Don'T Touch Mine Or Die!!!

Don'T Touch Mine Or Die!!!
chapter : kidnapping



Dimana kau?


Dengan cepat ia menjawab pesan singkat itu, dengan senyuman yang merekah, jujur ia sangat senang terhadap dua kata yang di tulis oleh sang pujaan hati.


Drinkk...drinkk...


Tak lama kemudian, benda pipi yang ada di genggaman tangan nya bergetar mengeluarkan suara.


Ia semakin tidak percaya dengan apa yang terjadi, membulatkan matanya sempurna tak tahu harus bagaimana saat nomor itu memanggil. Menarik nafas agar tetap tenang meskipun hatinya sedang memompa darah dua kali lipat.


Halo?


Cepat kembali, jangan membuatku dalam masalah..


Untuk sesaat ia merasa tidak bisa berkata apa-apa, lidahnya menjadi kelu dengan bibir senantiasa terkatup.


Apa kau mendengar perkataan ku?


Klik..


Tak sanggup lagi akhirnya ia memilih untuk memutuskan sambungan telepon itu, dan menyentuh dadanya memeriksa apakah jantungnya baik-baik saja.


"Ada apa kak?" Ucap Geby bingung saat sang kakak tiba-tiba berdiri.


" Tidak, tetap berjaga jangan lengah. Aku akan ketoilet sebentar." Ujarnya berlalu pergi.


Geby tampak khawatir, namun ia tak mau ikut campur dalam urusan kakak nya itu, dan kemudian kembali melirik ke empat wanita di sana yang masih memilah dress dan aksesoris lainnya.


.........


Ini sudah waktunya makan siang, kini mereka sudah berada pada sebuah restoran dan memesan menu, setelah menunggu beberapa menit semua makanan di hidangkan di atas meja bundar itu.


Listya tampak bersemangat saat melihat berbagai macam makanan di sana, saat hendak mengambil sebuah steak daging tiba-tiba meja bundar tersebut berputar dengan kecepatan tinggi.


Plakk..


Beberapa piring jatuh membuat semuanya kaget, apa lagi Listya dengan gaun yang terkena cipratan makanan itu.


"GEBY!!"


Teriak Fatia membuat sang adik tersadar dari tindakannya, ia panik saat semua orang menatap ganas.


"Aku.. tidak sengaja.." Ujarnya terbata.


" Listya kau tak papa?" Tanya Lucy melihat keadaan wanita itu.


" Tidak papa, aku akan membersihkan nya dulu." Ujar Listya tersenyum.


"Aku temani." Ucap Rose.


"Tak apa Rose, aku bisa pergi sendiri."


Ia melangkah menuju toilet dengan sangat santai, berbeda dengan suasana di meja makan. Mereka tampak kesal dengan perbuatan Geby yang membuat semuanya berantakan.


"Aku akan menyusul Listya." Ucap Rose pergi.


.........


"Apa kau bisa membersihkannya?" Suara lembut itu terdengar jelas di telinga Listya.


Ia tersenyum menatap Rose yang baru saja datang, sembari membersikan sisa makanan yang ada di dress nya.


"Ya."


"Ada yang aneh dengan Geby hari ini, seperti nya ia sedang dalam masalah." Ujar Rose tampak berfikir.


"Mungkin saja, ia sedang banyak pikiran." Mengangguk mendengar perkataan Rose.


.........


"Ada apa?"


Sekarang ketiga wanita itu sedang mengintrogasi Geby dengan tatapan mata yang berbeda.


"Aku..."


"Seperti nya kau tidak menyukai Listya." Ujar Jessica to the point.


" Tidak... Bukan seperti itu."


" Semua orang tahu Geby, kau menyukai Alka." Lanjut Fatia.


"Ya itu benar, lalu?" Ucap kini tak terbata malah tersenyum.


" Geby, cukup."


"Apa?"


"Kau tak pernah berubah, seharusnya kau..."


Fatia tak melanjutkan kalimatnya.


"Dia bukan kekasih mu, kau yang gila selalu berfikir dirinya adalah milikmu!!"


"Apa yang salah? Aku mencintai nya, apa aku tidak boleh memiliki nya?"


Sekarang semuanya terulang lagi, kejadian lama terjadi lagi, alasan kepindahan-nya benar-benar tidak berbuah hasil. Selama ini adiknya tak memperlihatkan kepribadian nya yang tak normal, ia keliru dan seperti nya ia telah di bodohi.


.........


"Nona, tolong suami saya. Aku tidak bisa mengangkat nya."


Listya dan Rose saling melirik menatap wanita renta itu memohon kepada mereka, tentu saja hati mereka tergerak langsung membantu.


Dengan lekas mereka mengikuti langkah wanita itu menuju sang suami, Rose dan Listya bawa ke koridor dan dapat mereka lihat seorang pria tengah terduduk lemah di sana.


Segera mereka menghampiri pria itu, dengan nafas yang tersengal-sengal, Listya dan Rose langsung memapah nya, meski sedikit sulit mereka tetap berusaha , melangkah pelan menuju pintu keluar.


Setelah sampai di lantai bawah, wanita itu menuntun mereka masuk ke sebuah taksi yang berada di luar restoran itu.


Mereka memasukkan pria tua itu masuk ke dalam mobil berwarna putih itu, Listya merasakan sesuatu mencekal lengan nya.


Sedangkan Rose, dia tak melihat segera turun dari mobil, tak menyadari Listya yang terdiam belum turun dari mobil itu.


"Ada apa pak ." Ucap nya pada pria tua itu.


Tak melonggarkan kecalan-nya, ia malah tersenyum melirik Listya yang kebingungan, tiba-tiba pintu mobil tertutup, Rose disana yang menunggu kaget dan mencoba mengetuk pintu mobil.


" Kau begitu naif, sayang." Ucap pria itu tertawa.


Mobil berjalan tanpa aba-aba, membuat Rose hampir saja terjatuh, ia berteriak dengan keras namun itu sia-sia, ia panik langsung berlari kembali ke dalam restoran.


"Teman-teman Listya... Tolong..." Ucap Rose hampir tumbang akibat tubuhnya yang berbadan dua berlari.


" Hati-hati Rose ada apa?" Lucy menyenderkan tubuh bumil itu di kursi.


" Listya dibawa pergi..." Dengan nafas memburu Rose akhirnya dapat mengatur kepanikan.


"Apa?"


.........


" Lepaskan aku!" Bentak Listya menatap yang tadinya tua kini menjadi seorang pria yang sedikit familiar.


Pria itu hanya memperlihatkan sebuah senyuman pada sang wanita, dan itu lah yang lebih membuat nya begitu kesal. Listya memukul pria itu dengan sekuat tenaga, hasilnya adalah tangan nya yang putih kini memerah.


"Kenapa berhenti?" Ujarnya terkekeh.


"Apa kau lupa pada ku?" Sambungnya.


"..."


"Haha sorry, ingat?" Pria itu melepaskan wik yang ia kenakan dan membersihkan wajah nya yang mirip seperti orang tua.


"Kau!"


"Ahh ternyata kau ingat, aku pikir kau tidak mengingat ku." Ucap nya lega, karena sejak pertama kali bertemu wanita ini tak menatap nya.


"Apa yang kau lakukan, hentikan mobil ini sekarang!" Titahnya menunjukkan wajah marah.


"Maaf sekali, itu tidak boleh." Ujarnya lagi tersenyum.


"Apa kau sedang bercanda?"


"Bukankah aku pernah bilang, kita akan bertemu lagi."


" Siapa yang ingin bertemu dengan mu?"


" Haha, kau ini sangat lucu." Ucapannya tak sadar lengan nya mengacak Surai hitam Listya.


Listya langsung menepis lengan pria itu dengan kasar, ia tak habis pikir, ada apa dengan pria asing ini.


"Apa yang kau inginkan dari ku?"


"Sederhana saja, tapi aku tak bisa mengatakan nya sekarang."


" Kau pikir ini lucu?" Listya tak sabar lagi.


Jika ia menghilang seperti ini tentu akan menjadi masalah besar, mulai dari teman-temannya yang khawatir di tambah mungkin ia tak akan pernah bisa keluar lagi.


Pria ini mempersulit diri nya, apa yang harus ia lakukan sekarang.


.........


Krakkk..


Besi yang mengikat kedua lengan pria itu terjatuh, membuat ia tersenyum smirk.


"Waktu habis!"


Jangan lupa komen ya lovely 🥰