan sedang berhadapan langsung dengan nya, ingin rasanya menarik Listya dari pria gila itu.
"Listya apa kau mau minum." Tawar Jack menuangkan wine ke sebuah gelas.
"Dia tak minum." Dehan langsung memotong.
"Ohh baiklah " Jack tak melunturkan senyumnya.
Dehan melingkar kan sebelah tangan nya pada pinggang Listya, membuat nya sedikit tak nyaman dan mengalihkan pandangannya kesamping.
Tatapan nya bertemu dengan tatapan seorang pria yang sangat ia kenali, Aident lagi-lagi dia, kenapa orang itu selalu saja ada. Aident sedang duduk santai memandang Listya.
Listya memutar matanya malas melihat makhluk itu.
"Hey berhenti bersikap seolah kami akan merebutnya." Ucap Jeans melihat tingkah sepupunya itu.
"Listya apa kau mau main Billiard?"
Lucy menatap Listya penuh arti senyap tak ada yang bicara, keringat dingin mulai dirasakan olehnya hingga dirinya menyenggol lengan Rose.
Listya melirik Dehan sebentar lalu menganggukkan kepalanya.
"Ya kalian bisa bermain." Ucap Lart melirik Jessica.
Sedangkan Jesica memutar matanya malas, saat Lart menyindirnya.
"Pergilah" Ucap Jeans tersenyum pada Listya.
Listya tersenyum Kikkuk melepas tangan Dehan yang melingkar di pinggangnya.
Setelah lepas dari pria itu, Listya berdiri menunjukan senyum nya pada Sahabatnya.
Lucy dan Rose membawanya ke dalam ruang Billiard.
"Sayang, kau tak ikut? " Tanya Lart pada Jessica
Jessica menatapnya garang lalu mengasingkan diri dari Kelompok mereka. Sementara Dehan hendak menyusul Listya, tapi baru saja ia berdiri Jeans menahannya.
"Sudahlah dia tak akan pergi kemana-mana banyak penjaga yang
Mengawasi."
"CK.." Dehan berdecak kesal.
Tentu kesal istrinya tak boleh jauh-jauh darinya. Jeans menggeleng kan kepalanya melihat Dehan yang begitu cemburu dan posesif.
Tapi itu memang sifat asli nya sejak dulu,ia memberi tahu jika Listya itu Miliknya tak boleh dimiliki orang lain.
"Aident kau mau kemana? " Tanya Roan melihat Aident berdiri dan hendak pergi.
"Terserah aku." Ucapnya melangkah keruang Billiard.
"ada apa dengan nya? " ucap Roan bingung.
"Sudah- sudah ayo kita minum, hey bawa camilan kesini." Jack.
.........
Listya dan kedua sahabatnya sedang merunding mulai kenapa bisa Listya berada disini dan peristiwa hingga ia jadi istri Dehan.
Lucy menjelaskan bahwa keluarga nya adalah mafia begitupun Rose, Mereka harus menikah dengan mafia juga bukankah baru cocok.
"Apa kalian akan membantu ku? "
" Akan kami usahakan." Rose menatap Lucy yang juga menatapnya.
.........
Aident melangkahkan kaki nya keruang Billiard.
Cklek..
Pintu terbuka menampilkan dua orang wanita yang sedang mengajarkan satu wanita lainnya cara memakai tongkat Billiard. Lucy dan Rose sedikit terkejut melihat kehadiran Aident memerhatikan mereka.
"Kalau tak bisa, sebaiknya jangan." Ucapnya tersenyum remeh.
Listya menatapnya Jengkel benar-benar menyebalkan.
"aku baru pertama kali memainkannya, tentu harus belajar dasar bodoh." Listya menatap Aident tajam.
Lacy dan Rose seakan tak percaya Listya berbicara buruk ke pada Seorang Aident. Dan Aident yang dikenal kejam itu pun hanya terkekeh.
Sungguh matahari terbit dari mana?
Jarang sekali melihat Aident tersenyum apa lagi tertawa seperti itu, Jika pun tertawa itu adalah tawa mengerikan atau jahat.Dan mereka tak mau mendengar tawa mengerikan Aident.
Tapi ini berbeda.
Aident dan Dehan itu sama sama menakutkan tapi Dehan itu lebih menakutkan karena ia sangat bengis dalam segala sesuatu.
Aident mengambil paksa tongkat dari tangan Listya.
"Akan aku ajarkan." Ucapnya mulai membidik.
Plak..
Semua bola masuk menyisakan 3 bola lagi, benar-benar hebat dan hanya dalam satu bidik, Listya mendengus kesal melihat Aident tersenyum puas.
.........
Dehan sudah tak tahan, ia berdiri dari tempatnya menuju sang istri. Jeans, James, Roan kembali menggelengkan kepala, sementara Lart dan Jack hanya terkekeh.
Dehan memasuki ruangan dengan wajah datar, namun seketika wajah itu berubah tajam saat melihat Aident dan Listya sedang berebut tongkat.
Sementara Lucy dan Rose sudah gemetaran melihat mereka, dengan Listya terkejut langsung berhenti membiarkan tongkat itu pada Aident.
Adehhh...
"Hey kak ayo taruhan." Ucap tanpa beban.
"Taruhan? " Dehan menaikan sebelah alisnya.
"Ya siapa kalah akan menuruti kemauan yang menang."
"Baiklah." Dehan menganggukkan kepalanya,lalu menatap Listya yang mendengus.
Dehan memang sangat suka mendengar sebuah tantangan, dan lihat yang terjadi.
.........
"Kau duluan Kak."
"Kau yakin?" Dehan tersenyum smirk.
Aident tersenyum mengangguk, Dehan mengambil tongkatnya dan membidik.
Plak...
Semuanya tercengang, Lucy dan Rose mengusap kedua mata mereka, apa mereka salah lihat, tidak mungkin dalam sekali bidik semua bola masuk dan menyisakan satu bola putih, begitupun Listya mengerjap kan matanya tak percaya.
"Baiklah aku pemenang nya, aku minta kau menjauh dari ku. " ucap Dehan menatap Aident yang mematung.
"Ahhh tidak kak bagaimana bisa." Ucapnya Aident tak menyetujui permintaan Dehan.
"Bukan kah kau sendiri yang memintanya." Dehan berjalan menuju Listya.
Komen terus..
See you..