Don'T Touch Mine Or Die!!!

Don'T Touch Mine Or Die!!!
Chapter : wounded



Hari yang cerah. Mentari dengan malu-malu mengintip dari balik jendela menembus tirai bening yang tergantung cantik, gadis itu mendelik membuka mata nya pelahan, merasakan silaunya sinar matahari.


Ia bergulingan malas di tempat tidur, rasanya sangat nyaman dan ingin seperti ini lebih lama lagi. Namun itu hanya keinginan semata, karena saat triakan seorang pria membuat telinga nya berdengung.


"Bangun pemalas!" Ucapnya tanpa nada rendah.


"Ini masih pagi, apa kau sudah gila? "


"Apa kau lupa? "


"Apa?"


"Bersiap, aku sudah menyiapkan baju olahraga. "


Pria itu berlalu pergi, meninggal kan dirinya yang masih kebingungan. Ia menggaruk telinga nya yang terasa geli, dan bangkit menatap lurus ke depan.


Ia tersenyum membuka tirai penghalang masuknya udara, tanpa basa-basi mengeluarkan kepalanya dari jendela. Menghirup oksigen yang sangat segar, ditambah suara kicauan burung yang sangat merdu, membuat hatinya menghangat menatap indahnya alam.


Ternyata, tidak terlalu buruk berada di sini. Ia juga bisa keluar rumah meski masih harus di awasi oleh kelinci bodoh itu. Itu saja sudah cukup membuat nya bersyukur. Berbeda jika bersama sang suami, bahkan untuk keluar gerbang saja ia harus memohon berhari-hari.


Lamunan kini menguasai dirinya, membuat seseorang lelah menunggu. Dengan cepat Aident kembali menuju kamar gadis itu, ralat. Biar aku tekankan, itu adalah kamar nya.


Ia sudah tak sabar lagi ingin membalas perlakuan gadis sialan itu, apa lagi saat ia tidur dengan nyaman nya di kasur empuk milik nya. Jangan panggil dirinya Aident, jika ia tidak memberikan pelajaran pada tuan putri itu.


"Cepat! Bodoh."


"..."


Listya tersadar setelah hanyut dalam pikiran nya sendiri, ia menatap pria itu lekat, sehingga yang di tatap pun merasa tak nyaman.


"Apa kau mendengar ku! "


"Iya, iya. " Listya mengerti sekarang, saat menatap pakaian pria itu.


Ia tersenyum miris, mengingat dulu ia sangat sering berolahraga bersama Irena, ia selalu di manja, dengan di sirami begitu banyak cinta dari sang kakak. Tapi apa ini? Semuanya berubah. Tak pernah ia bayangkan hidupnya akan menjadi sangat kacau.


Kesalahan apa yang pernah ia perbuat? sampai hidupnya bisa seperti ini, terkurung oleh iblis tak punya hati, banyak nya manusia yang berbuat dosa, kenapa hanya dirinya yang di hukum begitu berat.


Terjebak dalam obsesi pria psikopat, cinta yang menyesakkan, ternyata begitu berbahaya bagi manusia. Berbeda dengan yang mereka katakan, cinta sangat indah dan dapat membuat mu bahagia.


Kenapa dirinya tak bisa merasakan kebahagiaan, cinta apa yang mereka maksudkan? Sejak tadi itu lah yang ia pikirkan sebelum menyusul Aident yang sedari tadi menunggu nya.


"Aku siap." Ucap nya semangat dengan memperagakan gerakan lengan.


"Kau sangat jelek, "


"Ya, benar kau jelek. "


"Tak masalah jika kau katakan aku jelek, lihat saja kehebatan ku nanti."


Mendengar hal itu, membuat Aident tersenyum mencurigakan. Pria itu sudah siap dengan rencana nya, dan membuat gadis ini meminta ampun padanya.


"Baiklah, ayo cepat keluar." Ucap Aident mendahului.


" Tunggu!! Apa kau ingin pamer kaki panjang." Ucap Listya berusaha beriringan dengan pria itu.


"Kau saja yang lamban."


"Nyenyenye..." Gumam Listya sukses membuat pria itu terhenti.


"..."


"Apa?"


Aident kembali melangkahkan kakinya, dan membuat gadis itu kembali mengikutinya.


Beberapa menit kemudian, mereka masih berjalan tanpa satupun pengawal.


Disini lah Aident beraksi, ia melirik gadis yang sudah berkeringat hanya karena mengikutinya. Aident berhenti tepat saat Listya mendahului nya.


"Ada apa?" Tanyanya bingung.


"Tidak ada, oh iya seperti nya ada tamu."


"Ha?"


Gukk..gukk..gukkk..


"Haaaaaa!!!" Teriak Listya lari meninggalkan Aident.


Gukkk...gukk...


Aident tersenyum puas melipat kedua lengan nya, melihat wajah yang ketakutan itu, Aident hampir terbahak namun ia menahannya.


Sementara Listya sudah berlari jauh, meninggalkan Aident, namun sepertinya anjing itu hanya mengejar dirinya saja. Apa lagi ini sebenarnya, ia benar-benar ketakutan apa lagi saat anjing hitam itu hampir mendekati nya.


"Aaaaaaaa!!!!" Teriaknya histeris tanpa menghentikan larinya.


Aident ikut berlari mengejar Listya yang hampir hilang dari pandangan nya, namun apa yang terjadi tidak sesuai dengan dugaan nya.


Gedebum..


"Akhhh!" Listya tersandung batu dan akhirnya mendarat di jalanan yang kasar.


Gukk..gukk..


"Aaaaaa!!.... Apa mau mu...anjing nakal,,,huaaaaa. Ini sakit sekali, aaaa..." Teriaknya


Darah segar menetes dari lengan dan telapak tangan gadis itu, ia menangis merasakan panas dan peri dari lengannya.


Listya menatap telapak tangan nya yang terluka akibat tergesek batu-batu kecil, ia juga menatap anjing yang masih sedia menggonggong di depan nya. Tak berapa lama Aident datang dan menghentikan, Anjingnya. dengan menyuruhnya diam, ajaibnya anjing itu langsung menurut dan terdiam seketika.


"Kau tak apa?" Aident mencoba membantu gadis itu yang masih ketakutan.


Listya menatap Aident lekat tanpa niatan untuk menerima tangan pria itu, ia mencoba kembali berdiri walau meringis kesakitan. Aident terdiam, tubuhnya tak bisa ia kendalikan, seperti patung.


"Tidak usah, terima kasih. Aku sudah cukup menerima bantuan mu dan anjing mu. Aku akan pulang sekarang, terimakasih banyak." Ucapnya tertatih meninggalkan Aident.


.........


"Awwhh, sakit sekali.. " Itu lah yang ia ucapkan, setiap kali angin menerpa lengannya.


Ia meniup telapak tangan nya pelahan, menahan sakit, sebelum sampai ke mansion Aident.


Sesampainya di sana, para pelayan tampak berlarian menuju dirinya, dengan tergesa membawa Listya masuk ke dalam.


"Nona, apa yang terjadi?" Tanya seorang pelayan wanita.


"Aku jatuh, awhh.. pelan-pelan. Eeeee perih sekali eeee." Tangis nya akhirnya pecah setelah mencoba bertahan dengan wajah yang memerah.


Disisi lain, seorang pria tiba-tiba keluar dari meeting room, saat merasakan sakit pada lengannya. Dirinya tak bisa menahan diri lari dari gedung menuju mobil hitam yang terparkir rapi di depan bangunan itu.


"Cepat!" Teriaknya.


.........


Aident, menatap Listya dengan tatapan yang susah di artikan, namun bisa di tebak dirinya sedang khawatir pada wanita itu. Apa lagi ia menangis dengan air mata yang membasahi pipi chubby nya.


Rasa bersalah menyelimuti seluruh tubuh nya, hingga tak tahu harus bereaksi apa, ia juga tak tahu jika ini akan terjadi, padahal dirinya tak bermaksud untuk menyakiti Listya, ia hanya ingin sedikit menjahili wanita itu.


Brakk..


Pintu terbuka keras, menampilkan sosok pria dengan wajah panik, menatap istri tercinta tengah menangis, ia mencoba menenangkan diri dengan menarik nafas dalam-dalam.


Semua orang terkejut melihat kehadiran nya, mereka menundukkan kepala tak berani menatap pria itu, tak terkecuali Aident, ia dengan anjing hitam itu berdiri di samping Listya.


"Apa yang terjadi?" Tanyanya melangkah menuju Listya.


"Sakit?" Tanya Dehan meraih lengan Listya.


Tangis wanita itu sudah berhenti sejak Dehan datang, ia menggeleng kan kepalanya mencoba tidak menangis lagi.


"Mmm" Bibir Dehan menyentuh telapak tangan Listya, membuat wanita itu terkejut.


Dan...


"Sakit...eeee, ini sakit, perih sekali eeee, hiks hiks." Tangisnya kembali pecah membuat Dehan menarik wanita itu ke dekapan nya, sembari melirik pria di samping nya.


" Bisa kau jelaskan?" Ucap Dehan.


"Ak.."