Don'T Touch Mine Or Die!!!

Don'T Touch Mine Or Die!!!
Chapter: so go



Jika tadi Aident merasa jengkel, kini Alka lah yang merasa jengkel karena baru saja pulang dari restoran, Listya langsung berlari mengambil secarik kertas.


" Kita tidak akan pergi." Ujar Pria itu memasang kaos hitam polos setelah selesai dengan ritual mandi nya.


"Why?" Listya mengerjab tak mengerti.


"because I don't want to go." Ujar pria itu datar membawa Listya ke rengkuhan nya.


"Tapi aku ingin pergi." Listya memohon dengan wajah cemberut nya, yang terkesan begitu manis, dan tidak baik untuk kesehatan jantungnya.


Ia menyeringai, mengecup bibir itu sayang. Dan berlalu pada ceruk leher jenjang itu, ia menghirup dalam aroma manis sang istri rakus, rasanya seperti narkoba sangat memabukkan.


"Ayo kita pergi, jika kau tidak mau aku bisa mewakili mu." Ujar tanpa berfikir.


"Mewakili?" Alka terkekeh mendengar kata itu.


"Ya.." Berakhir dengan ketidak yakinannya.


"Tidak." Alka kembali berjalan meninggalkan Listya di tempat.


Tak mau kalah wanita itu menarik lengan Alka menahan pria itu yang hendak pergi.


"Kau mau kemana?"


Alka membalikkan tubuhnya saat wanita menahan diri nya untuk tidak pergi, ia menatap wajah Listya intens bahkan tidak berkedip sedikitpun.


Listya terkesiap ketika atensi Alka begitu dalam padanya, dan lihat mau sampai kapan ini selesai. Listya melepaskan tautan tangan nya namun seketika Alka menahan tangan wanita itu.


"Ayo tidur." Alka tak mau memutuskan pegangan tangan Listya dan memilih untuk mengajak nya tidur.


Ia tadi hanya ingin turun mengambil sekaleng soda dari dapur, tapi rasa hausnya hilang ketika tangan yang dua kali lebih kecil dari menahan dirinya.


Tangan itu begitu lembut, Alka bahkan mencium punggung telapak tangan Listya berkali-kali, wanita itu melepaskan tangannya, dapat ia lihat tatapan mata Alka yang menajam saat itu juga.


"Kita pergi?"


"Tidak akan." Alka mengalungkan tangannya pada perut Listya membawa wanita itu lebih dekat dengan nya.


"Kita pergi, ayolah."


"Aku lelah Dear jangan memancing amarah ku." Ucapnya.


Itu membuat mata Listya berkaca-kaca, namun ia menahan air matanya dengan susah payah, tetap matanya tak bisa di ajak kompromi dan malah menjatuhkan beberapa bulir di pipi mulus itu tampa seizin nya.


Alka sendiri dapat merasakan isakan kecil dari istri kecilnya itu, ia benci saat di bantah selama ini banyak sekali peraturan yang di langgar little Queen nya, ia tak mau itu terus berlanjut karena dia yang mulai melunak.


Lagi pula apa hebatnya pesta yang dia adakan ocean berengsek itu, kenapa pujaan hatinya sangat ingin pergi. Membuat jengkel saja, dan lihat sekarang Queen nya menangis.


Seperti nya ia akan melarang kurir menghantarkan surat apapun mulai hari ini. Tatapan mulai beralih pada wanita yang sekarang sudah terlelap dan terhanyut dalam dunia mimpi nya.


Dapat ia lihat wajah manis itu dengan sedikit sisa air matanya, tangan kekar itu mengelus wajah lembut Listya dengan sangat pelan, seakan kulit wanita itu serapuh kaca yang bisa pecah dalam sekali sentuh.


Wanita itu tampak menggeliat gelisah, tubuhnya meremang kedinginan. Alka langsung menarik selimut, hingga tubuh mungil itu hampir tertutup sepenuhnya.


Suhu tubuh Listya yang hangat bagaikan penghantar tidur untuk nya, ia ikut memejamkan mata, menyusul Listya masuk ke alam mimpi.


.........


Listya membuka matanya perlahan mencoba merasakan hangatnya tubuh pria iblis itu, ia berniat untuk tidur kembali namun atensinya teralihkan pada wajah sang iblis, meskipun sedang tertidur masih tampak indah dengan bulu mata yang panjang dan begitu lentik.


Dengan hidung mancung serta rahang yang tegas, seolah terpahat sempurna di wajahnya yang berkulit eksotis.


Listya sedikit sedih, jika saja sifatnya sama dengan wajahnya, mungkin ia sudah jatuh cinta pada pria berengsek ini.


.........


Listya terusik dari tidurnya, sesuatu menggesek di hidung mancung kecil nya. Ahhh ia terpaksa membuka matanya, saat merasa geli, dan jangan lupa dengan sesuatu yang berat sedang menindihnya.


Di bukanya kelopak matanya itu perlahan merasakan bulu-bulu halus, ia sedikit bangkit menatap Richard yang sedang menjilati pipinya.


Tubuhnya sesak, ia mencoba melihat kesamping seolah mencari sosok pria yang seharusnya ada di sana, namun nihil pria itu tidak ada.


"Alka!!" Teriak nya kencang dengan suara yang cukup melengking.


Alka yang berada di ruang kerjanya terperanjat kaget, langsung berlari menuju Listya, jantung nya berdetak dua kali lebih kencang karena suara itu.


"Ada apa?" Ucapnya membuka pintu kasar.


"Richard menghimpit kuuuu." Alka kini menutup mata mencoba tenang, akhirnya ia menyunggingkan senyum bersyukur ternyata sang istri baik-baik saja.


"Hey boy, you're so naughty. Don't disturb my queen!" Ujar mencoba menggeser posisi Richard yang ada di atas wanita mungil itu.


"are you okay dear?" Tanyanya mengangkat Tubuh itu agar dapat ia pangku.


Dapat di lihat wanita itu masih belum sepenuhnya sadar dari tidurnya, buktinya ia kembali menutup mata dan bersandar pada dada bidang sang suami.


Alka mengelus Surai cantik itu dengan lembut, tangan nya yang telaten membuat Listya lebih tenang.


.........


"Tuan, seperti nya. King tidak akan menghadiri pesta." Ucap seseorang menunduk pada seorang pria yang sedang menikmati wine di sana.


"Sayang sekali, padahal aku ada sedikit kejutan pada pria itu." Ujar nya kembali meneguk wine itu hikmat.


"Apa kau akan tetap menghadiri pesta tuan rapillius?"


"Tentu saja, kita harus pergi. Akan sangat jahat jika tidak pergi, lagi pula aku ingin memperkenalkan putri ku yang sebentar lagi akan menjadi Queen dari King." Ujar menyeringai.


"Ayahhhh..."


Tiba-tiba seorang gadis masuk langsung memeluk pria itu dari belakang.


"Ada apa sayang ku?"


"Aku tidak mau pergi, jika Alka tidak pergi." Ujarnya mengalun manja pada lengan pria itu.


"Tak apa sayang, kau harus pergi, bukankah tugas mu menghadiri undangan mewakili suamimu kelak." Ia terkekeh mengelus putrinya itu.


"Ayah benar, aku harus ke butik sekarang mencari gaun yang paling cantik."


"Tentu sayang lakukan sesukamu."


.........


"Sayang."


"Lagi, kecup bibir ku."


Entah sudah berapa puluh kali, Listya melakukan itu, ia terus mengucapkan kata 'sayang' dengan segala permintaan Alka.


Di kecup, di peluk, ia muak.


Listya sudah menyerah, kini ia merasa di permainkan oleh pria itu. Ia mendengus langsung pergi dari sana meninggalkan pria itu.


"Dear where are you going?"


"Go." Ucap Listya malas.


"Kau tidak mau memilih gaun?"


Listya membalikkan tubuhnya menatap pria itu yang sedang bersandar pada tembok, ia menunjukkan senyum Devil nya.


"Apa aku boleh memilih."


"Up to you, my Queen."


"really?"