Don'T Touch Mine Or Die!!!

Don'T Touch Mine Or Die!!!
Chapter : painful feeling



"Aku sudah memesan tempat, ayo kita bersenang-senang." Ujar Jessica.


"Ya, aku pikir itu ide yang bagus karena my baby sedang ingin bermain." Tambah Rose.


" Kau tahu jika Listya baru saja sembuh?" Lucy.


"Ya aku tahu, Listya apa kau bosan?" Tanya Jessica langsung melirik wanita itu dengan senyuman kucing miliknya.


" Ya." Satu jawaban itu membuat Rose dan Jessica senang. Namun tidak dengan wanita yang satu lagi, Wajah nya muram seperti tidak di hiraukan.


" Ayo lah, aku jamin ini akan menyenangkan." Ucap Jessica.


Sisi lainnya, Aident sedang bersiap pergi dari Vila, karena urusan nya sendiri. Hingga tak sempat lagi untuk bertemu dengan Listya atau pun Lucy.


.........


" Aku pikir benar, ini dia. Sekarang dari sekian banyak nya wanita mana yang sedang aku cari?" Ujar seorang pria dengan kacamata hitam nya.


" Tuan, aku akan segera mencari keberadaan nya." Ucap seseorang lagi yang kini di sebelah nya.


" Jangan buat aku turun tangan, dan beri aku kepuasan dengan kerja mu." Ucap pria itu melihat kedua lengan nya.


"Kali ini kau tak perlu khawatir, aku akan kerahkan seluruh kemampuan ku agar tetap bersama dengan mu." Ucap pria itu mantap.


" Jangan kecewakan aku." Pria itu berlalu pergi.


" Tuan kau mau kemana?"


" Jalan-jalan." Ucap nya menaiki sebuah motor.


Kendaraan nya melaju kencang menyelusuri jalanan, senyuman terbit di bibirnya, sembari menikmati angin yang menerpa tubuhnya.


.........


"Bagaimana kita pergi?" Wanita itu tampak cemas.


" Tenang saja, Rose apa sudah beres?" Ujar Jessica.


"Beres."


"Ayo!" Ajak Jessica.


" Tapi..." Listya tercengang melihat penjaga yang tidak lagi berjaga di gerbang.


" Kemana semua penjaga?"


" Tidur." Jawab Lucy santai.


" Ha?"


"Rose kau selanjutnya." Ucap Jessica melirik wanita itu.


Rose merenggangkan jemari, mengetik di sistem keamanan, gerbang yang sangat ketat dan tak mungkin bisa di buka begitu saja.


Jemari Rose bergelut dengan semua tombol di sana, beberapa menit kemudian gerbang terbuka dengan sendirinya, mulai dari pintu pertama hingga pintu ke tiga.


Pintu gerbang memiliki tiga pintu, lapisan pertama besi lapisan kedua besi berbalut listrik dan kawat, lapisan ketiga gerbang besi abadi, atau katakanlah tidak bisa di tembus sampai kapanpun.


Mereka menaiki mobil dengan color Red hot, perlahan melewati ketiga gerbang itu dengan bangga.


"Bagaimana kalian bisa melakukan itu?" Listya kagum sekaligus bingung.


" Lucy, memberikan obat tidur pada setiap penjaga, dengan bantuan ku sedikit."


" Ya itu benar, Jeans mengajari ku cara membuat obat tanpa ada efek rasa hingga seperti memakan makanan normal."


" Dan Rose, dia adalah seorang peretas." Ujar Jessica.


Rose tersenyum malu, senang bila di puji, perutnya yang ramping itu kini sedikit berisi namun hanya sedikit, ia masih menginjak 2 bulan kehamilan.


" Bukankah ini menyenangkan, malam ini aku ingin bersenang-senang!" Teriak Rose .


" Aku juga." Akhirnya yang tak setuju sedari awal kini mengakui tindakan mereka tidak lah buruk.


" Kita akan pergi kemana?"


"Kau akan melihatnya."


.........


"Tuan apa tidak papa membiarkan nyonya?"


" Tidak, biarkan mereka bersenang-senang, jangan lupa untuk meletakkan beberapa penjaga."


"Baik tuan."


" Kenapa kau membuat masalah Lart?" Ujar Aident menatap pria itu sinis.


" Ayolah, ada hal lain yang ingin ku bicarakan dengan mu. Bukan karena mereka saja."


"Apa?"


"Luke, dia di sini."


"Tidak mungkin, bukankah kakak sedang di penjara?"


" Kau tahu dia adalah rival Alka, dan tidak mungkin membodohi nya begitu mudah, aku kira Alka sedikit lalai kali ini." Lart tersenyum.


" Lalu?"


"Hestia dan Gabyriell, panggil mereka."


"CK, kau saja."


"Bukankah kau tahu, Hestia tidak akan pernah mau jika bukan kau yang meminta nya sendiri."


" Wanita itu merepotkan."


"Ada apa? Bukankah dulu kau bilang jika hanya dia yang bisa menjadi istri sempurna mu kelak?"


" Itu dulu, sekarang..." Aident terpaksa harus menghentikan ucapannya.


" Ya aku tahu, tapi..."


" Aident jangan merusak hubungan mu sendiri , ingat jika Alka tidak akan pernah diam."


"..." Bungkam , dirinya di buat bungkam dengan perkataan Lart.


Itu semua benar, perkataan pria bernama Lart itu sama sekali tidak meleset, apapun itu ia sangat benar. Aident tak bisa membantah meskipun begitu dada nya terasa sangat sesak.


Apakah dia benar-benar sudah gila, perasaan yang tidak seharusnya kini tumbuh semakin menjadi-jadi.


Mana Aident yang dulu, mana dirinya yang tak pernah memiliki perasaan, seakan semuanya sirna jika wanita itu berada di sisinya setiap saat.


.........


"Ganti pakaian kalian." Ucap Jessica melirik kedua wanita itu.


"Ada apa dengan pakaian kami."


"Kalian seperti seorang istri banyak pikiran." Tawa Rose pecah mendengar perkataan Jessica yang savage.


"Huh~"


Setelah mengganti pakaian di sebuah pusat pembelajaan, mereka kembali menaiki mobil melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan.



.........


" Ada apa?"


"Aku perlu kalian."


" Tak mungkin, kau memanggilku?"


"CK, ya."


" Baiklah," Wanita itu tampak senang, menatap ponselnya.


"Ada apa?" Ucap seorang wanita lagi menghampiri nya.


" Kita akan pergi menemui Aident." Ucap nya .


"Benarkah? Apa kau bercanda, kenapa?" Wajah yang begitu mirip, dengan sang kakak itu pun ikut menyungging kan senyum manis.


"Aku akan berkemas."


.........


" Tempat apa ini?"


Sekarang apa yang terjadi, kenapa mereka ada di tempat sepi tanpa satu pun manusia, dengan keadaan lampu jalanan yang remang-remang.


" Ambil ini." Ucap wanita itu memberikan sebuah tongkat baseball.


"Ha." Listya tampak bingung.


Ketiga wanita itu sedang bersiap dengan senjata di tangan mereka.


Crackk!!


Craang!!


Suara kaca yang pecah membuat Listya terkejut mendapati, ketiga sahabat nya yang memukul seluruh kaca di bangunan itu, bahkan terlihat jika segala barang yang baru, kini rusak berserakan dimana-mana.


"Apa yang kalian lakukan?"


" Tempat ini aku sewa, untuk kita hancurkan." Ujar Jessica berhenti.


"Apa?"


" Ayo cobalah, ini menyenangkan." Ajak nya.


"Tapi.."


"Ayo pukul." Pinta nya.


Craang!


Sekali lagi, suara yang begitu bising menjadi pusat perhatian. Listya melihat tingkat yang baru saja ia gunakan itu dengan begitu intens.


Tanpa ia sadari tangannya kini bergerak mengarah pada kaca lainnya yang masih utuh, bahkan ia melihat pantulan dirinya sendiri dari sana.


Craang!


Ia tersenyum puas, dengan semua tenaga nya sembari menyalurkan rasa kesal yang ia pendam selama ini. Semakin menjadi-jadi, teman-teman yang tadi nya diam kini kembali beraksi.


"Akkkhhh!!! Dasar keparat!!!" Teriak Listya.


Craang!


"Bajingan!!!"


Craang!


"Aku benci pada mu!!"


Craang!


"Mati saja kau!!"


Craang!


Ketiga wanita yang sedari tadi memerhatikan, hanya bisa diam, ternyata selama ini teman mereka sangat menderita.


Apa yang terjadi di hidupnya hanya dirinya yang bisa merasakan nya, meskipun mereka semua sahabat namun tak ada yang menyangkal bahwa mereka tidak bisa merasakan hal yang sama.


Semua orang memiliki masalah di hidupnya, tak ada yang bisa mengerti meskipun mereka mencoba untuk mengerti.