
"Kecuali kau menghianatiku." Tatapannya yang bersahabat kini berubah tajam.
"Aku tidak punya banyak waktu, jadi langsung ke inti nya saja."
"Ya tentu katakan."
" Kembalikan Richard!"
"Hanya itu?"
" Jangan memancing ku untuk menghabisi seluruh anggotamu Charizard."
" Hahaha, ancaman mu selalu membuat orang merinding. Kau tahu?"
"Jangan bertele-tele, aku benar-benar harus pergi sekarang. Dan tentunya, tidak dengan tangan kosong."
"Salah mu, karena tidak memerhatikan peliharaan yang ku incar selama ini."
"Ya benar, salah ku. karena lupa kau juga mengincarnya. Dan ya, satu lagi. Aku tak ingin ada cacat sedikitpun."
" Wah! Seperti nya kau sangat mencintai Richard ya. Baiklah- baiklah, akan ku kembalikan, tenang saja. Sesampainya kau di rumah, Richard juga sudah ada di sana."
" Baguslah kalau begitu, aku pergi pria tua kotor. Sampai jumpa, lagi." Dehan tersenyum sumringah dan pergi dari sana.
" Tuan, kenapa kau memberikan nya begitu saja." Ucap seorang menatap Charizard bingung.
" Aku melepaskan tangkapan dengan mudah, tentu yang aku dapatkan adalah tanggapan yang lebih besar bukan?"
"..."
.........
"Kau pikir aku bodoh, kau sama saja dengan pria tua itu, pantas saja kalian berteman dengan baik selama ini." Ucap Dehan tertawa, tentu dengan tawa iblis nya.
" Aku tunggu kedatangan mu!" Lanjut nya.
" Cepat, atur jadwal rapat ku."
"Baik, tuan."
Saat atensinya menuju pada jalanan di balik kaca mobil, ia tersenyum mengingat sesuatu.
"Kau sedang apa Dear? Beri tahu apa yang di lakukan oleh istri manis ku sekarang, Toby!" Titah Nya pada sekretaris pribadi nya.
" Nyonya, sedang makan siang dengan tuan Aident, tuan."
"Ahhh baiklah, apa mereka akur?"
"Eee,,, sebenarnya tidak tuan. Nyonya bertengkar dengan tuan Aident, tetapi mereka berbaikan kembali."
"Bertengkar karena?"
"Nyonya menolak tidur di kamar yang disiapkan untuk nya, dan meminta tidur di kamar pribadi tuan Aident."
"Hfftt,,," Dehan mencoba menahan tawa mendengar hal itu.
Apa kalian bingung? Kenapa malah tertawa bukan nya cemburu? Bukankah Dehan manusia paling mudah cemburu di dunia jika menyangkut milik nya.
Itu karena, ia mempercayai manusia bernama Aident itu seutuhnya, ia juga tahu bahwa Aident menyukai istri kecil yang menggemaskan nya itu, ia juga tak keberatan akan perasaan Aident. Ia sama sekali tidak khawatir, jika Aident berbuat sesuatu terhadap gadisnya itu.
.........
Kediaman Aident.
Aident sedang menatap wanita yang berada di hadapannya itu lekat, mencoba membaca isi otak nya yang tidak setabil, dengan suasana hatinya yang berubah-ubah.
" Kenapa kau menatap ku seperti itu."
"Aku sedang membaca pikiran mu."
"Ho,, benarkah? Lalu sekarang apa yang sedang aku pikirkan."
"Kau ingin ponselmu yang tertinggal." Jawab Aident tersenyum percaya diri, melihat tingkah wanita itu yang bosan tanpa ada kegiatan.
"Salah." Ucap Listya.
"Lalu?"
"Aku ingin tidur, aku mengantuk." Senyuman nya membuat Aident melongo tak percaya.
"Tapi kau benar juga, aku bosan tak ada ponsel, bisakah kau suruh salah satu pelayan mengambil nya di rumah ku?"
Apa ini, sekarang Listya sendiri yang mengakui jika mansion milik iblis itu adalah rumahnya, bahkan ia tak menyangka jika dirinya mampu mengatakan itu.
"Pelayan,..." Panggil Aident pada salah satu pelayan nya.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya seorang pelayan tiba membawa ponsel milik Listya, wajah wanita itu terlihat senang sekarang.
"Jangan hanya bermain handphone, besok pagi kita harus lari pagi, lihat tubuh menyedihkan mu itu."
"Hei, tubuh ku sehat. Aku tidak mau lari pagi, kau tahu aku susah bangun."
"Aku akan membantu mu bangun."
"Apa?"
"Ajak aku jalan-jalan, ke laut."
Aident tampak berfikir, apakah ia harus menuruti perintah wanita merepotkan ini? Ia juga bisa terkena masalah jika tidak berhati-hati, tapi apa salahnya jika membuat masalah sedikit, Aident tersenyum mengangguk menyetujui permintaan Listya.
Wajah wanita itu berseri, ia ingat terakhir kali pergi ke pantai, ia masih sekolah, dan itu sudah lama sekali.
.........
"Ayo, cepat." Listya berlari tak sabar.
Aident keluar dari mobil berjalan dengan santai, dapat ia lihat gadis itu sangat senang hingga berlarian menuju air.
"Hei! Jangan sampai kemeja ku basa."
"Aku tidak perduli! Blekkk." Listya menjulurkan lidahnya mengejek pria itu.
Flashback.
"Aku tidak punya baju pantai." Rengek Listya menatap semua gaun nya.
" Bukan urusan ku, ayo cepat!" Aident tampak tidak perduli dengan pakaian yang akan di pakai oleh wanita itu.
"Ahhh, aku pinjam kemeja mu."
" Terserah..."
Setelah Listya pergi berlari menuju kamar Aident, barulah pria itu sadar, membulatkan matanya sesaat lalu ikut berlari mengejar Listya.
Namun percuma, saat hendak masuk ke kamar, wanita itu tersenyum mengenakan kemeja putih milik Aident.
"Lepaskan! Apa yang lakukan?"
"Ayo cepat, aku sudah tidak sabar." Ucap Listya tak menggubris ucapan pria menjengkelkan itu dan berlalu begitu saja meninggalkan Aident.
Oh ayolah dia sudah cukup sabar, rasanya ingin menendang Listya sampai ia melambung jauh keluar dari rumah nya.
Batin Aident meronta-ronta ingin wanita itu segera pergi dari sini, dengan wajah singa ia mengepalkan tangannya mengikuti gadis itu.
Flashback end
"Hei! Apa yang..." Aident terkejut saat melihat Listya yang sudah masuk kedalam air, hingga hanya setengah tubuh nya yang terlihat di permukaan air.
"Apa yang kau lakukan, keluar dari sana!" Teriaknya.
"Tidak blekkkk!" Listya sama sekali tidak mengindahkan perkataan dari Pria itu.
Aident memijit pelipisnya, wanita ini merupakan hal terburuk dalam hidup nya, bahkan ia belum pernah di perlakukan seperti ini, semua orang takut dan segan pada nya namun hanya gadis ini yang gila.
Aident menatap wajah Listya yang tertawa, itu membuat hati nya sedikit hangat, tapi ia juga baru pertama kali melihat wajah cantik itu senang.
Tak lama ia membuyarkan lamunannya itu, dan masuk kedalam air mengejar Listya yang semakin menjauh dari nya.
" Kejar aku. Hahahaha,,!"
"Tunggu di sana."
Terjadi lah kejar-kejaran antara kedua nya, cukup lama hingga mereka dapat melihat indahnya matahari yang hampir tenggelam, Listya sangat senang namun ia juga kelelahan akibat berlari.
Ia menyerah membiarkan Aident menangkap nya, Aident yang sadar akan gadis itu pun menyudahi permainan.
Mereka bangkit menuju permukaan, namun apa yang terjadi saat Listya keluar dari Air, terasa hidung Aident mengeluarkan cairan merah kental.
Tubuh Listya terekspos jelas karena kemeja itu basah, bra dan ****** ***** nya pun itu terlihat, Aident tak sanggup mengambil sesuatu dari dalam mobil.
"Pakai ini." Ucapnya tanpa memandang Listya.
"Kenapa?" Tanyanya polos.
"Pakai saja, kenapa kau tidak pernah menurut."
"Iya, iya aku pakai."
"Apa yang kau lakukan!!"
Aident semakin panik telinga nya sudah memerah saat Listya membuka kancing kemeja nya.
"Ganti baju."
"Pakai di dalam." Paksa Aident mendorong tubuh wanita itu masuk ke dalam mobil.
"Kau ini kenapa sih! Apa salah ku? Aneh." Kesal Listya selalu salah di mata pria itu.
Astaga ini benar-benar kelewatan, apa yang akan ia lakukan pada wanita sialan ini, dan lagi, ia benci pada dirinya sendiri kenapa ia harus malu, bukankah sudah biasa ia melihat tubuh wanita bahkan telanjang sekali pun.
Karena banyak nya wanita yang ingin menarik hatinya sampai rela melakukan hal-hal yang sangat tidak bermoral. Ya, segala cara dilakukan oleh para wanita yang menggilai nya, namun bukannya mendapat perhatian Aident mereka malah mati dengan pria iblis itu.