
Dehan masih didalam ruang rapat, ia merasa kan kedua lengan nya memanas dan langsung pergi tanpa pamit, semua staf kebingungan menatap kepergian pria itu.
Saat ingin masuk ke dalam ruang kerjanya langkah nya terhenti didepan pintu. Dengan wajah yang datar bercampur marah ia melihat sosok wanita yang sedang membelakanginya.
"Cihh, Hahaha.." Tiba-tiba Dehan tertawa.
Anna terkejut langsung berbalik badan melihat pria itu
"Sayang, aku sudah menyingkirkan wanita bodoh itu Jadi kita bisa bersenang-senang sekarang,"
"Selama ini aku lah yang ada disisi mu, jadi aku pikir akulah yang pantas untuk mu, bukan dia." ucapnya lagi.
"Bodyguard".
"Tunggu! Lepasss, lepasss, Dehan ku mohon, aku tak bisa hidup tanpa mu, berikan aku kesempatan..."
"Baiklah" Ucap nya tersenyum mencurigakan.
.........
Listya di seret dengan tangan yang di borgol, dan di paksa menaiki panggung.
"Ya, selamat datang nyonya dan tuan-tuan, malam ini kami ada benda-benda bagus untuk dilelang, apa saja mari kita lihat."
Orang-orang bertepuk tangan, para pengusaha kelas atas ada di sana.
.........
"Perelangan?"
"I...yaaaa..."
"Baiklah kalau begitu ,bawa dia." Dehan kembali tertawa.
"Tidak...tidakkkk Dehan aku sudah mengatakan semuanya."
Dehan tak menghiraukan nya dan berlalu pergi dengan Aident.
.........
"Katakan apa yang terjadi?"
Flashback
"Baiklah, pakai baju ini ubah rambutmu dan berjalan menunduk, saat kau keluar dari pintu akan ada mobil yang menunggu."
"Tapi bagaimana dengan Dehan?"
"Itu urusan ku."
"Baiklah."
"Semoga ia, akan baik-baik saja." Batin Listya.
Sejak awal Anna tahu jika akan mustahil menjauhkan Dehan dari istrinya itu, saat ia mendengar keluhan Listya, ia jadi memikirkan hal gila dan semakin bersemangat bersemangat untuk mendapatkan cinta nya.
"Dia, dia bilang dia ingin lepas dari mu, oleh sebab itu aku membantunya, dia sama sekali tidak baik. Dia tidak mencintai mu, dia hanya memanfaatkan kamu saja,"
"Maka dari pada itu, aku sudah memberi pelajaran padanya," Anna tersenyum.
"Aku menyuruh anak buah ku, untuk melelangnya, di pelelangan manusia."
"Hahaha... sangat lucu." Tawa Dehan.
.........
"Lepaskan....lepaskaan aku... Kakak hiks...hiks...tolong aku"
Sementara Listya sekarang sedang menangis meratapi nasibnya berada dipanggung lelang dengan pergelangan tangan yang mulai sakit akibat borgol yang semakin erat ditangannya.
"Apa, apa yang harus aku lakukan sekarang." Tangisnya menyesali kebodohan yang ia lakukan.
Kenapa ia percaya pada orang yang membenci dirinya, kenapa ia begitu naif hingga demi lepas dari si iblis, ia malah membuat hidup nya semakin kacau.
"Baiklah, sekarang kita lihat barang selanjutnya, owh seorang wanita cantik, tubuhnya begitu menarik sungguh sangat menggoda ..."
"Siapa saja yang menawar?"
Para penonton memberikan tatapan yang sangat menjijikkan bagi Listya
"5,000!"
"7,000"
"10,000"
"13,000"
Dan sererusnya...
" 1,000,000,00"
"Hah!"
"Hah"
"..." Dehan dan Aident memasuki ruangan itu.
Semua penonton terkejut akan kehadiran dua psikopat itu, tentu hal itu juga dirasakan oleh Listya yang membeku di sana.
"Apa, apa tak ada la- gi yang menawar?" Ucap mc itu terbata dan tersadar. Ia merasa hari ini adalah keberuntungan sepanjang hidupnya,
Dehan sangat terkenal dimana pun, orang yang selalu di sebut ,namun ia sangat sulit untuk di temui bahkan jika kau berhasil bertemu dengannya, sudah dipastikan umur tak akan lama.
Sangat berbahaya, namun jika bertemu seperti ini tak buruk juga, apa lagi sampai bisa bertransaksi langsung.
Sementara Listya yang ditatap oleh Dehan tak mampu untuk berkata.
Apa ini?
Antara ia bersyukur di selamatkan,tapi orang menyelamatkan nya ...kenapa?
Kenapa nasib buruk selalu menimpa nya..
"Tunggu .. bukankah kita harus melihatnya dulu." Orang 1
"Apa?"mc
"Barang itu, bagus atau tidak?" Orang 3
"Hah?"mc
"Buka baju nya biarkan kami melihat tubuhnya, mungkin ada yang cacat." orang 2
"Ahh benar, baiklah kalau begitu."mc
"Tidak ...apa yang kau lakukan bodoh." teriak Listya saat mc itu mendekat.
"Tak perlu, aku sudah cukup lama disini jangan membuat ku menunggu." Ucap Dehan dengan wajah yang sulit diartikan.
"Ahhh baiklah, jika memang begitu, maaf membuat king menunggu." Mc
Dehan berjalan menuju gadis itu terkekeh, Dapat ia lihat istrinya ini menangis, mata yang sembab sampai air matanya sudah mengering dipipi mulusnya .
Dengan pandangan takut menatap Dehan namun juga senang, entah apa yang terjadi pada nya jika iblis ini tak datang.
Sungguh aneh ...
"Sepertinya, Risyta tidak bisa diam, apakah aku perlu memotong kedua kaki mu?"
Tentu saja itu bukanlah candaan, Dehan bisa saja melakukan itu, jika dia ingin. Listya menggelengkan kepalanya, entah mengapa ia kembali menangis dan langsung memeluk Dehan, menenggelamkan wajahnya pada dada bidang pria itu.
Ia mendatar kan wajahnya, dan menggendong gadis itu ala koala.
"Bereskan." Ucapnya meninggalkan Aident.
Sementara itu tubuh Listya semakin melemah pandangan nya buram, mungkin sekarang pingsan akibat
terlalu lelah.
Namun sebelum pingsan ia melihat samar samar semua orang disana tewas dan suara pistol.
.........
"Tuan, mari kita bicarakan tentang transaksi." Ucap Mc dengan wajah tak tahu malu pada Aident.
Aident sudah melihat gadis itu baik- baik saja, dan sekarang ia mendapat perintah untuk mengeluarkan pistolnya.
Brak bruk...
Semua pria bertubuh besar menutup setiap jalan keluar dari tempat pelelangan, malam itu semua manusia yang hadir disana tak ada yang selamat.
"Tuannnn...ohokk ohokk." Mc itu yang berlumuran darah memohon ampun pada pria dengan tatapan senang.
Ia memegang erat lutut Aident, dan tersenyum menatap Mc itu.
"Seharus nya, kau bertanya barang itu milik siapa..."
"Ikutlah bersama pelanggan mu ke neraka." Ucapnya menendang wajah pria itu.
Semua tubuh terpisah dari kepala mereka itu lah yang dilakukan seorang Aident, tempat itu menjadi makam masal.
Tak ada yang bisa lolos.
.........
"Tidak..tidak akhhh!"
Listya tebangun dari tidurnya, ternyata hanya mimpi, namun itu benar-benar mengerikan.
Ia bermimpi tentang orang -orang yang ada pada malam itu meninggal di tambah pemandangan itu terlihat seperti nyata.
"Risyta bangun?" Ucap seorang pria yang keluar dari kamar mandi.
Apa ini, kenapa semuanya kembali lagi, ingatan itu, ia memegang kepalanya yang sakit, kanapa ada apa ini?
Dehan yang tadinya tersenyum melunturkan senyum itu menghampiri sang istri.
.........