Don'T Touch Mine Or Die!!!

Don'T Touch Mine Or Die!!!
Chapter : Go



Bank..


"Akhhh sialan." Detriks merasakan sakit yang teramat pada pergelangan tangan nya, Ia mencoba menahan sakit mengeluarkan peluru pada pergelangan tangannya.


Dehan tersenyum menatap Detriks yang terduduk di balik dinding itu.


Bank..


Buhg..


Bank...


Bugh....


Semua anak buah Detriks tak tersisa, Jeans berjalan membawa belati kecil mendekati mereka dan menyobek perut hingga menampilkan isi perut, tanpa rasa jijik menarik jantung mereka semua dan membuang nya sembarang.


"Hey jangan lempar pada ku." Ucap James jijik.


"Hahaha" Jeans terbahak memainkan organ-organ itu pada James


"Ihhhh menjauh dari ku, hey kau! Berhenti! Itu menjijikkan." James menjauh dari Jeans yang mengikuti nya.


Dehan masih duduk saat ada yang membidiknya pasti orang itu sudah mati duluan, Dehan bangkit menuju Detriks yang terduduk lemas dengan kaki dan tangan nya yang berlumuran darah.


"Dunia terlalu indah untuk orang -orang seperti mu." Ucap Dehan menunduk menyamai tinggi badan nya dengan Detriks.


Detriks mendongak menatap Dehan, ia menarik kerah Dehan hingga kemeja yang ia kenakan berwarna merah.


Dehan tergelak menatap Detrisk dan..


Plak...


Mata Detriks terbelalak seperti ingin keluar dari sana, tangan nya terpisah dan jatuh ke lantai.


Ditangan Dehan terdapat sebuah pisau yang sangat tajam hingga dalam satu tebasan dapat memisahkan anggota tubuh seorang,


Dehan menjatuhkan pisau itu dan kembali berdiri.


"AKHHH." Pekik Detriks saat Dehan menuangkan wine pada luka nya.


Benar-benar kejam, Dehan mengeluarkan pisau lain dari dalam jasnya.


Dan...


"Akkhhh." Telinga kiri Detriks terpisah dari tempatnya.


Mata nya mengeluarkan cairan merah pekat, bau amis darah memenuhi ruangan, Dehan menendang tubuh Detriks hingga terpental ke tengah ruangan.


Jeans dan James berhenti bermain saat melihat Dehan yang turun tangan, begitupun Lart dan Jack mereka terdiam melihat perlakuan khusus Dehan pada Detriks.


Mereka mengelilingi Detriks yang terbaring lemah dengan anggota tubuh yang tak utuh.


Detriks hanya memiliki sebelah tangan dan telinga.


"Hidup lah di neraka." Ucap Dehan datar dan meniggalkan tempat itu.


.


..


...


Cklek..


Dehan melihat Listya yang memandangi tiga wanita yang sudah ambruk karena mabuk.


Listya berjongkok sambil menopang dagunya melihat wajah Rose, Lucy dan Jesica yang memerah dan sesekali bergumam nama suami mereka.


Dehan menarik lengan Listya, dan tentu orang ditarik pun terkejut. Listya terbelalak melihat ada bercak merah di kerah kemeja Dehan, dapat ia cium bau amis itu adalah darah.


Listya menelan pelan saliva nya.


Aident hanya melihat tak minat sama sekali lebih memilih melihat dinding dan meneguk wine nya.


"Ayo pulang." Ucap Dehan tidak mood lagi karena pakaian nya yang kotor, di tambah lagi Detrisk tidak memenuhi kesenangan nya.


Ia sekarat dan tak bisa melawan lagi, padahal Dehan ingin bermain sebentar benar-benar mengecewakan.


.........


Esoknya..


Dehan memasuki ruangan nya ditemani oleh Jack.


"bagaimana?" Ucap Dehan duduk di kursi milik nya.


"Ya mereka mulai bergerak, kita jangan sampai lengah." Ucap Jack duduk di sofa.


"Cih!" _Dehan.


...


Listya memandangi taman bunga di halaman mansion, taman yang indah dan sangat memanjakan mata.



Setiap hari ini yang ia lakukan, Bosannn.....


"Apa yang harus ku lakukan? Aku tidak punya rencana agar bisa kabur." Ucap nya memenopang dagu.


"Kak!!! " Teriak Aident.


Dia mulai lagi.


"Mana Kakak? " Tanyanya menghampiri Listya.


Listya memutar matanya malas, setiap hari orang ini kemari menanyakan hal yang sama.


Dan pasti jawaban nya juga sama.


Dehan selalu menghindari Aident, Aident ke kantor Dehan di rumah, Aident ke rumah Dehan di kantor, Itu yang mereka lakukan setiap harinya dan tak pernah bosan.


"Huhhh" Listya menghela nafas lagi.


"Ck." Aident menendang bunga mawar disana.


"Hey jangan lakukan itu." Larang Listya berdiri menghadang Aident.


Aident memutar badan nya hendak meninggalkan Listya.


"Tunggu, kau mau kemana? " Ucap Listya mengejar Aident.


"Pergi." Ucap nya tanpa memperdulikan Listya.


Listya menarik tangan Aident hingga badan pria itu menghadap lurus padanya.


"Apa?"


"Aku ikut! "


"ha? " Aident tampak kebingungan.


"Aku bosan, aku ingin jalan-jalan." Ucap Listya menunjukkan wajah sedih dan sialnya sangat lucu dan membuat jantung Aident memompa darah lebih cepat.


"Tidak." Tolaknya.


"Ku mohon,,, aku akan membantumu berbaikan dengan Dehan." Ucapan Listya berhasil membuat Aident kembali berfikir.


"Hah benar." Ucap nya dalam hati.


"Baiklah."


Listya menyunggingkan senyumnya memperlihatkan gigi yang berbasis rapi, Aident berjalan dan Listya yang mengekori dari belakang, Mereka Berjalan menuju sebuah motor yang terparkir rapi di depan mansion.


Aident memasang helmnya naik di atas motor itu, sementara Listya tampak kebingungan menatap motor hitam itu.


"Apa yang kau lakukan, ayo naik! " Titah Aident menatap nya aneh.


"Ahh baiklah." Yang penting keluar.


Listya naik ke atas motor itu.


Bremmmm..


"Pegangan" ucap Jungkook.


"Apa aaahhhhkkk_" Kagetnya memeluk Aident erat karena Aident menjalan kan motornya tanpa aba-aba.


"Apa kau gila!" Teriak Listya.


Aident terkekeh berhasil menjahili dirinya, saat di gerbang seorang Bodyguard menghalang mereka.


"Maaf nyonya anda mau kemana? Anda tidak boleh keluar. " Ucap bodyguard itu takut-takut.


"Dia bersama ku." Ucap Aident dingin.


Listya menunjukkan wajah khawatir, bagaimana ini?


"... Apa lagi?"


Bodyguard tak bicara lagi dah membiarkan mereka lewat.


Listya menyentuh dadanya yang sesak dan sekarang ia dapat menghela nafas lega.


.........


Seakan tak percaya Listya dengan mudah bisa keluar, ini semua berkat pria menjengkelkan ini. Listya menatap punggung Aident sehingga tidak fokus, saat Aident berhenti Listya menabrak helm Aident.


Aident merasakan kepalanya yang tiba-tiba di senggol pun melihat Listya dengan wajah terkejut, Listya turun dari motor besar itu melihat sekeliling tanpa memperdulikan tatapan pria itu.


"Kenapa kita ke sini? " Tanyanya bingung.


"Aku lapar." Ucap Aident berjalan mendahului Listya.


Listya mengedikan bahunya lalu menyusul Aident yang hampir hilang dari pandangan nya.