
Di sekolah.
"Akhirnya istirahat juga."
Hanna, Gina, dan Afra baru saja keluar dari kelas.
"Pulang sekolah langsung ke rumah sakit?" tanya Afra.
"Boleh, sambil kita beliin makanan buat Oni sama tante," balas Gina.
DERT DERT DERT
Dering ponsel Hanna berbunyi di dalam tas terdengar oleh teman sekelasnya Hanna. Karena terus berbunyi dan mengganggu dirinya, dia pun memanggil Hanna yang masih berada di pintu kelas dan membawa tas Hanna kepada Hanna.
"Hanna," panggilnya. Hanna menengok. "HP lo bunyi terus." Dia memberikan tas Hanna.
"Ohiyah makasih."
Hanna pun langsung mengambil ponselnya yang berada di dalam tas. Setelah itu tasnya ia gendong karena susah untuk dipegang. "Kak Bella?" Dia begitu senang mendapat panggilan dari Bella, kakak tirinya. "Gue angkat telepon dulu yah. Kalian duluan aja," papar Hanna.
Gina dan Afra angguk. Hanna pun meninggalkan tempat ini.
"Hanna lebih ceria sekarang yah setelah ketemu kak Bella," ujar Gina.
Afra hanya tersenyum dan dia sangat bersyukur waulaupun tak ia ucapakan.
Hanna mengangkat telepon tersebut sembari berjalan ke sembarang arah.
📞 Sedang bertelepon.
Â
"Hallo kak Bella."
"Hallo sayang...Hanna, sekarang kamu lagi di sekolah, kan?"
"Iyah, Kak"
"Kemarin kakak ke rumah tapi kamunya lagi di luar yah?"
"Duhh kakak ke rumah? Kenapa nggak kasih tahu dulu Hanna sih. Maaf yah kak kemarin tuh Hanna di rumah sakit nemenin Oni, ibunya sakit dirawat," terang Hanna.
"Ohgituh. Sekarang keadaannya gimana?"
"Alhamdulilah udah siuman dan udah membaik, Kak."
"Syukur alhamdulillah. Yaudah kalau kamu udah nggak sibuk kabarin kakak ya."
"Iyah kak siap laksanakan."
"Kakak tutup yah kamu jaga diri."
"Oke kak. Kaka juga disana jaga kesehatan."
Telepon telah berakhir.
Hanna begitu senang, senyuman yang terukir pun belum hilang dari bibirnya. Namun, ketika dia menyadarinya. "Eh gue dimana nih?"
Dia sibuk menelepon sampai dia berjalan kemana saja. Dia juga berjalan maju untuk kembali menemui teman-temannya tetapi ketika ada sesuatu yang terdengar.
SREKK KRESEKKK SREKK
"Suara apaan itu?"
Karena penasaran Hanna menemui suara tersebut. Dan ternyata. Ada murid laki-laki yang mencoba untuk bolos.
"Heh lo mau bolos yah?" teriak Hanna.
Murid itu menengok ke arah belakang dan ternyata. "Hanna?"
"Fauzan? Fauzan kan?" Hanna menghampiri Fauzan. "Lo ngapain disini? Mau bolos?"
Fauzan yang melihat Hanna pun sepertinya sama. "Lo juga mau bolos?"
"Gue? Bolos?" Bingung Hanna. "Haha hahaha."
Hanna terkekeh mendengar hal itu. Namun seketika tawa itu mereda. Dia membulatkan matanya, dia mengerti kenapa Fauzan mengira dia akan bolos sekolah. Karena dirinya menggendong tas dibelakangnya.
"Lo salah kira gue nggak pernah bolos tau." Menegaskan.
"Terserah lo aja. Gue mau cabut." Sambil menaiki barang-barang yang sudah disusunya untuk melewati tembok sekolah ini.
"Ihh lo jangan bolos Fauzan!"
Ditariknya tas Fauzan oleh Hanna sehingga Fauzan terjatuh mengenai Hanna yang ikut terjatuh juga dan Fauzan berada di atas Hanna dengan tangan yang menahan.
Deg Deg Deg
Mereka terdiam sejenak sambil memandang satu sama lain. Suhu disini sangat hangat nafas mereka sangat dekat. Detak jantung mereka begitu kencang.
PLEUITTTT PRITTTT ......
Suara peluit terdengar. Hanna dan Fauzan langsung menoleh ke suara tersebut. Dan ternyata pak Ujang sebagai satpam di sekolah ini melihat kami apalagi dengan posisi seperti ini.
"Ahh..!" Fauzan segera bangun. "Han buruan bangun kita harus cabut." Membantu membangunkan Hanna.
"Kalian sedang apa disana? Hah?!" teriak Ujang dari arah samping namun jaraknya masih jauh dari tempat kami.
Fauzan memberikan topi yang diambil dari tasnya. "Pake. Sebelum mang Ujang kesini liat wajah lo. Kita harus kabur."
Sambil menyusun kembali barang-barang disini menjadi tumpukan. Hanna pun memakai topi tersebut.
"Katanya harus kabur, tapi lo malah nyusun kaya ginian," gerutu Hanna.
"Kita kabur lewat sini," kilah Fauzan.
"Maksud lo kita bolos sekolah gitu?" kejutnya. "Gue nggak mau."
Berdiri diam dengan tegak.
Tiba-tiba Fauzan menarik lengan Hanna menyuruhnya lebih awal untuk menaiki tembok tersebut agar selamat dari penglihatan pak satpam.
"Naik Hanna. Kalau lo diem disini kita berdua yang kena masalah."
Akhirnya Hanna menuruti perkataan Fauzan.
"HEI!! JANGAN KABUR KALIAN!!" teriaknya. Pak satpam segera berlari menuju ke arah kami.
Yang akhirnya kami pun berhasil lolos dari kejaranny namun untuk hari ini dan kita tak tahu apa yang akan terjadi esok hari.
Disini Hanna terus menerus mengomel kepada Fauzan. Dan banyak bicara.
"Gimana kalau gue ketahuan? Wajah gue tadi keliatan? Gimana .. gimana kalau gue sampai dikeluarin. Gimana nasib gue besok?"
Hanna benar-benar gelisah.
Namun Fauzan hanya diam mendengarkan omelan tersebut dan tersenyum melihat Hanna yang bawel. Hanna yang melihatnya langsung memukul Fauzan.
"Aww." Merengek sakit dan kaget.
"Malah diem, senyum-senyum sendiri. Lo nggak panik apa?" decit Hanna.
"Lo tenang aja. Sekarang yah sekarang besok yah besok. Lo pikiran aja yang sekarang,"
jelas Fauzan.
"Enak yah bilang gitu. Gue kan nggak kayak lo Fauzan," keluh Hanna.
"Kita nikmatin hari ini dan besok lo tenang aja. Oke?"
Fauzan berusaha agar Hanna tidak gelisah. Tapi, Hanna malah berdiam karena kesal.
"Kalau lo diem berarti setuju."
"Apa?" Hanna sedikit terkejut dan kembali memalingkan wajahnya.
Mereka berjalan keluar dari gang kecil ini. Ada sebuah kendaraan sepeda motor beroda tiga, yang di belakangnya memiliki kelengkapan seperti gerobak yang bisa mengangkut barang-barang. Suara Fauzan membuat Hanna kebingungan pasalnya, dia memberhentikan pengendara sepeda motor roda tiga itu.
"Pak Sapri..."
Motor roda tiga berhenti.
"Eh si ujang Fauzan geningan."
"Mau kemana pak?"
"Biasa nganterkeun barang. Ari Ujang bade kamana? Teu sakola?"
Hanna diam dengan mereka yang asik mengobrol.
"Sekolah tapi mau nganterin temen, temen saya sakit, Pak." Seketika Fauzan meraih tangan Hanna untuk menopang pada pundaknya. Hanna tersentak kejut.
"Ish apaan sih?"
Fauzan berseri-seri kakuk. "Temen saya pucat kayak ginih jadi saya mau nganterin pulang." Fauzan mengisyaratkannya untuk bersikap seperti orang sakit, tapi tetap saja Hanna tidak paham sama sekali. Dia mendekat untuk berbisik. "Pura-pura sakit, biar nggak ketahuan bolos."
Hanna paham. "Ohok ohook...." Segera dia berpura-pura batuk. "Ohok..."
"Tuh batuk juga..." Fauzan berakting seolah dirinya khawatir pada Hanna.
"OHOK OHOK..." Dan suara batuk dibuat-buat semakin keras.
"Lo nggak papa?" Panik Fauzan pada Hanna. "Pak, kayaknya saya harus nganterin temen saya ke dokter. Bapak mau nganterin kita?"
Apa?
Naik motor roda tiga ini?
"Yaudah naik-naik, bapak anter... ayok."
Fauzan membawa Hanna berjalan ke arah kendaraan roda tiga ini. "Lo seriusan? Naik ini?"
"Emang kenapa?"
"Ini kan..."
"Udah siap belum?" tanyanya.
"Oh bentar pak bentar," sela Fauzan. "Ayok naik." Meminta Hanna segera menaikinya. Dengan perasaan ragu, Hanna pun naik. Mereka duduk di belakang.
Semilir angin terasa oleh kami. Hanna sedari tadi berdiam kesal dengan Fauzan. Dugh.
"Awww...!"
Kepala Hanna terbentur karena motor ini tiba-tiba berhenti. Ternyata lampu merah. Dan Fauzan diam-diam saja melihatnya kesakitan, membuatnya semakin kesal.
"Lo mau nyulik gue yah?" cicit Hanna.
"Enggak."
"Terus lo mau bawa gue kemana? Bisakan kita turun, ganti naik angkot aja."
"Enggak bisa."
Hanna mengerucutkan bibirnya kesal. Tapi di mata Fauzan, Hanna menjadi menggemaskan.
Mana bisa gue naek mobil. Batin Fauzan.
"Ehh Neng punya pacar ganteng ginih kenapa dimarah-marahin?"
Hanna terpelongo dengan apa yang dikatakan ibu-ibu barusan. Pacar.
"Iyah eneng ini gimana sih? Mas ganteng nggak papa, kan?" tanya ibu-ibu yang satunya lagi.
"Nggak papa. Pacar saya nanti juga jinak lagi." Mengangkat halisnya sambil tersenyum.
Fauzan malah meladeninya.
"Pacar?" kejut Hanna. "Jinak?"
Hanna menatap kesal tapi kali ini Fauzan tersenyum meledekinya.
Emangnya gue hewan dijinak-jinakin. Batin Hanna menggerutu.
Lampu sudah hijau. Sebelum kendaraan yang kami tumpangi ini berjalan. "Neng kalau udah putus, pacarnya buat ibu aja yah."
Hanna hanya tersenyum tidak ikhlas mendengar terus-menerus celotehan ibu-ibu di dalam angkutan tersebut. Tapi akhirnya sekarang terlepas, suara itu sudah tidak terdengar. Dan ternyata Fauzan tersenyum lebar saat ini. Baru kali ini dan akhirnya Hanna bisa melihat Fauzan tersenyum lebar dan tertawa. Hanna pun terikut tersenyum melihatnya. Namun tetap saja masih kesal.
"Pak Sapri, kita turun di sini aja."
Kendaraan berhenti.
"Didieu wae? Kan rumah sakit na masih jauh."
"Di sini aja, Pak. Temen saya bilang mau langsung pulang ke rumah aja, nggak mau ke rumah sakit."
"Ohh.. rumah na dimana? Yaudah naik lagi, sama bapak dianterin."
"Nggak usah pak, takut ngerepotin. Lagian rumah saya udah deket kok. Ohok.." Ternyata Hanna masih berakting.
Pak Sapri diam berpikir sejenak. "Mm yaudah atuh bapak oge kedah engal-engal nganterkeun barang ieu."
"Iyah pak maaf jadi ngerepotin."
"Teu kunanaon." Ketika hendak pergi. "Jang tong isin isin sama bapak mah, kalau neng ini pacar ujang Fauzan."
Bapak itu mendengarkan pertengkaran tadi dengan ibu-ibu yang ada di angkutan.
Fauzan hanya berseri kakuk.
"Bapak pergi dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Makasih pak Sapri," ucap Fauzan.
Kendaraan Pak Sapri telah pergi melaju.
Fauzan menoleh untuk melihat Hanna. "Apa?" sungutnya, Fauzan terperanjat.
"Sama-sama," ucap Fauzan lalu pergi.
"Sama-sama," gerutu Hanna menatap kepergiannya. Tidak lama kemudian ia mengikuti kemana Fauzan pergi.
"Lo kenal sama bapak-bapak tadi?"
"Hem, pak Sapri namanya."
"Ih lo udah bohong sama pak Sapri."
"Emangnya lo nggak bohong?"
"Kan gue disuruh sama lo. Jadi, dosa kebohongan gue ditanggung lo."
Fauzan diam menatapnya malas. Terus berjalan entah Fauzan ingin mengajak Hanna kemana.
"Lo mau ngajak gue kemana sih? Gue udah capek."
"Bentar lagi juga nyampe," balas Fauzan.
Langit terlihat cerah tapi kenyataannya, turun hujan membuat mereka berlari menghindari hujan.
"Ih ih hujan.."
Melihat Fauzan yang sudah berlari tanpa menunggunya.
"Fauzaaaaaan tungguin gue...." teriak Hanna dan kemudian berlari menyusuli Fauzan.
Akhirnya kami pun sampai di suatu tempat. Hanna membacanya plang tersebut Radio Kasih. Tempat ini adalah stasiun radio. Mereka sampai dengan pakaian mereka yang sedikit basah karena hujan.
Fauzan tersenyum kecil melihat Hanna yang sedikit kesal karenanya. Fauzan pun masuk diikuti Hanna. Seseorang pun menyapa Fauzan.
"Eh, Bro. Wahh keujanan nih?"
Fauzan dengannya bersalaman.
"Dikit," jawab Fauzan.
Melihat Fauzan tak sendirian datang.
"Cewek lo Zan? Lo bawa bolos juga tuh?" kekehnya.
"Bukan. Temen gue," terang Fauzan.
Tadi dibilang pacarnya, terus hewan jinak, sekarang temen, terus nanti apalagi? Pembantu?
"Kasian tuh cewek lo bajunya basah. Di ruangan gue ada kaos yang belum gue pake, lo ambil aja buat cewek lo ganti, kasian.",
"Temen, Bang." Fauzan memperjelas.
"Otw jadian kan?" ledeknya. Kemudian tertawa melihat ekspresi Fauzan. "Ahahah..."
Sampai lupa tidak memperkenalkan diri. Teman Fauzan itu memperkenalkan dirinya terhadap Hanna.
"Gue Gilang." Memberi jabat tangan.
"Hanna."
"Kalau gitu welcome to our radio station. Lo enjoy aja disini. Gue masih ada urusan nih sorry yah gue tinggal dulu," katanya.
"Lo tunggu disini Han. Gue ambil bajunya dulu." Hanna mengangguk. Fauzan kembali melihat ke arah Gilang. "Sorry ngerepotin lo, Bang."
"Santai," balas Gilang.
Fauzan pun beranjak pergi.
"Maaf bang jadi ngerepotin," kata Hanna.
"Alah nggak masalah." Gilang tersenyum.
Seketika Gilang mengatakan sesuatu yang membuat Hanna terdiam. Gilang pun pergi setelah mengatakan itu.
"Hanna." Fauzan memanggil.
Hanna pun langsung menghampirinya. Hanna memandang Fauzan cukup aneh, membuat Fauzan pun merasa aneh dengan tatapan Hanna tersebut.
"Kenapa?"
"Enggak."
"Yaudah sana ganti baju, ini." Fauza menyerahkan pakaian.
"Terus lo?"
"Baju gue nggak basah, yang basah cuman jaket." Segera dia melepaskan jaketnya. "Gue tunggu disana."
Setelah Hanna mengganti pakaian, ia pun menghampiri Fauzan yang tengah duduk.
"Lo penyiar radio disini?" tanya Hanna setelah duduk.
Fauzan hanya mengangguk.
"Wah wah." Hanna bertepuk tangan. "Nggak nyangka lo jadi penyiar radio lantas lo kan nggak banyak bicara. Hehehe."
Fauzan menatap malas. Ternyata lebih mengenalnya sangat menyebalkan.
"Sejak kapan?" tanyanya kembali.
"Emmm." Fauzan masih berpikir dan melirik wajah Hanna memandang cukup lama. "Sejak gue ketemu seseorang dan juga kenal sama bang Gilang."
"Seseorang? Cewek?" tanyanya lagi menebak-nebak.
Fauzan berdiam sambil memandang Hanna.
Hanna menunggu jawaban darinya sampai kesalnya lama tidak dijawab.
"Yaudah kalau nggak mau cerita." Sedikit kesal dan segera mengambil selembaran brosur di atas meja.
Fauzan tersenyum melihatnya. "Ngambek?"
"Enggak," tawar Hanna sambil melihat-lihat brosur di meja.
Tiba-tiba Fauzan mengatakan sesuatu. Di pun akhirnya bercerita. Bercerita bahwa beberapa tahun yang lalu ia mengalami masalah sehingga ia melarikan diri dari rumah. Seketika itu dirinya bertemu seseorang. Dia, gadis yang tengah rapuh, seperti dirinya saat itu. Gadis itu berteriak sangat kencang membuat dirinya merasakan hal sama dengan gadis itu. Mereka berdua sama-sama bersedih.
Hanna jadi memikirkan apa yang dikatakan bang Gilang tadi, yang berbisik padanya.
"Fauzan itu orangnya tertutup, dan punya trauma."
"Trauma apa bang?"
"Gue nggak bisa cerita. Tapi, Fauzan pobia naek mobil."
Ah pantes aja diajak naek angkot, nggak mau. Batin Hanna.
"Kenapa bang Gilang ngasih tahu Hanna?"
"Gue mau minta tolong sama lo, buat dia bisa terbuka. Dia butuh orang yang ada di sisinya, biar bisa berubah. Lo tahu kan, dia sering barantem. Lo bisa?"
Itulah apa yang membuat Hanna terdiam setelah bang Gilang membisikkan informasi tentang Fauzan. Dan akhirnya, Hanna berhasil membuatnya sedikit terbuka.
Â
"Dari situ gue tahu sangat sulit untuk mengungkapkan apa yang ada dalam hati, sesuai dengan keinginan kita. Dan setelah itu gue pun kenal sama Gilang," ungkap Fauzan.
"Jadi, menjadi penyiar radio lo bisa sepuasnya ngungkapin sesuai kata hati dan nggak ketahuan sama orang lain gitu?" tebak Hanna.
"Yah, emm bisa dibilang kayak gitu."
"Jadi siapa gadis itu? Lo tahu namanya?" tanya Hanna dengan santai sambil melihat-lihat brosur yang ada disini.
"Emmm..."
"Apa jangan-jangan gadis itu cinta pertama lo juga yah? Cieee Fauzan anak bucin," goda Hanna.
Fauzan menjadi malas mendengar Hanna yang mengejeknya. Hanna pun masih tertawa melihat reaksi Fauzan itu.
Tiba-tiba Hanna mengatakan sesuatu. "Cerita lo persis apa yang gue alamin dulu."
Â
Fauzan merasa bersalah mengundangnya mengingat masa lalu. Dia tahu bahwa masa lalu Hanna sangatlah menyakitkan begitu juga dengan masa lalu dirinya. Meski Hanna tidak tahu apa hubungannya dengan masa lalu keduanya. Hanya Hujan yang tahu.
...🦄🥀☔...
Â
...Rilis 14/03/2020...
...Revisi 19/07/2020...