
Terasa hening tanpanya. Hanya ada kami bertiga disini. Dia bersenang-senang disana begitu juga berlibur untuk mereka. Ditambah dengan dia didampingi dengan salah satu murid yang terdaftar dalam BAKNUS. YAH. Baknus adalah buku angkatan di SMA Bakti Nusa. Buku yang berisi catatan tentang murid-murid yang berpengaruhi di sekolah ini. Baik itu murid yang berprestasi, tercantik, wajah tanpan, bandel, dan semacamnya. Semua akan tercatat dalam buku tersebut. Sedangkan kami.
Kami disini mendengarkan sejarah yang membosankan yang selalu disampaikan oleh guru yang membuat kami jenuh dan merasa ngantuk.
"HWOUUU." Oni menguap dengan bersuara sampai-sampai pak Didi pun berhenti berbicara dan melihat suara apa tadi.
"Oni..." tegur Didi tegas. Oni langsung duduk dengan tegak setelah namanya terpanggil. "Kamu ceritakan kembali apa yang bapak katakan barusan."
Tanpa berpikir panjang Oni langsung menceritakan apa yang dikatakan pak Didi terakhir kalinya. Dan Oni pun menceritakan bahwa pak Didi memanggil nama Oni karena Oni sendiri menguap dengan keras tanpa ditutup. TAMAT.
"Bapak tambahkan hukuman kamu menjadi 2 bulan," kilahnya sambil membereskan buku yang tertera di mejanya.
Oni pun langsung membulatkan matanya setelah mendengar tambahan hukuman dari Pak Didi. Sedikit protes. Namun Oni tetap kalah dari guru tersebut.
Kelas Pak Didi telah selesai.
"Pak Didi ini main nambah-nambah hukuman aja. Yang ini juga belum selesai," gerutu Oni.
Gina dan Afra hanya terkekeh mendengarnya. Sambil merapihkan meja mereka yang akan bergegas pulang juga menunggu Oni yang sedang menyeselesaikan hukuman dari pak Didi.
"Bukannya bantuin sahabatnya malah nontonin aja," sindir Oni.
Afra dan Gina mengabaikannya dan mentertawakan apa yang dilakukan Oni sebelumnya. Karena kesal dan bosan Oni melihat handphonenya. Banyak update dari akun sekolanya.
"Gilaa si Hana menang banyak nih. Nggak nyangka Hana bisa pasangan sama Fauzi."
"Hana yang biasa aja tapi lo yang hebohnya," timpal Afra.
Sambil menggendongkan tasnya. "Lo tahu kan anak itu pelupa apalagi sama nama orang. Seorang Fauzi yang tercatat dalam nomer urut Baknus pertama juga dia nggak tahu," protes Oni.
"Namanya juga Hanna," sambung Gina. "Yaudah gue ke ruang MPK dulu ya ada urusan dulu."
"Yahh deh yang mau lengser," canda Oni.
...****************...
Hanna yang berada di arena perkemahan merasakan tubuhnya merinding dan bersin.
"HWCUHHHH."
"Lo nggak papa, Na?" tanya Fauzi sedikit kawatir dengan kondisi Hanna.
"Nggak papa," jawab Hanna senyum.
Pasti ada yang ngomongin gue nih. Batin Hanna.
Peristiwa saat Hanna melihat Fauzi sedang dipukuli, Hanna langsung menanyakan bagaimana keadaannya. Tapi ketika bertemu dengannya di sekolah, Fauzi baik-baik saja. Tidak ada sedikit pun rasa sakit atau luka di wajah atau bagian tubuhnya yang lain. Dan dia pikir dia salah melihat bahwa itu bukan Fauzi.
"Semua panitia ayo berkumpul ...." Suara seseorang dengan memakai alat bantu pengeras suara.
"Ayo udah disuruh kumpul," ajak Hana kepada Fauzi.
Mereka pun berkumpul di tempatnya. Baik dari peserta maupun panitia mereka berada disana. Berbaris dengan rapih dibawah teriknya matahari. Banyak peserta yang tumbang karena kelelahan ataupun sakit. Setelah selesai upacara penutupan. Kami semua masih belum dibubarkan. Sebagai panitia kami tidak tahu apa yang akan mereka lakukan. Padahal jadwal setelah upacara adalah bertamasya bersama para pembimbing juga pesertanya. Tak lama teriakan dari keamanan menguncang telinga kami. Teriakan yang terdengar akan memarahi kami semua. Memang benar kami semua diuji mental, dimarahi, dan selalu dipersalahkan apapun yang kami bicarakan dan diperbuat. Tidak memandang peserta ataupun panitia. Kami sama-sama terkena dampaknya juga. Terutama sebagai pembimbing para peserta didik.
Karena salah satu keamanan mempersalahkan tugas dari panitia. Yang membuat panitia tersebut tidak bisa melawannya kembali, dan Hanna pun dengan refleknya memberikan intruksi untuk membela panitia tersebut karena tidak bisa diam saja melihat dia selalu dipersalahkan.
"Instruksi. Sebelumnya saya minta maaf. Tapi, mereka sudah menjalankan tugasnya masing-masing yang terpenting adalah tugas kewajibannya. Dan yang kamu bicarakan adalah hanya tugas di luar tanggungjawab mereka."
Tak terima keamanan pun langsung bertindak kembali. Mereka hanya mencari-cari kesalahan dari kami agar mereka dapat menjalankan tugasnya. "Kamu siapa? panitia apa hah?" tantangnya.
"Saya Hanna Mafaza sebagai pembimbing. Seharusnya kamu tahu semua panitia disini." Hanna tanpa sadar sedikit menyindirnya karena sudah memuncak kekesalannya.
Keamanan merasakan apa yang dikatakannya barusan tertuju padanya yang sebelumnya mengatakan seperti itu. Dan Hanna membalikannya kepada mereka. Dia langsung menghampiri Hanna. Berkata, "Berdiri kamu!"
Hanna pun mengikuti instruksinya.
"Kamu menantang kami?" teriaknya kembali.
Hanna sedikit tersenyum sinis. "Saya bukan mau melawan. Tapi membela apa yang menurut saya benar. Kalau kamu dengan mudahnya mencari kesalahan dari apa yang kami lakukan. Apakah kami juga boleh seperti itu terhadap kamu? Atau semua panitia?"
"Kamu... Benar-banar---" geramnya.
"Maaf saya belum selesai berbicara. Seharusnya kamu tidak memotong pembicaraan saya. Kamu juga tidak mau diperlakukan seperti ini, kan?"
Hanna menarik nafas dalam-dalam dan semakin memberanikan diri. Peserta maupun seluruh panitia terdiam dengan ucapan yang dikatakan oleh Hanna. Mereka berpikir bahwa Hanna bisa-bisa dengan santai mengatakan itu.
Semua yang sudah terkumpul di dalam otaknya sudah dilontarkan keluar yang membuat semuanya merasakan lega.
...🦄🥀...
...Bersambung ......
...______________...
...Rilis 11/01/2020...
...Revisi 30/06/2020...