
Sepulang sekolah Gina bersama Afra mengikuti ekstrakurikuler olahraga basket. Walaupun Gina kutu buku tapi ia juga tidak lepas dari itu untuk mengikuti ekskul lain. Saat bersamaan mereka berdua dengan senangnya melakukan aktivitas tersebut.
Nasrul bersama Aji masih berada di sekitar sekolah karena mereka sedang mengerjakan proyek cipta lagu untuk band mereka yang baru di acc oleh kepala sekolah ini untuk mengikuti Pentas Cipta Musik Muda. Setelah selesai untuk pekerjaan hari ini, mereka berdua pulang. Saat itu juga mereka melihat ke sisi lapang. Adanya beberapa siswi yang sedang bermain basket. Salah satunya mereka berdua tertuju pada Gina dan Afra.
Masih dalam permainan Afra meminta izin untuk berhenti dan keluar dari lapangan. Afra meminta ijin untuk pulang lebih awal karena harus menjemput adiknya yang hampir selesai les.
"Gina, sorry gue harus cabut duluan," kata Afra sambil membenahai tasnya.
Dan Gina pun ikut keluar dari permainan. "Kenapa?"
"Gue harus jemput ade, soalnya nyokap gue lagi sibuk," jawab Afra mendendeng tasnya pada sebelah pundak. "Sorry yah."
"Nggak papa hati-hati Fra." Sambil mengelap keringat pada wajah dengan handuk.
Afra pun beranjak pergi dari sini. Berpapasan dengan Aji dan Nasrul. Aji menyapanya namun oleh Afra tidak membalasnya, ia dengan cueknya melewati. Dan Nasrul yang melihatnya tertawa puas kepada Aji. "HAHAHAHAH."
"Diem lo." Aji memukul dengan pukulan kecil pada tubuh Nasrul.
Dan mereka berdua menghampiri Gina.
"Haii Gin." Sapa Nasrul sambil mengelus-ngelus tubuh yang sakit karena pukulan Aji.
"Haii."
"Ehh gue balik duluan yah," sahut Aji mengkode untuk Nasrul. Dan Aji berbisik. "Pepet terus bro Ginanya nanti adik kelas lo yang namanya Gadis biar sama gue." Setelah berbisik Aji pun langsung beranjak pergi.
"Dahh Gina." Aji melambaikan tangannya.
Dasar lo Ji bisa aja. Dalam hati Nasrul.
"Kapan pulang?" tanya Nasrul.
"Bentar lagi." Gina duduk sambil minum.
"Kalau gitu mau bareng?" tanyanya.
Gina tersedak minum setelah mendengar ajakan dari Nasrul.
"Lo nggak papa, kan?" Membantu desakan Gina.
"Hmm yah nggak papa." Gina tersenyum malu.
"Mantan ketos lagi pdkt'an nihh sama mantan bu ketu mpk." Sorakan dari siswa-siswi yang masih berada disini.
Nasrul adalah mantan ketua Osis alias ketos. Dan Gina mantan ketua Mpk. Mereka berdua Gina dan Nasrul hanya tersenyum mendengar ledekan dari teman-temannya.
Beberapa menit akhirnya Gina selesai.
...****************...
Afra telah tiba di sekolahan adik perempuannya yang masih kecil. Namanya Dhea berumur 8 tahun. Afra menjemputnya.
"Teh Afra...."
Afra tersenyum, adiknya salam padanya. "Gimana belajarnya tadi?" Sambil berjalan menuju mobilnya yang terparkir.
"Seru, Teh. Coba-coba tadi dede dipuji sama ibu guru, ibu guru bilang gambar dede bagus."
"Ohyah?" Mata Afra berbinar senang mendengar cerita antusias adiknya itu.
"Yah teh. Ih teteh mah nggak mau percaya terus sama dede. Bentar..." Sambil membuka resleting tasnya, mengambil sebuah buku gambar untuk diperlihatkan pada kakaknya itu. "Nih.. nilainya berapa coba? Itu tuh paling tinggi di kelas dede." Bangganya.
Afra tersenyum sedikit meledek karena gambaran adiknya. Yah bagus untuk seusianya, mungkin bakat kedua orangtuanya bisa turun pada Dhea. "Wii bagus, dong. Harus gitu pinter. Nanti disana bapak bangga sama kamu."
"Beneran teh?" Harapnya.
"Iyah, dong."
"Kalau gitu dede bakal jadi anak yang pinter biar bapak disana bangga punya Dhea."
"Oh harus. Bapak pasti bangga punya anak kayak Dhea. Kamu juga harus jadi anak yang sholehah, pinter, baik, nurut sama mamah sama teteh."
"Kenapa Sholehah? Kan dede anaknya dari bapak Ridwan Sugianto sama ibu Siti Nurhaliza."
"Hahahaha...." Afra malah tertawa terbahak-bahak dengan tingkah lucu adiknya. Yah terkadang mereka juga saling berantem di rumah. Tapi mereka juga saling memberi kasih sayang satu sama lain.
"Ih teteh mah malah ketawa," jengkelnya.
Adik kakak itu pun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan sekolah dasar ini.
Tapi di suatu tempat yang tidak jauh dari keberadaan adik kakak tadi ada seseorang yang melihatnya. Dia adalah Aji dengan skateboard nya.
"Itu adiknya?" Terukir senyuman darinya. "Kalau di luar aja senyum terus. Kenapa di sekolah jutek abis. His nyeremin." Setelah menggerutu Aji melanjutkan perjalanan menggunakan skateboard untuk pulang.
...****************...
Mereka berdua pulang bersama menaiki mobil. Masih awal-awal masuk sekolah pada saat MPLS Gina dipertemukan dengan Nasrul. Mereka berdua adalah siswa-siswi terbaik saat itu. Tidak lama dari itu Gina selalu kagum terhadapnya dengan prestasi yang selalu diraihnya dan Gina pun ingin seperti itu. Dan yang lebih menjadikan Nasrul terkenal di sekolah selain dia adalah ketua osis, dia juga anak dari guru killer kita yaitu pak Raja.
"Makasih Nasrul udah mau nganter gue sampe rumah." Dengan senang hati Gina mengungkapkan.
"Sama-sama." Nasrul tersenyum lebar.
"Yaudah gue masuk yah," balas Gina sambil melangkah kedepan namun masih saja selalu menengok ke belakang untuk melihat Nasrul apakah sudah pergi atau tidak.
Tak lama Nasrul memanggilnya. "Gina."
Gina berhenti dari langkahnya dan berhadap pada Nasrul dari jauh.
"Kalau besok gue jemput gimana?" tanya Nasrul.
..."Suatu perasaan tidak bisa kita bohongi untuk selamanya"...
...- Gina Karisa -...
...****************...
Hanya dengan kaos sederhana yang sering dipakai untuk berdiam di rumah, dia keluar rumah untuk membeli kecap di warung dekat perumahan di sini. Saat memasak nasi goreng tapi kecapnya habis.
Menunggu pemilik warung mengambil kecap. Hanna melihat sepeda motor ninja berwarna putih melaju dengan pemiliknya memakai helm hitam yang tertutup rapat. Motor itu berhenti di depannya, turun dari motor tanpa melepas helm yang dipakainya. Tanpa disadari tatapan Hanna terus tertuju pada pengemudi motor ninja tersebut.
"Bu... ada plester?"
"Ada, Jang. Antosan sakedap." Ibu warung itu bersuara di dalam sana.
Ada keheningan di sini. Sedikit bosan karena menunggu lama, Hanna menggerakkan kakinya dalam permainan melayang kecil sambil melihat ke bawah.
"Neng Hanna ieu kecap na."
Akhirnya pesanannya datang.
"Berapa bu?"
"Lima rebu."
Hanna pun mengeluarkan uang dari saku celananya. Dan ibu warung bersuara lagi namun pada pembeli laki-laki yang memakai helm tersebut.
"Jang, ieu plester na."
"Berapa bu?"
"Bade sabaraha hiji? Hiji na sarebuan."
"Satu," kekehnya. Ibu warung itu memberikannya dan langsung menerima bayaran dari pembeli itu. "Kembaliannya dibeliin permen bu."
"Oh muhuun atuh. Hatur nuhunnya, Jang." Ibu warung itu kembali kepada Hanna.
"Ini bu." Hanna memberi uang sepuluh ribu lebih dari yang harus dibayarkan. Ibu itu pergi untuk mengambil kembaliannya.
Pembeli yang memakai helm itu sudah berada di samping motor tersebut. Dia melepas helm dari kepalanya. Hanna nanap ketika melihat siapa dibalik helm itu.
"Fauzi?" Tapi Hanna segera tersadar. "Eh bukan itu pasti kembarannya." Karena ia tahu kalau itu Fauzi pasti akan menyapanya. Dan dia sama sekali tidak menyapa padanya.
Setelah memakai plester di jidatnya, Fauzan memakai helm nya kembali dan menaiki motornya dan pergi. "Hobinya emang berantem ya. Beda banget sama Fauzi." Hanna bergumam.
"Neng Hanna ini kembaliannya."
"Ha iyah. Makasih bu." Pamit Hanna setelah menerima uang kembalian.
...🦄🥀☔...
...Rilis 16/01/20...
...Revisi 12/07/20...