
Hanna berjalan menuju kelasnya. Disaat akan mamasuki kelas, Aji memanggilnya. Hanna pun menoleh ke arah sumber suara dan Aji pun menghampirinya, melihat ke dalam kelas dengan tibanya langsung menarik tangan Hanna menjauh dari kelas.
"Ji ada apa sih?" Hanna bertanya karena Aji yang tiba-tiba menariknya.
Juga dirinya mendapati seseorang yang bersama Aji.
"Gue cabut duluan," sahut Fauzan langsung beranjak pergi.
"Tuh anak kenapa selalu cabut sesuka hati," gumam Aji.
Hanna pun baru tersadar, dia belum mengembangkan sapu tangan milik Fauzan. "Eh tunggu..." panggilnya tapi Fauzan tetap berjalan.
Aji menariknya kembali sedikit jauh dari kelas Hanna. "Ihhhh Aji apaan?" Tetapi Aji malah terfokus melihat ke dalam kelas. Puk! "Liatin siapa hayoh?"
"Hah? Hehe enggak. Han, gue mau nanya dong."
"Nanya apa?"
Aji sedikit berpikir terlebih dahulu. Akhirnya menemukan pertanyaan yang tepat. "Si Gina ada cowok yang dia taksir nggak?" tanyanya.
Hanna memberikan raut wajah yang terheran-heran. Dan mungkin Hanna berpikiran bahwa ada sesuatu dibalik Aji yang tiba-tiba menanyai Gina. "Tunggu sebentar, lo ..."
"Bukan bukan, lo tahu kan Nasrul," jelas Aji untuk meyakinkannya bahwa dirinya ingin membantu temannya.
Aji menumbalkan temannya itu.
"Ohh, kenapa lo yang nanya bukannya Nasrul?"
Aji terdiam.
"Tanya ajah sendiri ke orangnya kenapa jadi ke gue?" lirih Hanna.
Dia tidak ingin membicarakan tentang persoalan ini.
"Kan lo temen deketnya. Ayolah bantuin."
Hanna mengacuhkannya.
"Hmm yaudah deh Gina suka apa?" tanya Aji. Hanna sedikit tak mengerti. "Maksud gue suka makanan atau barang-barang yah semacamnya lah? Lo pasti tahu kan ini?"
"Lo kok aneh yah," kata Hanna. "Udah jelas dia tuh kutu buku, pinter, sering ke perpustakaan yang pasti dia suka buku, Ji. Aneh lo." Aji terlihat berpikir. "Ah iyah satu lagi dia suka hewan."
Aji membulatkan matanya. Hanna pun mulai mencurigainya. Sebenarnya Aji ingin bertanya bukan soal itu melainkan tentang dirinya terhadap salah satu sahabat Hanna, yang pasti bukan Gina.
"Oke deh oke, sebenarnya gue mau nanya soal-"
KRING KRING KRING KRING KRING (Bel tanda masuk berbunyi)
"Udah masuk nih, dahh Ji." Hanna langsung beranjak pergi saat mendengar bel masuk.
"Han Hanna!! Tunggu dulu. Ihss,, gagal gue."
Dan Aji terlihat lesuh disaat sudah diujung akan mengatakannya dengan susahnya dan tiba-tiba ada gangguan yang menghalangi.
Hanna pun langsung memasuki kelas dan duduk di tempat kenyamanan yang hakiki ini disini.
"Habis dari mana, Na? Kenapa ngilang?" tanya Afra yang duduk dibelakang Hanna.
"Ohh tadi si Aji narik gue nanyain sesuatu tapi dia pagi ini aneh deh dasar," timpal Hanna sambil mengeluarkan buku mata pelajaran sekarang.
"Ohh," kata Afra.
Tiba-tiba guru pun masuk itu adalah wali kelas kami. Dan Oni pun baru saja tiba memasuki kelas dengan terburu-buru.
"Hohh... untung nggak telat." Oni sambil mengelus-elus dadanya menetralkan nafasnya itu.
Dengan masuknya beliau, dia langsung mengagetkan kami semua dengan ucapannya.
"Hari ini kita lakukan perpindahan tempat duduk."
Seisi kelas ribut dengan perpindahan tempat duduk. Mereka protes. Namun wali kelas tidak menerima protesan dari kami semua mereka harus menerimanya.
"Yahh pak ko gitu sihh."
"Kita kan udah nyaman duduk disini."
"Udah udah jangan berisik. Ketua murid maju," sahut wali kelas bernama pak Agam.
Beliau masih terlihat muda sebagai wali kelas kami banyak siswi disini yang menyukai dan mengaguminya.
Gina adalah ketua murid (KM) kelas kami. Karena dia adalah orang yang dipercaya di kelas kami terutama dia pintar dan bisa membantu seisi kelas ini. Wali kelas sedang menggambar skema tempat duduk yang baru. Dan Gina menulis nomer di kertas kecil untuk pemilihan acak.
Afra memperhatikan raut wajah Hanna karena khawatir mengingat bahwa kemarin kakak tirinya datang menemui Hanna. Tapi Hanna tampaknya biasa-biasa saja. Tidak menunjukkan ekspresi yang murung maupun sedih.
Dug.
"Ais. Fra! Kebiasaan nendang mulu kursi gue," kesal Oni menoleh ke belakang.
Tapi Afra tidak mempedulikan kekesalan Oni sekarang melainkan dia mengisyaratkan untuk melihat Hanna. Oni pun menengok ke samping kirinya karena Hanna duduk disebelahnya. Oni baru ingat atas yang terjadi kemarin. Oni kembali ke Afra.
Oni berbisik. "Gimana? Mau ditanyain?"
"Nanti aja," balas Afra.
Oni pun mengangguk-angguk.
"Kalian bisikin apa?"
Sontak membuat Oni dan Afra terperanjat.
"Ah iiiitu tadi gue cerita ke Afra kalau gue telat karena boker kelamaan," gugup Oni sambil terkekeh-kekeh.
Dan Afra menahan tawanya mendengar alasan itu. Ngakak.
"Woah... Si Oni boker kelamaan guys... pantesan bau-bau tahe," sindir teman sekelasnya yang mendengar percakapan mereka tadi.
"Ahahahahh.... HAHAHAHAH...."
"Yaaa Oni boker..."
"Jangan deket-deket Oni... Bau tahe," lanjutnya lagi orang mengejeknya.
"Yaa dasar Usman nyebelin." Oni bangkit dari kursinya kesal untuk menghajarnya. Tapi dia malah kabur dan akhirnya saling kejar mengejar.
Tak Tak Tak. Wali kelas kami mengetuk-ngetuk papan tulis untuk menegur murid-muridnya. "Kalian jangan berisik. Bapak nanti pusing, nih."
"Hehe iyah pak maaf. Oni nih.."
"Lah kok nyalahin gue sih," gerutu Oni.
Mereka pun kembali ke tempat duduk mereka masing-masing tapi masih saling bertengkar. "Dasar Usman Bin Mail."
"Nyebut bapak gue." Dia tidak terima. "Dasar Olla Binti Ollaf."
"Ih ayah gue namanya bukan Ollaf," kilatnya. "Ihs dasar nyebelin Usman."
Dan mereka masih berlanjut saling melontarkan sindiran-sindiran mereka.
Hanna hanya menggeleng dengan tingkah laku sahabatnya itu. "Fra..." Panggilnya menoleh ke sisi kanan belakang.
"Hem?"
"Gue nggak mau pindah, udah nyaman disini. Gimana dong?" tutur Hanna dengan muka memelas.
"Pasrah aja Han." Afra tersenyum.
Hanna mengerutkan dahinya karena tidak mau pindah dari tempat ini.
"Yang dipanggil silahkan ambil gulungan kertas ini," tutur Gina.
Satu persatu mereka dipanggil. Ada yang senang dengan tempat duduk yang baru, adapula ada yang tidak menerimanya.
"Adam lo nggak boleh gitu," lirih Retno melihat temannya yang bernama Adam mengganti nomer yang sudah dilihatnya.
Adam hanya tersenyum dan Gina menggelengkan kepalanya. Di belakang Adam sudah ada Afra yang menunggu.
Afra pun mengambil gulungan kertas itu. Ketika sudah melihat dia melirik ke papan tulis untuk mengetahui tempat duduk barunya.
Afra kembali.
"Dimana Fra?" tanya Hanna yang masih gelisah.
"Tuh dibelakang lagi." Menatap tempat duduk baru.
Afra mendapatkan tempat duduk dibelakang lagi tepat disebelah tempat duduk semula. Sekarang dia bisa menyender di tembok dan melihat ke jendela.
"Fra lo pake guna-guna apa?" tanya Hanna tak percaya dia selalu mendapatkan tempat duduk di belakang.
Afra hanya tersenyum dan langsung duduk di tempat yang baru. Hanna masih menunggu panggilan. Absenan sudah mulai mendekati absenan Hanna. Akhirnya giliran Hanna. Dia terlihat tak tenang.
"Pikirin gue," ucap Afra kepada Hanna yang akan melangkah ke depan.
Ucapan Afra langsung membuat Hanna kepikiran.
Pikirin Afra? Dalam hati Hanna sambil mengambil gulungan kertas tersebut.
"Lo takut bener Han," tutur Gina.
Hanna berseri.
Tapi Gina memperhatikan Hanna. Apa kemarin baik-baik aja? Tapi kayaknya Hanna nggak kenapa-kenapa juga. Syukur deh kalau gitu.
Hanna perlahan membuka gulungan kertas tersebut. Dia berharap bisa duduk di tempat semula dan tempat itu bernomer delapan. Ternyata dirinya mendapatkan nomer delapan. Ia membulatkan matanya. Untuk memastikan, ia pun melihat skema lagi yang berada di papan tulis tersebut. Nyatanya benar dia mendapatkan tempat duduknya kembali.
"YESSSS." Sedikit teriak Hanna.
"Hanna .." tugur Agam.
Hanna tersenyum kekeh. "Maaf pak kesenengan." Langsung beranjak pergi menuju tempat duduk Afra.
"Afra ko bisa sih? Ini aneh loh pas tadi lo ngomong pikirin lo, gue langsung kepikiran ngambil asal nomernya. Ehh nyatanya gue dapet tempat duduk semula yeee."
Dengan bahagianya Hanna langsung mencium pipi Afra. Sontak Afra terkejut.
"Makasihh Afra," sambungnya dengan memeluk Afra.
Oni yang mendengar pembicaraan mereka. Dia juga mencoba cara tersebut. Saat giliran Oni, pikiran dia hanya ada Afra dia berusaha untuk memikirkan Afra dalam otaknya. Saat Oni mengambil dan membukanya. Dia pun melihat skema namun nomer yang didapatkannya itu tempat duduk yang tidak diinginkannya dari tadi.
"Sial." Oni kecewa dan langsung beranjak pergi.
Gina tertawa melihat Oni yang kesal.
Oni pun kembali.
"Kenapa On?" tanya Hanna.
"Gue duduk di deket meja guru." Gerutu Oni.
Hanna langsung tertawa. "Hahahaha... kasian."
"Afra jimat lo nggak ngaruh tuh," kesal Oni dan langsung pergi ke tempat duduk barunya.
Afra dan Hanna saling pandang setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Oni. "Kok... lo...."
"Dia ikutin caranya tadi?" tanyanya Hanna melirik Afra.
Afra mengangkat bahunya tidak tahu.
Sepertinya Oni mengikuti cara yang diberikan Afra kepada Hanna namun Oni tidak beruntung. Afra hanya bergurau saja dengan cara tersebut juga hanya kebetulan saja dan mungkin Hanna ditakdirkan untuk duduk disana lagi.
...🦄🥀☔...
..._________________...
...Rilis 22/01/20...
...Revisi 15/07/20...