
Aident memutar matanya jengah, ia hanya melihat ayolah, apa itu dilarang?
"Kenapa kau tidak pergi?" Ujar Listya semakin sinis.
"Cih, apa urusan mu?" Desis Pria itu menatap tak kalah sinis.
Listya menggerakkan mulut seakan mengatakan hal yang sama dengan pria itu, namun ia tak mengeluarkan suara sehingga Aident terlihat kesal di buatnya.
"Dear, aku ada urusan. Baik-baik di rumah, tunggu aku pulang hmm..." Dehan langsung datang menarik Listya yang duduk di lantai bersama Richard.
Ia mengalungkan lengan kekar nya pada perut Listya, membuat tubuh mungil itu sedikit menabrak dada bidang nya. Kecupan demi kecupan ia berikan tanpa mempedulikan keadaan sekitarnya.
Aident menatap Richard, seperti nya mereka berdua sama-sama di posisi yang tidak mengenakan. Setelah kedua suami istri itu selesai, Aident berdiri mengikuti langkah pria yang bernama Alka itu keluar.
Listya menatap punggung kedua pria iblis itu yang mulai menjauh hingga akhirnya menghilang dari maniknya.
Setelah termenung beberapa saat, ia kembali tersadar saat tubuh besar Richard menggesek pada lutut nya. Kemudian membawa hewan itu ikut untuk ke kamar, ia ingat harus istirahat, terbukti dari kaki nya yang mulai gemetar.
Ini batasnya, ia harus kembali tidur sekarang. Terlihat beberapa perawat datang menghampiri nya. Dan hampir saja ia terjatuh jika salah satu perawat itu tidak memapahnya, di ikuti Richard dari belakang, namun hewan itu seakan memberi jarak pada mereka.
Listya bingung mengapa hewan itu berjalan cukup jauh dari belakang, sementara perawat yang memapahnya kini sedang gemetar hebat kala melihat hewan yang mengikuti dari belakang sana.
.........
Disisi lain dua pria masuk ke sebuah gudang persenjataan dengan gagahnya, para penjaga membungkuk memberi hormat pada mereka berdua.
"Lucyfia, kak masih ingat dengan wanita yang satu ini?" Tanya Aident dengan datarnya.
Alka menyeringai, memilih salah satu senjata di gudang milik nya. Hari ini adalah hari pemeriksaan, gudang senjata dengan ratusan macam senjata ini sangat berharga.
Koleksi king kita di simpan di tempat yang tidak mungkin di ketahui oleh sembarang orang. Pemandangan didepannya sangat penting, lihat semua mata yang berada dalam beberapa toples, ia mengoleksi mata-mata itu dari setiap orang yang telah ia bunuh.
"Kak, apa aku bisa makan malam bersama mu malam ini." Kini Aident berubah sifat aslinya.
" Makan malam?" Ulang Alka membenarkan letak toples yang berisikan mata itu satu persatu.
"Ya, aku sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama." Sejujurnya Aident memang sangat rindu dengan kebersamaan mereka saat ini.
Terakhir kali mereka duduk berdua pada saat Listya datang ke dalam mansion Alka, sejak itu Alka tidak bisa meluangkan waktunya barang sedikit saja pada diri nya.
Ingat, Alka masih kakak kesayangannya, sejauh ini meski sering di marahi, Aident tak berkecil hati karena memang dirinya yang salah.
Alka tak menjawab berlalu pada ruang lain, Aident hanya mengekor kemanapun pria itu melangkah.
"Kak, ada undangan dari keluarga Ocean." Aident menatap kakaknya itu dengan tatapan bertanya.
"Pesta apa?"
"Pertunangan."
"Malam?"
"Ya kak."
Alka mengangguk mengerti lalu berfikir bagaimana jika ia membawa sang istri untuk ke pesta itu nanti nya? Tidak-tidak itu ide yang buruk, saat ini gadis itu sedang dalam masa pemulihan. Lagi pula apa pentingnya pesta itu, tidak ada yang lebih penting dari istri manisnya di dunia ini.
.........
Putri sulung wali kota Fira Flo Rista yang di kabarkan menghilangkan selama berbulan-bulan kini di temukan dalam keadaan mengenaskan di sebuah hotel, mayatnya hampir menjadi tulang saat di temukan oleh staf hotel.
Di duga mayat itu sudah lama di dalam kamar dan di simpan pada lemari es, karena tidak ada yang memesan kamar hotel tersebut. Staf jarang masuk kedalam, yang ternyata menyimpan mayat dari putri sulung walikota.
Listya yang tak sengaja menekan tombol siaran itu di buat terpaku, ia ingat betul siapa wanita yang ada di tv, meski sudah lama wajah wanita itu masih terus tergambar jelas diingatan nya.
Wanita itu yang membuatnya kabur saat pesta, ahhh hampir saja ia bisa kabur waktu itu jika saja orang yang ia tabrak bukan wanita cerewet itu mungkin ia tak ada di sini sekarang.
Tapi untuk apa menyesali hal yang sudah terjadi, namun hati nya tak tega saat mengetahui jika wanita itu sudah tiada sekarang, ia hanya bisa berharap jika ia tenang di alam sana.
Ting...Ting...
Listya berlari menuju pintu utama, saat ini tenaganya kembali terisi karena sudah tidur selama dua jam. Dirinya dan Richard sedang bermain namun suara bell berbunyi membuat nya ingin tahu siapa yang datang.
Alka sudah pulan? Tanyanya dalam hati, namun kenapa membunyikan bell, biasanya hanya penghantar barang yang membunyikan bell itu.
Listya ingin membuka pintu yang besarnya tiga kali lipat dengan tubuh mungilnya, tetapi salah satu maid mendahului wanita itu hingga Listya hanya dapat melihat dari belakang.
"Ada undangan nyonya." Ujar Maid itu.
"Undangan?"
"Iya, ini dari keluarga Ocean."
"Ada apa? Besok malam ada pesta pertunangan dari putra sulung tuan Ocean." Ujar Maid itu di angguki oleh Listya.
Ia menarik undangan itu untuk di lihat sendiri, ternyata benar, sebuah undangan pertunangan. Itu artinya ia bisa pergi bukan, harus lapor dulu ke iblis.
"Bisa beri tahu aku, Siapa itu Ocean?"
"Ocean adalah keluarga ternama di kota ini Nyonya, mereka juga pebisnis handal yang berkerjasama dengan Tuan."
" Ouhh, baik-baik."
"Teman bisnis?"
.........
Alka kembali kekediaman nya di temani Aident yang mengemudikan mobil hitam nya, pria itu akan ingin makan malam bersama nya.
"Kak kita makan di Restoran mana?"
"Di rumah." Ujar Alka datar.
"Kak!!!"
Sesampainya kedua pria itu, Alka mengernyitkan alisnya menangkap Listya yang tiba-tiba melompat ke arah nya. Lihat wanita itu tampak senang saat Richard tak berhasil menjangkau nya dari gendongan Alka.
"Jangan berlari." Ujar dengan wajah masih datar.
"Ya." Listya turun mengelus rambut putih dari kucing itu.
.........
"Kak, kenapa dia ikut juga?" Aident langsung di beri tatapan tajam milik Alka.
Saat ini mereka sudah di sebuah restoran cepat saji, Aident merasa jengkel ketika wanita itu malah ikut bersama.
Bukan ini yang Aident inginkan, ia ingat berbincang berdua dengan Alka, tidak dengan wanita itu yang mendapat perhatian lebih dari sang kakak.
Jika wanita itu ada, maka dunia kakak pasti mengelilingi nya, hanya dia! Oh ayolah, sekali saja jangan lupa jika ia ada di sini.
.........