Diary Of A School: Me And Yu

Diary Of A School: Me And Yu
BAB 54 Aku adalah Hujan



Berlanjut....


Afra dan Oni baru saja sampai di sekolah. Mereka berjalan untuk melihat keberadaan Gina. Namun, Afra selalu meledek Oni karena dia telah mendapatkan pengakuan cinta dari rekan seperjuangannya, Tyo.


"Cieee ..." Afra menyentuh pipi Oni.


"Diem deh... gue lagi galau."


"Kalau gitu lo terima aja kenapa ditolak?"


"Nggak gampang Afra... Gue nggak mau pacaran jarak jauh apalagi kalau inget bokap yang nyakitin ibu gue gara-gara selingkuh," kelakar Oni.


Dirinya mengingat kekesalan pada ayahnya.


......................


Gina masih berada di ruangan Bimbingan Konseling (BK). Mengurus berkas-berkas untuk masuk ke Universitas.


"Sudah lengkap bu."


"Semoga kamu bisa mendapatkan beasiswanya."


"Aamiin. Makasih bu kalau begitu saya pamit. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Gina pun keluar dari ruangan tersebut.


"Udah ahh jangan bahas itu jadi makin galau gue," gerutu Oni disela-sela berjalan.


Dan kemudian Oni sudah melihat Gina yang baru saja keluar dari ruangan.


"Gina...." sapa Oni dengan teriakannya.


Gina tersenyum menyapa. "Kalian mau masuk?"


Afra angguk. "Gue masuk dulu yah."


"Iyah."


"Oni lo nggak masuk?" tanyanya Gina.


Oni masih terdiam merasa gugup. "Gin. Gue.. masih khawatir sama masa depan gue."


"Lo harus yakin, berpikir positif, bertawakal dan yang paling utama adalah lo harus selalu berdoa dan bekerja keras."


Gina menyemangati sahabatnya itu. Tapi Oni masih saja murung.


"Gue takut kalau gue nggak lulus di jalur ini."


"Kegagalan itu wajar Oni, dengan adanya itu orang bakalan bangkit. Nggk hanya ada satu cara buat kita mencapai sesuatu tapi masih banyak cara lain untuk menggapainya," tutur Gina.


".... Mana Oni yang selalu ceria dan selalu berpikir optimis."


Gina berusaha membangkitkan semangat sahabatnya.


Oni pun langsung tersenyum ceria. "GUE PASTI BISA!"


"Semangat!!!"


"SEMANGAT.....!! Gue masuk dulu yah, Gin."


Gina mengangguk dan tersenyum senang.


...****************...


Fauzan mengajak Hanna ke tempat yang lebih sejuk seperti ini. Hanna merasa sedikit kedinginan di tempat itu. Fauzan memberi Hanna minum. Mereka duduk dengan nada sejuk dan indah dengan kebun teh yang terlihat.


Kami menikmati minumannya.


"Zan," panggilnya. "Udah belajar?"


Fauzan menggeleng sembari meminum minuman hangat itu.


"Kalau boleh tau impian kamu apa?"


Fauzan melirik ke arah Hanna, ia masih terdiam dan memikirkan suatu hal. "Em keliling dunia dan berpetualang."


Hanna tersenyum tampak senang mendengar impian orang lain. "Alasannya?"


Fauzan berpikir sejenak. "Gue pengen kenal dunia." Tiba-tiba Fauzan tersenyum. Kata-kata yang dia ucapkan terdengar seperti apa adanya. "Sebisa mungkin gue pengen ngubah cara pandang gue pada dunia. Karena gue tahu gue hanya sebagian kecil dari hidup dan kita tidak tahu apa-apa tentang kehidupan."


Hanna terdiam dan takjub bahwa Fauzan memiliki mimpi yang luar biasa dan kata-katanya sangat halus.


"Lo sendiri gimana?" tanya Fauzan kali ini.


"Aku.. dari dulu aku mau bebas. Yah, bebas," terang Hanna senyum. Namun dibalik itu terdengar sendu. "Bisa memilih jalan yang kita sukai tanpa adanya tekanan dan paksaan. Tapi."


"Tapi?"


"Tapi sekarang, aku nggak tahu apa tujuanku setelah aku terlepas dari orang tua ku. Hah.. aku belum nemuin apa yang ku sukai."


Tepatnya untuk mimpinya. Hanna tidak mau salah memilih.


"Coba lo sebutin satu-satu apa yang lo suka, apapun itu gue akan bantu."


Ini kesempatan Fauzan. Bahwa dirinya akan membantu Hanna dalam tujuan hidupnya sesuai keinginannya.


Fauzan dan Hanna berjalan-jalan di sekitar sini di kebun teh sementara Hanna mengingat dan menyebutkan satu per satu kesukaannya. Dari mulai makanan, barang-barang maupun kegiatan yang sering dilakukannya.


"Chef?"


Hanna langsung menggelengkan kepalanya.


"Penyanyi?"


Hanna sering mendengarkan musik, tapi. Tidak untuk menjadi penyanyi.


"Penulis?"


Hanna sedikit memberikan sinyal dan tersenyum, tapi hanya sebentar. "Mungkin. Aku suka."


Fauzan terus berusaha untuk menemukan apa yang diinginkan Hanna.


...****************...


Di Sekolah.


Afra dan Oni selesai dari ruangan Bimbingan Konseling (BK) kemudian mereka berjalan bersama Gina sesuai arahan tersendiri di setiap lorong sekolah dan terlihat asik mengobrol. Saat mereka melewati lapangan sekolah. Seseorang memanggil kami.


"Kak Afra. Kak Gina..."


Afra dan Gina maupun Oni yang tidak terpanggil semuanya menoleh ke suara yang berada di tengah lapang.


"Kak ayok maen."


Mereka adalah adik-adik kelas kami. Mereka mengajak kami untuk ikut bergabung bermain basket.


"Mau?" tanya Gina kepada Afra.


Afra tersenyum dan mengangguk.


Afra dan Gina segera memasuki lapangan dan ikut bergabung bersama adik kelas mereka.


"Hei! Kalian ninggalin gue sendirian..." rengek Oni.


Namun Afra dan Gina mengabaikannya.


"Lo duduk aja di sana, liatin kita maen," saran Afra.


Oni melingkarkan tangannya di dada dan sedikit cemberut. Dengan terpaksa dirinya harus menunggu mereka asik dengan hobinya di lapangan.


Tit tok tik tok


Permainan di mulai dan lumayan sudah cukup lama. Oni yang tengah duduk sembari menonton sahabatnya tiba-tiba seseorang memanggilnya.


"Oy ... Oni."


Oni segera menoleh untuk melihat dan itu adalah suara Aji yang datang bersamaan dengan Tyo juga Nasrul. Oni memalingkan tatapan pada Tyo agar tidak saling bertemu. Aji dan Nasrul kemudian tertawa melihat tingkah mereka.


"Diem Ji!" Perintah Oni.


Tyo sedikit canggung terhadap Oni saat ini karena kejadian tadi malam bahwa dirinya mengajak Oni untuk berpacaran namun ditolak.


"Udahlah kalian baikan aja, lupain kejadian kemarin," usul Nasrul.


"NGGAK BISA!" "NO!" Teriak Oni dan Tyo bersamaan.


"Cieee... barengan," goda Aji. "Jelas nggak bakalan bisa dilupain sama mereka, itu momen terindah sekaligus menyakitkan."


Ejekan yang mengena.


"You are annoying," decit Tyo pada Aji dan Nasrul. "Ayok tanding."


Nasrul dan Aji saling bertatapan.


"... Kita tanding basket kalau gue menang mulut lo pada diem buat ngejek gue sama Oni hari ini."


Nasrul dan Aji saling bertatapan kembali. "Oke ayok."


Sementara itu, Oni yang melihat pertarungan mereka hanya menggelengkan kepalanya. Tyo dan Nasrul yang sudah berada di tengah lapangan bersiap untuk bertanding satu lawan satu dan membuat Aji menyerahkan pertandingan ini kepada Nasrul untuk bertarung dengan Tyo.


Pertandingan pun dimulai.



"Shit! Kalah cepet," umpat Tyo.


Nasrul langsung mendapatkan satu point.


Afra dan Gina yang terheran-heran setelah Tyo mengehentikan permainan bola basket kami bersama adik kelas dan menyuruh kami untuk keluar lapangan.


"Sebenarnya ada apa sih Oni?" tanya Gina.


"Kenapa mereka bisa tanding gitu?" sambung Afra.


Oni pun melirik sekilas pada Aji yang berada di antara kami. "Gara-gara orang ini nih ..." Sindirnya. "Sama Nasrul ngejek gue sama Tyo"


Gina dan Afra kemudian ber'oh.


Mereka pun kembali pada pertandingan Tyo dan Nasrul di lapangan sekolah. Namun disisi lain Aji malah mencari kesepakatan untuk berdekatan dengan Afra.


...****************...


Hanna terus bercerita tentang dirinya pada Fauzan.


Saat itu, Fauzan merasa kepalanya sakit dan pendengarannya tidak cukup jelas untuk mendengar suara Hanna. Begitu pun dengan matanya yang kabur.


Kenapa kambuhnya harus sekarang. Batin Fauzan merasa kesakitan.


Hanna menyadari ada sesuatu yang aneh pada Fauzan. "Fauzan kamu kenapa?"


Fauzan berusaha menutupi kesakitannya itu. Namun tak lama sakit itu mereda dan menghilang.


"Kamu baik-baik aja kan?" tanya Hanna khawatir.


"Gue baik-baik aja." Fauzan senyum.


Hanna begitu lega bahwa Fauzan baik-baik saja. "Kita istirahat dulu."


Fauzan dan Hanna beristirahat dahulu berhenti di pohon yang besar dan sejuk.


"Dari apa yang lo ceritain ke gue. Gue tangkep lo tertuju pada hal-hal seperti berkomunikasi seni," ujar Fauzan namun tidak begitu yakin.


Hanna menyimak dengan serius.


"Ah gue tahu..."


"Apa?" Hanna begitu menantikan apa saran dari Fauzan.


"Akhir-akhir ini lo suka jadi penyiar radio kan?"


Hanna mengangguk.


"Jawabannya tepat semua kesukaan lo ada di jurusan ini." Fauzan sedikit bangga dapat membantu Hanna. "Gimana kalau lo masuk jurusan Ilmu Komunikasi?"


Saran tersebut membuat Hanna berpikir dan benar hal yang dilakukannya itu sangat menyenangkan dan membuat hati tenang. Saran dari Fauzan akan Hanna pikirkan dan juga menyakinkan dengan apa yang disukainya.


"Kamu bantu aku Fauzan buat yakinin kesukaanku," harap Hanna.


Fauzan tersenyum. "Kita harus ketemu sama bang Gilang, setidaknya itu akan membantu."


Hanna mengangguk senang.


JGEER .....


"Ahhh... !!!!"


Hanna terperanjat dengan suara petir yang tiba-tiba saja muncul dan terdengar.


Hujan pun mulai turun.


Rintik ... Rintik ... Rintik ... Hujan ...


Hanna melirik ke arah Fauzan. Fauzan tengah menahan tawa.


"Kenapa ketawa?"


Fauzan tidak menjawab dan masih menahan tawa kecilnya. Ia tersenyum.


"Kalau ketawa-ketawa aja aku kan udah pernah bilang."


JGEER ...


"Ahhh ... !!"


Hanna semakin mendekat dengan tubuh Fauzan karena takut. Hanna memandang Fauzan. Fauzan menyadarinya pun memandang balik. Seketika Hanna tersenyum. Mengingat kembali kebersamaan dirinya dengan Fauzan.


"Kenapa setiap aku lagi sama kamu selalu turun hujan?" tanyanya. "Kamu emang pembawa hujan yah."


Fauzan senyum.


"Fauzan, Hujan... Ah. Uzan? Haha..."


Fauzan tersenyum mendengar hal tersebut. Fauzan mengambil permen dalam sakunya. "Mau?"


Hanna tersenyum dan mengambilnya. "Aku kira kamu mau kasih sapu tangan lagi."


"Sapu tangannya kan masih di elo."


"Oh iyah heheh." Hanna malu sendiri, dia belum mengembangkan sapu tangan miliknya.


"Sekarang beda lagi," lanjutnya. "Kamu kasih aku permen waktu hujan. Kalau orang lain pasti kasihin jaketnya." Hanna melirik pada Fauzan. "Nggak bakalan minjemin nih? Dingin."


Hanna mengkode bahwa dirinya benar-benar kedinginan. Fauzan pun langsung melepaskan jaketnya dan memakainya pada Hanna. Hanna tersenyum senang.


Hanna dan Fauzan benar-benar akrab sekali tanpa malu-malu. Terkadang akur, berdebat meskipun Hanna yang paling berisik.


"Lo ga takut lagi sama hujan?"


"Enggak. Mungkin karena gue nggak sendirian, jadi gue nggak takut," balasnya.


Fauzan senang lalu menatap lurus menikmati rintikan hujan. "Aku adalah hujan, kalau tidak suka silakan berteduh."



Dan keduanya tertawa bersama di bawah gerumu hujan.


Tapi ketika hujan nyata, aku akan menjadi payung mu untuk berteduh.


Hati Fauzan.


...🥀☔...


...Rilis 23/05/2020...


...Revisi 04/08/2020...