
"Ya?" Tanya Listya bingung.
Dehan tersenyum kecut lalu menggeleng-kan kepalanya, ia mengembalikan posisi duduk-nya.
Sekian detik, Mereka beranjak menuju tempat lain, tenang yang membuat suasana menjadi lebih mendalam. Ya tenang itu-lah yang mereka rasakan. Namun hal itu hanya beberapa saat saja, karena tak berapa lama tiga pria yang sedang berteriak gila, menghampiri mereka.
"Ayo cepat-!! Kenapa kalian sangat lemah?" Tawa Jeans pecah karena sudah mendahului James dan Roan.
James dan Roan tersenyum sambil menambahkan kecepatan, mereka terus menerus saling mengejar satu sama lain.
Dan jangan tanya reaksi Dehan saat mereka bertiga berputar putar di hadapannya, wajah pria itu sangat tidak bersahabat, berbeda dengan wanita yang duduk tepat di belakang-nya.
"Semangat-!!" Teriak-nya girang kepada ketiga pria itu.
Dehan menghela nafas kasar mengusap wajah nya, ia tidak mau memikirkan apa-apa lagi sekarang, mengingat ia akan pergi jauh dari kehidupan nya.
Ya kehidupan nya, cinta dan segalanya, wanita, yang sedang duduk di belakang sembari menikmati suasana laut yang meriah akibat cipratan yang timbulkan oleh tiga orang yang tak waras.
Ia memutuskan untuk segera kembali ke daratan meski harus menghadapi, keras kepala wanita itu.
"Kenapa?" Tanya Listya memanyunkan bibirnya lucu, ia baru saja merasa bahagia kenapa pria iblis itu pandai sekali membuatnya kesal.
"Ayo pulang, kita akan kembali ke rumah-!" Titahnya pada seorang bodyguard.
"Jangan, jangan pulang dulu." Rengek Listya memohon dengan segala cara bahkan mengeluarkan jurus manja mematikan nya pun, masih belum bisa membuat iblis itu luluh.
Listya bingung mengapa kali ini jurus nya tidak berhasil, apa yang sedang iblis ini pikiran sebenarnya?
" Ouhh ayolah-!" Listya berjongkok membuat Dehan mau tak mau berhenti melangkah.
"..."
"Ku mohon^^" Ucap Listya kembali menunjukkan wajah memelas dengan sedikit senyuman yang manis.
" Ayo," Tak perduli, pria itu langsung mengangkat sang istri ala bridal style.
"Tungg..guu.... Hey-!" Listya tak tahu harus berbuat apa lagi.
...
Saat ini dua insan akan masuk kedalam sebuah Jet pribadi, seorang pria menggenggam telapak tangan seorang wanita di belakang-nya.
Pria itu tampak datar, mata nya menatap lurus ke depan sedangkan wanita di belakang nya sedang termenung sejenak, pikirannya dibuat kosong karena tak ingin memikirkan sesuatu.
Seketika pria itu menyadari jika sedari tadi sang istri hanya diam tak memberontak lagi, ia tersenyum puas, lalu kembali menatap ke depan. Mereka berdua duduk dengan si pria menuntun wanita itu, setelah melamun sendiri Listya kembali sadar dan menatap jengkel pada pria yang tersenyum lebar pada-nya.
"Kau sangat senang membuat ku sedih." Ujar Listya mengungkapkan perasaan nya.
" Aku tak senang, hanya saja aku tak suka kau terlalu dekat dengan orang lain, selain diriku. Lain kali kita akan pergi berlibur hanya kita berdua." Jujur Dehan mengelus lembut rambut hitam panjang itu.
" Benarkah?"
" Of course." Dehan menganggukkan kepalanya setuju.
" Kau janji tidak seperti ini?"
" Ya aku janji, saat kita berlibur kau bisa bebas bermain." Ucap Dehan lagi.
" Hmm baiklah, kalau begitu aku pegang janji mu." Ucap tersenyum bersemangat.
" Namun sebelum itu, aku akan meminta bayaran terlebih dahulu." Smirk andalan pun terlihat jelas di bibir sempurna-nya.
"A- apa?"
Pria itu bangkit dari duduknya, berjalan perlahan menghampiri sang istri, wajah nya mulai mendekat pada celetuk leher jenjang putih milik sang istri.
Listya meneguk susah Saliva nya, kala pria itu mulai mendekat, ia juga mulai melakukan aksinya dengan menghirup aroma khas Listya dan membuat wanita itu merinding saat nafas sang suami menerpa leher jenjang nya.
Hingga merasa puas, ia pun mengalihkan ciuman itu pada bibir ranum berbetuk hati yang menjadi candu nya setiap saat. Tak tunggu lama, ia langsung mendaratkan bibirnya dengan penuh gairah.
Decapan demi decapan memenuhi ruangan, dua insan itu kini terhanyut dalam hangatnya nafas masing-masing, bahkan wanita yang sempat memberontak itu pun mulai merasakan panas pada tubuhnya.
Ia akan gila, jika pria ini tak menghentikan aksinya, sangat di sayangkan meskipun pikiran kacau, tubuhnya hanya mengikuti apapun yang di lakukan pria iblis itu.
"Hen..tihkann." Ucap nya hampir kehilangan oksigen.
Dengan begitu berakhir lah tautan mereka, Listya merasakan bibirnya akan bengkak akibat perbuatan sang suami, yang berutal sekaligus lembut, mengapa bisa pria iblis ini lembut dan kasar sekaligus.
"Itu bukan bayaran Dear, ini masih permulaan."
Dehan menarik wanita itu beranjak dari tempat duduk.
Dehan menghempaskan tubuh sang istri ke atas kasur yang sudah di siapkan, senyuman nya membuat Listya membulat kan netra nya sempurna, ia tahu benar maksud pria ini.
Oh yang benar saja-!
"Tidak- tidak, tidaaaak-!" Listya berteriak, sudah cukup lama mereka tidak berhubungan, karena itu sangat menyakitkan, meski sudah beberapa kali tetap saja tak nyaman bagi Listya.
Dehan tak menggubris teriakan istri kecilnya, ia hanya bisa mendengar suara yang begitu memabukkan, membuat nya semakin bersemangat tak sabar.
Perlahan membuka kaos santai yang ia kenakan, menindih tubuh Listya, sulit bagi wanita itu untuk bergerak, ia hanya bisa memukul dada bidang milik sang iblis itu.
" Jangan aku mohon,-!"
"..." Tak ada jawaban seperti biasa.
Dehan frustasi kala melihat gaun yang di kenakan sang istri begitu memperlambat gerakan nya, hingga..
Srakk..
Dengan satu kali tarikan membuat gaun itu terbelah, memperlihatkan lekuk tubuh Listya yang begitu indah. Dehan kembali mencabik-cabik gaun itu, hingga benar-benar membuat tubuh Listya terpampang jelas.
" Hey hentikan-! " Tangisnya pecah sembari menjambak rambut hitam milik iblis itu.
Karena sekarang bra yang ia kenakan terlihat jelas, mata nya tak bisa melihat jelas wajah pria itu karena air mata yang tak kunjung berhenti.
Dehan terkekeh, lalu tetap pada kegiatan nya membuat Kissmark di seluruh permukaan tubuh istri mungilnya.
Rasanya tangisan itu begitu merdu, sudah cukup lama ia tak mendengar nya, sejak mereka melakukan nya beberapa Minggu lalu.
...
" Kenapa mereka pergi tanpa memberi kabar?" Tanya Jeans pada para bodyguard.
" Maaf tuan saya tidak begitu mengerti." Ucap bodyguard itu apa adanya.
"Baiklah kau boleh pergi." Ujar Roan.
Saat ini suasana nya begitu sepi, Rose, Lucy dan Jessica membuat rencana ini untuk sahabat mereka, tetapi mengapa kacau begini?
" Sebaiknya nya kita juga kembali, besok kita harus mengurus kepergian-nya." Sambung Lart.
Jeans baru ingat, benar-! Bocah itu akan pergi besok, sementara itu Aident sudah tak ada lagi di hadapan mereka, ia sudah ikut menyusul.
" Baiklah Ayo." Ujar Jeans.
" Tapi Honey?" Lucy menggenggam lengan Jeans.
" Kita harus pergi, kita sudah cukup bersenang-senang." Ucapnya lagi menarik Lucy dengan tatapan datar.
" Ayo beb." Kini Lart juga ikut menarik Jessica.