Don'T Touch Mine Or Die!!!

Don'T Touch Mine Or Die!!!
Chapter : Banana milk



Hari ini seperti biasa Listya sedang sarapan bersama dengan pria iblis itu, Dehan memandang istrinya itu gemas, pasalnya Listya masih kesal padanya.


Tapi apa pedulinya yang penting Listya tak kemana-mana dan tetap bersamanya.


.........


Aident bersiap memakai jaket hitam lengkap dengan sarung tangan dan helmnya, ia tersenyum melihat motor kesayangan nya yang sudah di perbaiki akibat hancur saat kecelakaan.


Satu tempat yang ia tuju saat ini, rumah Dehan, dengan kecepatan tinggi, membelah angin yang berhembus. Setelah sampai, ia langsung masuk kedalam mansion itu dengan girang.


"Mana kakak?"


"Tuan sedang sarapan."


Setelah bertanya pada pelayan, Aident mengangguk dan duduk di ruang tamu menunggu Dehan selesai.


.........


"Kau masih marah?"


Listya sudah selesai dengan makanan nya, meninggalkan Dehan dan pergi begitu saja.


Dehan tersenyum smirk.


"Hukuman apa yang pas untukmu dear, kau sudah mengabaikan aku, dan tak memakan vitamin mu." Ucapnya.


"Tuan, ada tuan Aident ada diruang tamu."


Dehan berdiri meninggalkan meja makan, menuju menuju ruang tamu. Namun sebelum itu ia menyuruh pelayan membuat sesuatu untuk istrinya.


Sedangkan Listya sekarang berada di kamar menonton film di laptop.


"Nyonya, tuan menyiapkan sesuatu untuk mu."


"Apa? "


"Mari ikut saya nyonya."


Listya langsung mengambil langkah mengikuti pelayan itu, Ia mengerutkan keningnya kebingungan, kenapa malah ke dapur?


"Nyonya tunggu sebentar, saya akan membuat nya."


Listya mengangguk dan duduk di kursi dapur.


Ia tampak aneh melihat pelayan itu memotong banyak sayuran dan itu membuat bergidik ngeri.


Sayuran? dia benci sayuran, selama ini ia terpaksa karena tidak mau memilih makanan dan membuat Dehan marah.


Hanya satu kata untuk sayur, Pahit


Sayuran itu pahit dan dari kecil ia tak mau makan sayuran.


.........


Setelah beberapa saat membicarakan sesuatu dengan Aident, Dehan ke ruang kerjanya untuk mengambil beberapa berkas penting.


Dan Aident? Ia pergi ke dapur, dapat ia lihat sosok Listya yang sedang membuka kulkas mengambil sesuatu.


"Pelayan buat aku makanan, aku belum sarapan."


"Sebentar tuan, akan saya buatkan."


Listya melihat Aident, ia berfikir bagaimana jika ia berteman dengan nya dan mungkin Aident akan berbaik hati membawa anjingnya lagi.


Listya tersenyum iblis lalu duduk di samping Aident .


Aident menatapnya sebentar lalu memutar matanya malas.


"Bagaimana bisa, kakak menikah dengan dada datar seperti mu." Ucapnya to the point.


Bagaimana bisa dia bicara seperti itu, dilihat dari manapun Listya ini body goals apa matanya rusak?


Listya terkejut mendengar ucapan pria itu dan mencoba mengatur emosi nya. Listya menarik nafas mencoba tersenyum.


"CK." Jungkook berdecak melihat wajah sok manis itu.


Padahal memang manis, apa lagi dengan pita merah muda di rambutnya yang serasi dengan dress yang ia kenakan.



Tak bisa di pungkiri memang Listya cantik, dan Dehan saja hampir hilang kendali saat melihat Listya memakainya.


Untung Aident benci jadi ia tidak tertarik dengan gadis itu, kalau tertarik bisa jadi masalah kan.


"Hei, apa aku punya salah padamu? "


Aident hanya menatap nya tak berniat untuk menjawab.


"Kenapa kau membenci ku?, padahal aku ingin berteman dengan mu." Listya menunjukkan senyum maksimal nya, menampilkan gigi yang berbaris rapi.


Aident mengalihkan pandangan nya ke tempat lain.


"Apa kita bisa berteman?, apa kau mau membawa anjingmu kemari lagi? " Tanyanya penuh harap.


Aident terkekeh, ternyata itu motifnya.


"Apa yang aku dapatkan dari semua itu? " Tanya Aident kembali menatap Listya.


"Ahh, jika kau mau jadi teman ku aku akan memberimu susu."


Aident menatap dada Listya yang berbalut dress.


"Dada mu datar."


Listya membulatkan matanya, oh ini sudah keterlaluan, Listya menyilang kan kedua tangannya seolah menutupi dadanya dari pandangan mesum pria itu.


"Susu pisang, susu pisang bodoh." Ucap Listya emosi menunjukkan susu kotak yang ia ambil dari kulkas.


"Heh, aku bahkan bisa membeli pabriknya." Ucapnya sombong.


"Yasudah, dasar otak mesum." Ucap Listya bangkit dari duduknya.


Listya sampai lupa susu kotak rasa pisang itu masih di atas meja,vIa berjalan meninggalkan dapur, berpasan dengan Dehan.


Listya membuang muka enggan menatap Dehan, apalagi mood nya sedang tak bagus.


"Lepaskan. " Ucap Listya memberontak.


"Kau sudah memakannya? " T


"Makan apa? Lepaskan aku mau ke kamar." Listya masih memberontak.


"Ck aku benci ini, jangan membantah ku." Ucap Dehan sedikit menaikkan suaranya, hanya sedikit kok.


Listya langsung berhenti memberontak dan menunduk takut, ia lupa nyawanya ada ditangan orang ini.


Dia sadar jika terlalu besar hati hingga tak tahu sedang mempertaruhkan nyawa.


Dehan menariknya kembali ke dapur.


"Pelayan." Ucap Dehan membuat semuanya terkejut begitupun Aident yang sedang meminum susu pisang yang diletakan Listya tadi.


"I..ini tuan ." Ucap pelayan itu gagap memberikan sebuah salad.


Dehan mengambil dan kembali menarik Listya duduk disebelah Aident. gadis itu masih menunduk, ya tuhan jantung nya berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Makan ini! jangan sisakan, jika kau sisakan aku akan memberikan hukuman yang lebih berat." Titah Dehan menaruh piring berisi salad itu di tangan Listya.


Listya mengangguk tak berani menatap pria itu,


Dehan menarik nafas dalam-dalam mencoba tenang agar tak membuat gadis nya takut.


"Aku pergi dulu, jangan sisakan, ingat!" Ucapnya mengecup wajah Listya.


.........


Dehan pergi menuju garasinya



Mengambil mobil dan pergi diikuti beberapa mobil dari belakang.



Aident juga ikut bersama Dehan mereka seperti nya akan melakukan sesuatu.


...


Listya menatap salad itu tak minat, tapi apa boleh buat, ia harus menghabiskan semuanya.


Sesekali Listya memuntahkan salad itu, tapi ia tetap memakannya sampai tak bersisa.


Pelayan disana sebenarnya merasa kasian tapi itu juga untuk gadis itu, Listya harus selalu sehat jangan sampai Sakit. Dehan tak mau Listya sampai sakit.


.........


"Keparat kalian! " Ucap seorang pria paruh baya terduduk lemah, dengan darah di sekujur tubuhnya.


"Apa kau menyukai nya tuan Jefford , bukan kah kita sudah sepakat agar tak saling mengganggu kenapa kau malah mencari masalah denganku." Ucap pria lainnya dengan smirk khasnya.


"Pergilah ke neraka bersama komplotan mu yang kotor itu." Ucap orang yang disebut tuan Jefford.


"Hahahaha, lucu sekali bukankah kau yang kotor? " Ucap Dehan menyeringai.


"bawa wanita itu." Ucap Aident.


"Akhhh." Pekik seorang wanita di lempar ke lantai dengan kasar.


"Erina!! Lepaskan dia dasar sialan." Jefford menatap tajam Dehan.


"Kenapa? Seperti nya kau sangat menyayangi jala*g mu ini, ketimbang istri mu sendiri? " Ucap Dehan menginjak telapak tangan Jefford.


"Akhh!!" Jerit nya.


"Apa kau ingin melihat perselingkuhan, seperti yang lakukan pada istri mu? " Tanya Dehan membungkuk mensejajarkan tubuhnya dengan Jefford.


"Apa kau ingin mendengar wanita mu mendesah tapi bukan karena kau ?" Tanyanya lagi dengan smirk yang tak luntur.


"Lakukan." Perintah Dehan pada anak buahnya.


"Tidak lepas, lepaskan aku lepas." Wanita itu berteriak saat ditelanjangi.


"hentikan! " Raung Jefford mencoba bangkit tapi ditahan oleh anak buah Dehan yang lainnya.


"Akhhh hhhhh ahhhk." ******* atau lebih tepatnya teriakan dari wanita itu.


"Tidak,,, Erina. tidak! kau berengsek, persetan kalian semua. " Sumpah Jefford ketika melihat wanitanya diperkosa tepat didepan matanya.


Atau lebih tepatnya selingkuhannya.


Anak buah Dehan bergantian memperkosa wanita itu hingga darah mengalir dari selengkangan nya.


Wanita itu tak bergeming matanya masih terbuka lebar. Wajahnya pucat, Jefford pun berteriak histeris.


"Bagaimana? " Ucap Dehan yang tak mengalih kan pandangannya dari Jefford.


"kau persetan, biadap, kurang ajar kalian semua. " Sumpah Jefford tak henti-henti.


"Aident aku bosan, ini terlalu mudah?" Ucap Dehan memegang sebuah pisau.


Aident tersenyum langsung mengambil pisau dari tangan Dehan.


"Dengan senang hati." Ucapnya, oh saat ini ia sangat senang melihat Dehan.


Aident menusuk mata Jefford, mencongkel mata itu keluar.


"Akhhhkkkk..."


Lalu menusuk perut dan seluruh tubuh Jefford hingga berwarna merah seutuhnya.


Dan tak ada perlawanan lagi, ia telah tiada.


"Ayo pergi. " Ucap Dehan.


.........


Ok lovely sini dulu...


See you..