Diary Of A School: Me And Yu

Diary Of A School: Me And Yu
BAB 51 Sunday (2/2)



Berlanjut....


Fauzan tiba di suatu tempat, berada di kota kelahirannya. Terlihat rumah yang cukup besar di kota Jakarta. Dia melihat rumah itu dengan hati-hati. Dia turun dari sepeda motor


"Alamatnya bener."


Seseorang sedang mengawasinya. Dia berjalan mendekat. "Permisi, mas, ada yang bisa saya bantu?"


Fauzan menengok ketika dirasa ada seseorang menanyainya. Dia membungkukkan kepalanya untuk menyapa. "Maaf, Pak. Apa alamat ini benar disini?"


Pria itu memeriksa kertas dengan alamat rumah tertulis di atasnya. "Oh, benar, ini rumahnya. Apa mas mencari Nyonya Diana?"


Fauzan langsung merasa lega. "Ya Pak, saya sedang mencarinya."


Tapi.


"Ohh, tapi rumah ini udah kosong mas udah pindah. Nah.. sudah kurang lebih dua tahun, nan lah mas, ”lanjutnya.


Fauzan sedikit terkejut, ia merasa kecewa, gagal dan terlambat. "Kalau boleh tahu, bu Diana pindah kemana yah pak?"


"Seinget saya.. mereka pindah ke luar negeri, Mas. Em, kalau nggak salah sih Belanda, yah Belanda ikut sama suaminya."


Fauzan terdiam mendengar kabar tersebut.


"Mas siapanya?" tanya orang itu seketika


"Hah? Saya... kenalannya, ada perlu sama bu Diana," jawab Fauzan asal.


Pria ber'oh.


"Kalau gitu, terima kasih, Pak."


"Yah yah, saya permisi." Orang itu pun pergi.


Fauzan berhenti lagi untuk memikirkan sesuatu. Bagaimana dia harus mencari lagi, ini ketiga kalinya dia gagal dan sudah terlambat untuk bertemu dengannya. Ketika dia mengatakan tidak pergi ke sekolah untuk membuat Fauzi berbohong kepada semua orang disitulah Fauzan pergi untuk mencari alamat rumah seseorang. Tapi benar-benar nihil saat itu. Dan ia kembali lagi untuk mencarinya, terlambat, mendengarnya telah pindah, kesempatan ini terlalu jauh karena sangat jauh dari perbedaan antar negara.


Bagaimana cara menemukan alamat baru di luar negeri?


"Sebaiknya gue temui ayahnya dulu. Gue harus siap apa yang terjadi nanti."


...****************...


Tak terasa sudah siang hari. Afra dan Aji telah meninggalkan pameran. Kemudian Aji memutuskan untuk makan siang. Dan tidak jauh dari lokasi pameran, ada yang berjualan bakso.


"Makan bakso disini nggak papa?"


Mereka sudah memesan sambil menunggunya, Aji mulai berbicara.


"Harusnya gue yang nanya kayak gitu ke elo," timpal Afra.


Aji terkekeh. "Walaupun gue anak konglomerat, gue orangnya apa adanya dan tidak pilih-pilih." Kembalinya Aji menjadi orang yang menyebalkan, ingin terlihat keren.


"Sombong," sindir Afra namun tersenyum.


"Hehehe..."


"Permisi, Neng, Mas," kata penjual bakso sambil meletakkan makanan di atas meja kami.


"Makasih, Mang."


Afra dan Aji pun langsung memakannya.


"Hanna di rumah lo?" tanya Afra.


"Kok tahu?" tanya Aji balik.


Afra sambil mengaduk bakso agar bumbu tercampur. "Sehari pun gue sama yang lainnya nggak pernah terlewat, selalu chatan."


Aji tersenyum, mengingatnya bayang-bayang masa lalu. "Gue jadi inget pas ketemu lo pertama kalinya."


"Kenapa?"


"Masih sama jutek." Aji pun tertawa kecil. Afra menatapnya malas. "Tapi gue sangat berterima kasih karena lo mau mengawali pertemanan sama Hanna."


Afra terdiam sejenak. Mengingatnya kembali.


"Sebenarnya bukan gue yang mengawali."


Mereka mengobrol sambil asik memakan bakso.


"Maksudnya?"


Aji tidak paham.


"Mungkin Hanna nggak ingat sekarang atau gara-gara penyakitnya. Tapi, gue selalu inget kejadian waktu itu," ungkap Afra membuat Aji penasaran.


"Gue jadi bingung apa yang lo bicarain," balas Aji. "Bukannya kalian pertama kali ketemu di sekolah."


Afra tersenyum. "Gue udah kenal Hanna lama. Jauh dari sebelum, Hanna ngalamin masa lalu yang menyakitkan itu."


Aji pun berdiam sejenak meletakkan sendok. "Lama? Bukan pertama kali di sekolah?"


Aji benar-benar bingung dengan pembicaraan ini.


Afra mengangguk senyum, dengan tatapan sendunya. Ia mengingat kejadian dimana ia masih anak-anak mungkin sekitar umur yang akan beranjak 10 tahun, tapi Afra tidak pasti juga.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


2011th


Sebelum ayahnya meninggal ia bekerja sebagai pemimpin untuk melaksanakan proyek pembangunan. Dan saat itu Afra diajak ke sana karena ingin ikut bersama ayahnya. Afra dan ayahnya sangat dekat. Kemudian, karena bosan, Afra berjalan-jalan di sana dan menemukan seorang anak kecil seperti dirinya.


Kami saling memandang satu sama lain. Anak itu tersenyum kepadanya.


"Afra.."


Afra juga mengalihkan pandangannya ke belakang. Ayahnya memanggilnya.


"Iyah, Pa..." Afra berlari ke arah ayahnya.


"Kamu lagi maen?"


Afra masih terdiam. Ayahnya pun melihat sosok anak kecil di depannya tidak terlalu jauh.


"Itu kan Hanna," ucapnya. "Kita kesana yuk." Sang ayah mengajaknya menemui anak kecil itu.


"Hallo om," sapa anak kecil itu.


"Hallo, Hanna."


"Bapa itu siapa?" tanya Afra.


"Hanna, sini." Menyuruhnya mendekat. "Kenalin ini anaknya om, namanya Afra."


Hanna pun mengulurkan tanganya. Afra sedikit ragu, tapi ia menerima uluran tangan itu. "Afra."


"Aku Hanna."


Tiba-tiba seorang pria dengan setelan jas hitam rapi menghampiri kami bersama seorang perempuan yang masih remaja.


"Ternyata ada disini," ucapannya. "Pak Ridwan ada yang mau saya bicarakan, bisa kita bicara sebentar."


"Oh baik, Pak. Mari," balas Ridwan. Lalu melihat pada putrinya. "Afra, ayah mau kerja dulu. Afra tunggu disini yah. Jangan nakal," sambungnya.


"Iyah, Pa," balas Afra.


Orang dewasa telah pergi dan mereka melanjutkan pekerjaan mereka. Kecuali remaja ini.


"Temen kamu, Na?" tanyanya.


Hanna mengangguk. "Kenalin kak ini Afra anaknya Om Ridwan." Hanna terdengar bersemangat.


"Hallo Afra salam kenal, aku Annisa," tutur Anissa yaitu kakak kandung Hanna.


"Hal-lo, Kak." Afra sedikit malu.


Anissa tersenyum. "Kita jangan disini bahaya. Kita main ke taman aja yah."


"Ayo!!" Hanna begitu bersemangat.


"Afra kenapa kamu diem aja? Ayok," ajak Annisa. "Ana, ajak temennya."


Hanna pun berlari kecil menghampiri Afra.


"Ayo, kak Anisa baik ko." Hanna menggenggam tangannya untuk mengajaknya bermain.


Di suatu taman. Kami pun bermain. Anissa seperti halnya sebagai kakak bermain bersama adiknya mengikutinya kemana-mana untuk menjaganya.


"Kakak capek, kakak mau istirahat dulu yah."


Melihatnya duduk, Afra pun jadi ingin berisitirahat juga karena kelelahan Hanna begitu aktif, dia sangat bersemangat sekali.


"Hanna, aku mau istirahat dulu kayak Kak Annisa," kata Afra.


Hanna pun mengiyakan tetapi ia masih bermain.


Afra ikut duduk di samping saudara perempuannya Hanna.


"Capek juga?" tanya Annisa tersenyum.


Afra mengangguk.


Anisa tertawa kecil. "Kalau diajak maen sama Hanna, pasti kewalahan. Orangnya terlalu semangat."


Afra pun tersenyum.


"Kamu anaknya Om Ridwan?"


Afra mengangguk kembali. "Iyah, Kak."


"Senangnya," lanjutnya.


"Emang kenapa, Kak?" Heran Afra.


"Om Ridwan ayah yang sangat baik kan? Beliau juga suka bantuin kakak sama Hanna," ungkap Annisa.


Afra pun tersenyum mendengar hal yang baik tentang ayahnya. Memang dia adalah sosok ayah yang sangat luar biasa.


"Bapa aku emang baik banget, Kak. Nggak pernah marah sama Afra sama mamah juga," tutur Afra yang masih polos seperti anak kecil seumurannya.


Annisa tersenyum.


"Bapanya Kak Annisa sama Hanna juga pasti baik. Bapak kakak sama Hanna orang yang keren," puji Afra sangat-sangat polos.


Anisa tersenyum namun memiliki arti tersembunyi. "Baik, yah."


Tiba-tiba Hanna pun datang sambil berlari.


"Hanna jangan lari-lari nanti jat-oh."


Gedebug...!


"Tuh kan."


"Kakak... hiks...." rengek Hanna.


Anissa dan Afra berlari menghampiri Hanna yang terjatuh. Melihat tanganya agak lecet.


"Kalian tunggu disini, kakak ambil dulu obat," cetus Annisa dan beranjak pergi.


"Kamu nggak papa?" tanya Afra sembari memegang tangan Hanna untuk melihat lukanya.


"Sakit," balas Hanna merengek.


Karena kasian melihatnya kesakitan. Afra meniup-niup lukanya Hanna. "Masih sakit?"


Hanna mengangguk kecil. "Ditiup sama Afra, sakitnya agak ilang. Tapi sedikit." Hanna tersenyum.


Afra ikut tersenyum dan meniup-niup kembali luka Hanna. Tak lama Annisa datang dengan membawa kotak obat kecil dan langsung mengobati luka adiknya, Hanna.


"Makasih, Kak. Makasih, Afra."


"Sama-sama. Lain kali hati-hati," pesan Annisa.


"Iyah kakak."


Afra terdiam terfokus pada barang yang dibawa oleh Anissa, ia tidak hanya membawa kotak obat saja tetapi membawa sebuah map merah.


"Kakak bawa apa?" tanya Afra penasaran.


Anissa pun melirik ke arah yang dilihat oleh Afra. "Oh, ini berkas yang dikasih sama ayah. Kakak disuruh belajar."


"Berkas apa, Kak?" tanya Hanna ikut bertanya.


"Berkas perusahaan, nanti Hanna juga bakalan belajar dan tahu. Tapi kakak harap Hanna nikmati dulu saat ini, bermain sepuasnya," tutur Annisa tersenyum namun terlihat sisi sedih.


"Apa Afra juga bakalan belajar kayak gitu?" tanya Afra.


Annisa meletakkan tanganya pada Afra. "Kakak nggak tahu. Kakak sama Hanna itu harus belajar dan udah ditentuin sama orangtua kita. Tapi, ayahnya Afra pasti nyuruh Afra belajar sesuai keinginan kamu kan?"


Afra mengangguk senyum. "Iyah kak, Afra suka menggambar. Kata bapak, Afra bakalan jadi orang hebat karena gambar yang Afra buat."


Dengan semangat.


Annisa tersenyum mendengarnya.


"Wahh ... Afra bisa gambar?" tanya Hanna. "Kalau aku lagi ngegambar pasti dimarahin."


"Kenapa? Padahal ngegambar itu seru," jawab Afra tidak kalah antusias.


"Hanna juga nggak tahu." Hanna murung.


"Kalau gitu nanti biar Afra yang bilang sama bapak ibu kamu kalau ngegambar itu seru," lanjut Afra bersemangat.


Hanna yang mendengarnya sangat gembira. "Wahh beneran?" Afra mengangguk iya. "Yeeeee nanti Hanna bisa jago nge-gambar kayak Afra."


Annisa hanya tersenyum mendengar dan melihat mereka. Namun dengan tatapan sendu.


Flashback Off.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di suatu tempat yang merupakan lapangan yang cukup luas. Gina dan Nasrul bertemu di sore hari. Mereka membuat janji untuk bertemu dan berolahraga bersama.



Gina sedang sibuk bermain basket. Dia tidak berhenti untuk berolahraga. Sementara itu, Nasrul sedang duduk untuk beristirahat dan meminum air yang ada di dalam botol.


Memandang Gina cukup lama. Nasrul benar-benar sangat kagum pada sosok gadis bernama Gina sejak mereka dipertemukan. Disana Gina tersenyum melangkah pada Nasrul. Nasrul pun memberikan senyuman kembali dan memberikan botol minum.


"Makasih."


"Gina ..."


Gina menoleh yang masih sedang minum, menegukkan air.


"Gue mau nanya sesuatu."


"Tanya apa?"


"Em... Nggak jadi deh." Nasrul tersenyum.


Gina hanya menggelengkan kepalanya. Dan kemudian dia kembali beranjak untuk bermain bola basket.


"Ayok main lagi," ajaknya.


Nasrul ikut beranjak dan ikut bermain kembali dengannya. Sembari memandangnya. Nasrul memikirkan sesuatu.


Kalau ditanya soal orangtua kamu, Gin. Apa kamu bakalan baik-baik aja? Batin Nasrul.


...🥀...


...Rilis 16/05/2020...


...Revisi 30/07/2020...