Don'T Touch Mine Or Die!!!

Don'T Touch Mine Or Die!!!
chapter : strange



Dehan berdiri di depan Reksix, dengan


senyum evil miliknya, tak ada yang bisa mengalahkan senyum mengerikan itu


Sementara Aident dan Jack saling menatap, mereka hanya menjadi penonton setia, Namun saat Dehan hendak berbalik dan...


"Shi* !!" Umpatnya, melepaskan peluru yang baru saja mendarat di pinggang nya.


"Aident." Panggil nya.


Aident langsung sigap menahan tubuh Dehan mulai yang melemah.


"Urus dia!" Titahnya sebelum kehilangan kesadaran sepenuhnya.


.........


Kediaman Dehan.


"Bersiap." Ucap Aident dingin.


"Ha? " Listya sama sekali tak paham, apa yang baru saja katakan oleh pria itu.


"Bersiap." Ulang Aident, meninggalkan wanita itu, yang masih duduk santai di ruang tamu.


Pelayan menuntun Listya pergi keruang ganti,


Setelah selesai ia langsung menuju pria yang sedari tadi menunggu diruang tamu utama.


"Ayo." Ucapnya langsung berdiri dari duduknya.


Ada yang aneh kenapa sikapnya hari ini? Mereka masuk kedalam sebuah mobil putih, Aident mengemudi dengan kecepatan di atas rata-rata. Listya melihat ke sekitar, benar-benar sepi dan cukup menakutkan, Ini sudah larut, tak ada seorang pun yang berada di di jalanan, Mobil putih itu menepi ke sebuah bangunan.


Dapat dilihat gedung itu adalah sebuah rumah sakit, berbeda dengan rumah sakit pada umumnya, mulai dari desain dan warna yang gelap, rumah sakit yang satu ini sangat terkenal dan istimewa, seluruh manusia yang di bawa ke rumah sakit ini pasti akan sembuh tanpa cacat, Listya sering melihatnya di acara-acara TV, ia sangat memimpikan akan bekerja disini nantinya setelah lulus, tapi itu semua tak akan pernah terjadi.


Bisa kita lihat kehidupan nya saat ini, meskipun bergelimpangan harta, tapi itu tak pernah bisa menggantikan kebahagiaannya.


Jika ia harus memilih, antara harta dan kebebasan dari iblis itu, meski dunia ini di berikan untuk nya, ia akan tetap memilih kebebasan.


Listya terkekeh, membayangkan jika ia benar-benar bisa bebas dan hidup bahagia dengan keluarganya, Aident membawa gadis itu masuk ke dalam, tentu dengan semua bodyguard yang membuntuti dari belakang.


Ia hanya menatap pria itu bingung, tak biasanya manusia ini serius seperti saat ini, apa lagi wajahnya yang datar sama dengan kakak iblis nya itu, sama sekali tak jauh berbeda.


Enggan untuk membuka suara, Ia lebih memilih diam dengan seribu pertanyaan, Mereka masuk ke sebuah ruang rawat.


Ceklek..


Pintu terbuka, menampilkan sosok pria yang sedang berbaring, sambil menyender pada kepala ranjang. Dehan sedang memainkan ponsel genggam nya, melirik pada dua orang yang baru saja sampai.


Listya mengerutkan dahinya, apa yang terjadi sebenarnya? Dehan mengulurkan tangannya pada gadis itu, dan itu membuatnya terdiam sebentar.


Ia melirik pria yang sedari tadi ada di sampingnya. Dan berjalan pelan menuju pria yang masih mengulurkan tangan nya, gadis itu meraih tangan Dehan dan duduk di pangkuan nya.


Pria itu tersenyum mengambil anak rambut yang menghalangi penglihatan nya pada wajah cantik sang istri. Sementara Sang istri menelan pelan saliva nya dan mencoba untuk tersenyum.


Cklek...


"Kau sudah meminum obat... " Seorang pria tiba-tiba masuk.


"Ahhh adik ipar, kau disini? " Ucap Jeans tersenyum ramah.


Jeans menepuk pundak pria yang hanya diam sedari tadi.


"Kau kenapa? " Tanya Jeans.


Pria itu menatap nya datar lalu menggelengkan kepalanya, Jeans mengangguk mengerti melipat kedua tangannya melihat kedua manusia yang sedang bermesraan.


"Hei kau, sudah minum obat? " Tanyanya.


Seakan tak perduli, Dehan sama sekali tidak memperdulikan pertanyaan pria itu malah sibuk dengan kegiatan mengecup wajah cantik istri tercinta_-


"Apa kau mendengar ku!" Teriak Jeans kesal.


"Hmm." Dehan hanya berdehem menanggapi pria itu.


"Baiklah kalau begitu, aku pergi." Ucapnya membuka pintu, Aident menoleh ke arah nya.


"Aku juga." Ucap nya mengikuti Jeans.


Sementara Listya sudah was-was saat kedua orang itu pergi, bagaimana ini? Pria itu menatapnya datar, dengan tangan tak henti mengelus surai cantik itu.


"what are you doing all day Baby?" Ucapnya menggulung kecil rambut Listya.


Listya hanya diam tak menjawab, tatapan datar yang diberikan pada nya membuat ia bungkam. Ditambah lagi, ia tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, Dehan di rumah sakit dan sepertinya dia sedang terluka.


Mata listya sedikit melirik ke pinggang pria iblis itu, begitu pun Dehan yang menatapnya, ia mengikuti arah pandang gadis itu.


"Ini tak sakit." Ucap Dehan sedikit tersenyum.


Cuma sedikit.


Listya mengerjab kan mata nya dan tersenyum paksa. Apakah Dehan tak tahu jika ia sama sekali tak perduli.


Tentu ia tahu, hanya saja ia berpura-pura percaya jika Listya perduli, itu membuat nya senang. Kini mereka berdua kembali pada keheningan, karena tidak ada yang ingin membuka mulut.


Dehan melirik jam sudah 23.30 malam, bukankah ini adalah waktunya untuk istri mungil nya tidur?


Sungguh ia hampir lupa karena sibuk dengan wajah sang istri yang setiap hari semakin cantik di matanya.


Ya itu menurutnya.


"Ayo tidur. " Ucap Dehan membaringkan tubuhnya dengan sedikit menarik Listya.


"Ada apa? " Tanya Dehan tersenyum.


Ia gugup setengah mati dan menggelengkan kepalanya. Al hasil keduanya tidur dengan Dehan merengkuh badan gadis itu.


Beberapa menit kemudian pintu terbuka, Aident dan Jeans tersenyum melihat keduanya, lebih tepatnya Jeans, karena Aident sedang tidak mood untuk tersenyum hari ini.


Dehan kembali membuka matanya, ia sama sekali tak tidur, hanya memejamkan matanya.


"Ia sudah dikirim. " Ucap Jeans mengambil sebuah pisau kecil dari sakunya dan duduk di atas nakas dengan senyuman aneh pada Dehan.


"Mm." Aident pun ikut menangapi, kali ini sikapnya sama persis dengan Dehan.


"Ini sangat menyenangkan, pria itu pasti sangat sangat mengamuk, saat anak kesayangan nya kembali


" Ujar Jeans terkekeh geli.


Dehan tak mementingkan perkataan kedua orang itu, ia lebih memilih mengelus rambut gadisnya yang sudah terlelap.


"Apa aku bisa pergi ? " Tanya Jeans.


"Tidak, Jack dan Aident yang akan pergi." Dehan.


"Ck baiklah, aku akan menjaga nya." Ucap Jeans tersenyum menatap gadis yang sedang tidur di pelukan Dehan.


Bukan apa- apa, Jeans sangat senang melihat wanita ini, ia pikir mungkin yang menjadi sepupu nya itu harusnya dia, bukan pria yang bahkan tak pernah memanggil nya dengan sebutan Kakak.


"Berhenti menatap nya! " Ucap Dehan tajam pada Jeans yang masih tersenyum.


Seketika Jeans menatap pria itu tak suka, dan kembali menatap pisau kecil yang dari tadi dimainkan olehnya.


"Apa kau akan pergi?" Tanya Jeans.


"Aku sibuk," Ucap Dehan singkat padat dan merayap_-


Ehh salah (JELAS)


"Baiklah." Ucap Jeans melirik pria itu.


Sementara Aident? Dirinya sedikit tersenyum melihat gadis yang  sedang terlelap di rengkuhan sang kakak.


.........


Listya membulatkan matanya melihat sosok gadis yang sedang duduk manis memakan sarapannya.


"Ayo makan. " Ucap nya menyuapi Listya.


Dengan senang hati Listya memakannya, ya benar, sudah lama sekali, ia tak disuapi teman nya ini. Dulu mereka akan saling suap satu sama lain jika di Kampus, tapi ia bersyukur sekarang itu terjadi lagi.


Lucy mengambil tisyu di nakas membersikan sisa makanan di mulut nya. Lalu mengambil satu tisyu lagi untuk membersihkan sisa makanan sahabat manja nya. Dari dulu ia selalu di minta untuk menyuapinya.


"Kenapa kau disini? " tanyanya memiringkan wajahnya lucu.


Ohhh gemasssssnya...


Lucy mencium pipi chubi itu lalu tersenyum.


"Aku di suruhuh untuk menemani mu, Jeans yang bilang kau ada disini." Ucapnya tanpa dosa.


"Kak jeans, iya dia kemarin disini." Ucap Listya mengangguk.


"Dia pemilik rumah sakit ini." Ucap Lucy membereskan tempat sarapannya.


"Benarkah." Mata Listya berbinar mendengar ucapan wanita itu.


"Ya, ini juga merepotkan. Aku harus mengantar makanan, dan menemaninya." Ucap nya


"Bukankah, itu bagus." Ucap Listya bingung.


"Bagus untuknya, aku bosan setiap hari di rumah sakit ini." Jujur Lucy.


Ia tersenyum melihat sahabat nya ini, tentu ia mengerti, ia juga merasakan hal yang sama.


Bedanya Lucy di rumah sakit, ia di mansion pria iblis itu.


Tapi kalau dipikir-pikir Lucy lebih baik dari pada dirinya.


Ia bisa bertemu dengan banyak orang disini, sedangkan dirinya hanya bisa melihat pelayan dan bodyguard yang seperti patung yang hampir tak bicara.


Pelayan hanya akan berbicara seadanya, sisa nya hanya mendengar ocehannya sendiri, padahal manusia banyak, tapi ia merasa sendiri di mansion itu.


Sedih:(


.........


Dehan baru saja sampai di kantor nya dengan wajah datar nan tampan. Semuanya menunduk hormat saat melihat pria itu.


"Kami pergi. " Ucap Jack yang sudah ada disana.


"Hmm." Jawab Dehan_-


Deheman - biasa.


.........


Hai author come back...


Lovely kangen gak?


See you...